Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Percaya Keajaiban


__ADS_3

Julia menyibakkan korden jendela. Menutup mata menikmati kehangatan sinar mentari yang hangat. Menatap halaman luas rumah itu melalui kaca jendela. Rumah ini adalah rumah yang Maxilian miliki dan tinggali sejak ia menetap di Las Vgas.


Kejadian itu sudah satu minggu, atau lebih, entahlah dia sendiri lupa menghitung hari. Yang jelas akhir-akhir ini ia berlaku sangat patuh pada Maxilian dan tidak memiliki keluhan tentang segala keputusan yang pria itu ambil. Luka dipunggungnya telah teratasi dengan baik. Dan beberapa hal sedang ia pikirkan saat ini. Beberapa keraguan menghampirinya tentang cina. Apakah ia dapat kembali ke cina?


Pintu kamar mandi terbuka. Dengan di balut handuk putih di pinggang, ia melangkah menuju lemari pakaian tanpa melihat Julia yang tengah menoleh dan memperhatikan tubuhnya. Ia menggerakkan tangannya pada deretan kemeja kerja yang akan ia kenakan sebelum sebuah tangan asing menyentuh punggungnya dengan lembut.


"Julia, apa yang kau lakukan?" tanya Maxilian dingin tanda tak suka dengan sentuhan Julia yang tiba-tiba.


Julia tak bergeming. Matanya masih menelusuri punggung Maxilian yang masih meneteskan air. Tangannya menyentuh pelan sebuah luka yang cukup besar. Ia amati, ternyata ada beberapa luka samar di sana. Hatinya tiba-tiba teremas tiba-tiba.


"Apakah ini sakit?" tanya Julia lirih. Suara lembut dan sentuhan penuh kasih sayang membuat Maxilian terkesiap.


Maxilian menegang dan terdiam. Tangannya berhenti tepat pada pundak baju yang akan dia pilih. Dia memiringkan kepalanya sedikit namun sosok mungil Julia yang berdiri di belakangnya tetap tak terlihat.


"Dulu. Dulu itu sangat sakit." jawabnya pelan. Dia kembali mengingat saat setiap harinya ia mendapatkan luka akibat pukulan keras ibunya. Namun kini, ia menjawab seperti itu karena berpikir bahwa JUlia bertanya karena gadis itu juga tengah terluka. "Lukamu telah membaik. Sebentar lagi akan sembuh total."


Julia tak peduli pada kata-kata Maxilian. Ia hanya menatap punggung Maxilian dengan sedih. Kedua tangannya tiba-tiba bergerak mendekap tubuh Maxilian dengan pelan. Ia memejamkan matanya dan menikmati kehangatan punggung suaminya.


Punggung yang penuh beban dan tanggung jawab. Entah mengapa ia memiliki penyesalan karenanya. Membuat perasaannya tak nyaman dengan sebuah luka yang asing.


"Kau baik-baik saja?" tanya maxilian merasa Julia sedikit aneh. Ia berusaha bergerak namun tertegun saat tangan mungil di punggungnya meraih tubuhya dan memeluknya erat.


"Julia." panggilnya lagi. Kini tangannya yang tertahan di sebuah kemeja yang akan ia raih turun. Menyentuh tangan mungil yang kini melekat di atas perutnya. "Apa kau merasakan sakit lagi? Biarkan aku melihatnya."


Tak ada jawaban. Sejenak ia merasakan tangan yang memeluk tubuhnya bergetar. "Julia, kau menangis?"


Maxilian berbalik arah. Ia bergerak dengan cepat dan tertegun saat Julia tetap memeluk tubuhnya.


"Biarkan aku melihat lukamu."


Tanpa menunggu persetujuan Julia, tangan Maxilian bergerak membuka kemeja yang Julia kenakan dan langsung menyibak dengan cepat. Ia memeriksa luka Julia dengan hati-hati lalu mengernyit kening saat tahu luka itu baik-baik saja.


"Lian, aku baik-baik saja." ujar Julia lirih. Matanya mendongak menatap wajah Maxilian yang sangat dekat dengan wajahnya.


Wajah maxilian bergeser dan tatapan matanya jatuh pada mata Julia yang memerah. Dengan jarak yang begitu dekat, dapat ia rasakan hembusan nafas hangat Julia. Tak ada kata terucap di antara mereka. Kemudian Maxilian mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir julia ringan. Penuh dengan perasaan.


"Kau butuh ke rumah sakit?" ujar Maxilian saat ia mengakhiri ciumannya.


"Apa kau akan pergi bekerja?"


"Kau ingin aku menemanimu?"


