
"Sayang, apa kau bisa berhenti dan duduk saja." ucap Maxilian kepada istrinya. "Aku sudah bilang kalau pihak EO sudah mempersiapkan segalanya. Jadi kita tinggal terima beres."
Beberapa hari lagi adalah ulang tahun putra mereka yang bernama Kendrick Jade Lunox yang ke dua. Kendrick yang artinya seorang pemimpin. Putra pertama Julia dan Maxilian, adalah seorang yang di gadang-gadang sebagai calon pemimpin keluarga Lunox di masa depan.
Anak laki-laki yang sangat tampan perpaduan dari ketampanan sang ayah dan kecantikan sang ibu, benar-benar menjadi perbincangan banyak orang. Apalagi di usianya yang menjelang dua tahun, ia memiliki kemampuan berbicara dalam dua bahasa. Bahasa inggris dan bahasa cina. Benar-benar bibit unggul karena kecerdasan yang ia miliki berasal dari ayah dan ibu yang juga memiliki kemampuan tinggi di beberapa bidang.
"Oh sayang, kau tahu kan, kalau setelah perayaan ulang tahun Ken, kita akan segera melakukan maternity shoot. Jadi aku harus benar-benar memilih pakaian yang nyaman untuk Ken pakai. Dia itu anak yang sangat aktif, jadi aku berusaha untuk membuatnya nyaman saat pemotretan."
Ya, saat Kendrick berusia satu tahun lebih empat bulan, Julia kembali mengandung. Di usia kandungan delapan bulan ini, Julia dan Maxilian melakukan pemotretan keluarga. Sungguh kebahagiaan yang datang bertubi-tubi bagi keluarga kecil mereka dengan kedatangan kembali anggota keluarga baru.
Maxilian berdiri, melangkah menghampiri sang istri. Ia meraih tangan Julia kemudian menarik pelan dan membawanya ke sofa. "Duduklah."
Ia melirik ke bawah, tepat di kaki Julia. Kemudian ia raih kaki itu dan membawanya ke pangkuan. "Lihatlah, kau pasti sudah sangat lelah. Kakimu membengkak."
"Sayang, ini adalah hal yang biasa untuk wanita hamil. Nanti juga hilang dengan sendirinya. Jangan khawatir oke?"
Namun Maxilian tak bergeming. Ia berdiri dan berjalan menuju nakas dan membuka laci untuk mengambil minyak. Kemudian ia kembali duduk di samping Julia. Ia balurkan minyak itu di kaki Julia. Ia gunakan minyak itu untuk memijat kaki Julia dan sesekali mengurutnya.
"Kita harus segera menentukan tanggal operasi." ucap Maxilian sembari memijat kaki Julia.
Julia menghela nafas. Ia menatap wajah suaminya lekat. "Apa tidak bisa kau pikirkan kembali sayang? Aku ingin melahirkan secara normal. Lagipula ini anak kedua kita."
"Tapi kita akan mendapatkan anak kedua dan ketiga sekaligus. Maaf sayang, aku tidak mau mengambil banyak resiko. Kalian harus baik-baik saja."
"Baiklah, aku akan mengalah untuk yang satu ini." jawab Julia dengan ekspresi lembut di wajahnya. Namun kemudian ia kembali berkata, "Kata dokter, aku bisa melahirkan normal sayang.. Apa kau tak dapat memikirkan ulang?"
Maxilian mendongak dan menatap tajam mata Julia.
"Baik, baik, aku akan melahirkan dengan sesar. Puas?" sahut Julia cepat saat melihat tatapan menghujam dari suaminya.
Maxilian kembali mengayunkan matanya pada kaki Julia yang saat ini ia sentuh. Ia kembali menuangkan minyak untuk membuatnya mudah dalam mengurut kaki istrinya yang tengah bengkak. Lalu tanpa melihat wajah Julia, Maxilian berkata, "Boleh saja kau melahirkan dengan jalan normal, asal..."
