
"Apa sebegitu berharganya aku bagimu? Sehingga kau sangat terobsesi untuk memilikiku?"
"Realitanya sekarang, kau sudah menjadi istri dari seorang pria yang bukan tipemu."
"Itu." ucap Julia ragu. Dia ingat kata-katanya dulu, kalau dia tidak akan pernah mau menjadi istri pria ini meski seluruh pria di dunia ini musnah dan hanya menyisakannya. Tapi kini? dia malah menjilkat ludahnya sendiri.
Maxilian sedikit menoleh sembari menunggu jawaban dari istri barunya. namun hanya keheningan yang didapat. "Mereka, pria-pria yang berada di atomic bar waktu itu. Apa kau bangga mempermainkan banyak pria?"
"Aku tak memiliki hubungan apapun dengan pria manapun. Bukan salahku kalau beberapa pria cukup tergila-gila padaku." Jawab Julia setelah perenungan sesaat.
"Bagus, kedepannya aku tak mau melihat pria lain menyentuh tubuhmu. Karena aku jijik dengan wanita bekas."
Julia tersenyum sinis mendengarnya. "Lupakan saja, mereka tidak penting. Sekarang mana kontraknya?"
Maxilian memberikan kertas kosong pada Julia. "Tulislah segala persyaratan yang kau inginkan. Selama hubungan pernikahan kita, aku tidak mau kau memiliki hubungan apapun dengan pria lain."
Julia mengangguk tanpa menerima kertas itu. "Aku paham, lalu berapa lama kita menjalani pernikahan ini?"
"Tiga bulan. Lalu apa syarat yang kau inginkan?"
"Cinta. Hanya cinta. Aku tak ingin ada perasaan itu di dalam hubungan kita. Perasaan sampah yang akan membawa malapetaka."
Sudut bibir Maxilian berkedut. Dia melirik Julia yang duduk diam tanpa ekspresi. Dia pun muak dengan kata-kata cinta. Cinta adalah omong kosong baginya. "Tak perlu khawatir, aku tak akan memiliki perasaan bodoh seperti itu, apalagi untuk wanita mur**an sepertimu."
Julia tersenyum dengan memutar bola mata jengah. Karena pemikiran pria ini terhadapnya sudah sangat melekat, dia enggan menjelaskan segala sesuatu. Daripada berusaha menjelaskan sesuatu yang belum tentu dipahami dan dipercaya orang, lebih baik bertindak sesuai dengan yang orang lain pikirkan.
"Aku memang wanita mur**an, jadi kau harus memperjelas bayaranku sebagai istri kontrakmu. kau tak lupa kan, aku mengantongi restu kakek nenekmu. Jadi sudah dipastikan aku harus mendapatkan bayaran lebih untuk mengambil peran ini."
"Sebanyak yang kau mau. Uang tak masalah bagiku."
Mendengar itu, Julia tersenyum tipis. Dia mengulurkan tangannya dan Maxilian menyambutnya. "Tiga bulan." ujarnya. "Karena kau selalu berpikir aku wanita mur**an, makan jangan terkejut kalau istri murahanmu ini memilik banyak kebutuhan."
"Jadilah baik, atau kau akan menyesal." Jawab Maxilian sembari mengulurkan dua kartu hitam pada Julia.
__ADS_1
Tidak lama kemudian mobil yang mereka tumpangi sampai di rumah utama keluarga Lunox. Julia cukup terperangah saat melihat mansion mewah yang lain dari bangunan mewah lainnya. Rumah keluarga suaminya ini bekali-kali lipat lebih besar dari rumahnya.
Sambutan hangat datang dari kakek nenek Lunox. Julia tak bisa menahan perasaan haru saat menerima kasih sayang dan perhatian dari mereka. Suasana itu membuatnya merindukan kaluarganya di cina. Saat memikirkannya, dia memantapkan diri untuk segera menyelesaikan masalah di sini, dan segera kembali ke cina.