Julia tak menjawab. Tatapannya jatuh pada luka di dada Maxilian. Kenapa ia baru menyadari luka itu. Luka samar yang tak akan terlihat bila tak benar-benar diperhatikan. Tanpa sadar tangannya terulur dan meraba luka tersebut.


Maxilian memejamkan matanya dan mendesis. Tangannya dengan cepat menahan tangan Julia. Ia membuka matanya yang berkabut. "Julia, apa kau berniat menggodaku?"


Julia terdiam kelu. Hanya memandang lekat wajah maxilian dengan rasa yang asing.


Maxilian memejamkan matanya lagi. Ia berbalik memunggungi Julia. "Jangan lakukan ini lagi. Kau tahu bahwa aku tak bisa menahan untuk tak memakanmu saat ini.:


Julia mundur, ia tak dapat memulai suatu pembicaraan. Namun sebelum selesai ia membalikkan badan, tangan Maxilian degan cepat meraih pinggang dan menarik tubuhnya dengan cepat. Pria itu dengan lembut menciumnya kembali dengan hati-hati."


"Julia, kau sudah membangkitkan gairahku. Kini apa yang harus kulakukan?" bisik maxilian di tengah nafasnya yang memburu. "Kau tahu, aku selalu lepas kendali dengan sentuhanmu. Kau sengaja bukan?"

__ADS_1


"Luka di tubuhmu, aku tahu semuanya. Nenek menceritakannya."


Maxilian tertegun dan mundur. Ia tak menyukai jika seseorang membahas masa lalunya.


Melihat maxilian membalikkan badan, Julia merasa bersalah. Tangannya terulur menahan tubuh Maxilian. Namun tak disangka yang ia pegang adalah handuk yang melilit pinggang Maxilian. Ia tarik, hingga handuk itu terlepas.


"Ak-aku, aku,"


"Julia," geram Maxilian sambil memejamkan matanya frustasi. Saat ini tubuhnya telah terekspos hanya menggunakan ****** *****. Maxilian berbalik dan menatap Julia yang masih memegang handuk dengan wajah memerah.


"Jadi sebegitu inginnya kau melihat? maka nikmatilah"


Mendengar itu wajah Julia memerah. Tatapannya jatuh pada perut rata Maxilian dan ia baru menyadari kesalahannya setelah melihat tonjolan di balik ****** ***** itu. Ya, bagian tubuh inti Maxilian sudah menegang sempurna. Hingga terlihat begitu sesak dan hampir keluar dari batas kain ****** ***** itu. Bisa ia bayangkan betapa panjang dan besarnya itu. Kemudian ia mendongak dan melihat Maxilian yang menatapnya. "Dasar me*sum!"


mengangkat alis, sambil menahan tawa namun dengan cepat menarik tangan Julia. "Ulangi kata katamu."


"Dasar me*sum."


"Jadi apa masalahnya? Kau berpura pura simpati padaku, seolah olah kau peduli pada masa laluku padahal yang sebenarnya itu hanya alasan untuk menyentuhku."


Juli berbalik sambil mendengus. "Hais, kenapa aku bisa lupa bahwa kau begitu percaya diri."


Maxilian menarik tubuhnya dari belakang. "Kau ingin pergi? tak semudah itu."


Langkah Julia tertahan. Ia menggeliat berusaha melepas tangan Maxilian yang melilit pinggangnya. "Lian, lepas!"


"Tidak akan. Kau selalu menyentuhku sesuka hatimu, lalu pergi begitu saja. Apa kau pikir aku barang murahan? Julia, setidaknya kau harus bertanggung jawab karena berani menyentuhku."


"Apakah itu adil? Kau menyentuhku tapi aku tak boleh menyentuhmu."


Wajah Julia merona saat tubuh Maxilian makin merapat. Mereka makin rekat satu sama lain hingga ia dapat merasakan bagian inti tubuh Maxilian yang keras. "Ap-apa yang kau lakukan? Bukankah kau sudah melihat lukaku?"


"Tapi aku belum memeriksa bagian tubuhmu yang lain."


"Maxilian, kau ba***ngan!"


"Dan kau istri dari baj**an ini."


"Kau!"


"Ceritakan tentang dirimu. Aku ingin tahu tentang dirimu." ujar Maxilian sambil memeluk Julia untuk menghirup aroma tubuh gadisnya.


Julia berontak melepas pelukan itu. Ia menatap mata maxilian dengan sejuta pertanyaan. "Lian, kau ken..."


"Di mana kau akan bercerita? Di tempat tidur? Ya kau benar, di sana adalah tempat ternyaman."


"tidak, tidak. Kau harus bekerja, Pakai pakaianmu dan cep... Ahk!" teriakan Julia terdengar saat Maxilian mengangkat tubuhnya dengan cepat.


