Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Linglung


__ADS_3

Dinginnya udara pagi ini membuat seseorang di dalam selimut makin mengeratkan tubuhnya dengan selimut. Dia beringsut, memundurkan tubuhnya dan mengerutkan keningnya saat punggungnya menabrak sesuatu. Kesadarannya kembali, matanya beranjak terbuka pelan. Dia mengerutkan keningnya saat merasa pinggangnya terasa berat. Lalu punggungnya terasa geli dengan hembusan nafas yang hangat.


Hal pertama yang ia tatap adalah dinding berwarna abu-abu. Lampu tidur di nakas meja yang mash menyala. Mengernyitkan kening, dia merasa langit-langit kamar ini begitu familier. Mencoba menggerakkan badannya, dia mengeluh saat merasa seluruh badannya terasa sakit dan remuk.


Apa yang terjadi?


Dia mencoba menggerakkan badannya dengan paksa tanpa memindahkan tangan yang memeluk pinggangnya. Membalikkan tubuhnya, dan detik berikutnya dia membungkam mulutnya yang telah terbuka lebar dengan teriakan yang tertahan. Dia melihat Maxilian yang telah membuka matanya dan tengah menatapnya tanpa ekspresi.


"Kau sudah bangun?" tanya Maxilian lembut.


Julia tak menjawab, ia memilih memundurkan tubuhnya pelan namun kemudian tangan Maxilian yang berada di pinggangnya menarik tubuhnya kembali hingga kembali rapat. Selimut yang menutupi tubuh mereka sedikit tertarik karenanya dan sedikit terbuka. Membuat matanya menatap dada Maxilian yang tak mengenakan pakaian.


Benar-benar polos, tak mengenakan apapun sampai terlihat jelas otot-otot perut yang menonjol dan kulit putih bersih, sehingga nampak jelas jejak-jejak merah yang mendominasi. Sangat banyak hingga terlihat jelas. Tak hanya di dada Maxilian, namun di perut dan lehernya pun tak luput dari jejak merah itu. Jadi siapa yang melakukannya? pikirnya.


"Kau belum menjawab pertanyaanku."


Julia makin tertegun pada nada lembut ucapan Maxilian yang tak biasa. Sejak ia bangun pria ini berbicara sangat lembut sehingga membuatnya bergidik ngeri. Sejak kapan pria dingin ini bisa bersikap hangat? Terlebih saat ini mereka hanya berdua. Jadi tidak perlu berpura-pura. Tunggu, hanya berdua? Di dalam kamar? Di ranjang yang sama? Maxilian tanpa pakaian? Semakin ia berpikir, semakin nafasnya sesak dengan rasa takut.


"Kita.." ucap Julia dengan ragu dan ekspresi panik. Tangannya dengan cepat membuka selimut yang menutupi tubuhnya dan detik kemudian terdengar teriakan keras. "Aaarrgghh!! Apa yang kau lakukan padaku! Maxilian kau.."


Julia terguncang saat melihat dirinya tak mengenakan apa-apa. Tangannya dengan cepat menyerang Maxilian dengan pukulan ringan namun semua itu dengan cepat ditahan oleh tangan pria itu. Terlebih kini pria itu telah mengukung tubuhnya. Hingga ia tak dapat bergerak.


"Ssstt!" potong Maxilian dengan meletakkan jari telunjuknya di tengah bibir Julia. "Aku sudah menduka kau akan kereaksi seperti ini. Apa kau benar-benar tak mengingat semuanya? Semua hal yang telah kita lakukan?"


Julia menatap nanar, dia menyingkirkan tangan Maxilian dan mencoba beringsut mundur. Membuat Maxilian kembali berbaring di sampingnya. Menarik kuat selimut yang menutupi tubuh mereka berdua hingga membungkus seluruh tubuhnya. Tapi yang terjadi kini adalah tubuh Maxilian yang terpampang telanjang bulat di depannya.

__ADS_1


"Ahhkk! Apa yang kau lakukan!" maki Julia sambil menutup mata.


Maxilian tersenyum tanpa sadar. Dia menarik selimut yang ditarik Julia sedikit. "Kenapa? Kau malu? Kau bahkan sudah melihat dan mencicipinya berkali kali semalam. Mungkin empat, tidak." gelengnya sambil mengingat. "Mungkin enam atau tujuh kali. Kau bahkan sangat merasakannya dengan.."


"Dengan apa?" potong Julia panik. Saat ini dia sangat terguncang dan terkejut. Matanya menatap wajah tampan Maxilian yang tengah tersenyum. Rasa kesal, benci dan bahkan semua perasaan yang campur aduk menjadi satu.


"Dengan itu." jawab Maxilian tanpa ragu dengan memajukan bibirnya sedikit. Melepaskannya pelan membuat suara ciuman.


"Aarrgghh! Itu tidak mungkin. Itu tidak mungkin! Kau pasti bohong. Kau pasti.."


