
Jangan memaki dulu, nikmati ceritanya aja. Pasti hepi ending.
**
Kebencian Maxilian kepada Aaron karena kenangan masa lalu tidak akan pernah hilang sampai kapanpun juga. Ingatan-ingatan penderitaan ibunya, membuatnya dendam setengah mati. Dan sekarang, Julia. Walaupun ia melihat amarah dan dendam membara di matanya, namun ia juga melihat sedikit cinta yang terlintas di tatapan matanya. Masalah mereka berpusat pada satu orang. Aaron!
Melihat Julia yang tak mau mengalah bahkan tak pernah tunduk pada kuasanya, membuat kemarahan Maxilian mencapai puncak kepalanya. Tangan kekarnya bahkan masih melingkar di leher Julia bagai ular yang melilit mangsanya. Tak peduli wajah cantik di bawahnya memerah menahan sakit atau kesulitan bernafas, rasanya ia ingin meremukkan gadis ini dalam satu genggaman.
Gadis cantik ini benar-benar membuatnya gila. Mampu membuatnya merasakan emosi yang bergejolak dengan sakit yang mendalam. Ia bahkan membayangkan gadisnya ini pergi meninggalkannya dan hidup bahagia bersama Aaron, membuat seluruh pengendalian dirinya kacau.
"Kau hanya milikku," bisik maxilian pelan di telinga Julia.
"Aku bukan barang." jawab Julia tak kalah dingin. Matanya menatap Maxilian penuh tantangan.
Bagaimana bisa? Bagaimana bisa ada seorang wanita dengan beraninya menolaknya. Menolak seorang pria seperti Maxilian. Pria yang dikenal sempurna oleh semua orang. Dan Julia, dengan terus terang mengatakan ketidaksukaannya dan tak akan tinggal jika bukan karena kontrak. Lalu dengan apa ia bisa mengikat Julia? Apakah harus memasung kakinya? Ataukah harus mematahkan kakinya? Ataukah ia harus mengurung Julia dari seluruh dunia? Setiap penolakan yang keluar dari bibir merah cery itu, membuat emosinya meluap. Kata-kata tajam di luar batas, ah.. dia sangat suka itu. Membuatnya bertindak secara kasar dan melupakan batasan dalam pengendalian dirinya.
Bibir merah itu, pembawa masalah! Dia bergerak tanpa sadar mendekatkan bibirnya dan ******* bibir merah itu tanpa aba-aba. Tangannya bahkan masih berada di leher Julia dan menahan gadis itu agar tak memberontak. Yang akhirnya bergeser dengan menahan kedua tangan kurus itu dari segala usaha untuk memukul dan lari darinya. Tidak! Sekalipun gadisnya berlutut memohon, dia tetap tak akan melepaskannya.
Julia hanya diam namun terus bertahan. Sejurus kemudian Julia tak bisa menahan keterkejutannya. Saat bibir Maxilian melu*mat bibirnya dengan kasar. Membelalakkan matanya, ia mencoba memberontak. Cekikan di lehernya cukup membuat tersengal dan kali ini satu-satunya bibir yang bisa ia gunakan untuk manarik udara agar bisa bernafas, telah terenggut. Tangannya bergerak liar memukuli tubuh Maxilian. Tubuhnya menggeliat mendorong tubuh Maxilian untuk membebaskan diri. Namun tangan kekar di lehernya itu terlepas dan menahan kedua tangannya agar tak melarikan diri.
Ciuman itu kian kasar saat Maxilian dengan sengaja menggigit bibir Julia. Membuat gadis itu membuka mulutnya dan ia gunakan kesempatan itu. Ia memasukkan lidahnya dan menarik lidah Julia dalam satu hisapan. Mencecap rasa manis yang menghanyutkan dan ia serasa kecanduan untuk merasakan hal yang lebih lagi. Semua rasa marah, kesal, benci, dan rasa aneh yang entahlah apa itu, menguar begitu saja di hatinya. Ia curahkan seluruh rasa itu di dalam ciuman dalam yang kasar. Dia bahkan tak peduli jika Julia kesakitan.
"Emmpphh!!" Julia menggelengkan kepala\, berusaha melepaskan pa*gutan bibirnya dari Maxilian. Hi*sapan kuat di bibirnya dan genggaman kuat di tangan yang begitu menyakitkan\, membuatnya tak bisa melarikan diri. Entah mengapa\, ia merasa pria ini akan segera meremukkan seluruh tubuhnya.