Ruangan besar warna peach menyambut Julia setelah melewati jamuan panjang dari kakek nenek Lunox. Tak menunggu lama, dia lemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Menghirup udara dalam ruangan tersebut untuk melepas beban yang bertubi tubi dari segala kejadian yang baru dia alami.
"Kau tak mandi?"
Pertanyaan dingin itu membuat Julia terperanjat. Dia terduduk dengan salah tingkah. "Apa yang kau lakukan di kamarku?"
"Ssst." jari jempol Maxilian menyentuh bibirnya dan jari lainnya menyentuh pipinya, berusaha menunjukkan seakan akan jemarinya mengelus pelan wajah Julia. "Kakek nenekku memasang cctv di setiap sudut ruangan ini. Mereka tak akan semudah itu percaya dengan pernikahan kita."
"Apa?" jawab Julia terkejut, namun matanya mengedarkan ke seluruh sudut ruangan. Dan benar saja, dia mendapati beberapa kamera yang terpasang di tiap sudut kamar. "Apakah mereka gila?"
Tak ada cara lain. Maxilian mendekatkan tubuhnya pada tubuh Julia. Memeluk Julia yang bertindak kaku dan canggung. Dia dekatkan wajahnya pada kepala Julia, kemudian berbisik pelan di dekat telinganya. "Keluargaku--"
"Apa?" tanya Julia penasaran. Dia mendongakkan wajahnya ke arah wajah Maxilian, namun pelukan pria itu makin erat dan menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Dia mencoba berontak namun gagal, karena pria itu menekan tubuhnya tepat di atas tubuhnya. "Apa yang kau lak--"
Maxilian menutup bibir Julia dengan jarinya. "Ssstt pelankan suaramu. ingatlah cctv."
Julia mengangguk lagi dan patuh mendengarkan Maxilian.
"Aku tak tahu dari mana mereka berpikir kau telah keguguran. Aku tak mengira harapan mereka memiliki cicit sangat besar. Kita harus membuat mereka percaya kalau pernikahan kita sudah lama terjadi. Jangan sampai membuat kesalahan, ingat, cctv ada di mana mana. Hati-hati dalam berbicara, dan selama pernikahan kita, kita akan tidur di ranjang yang sama."
Julia membuka mulutnya saat Maxilian menyingkirkan tangannya, kemudian ia berbisik. "Tapi itu tak ada dalam kontrak kita."
"Apa aku perlu menambahkan?" tanya Maxilian setengah berbisik.
"Julia menggeleng kuat. "Tidak. Aku tak sudi memiliki anak dari pria sepertimu."
Maxlian menahan tangan Julia saat tahu tangan kurus itu berusaha mendorong tubuhnya. "Sepertiku? Memangnya apa yang salah dengan pria tampan dan kaya sepertiku? di luar sana banyak wanita mengemis untuk dapat memiliki anak denganku."
Julia mencibir, sejak awal bertemu, pria ini selalu menampakkan kepercayaan diri yang tinggi. "maka kau bisa memilih salah satu dari wanita-wanita itu."
__ADS_1
"Kau pikir aku sepertimu? Aku tak bisa berlaku serendah itu. Memilih pasangan dengan random dan merayu tiba-tiba seperti yang kau lakukan." ujar Maxilian sinis.
"kau pikir aku serendah itu? Kurasa kau benar-benar bodoh mempercayai perkataan orang mabuk. Mana mungkin aku melakukan itu padamu di saat aku sadar seperti saat ini. Sepertiku? Sepertiku yang bagaimana? Apa kau perlu kaca?" Tanya Julia dengan kesal. "Menyingkir dari atas tubuhku! Aku bukan kasur."
Maxilian menatap Julia dalam. Gadis ini selalu memiliki banyak kata untuk memutar balikkan semua. Lalu Maxilian melanjutkan perkataannya. "Kakek nenekku memiliki banyak hubungan yang sulit. Pastikan kau tak membuat masalah baru karena musuh keluarga Lunox tidak sedikit. Jangan sampai keteledoranmu membuat celah bagi mereka untuk masuk dan menghancurkan pilar keluarga."
