Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Menjebak Atau Dijebak


__ADS_3

"Tidak! Lindsey!!" teriak Rose histeris. Matanya menatap tak percaya dengan apa yang tersaji di depannya. Lindsey sudah tak bergerak dengan tubuh penuh darah, Pemandangan yang sangat mengerikan.


"Bibi, tolong Lindsey. Cepatlah bawa Lindsey ke rumah sakit sekarang!" ucapnya pada Zelin.


Zelin tak menjawab bahkan tubuhnya membeku dengan berbagai pikiran yang berkecamuk. Bahkan dua bodyguard yang bersamanya pun merasakan ketakutan tak terkira.


Melihat Zelin yang terdiam, Rose mundur ketakutan. Ia hanya bisa menangis histeris melihat kejadian ini. Hingga pandangannya jatuh pada Julia yang masih berdiri kaku tanpa ekspresi. Ia bisa melihat mata Julia tak bergeser satu inci pun dari mayat Lindsey. Bahkan tak ada gambaran rasa takut atau jijik di mata Julia.


Tiba-tiba ia berlari dan langsung menarik lengan Julia. Meremasnya kuat dengan rahang yang mengerat. Dia ingin bicara namun bibirnya terasa kelu. Tubuhnya bahkan masih gemetar ketakutan.


Namun ia tertegun saat tatapan mata penuh peringatan Julia berikan padanya. Namun ia memberanikan diri untuk bicara.  "Kau! Apa yang kau lakukan pada Lindsey!"


Rose menggoyangkan tubuh Julia, namun Jeni segera bertindak. Jeni mendorong Rose yang sudah mulai menyentuh nona mudanya. Tubuh Rose terhuyung bahkan jatuh terjerembab di dekat mayat Lindsey hingga darah menempel di pakaian Rose.


"Ahhkk!!"


Teriakan Rose sangat keras. Ia merangkak jauh dan menyeret tubuhnya dengan air mata yang deras. Genangan darah kini ikut terseret dan tercetak jelas di lantai. Matanya bahkan tak bisa lepas dari tubuh kaku Lindsey yang hampir mengeluarkan bola matanya akibat menahan rasa sakit yang tak terkira.


"Rose, kau membunuhnya!"


Suara dingin Julia terdengar di antara ketakutan Rose. Tatapan matanya kini menatap Rose lekat, penuh kesedihan dan air mata. Wajah yang terlihat datar dan dingin beberapa menit yang lalu, kini berubah. Julia saat ini menampakkan wajah penuh luka dan penyesalan, dan mengangkat tangannya menunjuk tubuh Rose yang belum beranjak dari lantai.


"Ka-kau membunuhnya! Kau membunuh Lindsey! Rose, bagaimana mungkin kau melakukan semua ini!"


Zelin yang sedari tadi terpaku menatap mayat Lindsey, mengalihkan perhatiannya pada Julia yang menangis ketakutan. Sedangkan Rose membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia beranjak mendatangi Julia, mengangkat tangannya tinggi-tinggi lalu menampar pipi Julia keras.


Plakkk


"Apa yang kau katakan ja*lang!"


Tubuh Julia terhuyung mundur beberapa langkah hingga jatuh. Tangannya yang sempat memegang pisau tajam milik Lindsey, terayun dan jatuh tepat di kaki Rose. Rambutnya yang berantakan kini beralih menutupi wajahnya. Ia terdiam, namun satu sudut bibirnya tertarik tipis, membentuk sebuah senyum dingin.


"Nona, apa yang kau lakukan!" teriak Jeni membentak Rose hingga mendorong tubuh Rose menjauh. Ia mendekati Julia, melindunginya dengan menatap Rose tajam. "Jangan mendekati nona muda! Jangan sekali-sekali menyentuhnya!"


Melihat dia dihentikan oleh seorang pelayan, amarah Rose makin berkobar. Ia menunduk, memungut pisau tajam di kakinya lalu mendekati Jeni dengan berlari.


"Beraninya kau kacung!" teriak Rose keras. Ia mengangkat tangannya tinggi lalu menekan ke bawah dengan keras.

__ADS_1


"Jeni awas!" teriak Julia keras. Ia tak bisa kehilangan kesempatan ini. Tentu saja ia harus terluka untuk membalikkan keadaan seperti yang ia inginkan.


Tangan Julia dengan sigap menggulingkan tubuh Jeni dan memeluknya. Hingga pada akhirnya pisau tajam yang terayun itu mendarat tepat di punggungnya. Darah menyembur keluar dengan deras saat Rose menarik pisaunya.


Jeni tertegun saat wanita cantik ini melindunginya. Ia mendongak dan mendapati wajah nona mudanya mengernyit. Namun matanya dengan jelas melihat bibir Julia membentuk sebuah senyuman tipis meski hanya sesaat. 'Apa yang terjadi?' batin Jeni.


"Itu bagus! Bagus kalau itu adalah dirimu. Julia, kau pantas mati!" teriak Rose histeris saat tahu bahwa ia telah melukai Julia.


Tersadar. Jeni terkejut. Dengan cepat ia rengkuh tubuh Julia lalu menggulingkannya pelan. Ia berbalik degan cepat degan satu kakinya menendang tubuh Rose yang bersiap untuk menyerang Julia kembali. Setelah itu, ia lari menghampiri tubuh Julia kembali.