Semakin Julia memberontak, semakin kuat juga maxilian menahan tubuhnya. Kini tubuh Julia terdorong hingga terbaring di atas ranjang dengan Maxilian yang menindihnya. Tangan kekar itu menarik kedua tangannya ke atas kepala dan menahannya sangat kuat. Ciuman dalam di bibirnya bahkan tak terlepas meski ia telah kehabisan nafas. Ia merasa ini akan berakhir buruk. Dan saat ciuman itu terlepas, dia hanya bergerak ke samping, menghindari tatapan Maxilian dan mengambil nafas bebas. Tanpa tahu, bahwa Maxilian akan mengikat tangannya dan pada akhirnya dia tak akan pernah bisa melawan.
Maxilian mengakhiri ******* bibirnya, lalu tangannya melonggarkan dasi dan segera melepaskannya. Bergerak sangat cepat, dia mengikat kedua tangan Julia ke atas. Kini gadisnya tak akan bisa lagi memberontak. Karena ia tak akan membiarkannya lolos. Julia adalah miliknya. Tak akan pernah membagi secuil pun dari tubuh Julia untuk siapapun. Dia telah berjanji, bahwa sesuatu yang telah menjadi miliknya tak akan dapat dimiliki siapapun. Dia akan menjaganya, tak peduli sekeras apa penolakan gadis ini. Dia akan menutup semua jalan keluar yang gadis ini miliki.
Ini sangat cepat. Julia yang terikat hanya bisa menatap. Ia tak pernah menyangka bahwa Maxilian akan mengikat tangannya. Matanya menatap dengan penuh tanya kepada Maxilian.
"Lian, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!"
Maxilian hanya menatap datar. Namun di matanya tampak tersirat kemarahan. "Kenapa? Kau ingin lari? Julia, meski harus merantai kedua kakimu atau bahkan mengikat seluruh tubuhmu, aku akan melakukannya. Yah, aku dengan senang hati akan melakukannya."
"Kau gil--"
Maxilian segera menutup bibir Julia dengan telapak tangannya, matanya menatap bagaimana Julia mencoba melepaskan diri. Tubuhnya terus menggeliat, menampilkan kulit putih yang halus dan menggoda. Gaun hitam dengan punggung terbuka menampilkan keindahan lekuk tubuh. Membuatnya tergoda, dan mengulurkan tangan untuk menyentuhnya.
__ADS_1
Julia menggeleng. Dia bahkan sudah hampir menangis, saat gaun hitam yang ia kenakan itu terkoyak dengan sempurna. Merasakan hawa dingin menyapa kulit, ia mencoba memberontak, mencoba menjauh, dan mencoba memohon pada Maxilian yang terlihat menatapnya dengan penuh kemarahan.
"Lian, hentikan, kumohon. Lepaskan aku Lian..." Ucapnya saat tangan Maxilian tak lagi membungkam bibirnya.
Namun Maxilian kian mendekat, menindih tubuh Julia, meletakkan bibirnya di atas kulit Julia. Pipi, kening, bibir, telinga, lalu leher. Semua yang diakui sebagai miliknya, akan selamanya miliknya. Benar, ia mulai menciumi leher Julia secara menuntut. Matanya berkilat penuh gairah dengan deruan nafas yang berat. Meninggalkan jejak kemerahan, dan ia akan melakukan itu pada seluruh tubuh Julia agar wanita ini sadar siapa pemiliknya.
Saat tangannya mengelus bagian paha Julia, dan tangan yang lain meraba punggung halus Julia yang terbuka, membuatnya menyadari pemandangan indah di depannya saat ini. Sungguh ini membuatnya makin gila. Jiwa liarnya terbangkitkan, dan bagian inti tubuhnya mulai memberontak dengan aliran darah yang bergejolak hebat.
Julia yang merasakan sentuhan kasar itu kembali memberontak. Namun Maxilian dengan kekuatannya tak membiarkan Julia bebas. Dia menghimpit tubuh Julia dan menarik bibirnya ke seluruh kulit Julia dan meninggalkan jejak merah di sana.
