
engga tau gimana di tempat kalian, tapi di tempatku jaringan internetnya ngadat. Apa karena wifi ku yang bermasalah ya.. ah entahlah. Harap maklum kalau lama tidak up, krn sudah pasti masalah teknis.
**
"Apa yang terjadi?" tanya Rose panik menghampiri Lindsey yang berteriak kesakitan. Ia menunduk untuk memeriksa kaki Lindsey yang memerah. Baru lima menit ia meninggalkan Julia dan Lindsey berdua namun kini ia mendapati Lindsey berteriak kesakitan, sedangkan Julia nampak duduk tenang di tempatnya.
Mata Julia memandang sekilas ke arah Rose yang dengan emosi mengucapkan umpatan kepadanya. Namun ia tetap menampilkan ekspresi tenang dengan berbagai macam pemikiran.
"Apa yang kau lakukan pada Lindsey? Kau itu wanita yang sangat kejam!"
Julia hanya tersenyum menatap Rose yang bicara keras padanya. Ia tahu, umpatan keras yang keluar dari mulut Rose disertai dengan rasa takut terhadapnya. Kemudian Julia menunjukkan botol kosong yang tergeletak di lantai. "Lindsey sedang bemain dengan air keras."
"Julia! Kau benar-benar gila! Pasti kau yang menyebabkan semua ini terjadi!" bantah Rose tak percaya.
"Rose, aku datang bersamamu. Apa kau melihatku membawa air keras? Lagipula mana aku tahu di sini ada air keras? kecuali jika kau dan dia sengaja menyiapkan air keras itu untukku."
Rose membelalakkan matanya. Dia mundur ke belakang. Julia, wanita ini tahu tentang ini? Menatap ngeri wajah Julia yang tersenyum tipis ke arahnya.
Mereka berdua tidak pernah memprediksi tentang kejelian Julia yang sangat waspada dalam membaca situasi. Julia mendapati sebuah botol berisi cairan. Dengan kondisi jiwa Lindsey yang tak biasa, Julia sudah bisa membaca arah rencana mereka berdua. Lindsey pasti menggunakan air keras untuk mengawetkan boneka-bonekanya. Dan botol yang berisi cairan itu, sudah pasti adalah air keras.
"Ternyata gadis kecil sepertimu sangat cerdas."
Sapaan dingin dan berat terdengar dari arah ruang belakang. Ketukan lantai dari sepatu terdengar. Hingga membuat Julia, Rose, dan Lindsey menoleh ke arah suara langkah kaki itu mendekat. Melihat kedatangan orang tersebut, Rose bernafas lega. Ia menghampiri Lindsey dan membantunya berdiri untuk ia dudukkan ke kursi.
Julia mengerutkan keningnya dengan menatap lekat seorang wanita paruh baya dan dua orang pria kekar yang mengikutinya di belakang. Wajah yang berumur itu masih terlihat sangat cantik dan tubuh yang bugar. Matanya menatap nyalang Julia hingga membuat Julia makin waspada. Wanita tua ini, ia tak pernah melihatnya di kehidupan sebelumnya ataupun di kehidupan yang sekarang. Ia menebak, wanita tua ini pastilah kerabat Maxilian.
Kerisauan hatinya makin menjadi. Ia tak hanya melawan dua sepupu Maxilian, namun ada satu lagi tetua keluarga Lunox dengan dua orang anjing penjaganya. Menatap dua pria penjaga itu, ia bergidik ngeri. Berpikir bagaimana ia bisa keluar dengan selamat kalau harus menghadapi mereka semua.
"Bibi, akhirnya kau datang." keluh Rose dengan manja. Ia melihat Julia yang duduk tenang tanpa melihat orang yang ia panggil bibi.
"Apakah ia orangnya?"
Rose mengangguk dengan tangan mengacung ke arah Julia. " Iya bibi, ia di hadapanmu sekarang." terangnya dengan senyum licik saat bibinya duduk tepat di hadapan Julia, sedangkan dua penjaganya berdiri di belakang bibinya.
Mengamati Julia lekat. Meneliti ekspresi Julia yang nampak sangat tenang. "Apa kau istri Maxilian Jade Lunox?"
__ADS_1
Julia menjawab dengan malas. "Apa aku harus memperkenalkan diriku terlebih dahulu, bi-bi? tekannya pada kata bibi dengan sangat jelas.
"Lancang! sejak kapan aku menjadi bibimu!"
Gebrakan meja itu terdengar mengiringi ucapannya. Rose menahan tawanya saat melihat kemarahan bibinya. "Bibi Zelin, kau membuatnya takut."
"Bibi, kau tak perlu berteriak, kau hanya perlu menyingkirkannya."
Julia hanya diam dan memperhatikan. Kini ia tahu nama wanita tua yang tengah berteriak padanya.
"Kau yang menyiksa cucuku Carlen?"