"Nona, kau terluka. Biarkan aku melihat lukamu." ujarnya panik.


Julia terbatuk pelan dan tersenyum. Ia menatap Jeni lembut. "Syukurlah kau baik-baik saja."


Kata-kata Julia membuatnya tertegun. Ia telah diselamatkan oleh nona mudanya. Dia yang seorang pelayan, mendapat perlindungan dari orang yang seharusnya ia lindungi. Melihat ketulusan Julia, hatinya menghangat.


"Nona.." ujarnya sambil menahan air mata.


"Luka ini cukup memberitahukan pada orang luar bahwa aku teraniaya." jawab Julia dingin. Ya, Julia memang sengaja memposisikan dirinya untuk terluka, untuk menunjukkan pada semua orang bahwa ia adalah wanita lemah yang teraniaya di keluarga Lunox.


Sedangkan Jeni mulai tersadar. Ternyata nona mudanya ini dengan sengaja menggulingkan tubuhnya untuk mendapatkan luka ini. Orang seperti apa nona mudanya ini? Bermain dengan maut hanya untuk memuluskan rencana. Bukankah ini sebuah pemikiran gila?


Nona, kau sangat mengerikan! batin Jeni frustasi. Apa yang harus kukatakan pada nyonya besar nanti? Apa hukuman yang akan kudapatkan dari tuan dan nyonya besar?


**


Ruangan serba putih dengan aroma obat tersamarkan oleh aroma bunga yang diganti setiap hari. Julia masih terbaring di ruang perawatan dengan selang infus yang terpasang. Tubuhnya terbaring lemah dengan mata yang masih tertutup rapat.


"Kau benar-benar tak ingin bangun? Bangunlah..kumohon.."


Perintah itu terdengar putus asa dan terdengar lembut walaupun nada arogan masih sedikit terlintas. Maxilian, ia menyentuh ujung jemari Julia lembut dengan sangat hati-hati. Matanya fokus pada mata Julia yang masih tertutup rapat.


"Apa kau sangat ketakutan?"


Maxilian menggigit bibir bawahnya dengan sedikit keras. Meninggalkan jejak merah pada bibirnya dengan mata sayu penuh harap.


"Tak apa, aku sudah menyelesaikan semuanya." ujarnya lagi. Ia menghela nafas berat. "Kau harus segera bangun atau aku benar-benar akan menggila."

__ADS_1


"kau pulanglah. Aku yang akan menjaganya."


Sebuah teguran terdengar bertepatan dengan pintu ruangan yang terbuka dari luar. Hanna berjalan masuk dan menutup pintunya pelan. Ia tersenyum saat Maxilian menatapnya teliti.


"Apakah ada yang aneh?"


"Pergilah, aku tak membutuhkanmu."


"Kakak sepupu."


"Pergi."


"Maxilian sampai kapan kau seperti ini? Aku tak ada sangkut pautnya dengan masalah ini. Lebih tepatnya aku tak akan pernah mencari masalah padamu ataupun Julia."


Maxilian menatap Hanna tajam. Ia mengabaikan semua ucapan Hanna. Ia kembali menoleh menatap Julia dan mengelus tangan Julia pelan.


"Aku akan menjaganya. Kau bisa memusnahkan seluruh keluargaku jika aku mengingkarinya."


Hanna mende*sah, saat seluruh keluarganya menjadi taruhan hanya untuk mendapatkan waktu bersama Julia. Namun ternyata sangat sulit. Maxilian dan kakek neneknya seakan tak memberi ruang untuk beberapa orang menemui Julia.


"Maxilian, percayalah padaku, aku tak ak--"


"Hanya tiga puluh menit. Aku akan membiarkanmu menjaganya selama aku memiliki pertemuan penting. Ingat, kau sudah mempertaruhkan keluargamu."


Hanna menganggukkan kepalanya dengan mantap. Lalu Maxilian bangun dan mengecup kening Julia pelan. "Aku akan kembali."


Hanna melihat kepergian Maxilian. Ia duduk di mana maxilian duduk sebelumnya. Menyilangkan kakinya dengan anggun, sambil menatap mata Julia yang tertutup.


"Kau bisa membuka matamu sekarang. Kau sudah mendengar bukan, kalau aku sudah mempertaruhkan nyawa seluruh keluargaku hanya untuk menjagamu."


Hanna menyandarkan tubuhnya pada kursi yang ia duduki dengan menatap lekat Julia. Ia bisa melihat jelas mata hitam itu mulai terbuka pelan dan natural. Julia benar-benar berbakat dalam membalikkan keadaan. Julia benar-benar penuh kejutan.


"Apakah menyenangkan melihatnya khawatir ataukah kau sangat puas setelah menciptakan kehancuran keluarga Lunox?" tegur Hanna langsung pada inti.


Julia mengerjap pelan dan satu bibirnya tertarik pelan. Ia menoleh sangat pelan dan anggun. Mata hitamnya menatap hanna lekat.


"Kau benar-benar cerdas hanna. Kau selalu bisa membaca situasi." puji Julia. Kemudian ia bangun dan duduk sambil menyenderkan tubuhnya. Menatap kembali Hanna, "Informasi apa yang kau dapatkan?"

__ADS_1


__ADS_2