"Sial! Masalah baru lagi. Kau bahkan menyeretku ke dalam masalah keluargamu? Tuan Lunox, aku benar-benar menyesal menikah denganmu! Batalkan pernikahan kita karena aku bukan dadu yang bisa kau permainkan!"
"Sayangnya aku sudah memilihmu untuk menjadi pionku."
"Maxilian, kau--"
"Bersikaplah baik dan jangan membantah. Perlihatkan pada mereka semua bahwa kita adalah pasangan harmonis. Jangan sampai kau membahas perceraian lagi, atau,"
Mata Julia terbelalak saat tangan Maxilian beralih ke lehernya, dan meremas pelan.
"Jika kau tak sayang nyawamu, kau bisa mencobanya."
"Aku tak pernah menjanjikan apapun padamu, kau ingat?"
"Kau sangat berusaha rupanya." Ujar Maxilian penuh minat. "bagus, aku suka sikapmu yang tak mudah menyerah." Ujar Maxilian sembari melonggarkan cengkeramannya.
Menunduk, Maxilian kembali menjatuhkan kepalanya dan mencium leher Julia lembut. Menyeret bibirnya dengan ******* nafas yang berat menuju telinga Julia. Membuat Julia menegang. Dan sikap waspada Julia ini, entah kenapa dia sangat menyukainya.
"Aku akan membuatmu menyesali kata-katamu, menyesali karena sudah menentangku!" bisik Maxilian dengan penuh penekanan. Dia akan selalu mengingat semua hinaan Julia yang selalu dilontarkan dari mulut kecilnya itu.
Dia bangun dari atas tubuh Julia dan meliriknya sesaat. Ada tatapan jijik melintas saat ingat bagaimana Julia merayunya dulu. Membuatnya ingin segera lari ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya yang sudah menyentuh tubuh kotor wanita ini.
Melihat Maxilian pergi tiba-tiba. Julia menghembuskan nafas lega. Pria tampan ini selalu menyentuhnya. Membuatnya mengingat ciuman panas yang pernah terjadi antara mereka. Seharusnya dia bisa menolaknya. Pria ini, menyentuhnya karena dia menganggap kalau Julia adalah wanita murahan.
"Hahhh... ya, benar. Aku adalah wanita murahan. Memanfaatkan diriku untuk mendapatkan kekayaan dan kekuasaan."
Ada ******* panjang yang menggambarkan betapa lelahnya dia saat ini. Saat ini dia merasa sudah begitu menjatuhkan harga dirinya. Ada rasa marah tertahan namun dia tak bisa melakukan apapun. Apalagi mengingat peringatan dan ancaman dari pria itu, membuat tubuhnya mengigil. Dia berdiri dan menuju meja riasnya. Dia sibakkan rambutnya untuk melihat jejak merah yang tersemat di lehernya. Dia sentuh lehernya dan membuat darahnya mendidih.
__ADS_1
"Julia, kau bodoh. Tidak, Angel kau sangat bodoh. Bagaimana mungkin kau diam saja saat pria itu menyentuhmu. Pria tampan yang sempurna? Cih, aku pasti sudah gila. Pria itu kejam tak berperasaan, lantas apa yang alasan baginya untuk dapat disebut laki-laki sempurna. Bagaimana mungkin kau terbuai dengan nafsu pada sentuhan lelaki asing.
Dia meremas rambut panjangnya. Dia ingat betul bagaimana sentuhan Maxilian yang begitu menggoda. Seakan-akan sentuhan itu menarik seluruh cinta darinya. Sentuhan yang membuat dirinya merasa begitu dicintai, begitu dihargai, dan begitu diharapkan. Tanpa sadar dia membandingkan dengan kehidupannya yang dulu. Dirinya sebagai Angel bersama Aaron yang memiliki hubungan indah namun berakhir tragis. Atau sebagai Julia yang terpaksa menikah kontrak dengan pria kejam yang dapat membuatnya merasakan dicintai dan dibutuhkan.