"Hati-hati," potong Maxilian saat melihat Julia terguncang. Gadis itu berusaha bangun dan berdiri tapi kemudian jatuh lagi.


"Ahk!," Rintih Julia kesakitan. Dia merasakan bagian bawah tubuhnya sakit dan perih. Bahkan lebih buruknya lagi, dia bahkan sulit berjalan karena kakinya terasa lemas.


Apakah sakit


Apakah bengkak


Biarkan aku melihatnya


Kata-kata itu terus terngiang membuat kepala Julia berputar seakan ingin meledak. Bagaimana bisa pria ini dengan tak tahu malu ingin melihat bagian inti tubuhnya. Bagaimana.. Ahk!! bagaimana semua ini bisa terjadi?


"Kau, apa yang kau katakan? Apa kau waras?" bentak Julia.


Maxilian terlihat sangat tenang. "Kau benar-benar tak ingat? Jika ada yang harus marah itu harusnya aku. Kau merayuku hingga aku lepas kendali. Kau menyentuh dan menciumku. Kau bahkan menandai seluruh tubuhku dengan bibirmu. Kau lihat ini, ini, ini. dan ini. Semua ini adalah hasil karyamu." tunjuknya pada tanda merah di seluruh tubuhnya.

__ADS_1


Julia menganga. Dia melihat seluruh tubuh maxilian dan menutup mulutnya pelan. Kepalanya menggeleng kuat, "Tidak, ini tidak mungkin, bagaimana aku bisa seceroboh ini? Aku, tubuhku--"


"Jadi jika ada yang meminta pertanggungjawaban itu adalah aku. Karena kau telah meletakkan hak milikmu padaku. kau harus bertanggung jawab dan jangan pernah berpikir untuk lari. Karena sejak saat ini, seluruh tubuhmu adalah milikku."


Kata-kata itu terdengar dingin dan menuntut. Namun ada pandangan penuh perhatian di dalamnya


Maxilian beranjak menuju kamar mandi. Sedangkan Julia terlihat kacau. Dia masih mencoba mengingat semuanya. Dan saat dia meremas selimut serta menariknya, matanya menatap noda merah di atas tempat tidur. Tanpa pikir panjang dia sudah tahu noda itu. Merasakan bagian tubuh bawahnya sakit, dia membenarkan ucapan Maxilian.


"Carlen," ucapnya pelan. Terakhir ia ingat terakhir kali dia berada di kamar bersama Carlen. Rasa sakit itu, rasa dingin bercampur dengan panas yang menyiksa di beberapa bagian tubuhnya, sangat jelas teringat. Dia tahu niat Carlen yang mencoba menodainya. Dan pada akhirnya Maxilian datang menyelamatkannya.


"Jadi, jadi aku dan Maxilian.. Ya tuhan, aku pasti sudah gila. Kenapa aku harus tidur dengan pria gila sepertinya."


Julia memukul mukulkan tangannya pada tempat tidur. Riak kepanikan dan rasa tak percaya mendominasi wajahnya. Matanya perlahan bergeser pada pintu kamar mandi yang tertutup. Lalu ucapan Maxilian kembali terngiang.


"Kenapa? kau malu? Kau bahkan sudah melihatnya dan mencicipinya berkali kali semalam. Mungkin empat, tidak. Mungkin enam atau tujuh kali. Kau bahkan sudah merasakannya dengan..."


Apa katanya? enam atau tujuh kali? Mereka? Julia menarik rambutnya lembut. Menggigit bibir bawahnya dengan perasaan tak percaya. "Tak mungkin, tak mungkin kami melakukannya sebanyak itu. Tapi.." ucapnya ragu-ragu. DIa meraba perut bagian bawahnya yang nyeri. "Ini sangat sakit. Tubuhku rasanya remuk. Seperti tulang-tulangku lepas dari tempatnya."


Di tengah kebimbangannya, , lagi-lagi ucapan Maxilian terngiang. "Apakah masih sakit? Apakah itu bengkak? Biarkan aku melihatnya."


Julia ingin berteriak keras, namun lagi-lagi hal yang keluar dari mulutnya adalah, "Ya tuhan, aku pasti sudah gila. Aku benar-benar sudah gila. Bagaimana mungkin aku tak mengingat semuanya?"


Dengan ******* Julia yang berat, bayangan senyum Maxilian yang manis namun terlihat seperti malaikat pencabut nyawa itu membuatnya makin ketakutan. "Apa ini? Kenapa wajahnya tersenyum mengerikan seperti itu? Dan jejak merah di tubuhnya, mana mungkin itu perbuatanku?" tanya Julia tak yakin.


Dari semua keraguan, ingatan dari kata-kata Maxilian datang menjawab semuanya. Wajahnya yang merah kini bertambah merah dengan rasa malu yang tak dapat ditahan. Dia menyentuh bibirnya tak percaya. "Julia, ini semua salahmu! Aku Angel tak pernah seliar itu. Tuhan, rasanya aku ingin mati saja."

__ADS_1


__ADS_2