Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Kematian


__ADS_3

Lindsey tertawa miris atas segala yang baru ia dengar. Ia menatap Julia, lalu bergantian pada Rose. "Kakak ipar, aku akan ubah rencanaku. Bunuh Carlen dan berikan pin mu padaku. Maka aku akan membantumu keluar dari sini."


"Apa yang kau katakan Lindsey?" tanya Zelin keberatan. Rencana mereka yang sudah tersusun rapi telah rusak. Carlen tidak mungkin selamat dari tangan Maxilian. "Penghianat!"


"Lindsey, bagaimana mungkin kau mempercayainya?"


Julia tersenyum sinis melihat ketiga orang itu saling menyalahkan. Ia menonton pertarungan mulut ke tiga orang itu dengan santai, sambil memainkan ujung-ujung kukunya. Julia berhasil mengulur waktu tiga puluh menit atas pertengkaran ke tiga orang tersebut. Rencananya sukses, dan ia tinggal menunggu waktu bagi Maxilian atau Jeni untuk dapat menemukan keberadaannya. Ia yakin hilangnya keberadaannya, mampu membuat Maxilian melakukan tindakan.


Selama menunggu pertengkaran mereka bertiga selesai, Julia mengamati sekitar. Kemudian ia tersadar saat dua pengawal Zelin ikut mengamatinya dengan cermat. Dia tak takut, namun sepertinya rencananya telah terbaca. Dia hanya duduk sembari tersenyum lembut. Setelah beberapa menit, kesunyian tercipta. Hingga tepuk tangan Zelin terdengar.


"Wow, kau benar-benar licik."


Julia tersenyum. "Bibi, aku tak mengerti maksudmu?"


"Kau mengecoh dengan memecah belah kami."


Dari pada menjelaskan Julia lebih suka menyanyakan sesuatu. Lalu ia menatap Lindsey, Rose lalu kepada Zelin. "Sebenarnya apa istimewanya pin keluarga Lunox? Ini hanya sebuah pin bukan?"


"Hanya Sebuah pin? kau bilang hanya? Pin itu bisa menjadi senjata yang tangkas bagi orang yang tepat. Pin itu adalah simbol kekuasaan bagi keluarga Lunox."


Julia mengangguk kepalanya namun tak mengerti. Wajahnya terlihat bingung dan ia bergumam. "Untung saja maxilian yang membawanya saat ini."


"Apa? maxilian membawa pin itu?"


Julia mengangguk sekali lagi. Menahan ekspresi agar semua orang percaya padanya. "kenapa? Apakah kalian lupa siapa aku?"

__ADS_1


"Bibi, wanita ini sudah tak berguna lagi." sahut Lindsey ketus.


Zelin menggerakkan dua jari tangannya maju mundur dan dua orang di belakangnya maju ke depan. Mendekati Julia hingga Julia tertawa kecil.


"Kalian, apakah kalian tak merasakan keanehan? Apa kalian tidak bertanya-tanya kenapa aku tak takut sama sekali? Bahkan terlihat tenang dan santai?"


Zelin tak mengindahkan. "Bunuh dia."


Rose dan Lindsey tersenyum puas dengan keputusan Zelin. Sebentar lagi orang luar tak harus mendapatkan harta keluarga Lunox. Setelah ini, mereka cukup menyusun rencana untuk menyingkirkan Maxilian untuk menguasai semuanya.


"Menurut kalian apakah Maxilian akan diam saja setelah kepergianku? Rose, apakah kau melupakan sesuatu? kau menjemputku dari hotel. Dan hotel memiliki cctv yang merekam segalanya."


Rose tertawa geli. "cctv saat itu sudah kumatikan. Tentu saja semua sudah kami prediksi."


"Kau!" Lindsey berteriak keras. Ia sudah cukup tertekan akhir-akhir ini karena kehilangan kakaknya. Dan itu semua disebabkan oleh gadis itu. Dan sekarang ia melihat gadis itu hidup dengan baik bahkan menikmati kemewahan keluarganya.


Zelin terdiam. Ia hanya bisa melihat dua pengawalnya menarik satu tangan Julia yang mengacung di udara dan menariknya. Salah satunya bahkan sudah melayangkan tamparan keras di wajah Julia. Membuat riak kepuasan di wajah Rose dan Lindsey.


"Bibi, kau tak boleh melukai tangan dan kakinya. Itu sangat indah. Bonekaku kehilangan tangan dan kakinya. Dan milik kakak ipar sangat cocok sebagai penggantinya."