"Asal apa?" potong Julia.
"Asal itu untuk kelahiran anak kita yang ke empat." jawab Maxilian tanpa mengalihkan pandangannya dari kaki Julia.
"Ke empat? Apa kau berpikir akan menghamiliku lagi setelah ini?"
__ADS_1
Maxilian menegakkan kepalanya dan menatap wajah istrinya dengan lembut. "Hem, mungkin saja."
"Lian, yang ini saja belum keluar kau sudah berencana menghamiliku lagi? Tidak sayang. Aku takut kita sulit untuk membagi waktu dengan anak-anak. Apalagi selisih usia mereka terlalu dekat.
"Perusahaan kita banyak sayang. Aku saat ini sudah sangat lelah untuk mengawasi semuanya sendiri. Jadi kita membutuhkan bala bantuan agar kelak saat kita tua, kita bisa santai di rumah tanpa memikirkan perusahaan lagi."
"Jadi kau memanfaatkan anak-anak kita untuk memimpin perusahaan-perusahaan kita? Oh Lian, kenapa kau sangat licik."
"Ini bukanlah licik sayang. Aku hanya ingin anak-anak kita memiliki perusahaan mereka masing-masing untuk masa depan mereka. Lagipula ada kakek dan nenek yang akan membantu kita merawat dan mendidik mereka. Mumpung mereka masih hidup."
Pluk!
Julia memukul pelan lengan suaminya dengan sedikit tertawa. "Lian, kau benar-benar pebisnis handal. Paling pintar memanfaatkan sutuasi. Bahkan kakek dan nenek kau manfaatkan."
Maxilian menghela nafas pelan dan berkata. "Mereka saja tanpa ijin dan tanpa memberitahu kita, selalu menyabotase waktu kita dengan Ken. Bahkan aku saja sulit sekali bermain dengan putraku itu."
Julia tertawa keras. "Oh sayang, kau cemburu rupanya."
"Untuk itulah kita harus memberikan mereka banyak cicit agar punggung mereka makin sakit. Sudah makin tua tapi tidak sadar diri. Masih saja melakukan banyak hal yang menguras tenaga untuk berusaha membahagiakan Ken."
"Memangnya apa yang sedang mereka lakukan saat ini dengan Ken?"
"Oh astaga. Aku akan bicara dengan kakek agar dia tidak mengambil alih pekerjaan pelatih."
"Itu percuma saja sayang. Karena kakek berusaha untuk membanggakan dirinya di depan cicitnya. Ia ingin cicitnya melihat kalau kakek adalah orang yang hebat. Jadi bisa kau bayangkan bagaimana ekspresi wajah kakek saat tiba-tiba sakit menyerang persendiannya saat ia duduk di atas kuda. Dia menahan rasa sakit itu agar cicitnya tak melihatnya lemah."
"Ya tuhan. Sayang, kau harus bicara dengan nenek untuk mencegah kakek berbuat lebih. Karena kemarin kakek bilang kalau akan memberi hadiah ulang tahun Ken senjata api. AKu yakin sebentar lagi akan dibangun lapangan tembak di belakang rumah dan kakek akan kembali menjadi pelatih pribadi cicitnya. Bagaimana keadaan punggungnya bila ia berdiri tegap untuk menembak. Bukankah itu sangat sulit?"
"Hah.. baiklah, aku akan bicara pada nenek."
**
Acara ulang tahun yang sangat meriah. Julia dan Maxilian merayakannya dengan seluruh penghuni panti asuhan di negara itu. Bonus bertebaran untuk para karyawan perusahaan Lunox sebagai rasa syukur di hari ulang tahun putra pertama mereka.
hadir di sana, keluarga pamannya, dan keluarga besar Lunox. Ben yang membawa Jeni beserta putra pertama mereka yang bernama Brian yang masih berumur enam bulan, nampak sangat bahagia berbaur dengan keluarga Lunox yang lain. Jeni yang awalnya sungkan dengan Julia sekarang makin akrab dengan Julia setelah menyandang status sebagai kakak ipar Julia.