Mata Julia bergeser. Kini ia mendapatkan tambahan informasi lagi. "Aku? bibi, bukankah kau harus mengkoreksi kata-katamu? Ya, benar itu adalah aku. Akulah yang hampir mati disiksa Carlen."
Zelin tersenyum tenang. "Kau sangat berani."
Julia tersenyum tenang dan menatap lantang Zelin."Tentang Carlen, aku hanya memberinya sedikit pelajaran agar ia tahu rasa sakit yang kurasakan."
"Lepaskan cucuku." perintah Carlen dingin.
"Kau memerintahku?"
"Aku tak menerima perintah dari siapapun. Terlebih dari orang yang berniat melukaiku. Sudahlah bibi, kau datang kesini bukan untuk itu bukan? Katakan saja apa maksudmu yang sebenarnya."
Zelin terdiam, menatap mata hitam yang nampak tenang. Seperti yang ia duga, wanita di hadapannya ini sangat cerdas. "Kalau begitu aku tak akan sungkan lagi. Berikan pin keluarga Lunox padaku."
Julia tersenyum. Tangannya ia letakkan menyilang di atas dadanya. "Bibi, jadi ini yang sebenarnya? Kau menculikku hanya karena pin keluarga Lunox, bukan karena Carlen? Ataukah juga karena saham yang baru saja aku dapatkan?"
"Rose membutuhkan pin itu." terang Zelin sekali lagi.
Julia tak bergeming. Matanya beralih ke Lindsey. "Lalu bagaimana dengannya?"
Zelin ikut menatap Lindsey. "Itu.."
Julia tertawa keras. "Jika pin itu aku berikan, apakah kalian membiarkan aku keluar hidup-hidup?"
__ADS_1
"Aku bisa menjaminmu."
"Tidak mungkin!"
Suara Zelin dan Lindsey bersamaan menjawab. Keduanya saling menatap tajam dengan ketidaksetujuan. Hal itu menjadikan lelucon tersendiri bagi Julia.
"Baiklah, karena bagaimanapun juga aku tetap akan mati, jadi untuk apa aku memberikannya pada kalian?"
"Julia!" teriak Rose tak terima. "kau tak berhak memegang pin itu!"
Julia mendelik tajam ke arah Rose. "Kalau bukan aku sebagai istri Maxilian yang berhak, lalu siapa yang lebih berhak? Apakah kau? Oh ayolah Rose, kau sangat jauh dari itu."
"Tentu saja aku berhak! Aku adalah anak dari keluarga Lunox!"
"Anak angkat." timpal Julia tanpa ragu.
"A-apa?"
"Rose, kau bukan anak kandung keluarga Lunox. Kau hanya anak pungut yang beruntung. Namun dengan percaya dirinya kau menginginkan suamiku agar menjadi penguasa keluarga Lunox. Sungguh tak tahu malu. Apa aku benar?"
hening.
Rose membeku dan tak dapat mengucapkan sepatah katapun. Fakta ini, darimana Julia mengetahuinya. Rahasia ini tidak diketahui banyak orang. Bagaimana Julia bisa mendapatkan informasi sebegitu detailnya. Ini membuatnya makin tak terkendali.
"A-apakah itu benar Rose?" tanya Lindsey yang juga terkejut.
Sedangkan Zelin menatap Julia tak percaya. Sepertinya ia sudah meremehkan gadis di hadapannya. Gadis yang memegang pin keluarga Lunox, bukanlah orang yang mudah ia hadapi.
"Tidak! Itu bohong!" bantah Rose tak mau mengakui. "Julia, seharusnya Maxilian sudah membunuhmu! Carlen sudah menyentuhmu jadi sudah pasti Maxilian akan segera menghabisimu!"
Julia tertawa. Ia tak mengindahkan kata-kata Rose. Ia menatap ke arah Lindsey. "Bagaimana menurutmu? Apakah kau akan menurut dan tunduk pada darah orang luar? Lindsey, apa kau rela melihat kenyataan pin keluarga Lunox dimiliki orang luar?"
Lindsey menggebrak meja dengan tangannya. "Tidak mungkin! Aku kehilangan kakakku karena hal ini dan aku harus menyerahkan hak waris keluarga Lunox kepada orang luar. Rose! Kau penipu!"
Rose menggeleng cepat. "Lindsey, itu tidak benar. Kau ingat kesepakatan kita bukan? Kita akan berbagi. Kita akan menyelamatkan Carlen dan dia akan memimpin. Kita hanya butuh pin darinya."
__ADS_1
"tapi sepertinya kau tidak terlalu peduli pada Carlen." potong Julia menyulut api. Ia menggerakkan ujung-ujung jarinya untuk memeriksa kuku-kukunya. "Lindsey, kau tahu bukan apa yang Maxilian lakukan pada Carlen? Menurutmu apa dia masih bisa memimpin keluarga?"
"Diam kau ja*lang!!!" bentak Rose marah.