Zelin hanya mengangguk. Sedangkan Rose terlihat jijik. Saat ini dua pengawal ini menarik dan menahan kedua tangan Julia hingga Julia tak dapat bergerak. Mereka tak perlu mengeluarkan banyak tenaga karena memang Julia tidak berniat melawan. Ia hanya diam dan terlihat tenang.


"Maxilian saat ini pasti sudah menghancurkan keluarga kalian." ucap Julia yakin.


Mendengar ini membuat Rose makin geram lalu maju dan menampar pipi Julia. Menarik rambut Julia keras hingga kepala Julia menengadah ke atas. "Kau ja*lang! aku sangat muak mendengar kau menyebut nama sepupuku. Orang sepertimu sangat tak pantas untuknya!"

__ADS_1


Julia tertawa kecil, berekspresi datar dan bahkan tanpa rasa takut. Untuk apa ia takut mati. Ia sudah pernah mati dan bahkan beberapa kali menuju ke kematian. "Apakah itu karena dia adalah orang yang kau cintai? Rose, aku ibarat bunga teratai, dan kau bagaikan bunga hias yang terbuat dari plastik."


"Ya, itu cocok untukmu! Kau pantas hidup di tempat kotor dan berlumpur! Sekarang tenggelamlah bersama mimpi-mimpi indahmu!" ujarnya tajam sambil mendorong kepala Julia dengan keras.


Lindsey tertawa dan Zelin pun ikut tersenyum. Tubuh Julia terhuyung karena dorongan di kepalanya. Namun bibirnya juga mengeluarkan senyum tipis.


"Benar, aku berasal dari lumpur, tapi aku bisa berbunga cantik dan tak membiarkan lumpur mengotoriku. Sekarang, bunga lumpur ini telah dipindahkan ke kolam mewah oleh orang yang kau cintai. Sedangkan dirimu? Rose, kau hanya akan bertambah usang tanpa dilihat olehnya. Tak tumbuh, tak berbunga, dan mati selamanya."


"Tutup mulutmu ja*lang!" teriak Rose tak terima dan melayangkan tamparan keras di pipi Julia kembali.


Julia diam. Ia hanya bisa merasakan bibirnya perih dan mengeluarkan darah. Harusnya usahanya sudah mempu mengulur waktu bagi Maxilian untuk melacaknya. Harusnya bantuan segera datang mencarinya. Namun tubuhnya sedikit bergetar kala Lindsey mendekat dengan membawa pisau sayat yang tajam. Terus melangkah maju mendekatinya dengan senyum cantik dan menawan.


Ini buruk! Batinnya.


Rose sedikit menyingkir dan membiarkan Lindsey mendekat. Dia tersenyum penuh kemenangan setelah mendapatkan wajah Julia sedikit pucat namun tetap berusaha tenang.


Tawa Lindsey menyambut setelahnya. Ia menyentuh pipi Julia dan mengelusnya pelan. "Kakak ipar, apakah kau takut?"


Julia tak menjawab dan hanya memejamkan matanya sesaat. Ia bisa merasakan bagaimana dinginnya pisau sayat itu menempel di pipinya dengan pelan.


"Bagaimana jika aku melukai wajahmu yang mulus ini? Kau memang benar-benar cantik. Matamu terlihat berkilauan. Selalu bisa menjadi pusat perhatian bagi siapa saja yang menatapnya. Kau sangat tenang, namun sangat licik. Terlihat lemah namun sangat kejam. Bibirmu terukir indah namun selalu mengeluarkan kata-kata pedas dan beracun. Semua hal tentang dirimu, kakak ipar, aku sangat menginginkanmu."


Hening, tak ada suara, hingga Lindsey melanjutkan lagi kata-katanya.


"Kakak ipar, kau akan menjadi bonekaku paling cantik. Kau sangat cocok disandingkan dengan kakak sepupuku. Sayangnya aku tidak punya cara untuk membuatnya menjadi koleksi bonekaku. Tapi kau berbeda, aku bisa melakukan apapun denganmu saat ini. Aku gemas sekali dengan mulut berbisamu. Aku ingin sekali merobek mulutmu itu. Atau bisa juga kusayat pahamu dan mendengarkan rintihan kesakitan dari mulutmu yang telah robek. Bukankah itu sangat indah?"

__ADS_1


__ADS_2