Nampak juga Hanna yang tengah memeluk erat lengan Jack. Jack yang sudah dipulangkan oleh maxilian dari hukumannya, nampak sangat bahagia. Apalagi dia yang sudah berniat untuk melamar Hanna. Namun selalu mendapat kendala dari Maxilian, yang menginginkan pernikahan mereka dilakukan setelah anak kembar mereka lahir. Dia tahu kalau Maxilian memanfaatkannya agar dapat mengawasi kesehatan Julia di kehamilan keduanya ini. Benar-benar manusia licik. Balas dendam Maxilian padanya sangat berlebihan. Namun dia hanya bisa mengumpat dalam hati atas perlakuan sahabatnya itu. Karena bagaimanapun juga Maxilian akan segera menjadi kakak iparnya setelah ia menikahi Hanna. Wanita yang sudah ia pacari dua tahun ini. Wanita cantik dan cerdas, namun juga sangat manja. Ah, dia sangat mencintainya.
__ADS_1
Makan malam keluarga besar itu terlihat meriah karena celotehan Ken mengiringi. Anak lelaki tampan itu terus bertanya tentang segala sesuatu yang belum ia mengerti. Bahkan semua orang di sana tertawa saat Maxilian terlihat bingung menjawab berbagai pertanyaan putranya. Maxilian yang dingin dan tak suka banyak bicara, saat ini harus terus meladeni celotehan putranya.
Namun kemeriahan makan malam itu sedikit terjeda saat seseorang yang tak diduga datang tiba-tiba.
"Maaf, saya terlambat datang tuan dan nyonya."
Semua orang di sana tertegun. Mereka melihat sosok yang membuat mereka semua terkejut.
"Oh, tidak apa-apa. Aku sangat paham. Duduklah Tomas. Bawa serta istri dan anakmu." ucap maxilian kepada Tomas.
"Tomas? Kau sudah menikah dan punya anak? Kenapa tidak ada yang memberitahuku?" tanya Jack terkejut.
Maxilian menyahut cepat. "Aku akan menjawabnya untuk kalian semua. Saat Ken lahir, aku bilang kalau aku harus segera menyiapkan calon kandidat asisten pribadinya kelak. Dan aku menginginkan orang seperti Tomas yang mendampingi putraku kelak. Jadi aku memberikan perintah padanya untuk segera memiliki anak laki-laki. Dan Tomas harus mendidik putranya untuk memiliki kemampuan yang lebih baik darinya."
Jack dan Ben tertawa terbahak-bahak mendengar Maxilian bercerita. Apalagi melihat ekspresi wajah Tomas yang begitu tertekan.
"Ehem, jadi ini anak dan istrimu Tomas?" tanya Julia pelan.
"Benar nona. Ini istri saya. Hasil jebakan tuan muda telah membuahkan hasil. Pernikahan kami dikaruniai seorang putra yang tampan dan sehat. Usianya saat ini tiga bulan."
"Jebakan?"
Tanya semua orang bersamaan.
"Benar nyonya dan tuan semua. Tuan muda Maxilian menjebak saya dan istri saya hingga kami harus menikah."
Hening.
Hingga terdengarlah tawa dari Jack dan Ben. Dan Jack kembali melayangkan pertanyaan pada tomas. "Tumben kau mau disuruh menikah? Apa maxilian mengancammu?"
Tomas menghela nafas berat. "Begitulah tuan Jack."
"Aku memang mengancamnya. Aku bilang kalau aku akan meledakkan pulaunya yang baru saja ia beli di kawasan asia tenggara." sahut Maxilian cepat.
Terdengar kembali tawa dari Jack dan Ben.
**********************
__ADS_1
Cerita asisten Tomas, semoga cepat launching kalau moodku sudah kembali.