Maxilian merebahkan tubuh Julia dengan hati-hati. Menarik selimut, ia ikut berbaring di samping Julia. "Aku bisa membatalkan semua meeting penting. Tomas bisa mengambil alih semua pekerjaanku hari ini."


Julia terdiam. Ia menurut saat Maxilian merengkuhnya dalam pelukan. Selama beberapa menit tak ada yang memulai bicara.


"Aku takut saat melihatmu bersimbah darah. Apakah kau bodoh atau merasa hebat karena memiliki nyawa lebih?"

__ADS_1


Sebuah pernyataan yang terdengar dingin dan penuh luapan emosi sangat terasa menyapa indera pendengaran Julia. "Aku tak bisa membiarkan siapapun terluka karenaku. Bukankah sejak awal aku lah target mereka?"


"Bagaimanapun alasannya, jangan pernah kau coba mengulanginya."


"Bukankah kau juga diuntungkan. Kejadian ini bisa menjadikan alasan bagimu untuk menyingkirkan semua musuhmu. Jadi kau harus membayar kompensasi atas nyawaku yang hampir melayang."


"Kau bisa meminta hadiah apapun."


"Janji?" tanya Julia sambil mendongak.


Maxilian menurunkan pandangannya dan mengangguk. "hmm."


"Lian, apa kau percaya keajaiban?"


"Keajaiban? Julia, ini bukan negeri dongeng."


"Lian!" geram Julia kesal.


Maxilian tersenyum tipis dan terdiam. "Katakan."


"Apakah kau percaya kehidupan baru setelah kematian? Jika kau diberi kesempatan hidup kembali setelah kematian, apa yang akan kau lakukan?"


"Kehidupan baru? Itu mustahil. Hal itu tak pernah ada."


Julia terdiam. Ia menggigit bibir bawahnya kuat. Benar, mana ada orang yang percaya jika ia adalah Angel Zhao. Hal-hal mengenai keajaiban seperti yang ia katakan, bagi Maxilian adalah sebuah dongeng. Maxilian sudah mengalami banyak kesulitan hidup hingga ia mulai kehilangan rasa.


"Yah, itu memang dirimu." Ucap Julia akhirnya. "Aku kehilangan hal-hal penting dalam hidupku. Dan aku tak bisa membiarkan mereka, yang telah menghancurkanku, hidup dengan mudah. Jika ini adalah sebuah keajaiban, maka yang akan kulakukan adalah menyeret mereka ikut terkubur bersamaku."


Maxilian tercenung. Ia mengerutkan kening saat menyadari api kemarahan yang membara. Keajaiban? Kehidupan baru? Pikiran Maxilian melintas jauh dan ia dengan tak sengaja melihat tangan Julia yang meremas selimut dengan kuat. Hal utama yang terlintas di pikirannya adalah satu nama yang berkali kali Julia sebut.


"Angel Zhao."


Julia langsung menoleh saat namanya disebut sekali lagi oleh Maxilian. Dia melihat Maxilian yang menatapnya dalam.


"Siapa dia?"


"Itu,.. dia hanya seorang teman." ucap Julia gugup.


"Teman?"


"Yah seorang teman yang memiliki nasib yang malang."


"Oh, apa yang terjadi padanya?" tanya Maxilian penasaran. Rasa curiganya kian besar.


"Yah tak banyak. Kami hanya memiliki kisah yang sama. Di hianati dan dilukai."


"Aku merasa itu tak seringan yang terdengar."


Julia mengingat kembali masa itu. Tak peduli seberapa keras ia menahan emosinya, ia tetap tak dapat mengendalikannya. Bagaimana bisa ia mati di bawah penghianatan dari orang-orang yang dicintainya. Sampai kapanpun dia tak akan menerimanya. Dia dan masa lalunya, atau dia yang sebagai Julia tetap harus membalaskan dendamnya. Deretan nama-nama orang yang harus ia lenyapkan terlintas jelas. Membawakan gelombang amarah besar yang tak terkendali.


"Mereka ingin membunuhku! Membunuh keluargaku! Dan menguasai semua hartaku! Demi sebuah cinta aku mengorbankan seluruh duniaku. Jika nyawaku kembali lagi, maka aku tak akan jatuh cinta. DIa, tak peduli apapun, tak bisa bahagia di atas deritaku. Tidak akan bisa!"


Maxilian terdiam. Telinganya jelas mendengar semua hal yang Julia ucapkan. Semakin ia resapi, makin ia mencurigai sesuatu. Bahwa gadis yang berada di sampingnya ini bukanlah Julia. Namun ia juga tak percaya bahwa gadis di sampingnya ini adalah Angel Zhao.

__ADS_1


__ADS_2