"Hemmpp.." Suara Julia tertahan. Ia membelalakkan matanya kala lidah maxilian kembali menelusuri setiap inci kulitnya. "Lian, hentikan. Ini salah. Ini.."
Maxilian tak peduli. Ia terus melakukannya. Sedangkan Julia menggerakkan tubuhnya pelan. Ia ingin melawan tetapi raganya benar-benar tak berdaya. Saat perlahan satu per satu pakaian yang ia kenakan terlepas, bahkan koyak. Bibirnya berkali-kali memohon, memaki, bahkan menyumpahi. Namun nyatanya, pria di atas tubuhnya itu tak peduli dan terus menyentuh dirinya hingga ke bagian inti. Membuatnya mengerang kadang melenguh meski bibirnya mencoba terkatup rapat dan menahannya.
Entah berapa lama, Julia memberontak, saat ini tubuhnya benar-benar polos tak berdaya. Saat maxilian bangun dan melepaskan seluruh pakaian secara kasar, matanya terbelalak sesaat dan dia segera menutupnya. Menutup kedua kakinya, bergerak turun sebelum semua kian tak terkendali. Namun lagi-lagi tangan kasar itu menarik tubuhnya dan membantingnya kembali ke atas tempat tidur.
"Ba***ngan kau Maxilian! Lepaskan aku! Lian.."
Maxilian kembali membungkam bibirnya dengan kasar. Tangan pria itu bahkan membelai bagian intimnya dengan sangat lembut. Membuat kedua kakinya menutup tanpa sadar.
"Kau, apa yang kau inginkan!" teriak Julia tertahan.
Mendengar jawaban itu membuat Julia segera menelan ludahnya kasar. Ia menyukai saat melihat seluruh tubuh Maxilian, tetapi juga marah dan merasa sangat direndahkan diperlakukan seperti ini. Pria ini gila. Bagi pria ini, hanya pendapatnya yang benar. Perasaan orang lain tak akan pernah ia pedulikan.
Maxilian membuka kedua paha Julia, dan menahannya dengan kedua tangannya.
"Apa yang kau lihat br***sek!" maki Julia malu.
Maxilian tersenyum tanpa sadar. Matanya berkabut dan menatap wajah Julia yang merona. "Kali ini, aku ingin kau mengingatnya dengan sadar. Tubuhmu, dan seluruh duniamu, mulai saat ini hanya akan berputar di bawah kakiku."
"Lian.."
Ucapan Julia tertahan saat pria itu tanpa ragu langsung mengarahkan masternya ke bagian dalam intimnya. Dihentakkan dalam tanpa perasaan.
"Engghh.." Julia menggigit bibirnya menahan sakit. Di bawah sana terasa begitu sesak, saat benda asing itu menyatu dengan tubuhnya.
Maxilian memejamkan matanya sesaat. Merasakan bagaimana bagian intinya memasuki tubuh inti Julia yang sempit dan basah. Dengan sedikit denyut di dalamnya, membuatnya mengerang. Ia merasa melayang, dengan sebuah kenikmatan yang kembali ia rasakan. Menatap wajah Julia yang terpejam, bayangan gadis itu pergi terlintas lagi, hingga membuatnya murka dan bergerak cepat dan sangat kasar.
__ADS_1
"Ahk, Lian.. Br**sek kau. Hen ti kan. Ahk!" Julia menutup bibirnya sesegera mungkin. Ia terkejut dengan gerakan Maxilian yang cepat dan tak beraturan.
"Hentikan!" pinta Julia kembali saat maxilian sudah sedikit memelankan gerakannya.
Maxilian menatap tajam. "Berhenti? baiklah." ada senyum samar di ujung bibirnya. Dia ingin melihat, apa yang akan dilakukan gadisnya. Dia menarik dirinya, menatap tubuh inti Julia yang menggoda dan sedikit menjauh.
Julia yang awalnya merasa pria itu memberikan sedikit kelonggaran, langsung bangun dan berusaha melarikan diri. Namun ternyata harapan tak sesuai kenyataan. Ia menelan harapannya. Maxilian kembali bertindak kasar. Pria itu mengulurkan tangannya dan mencekiknya. Lalu kembali bergerak liar di bawah sana.
Julia yang menerima cekikan itu, membuka mulutnya berusaha untuk meraup udara. Tubuhnya kesakitan dan seluruh tulangnya seakan terlepas dari tempatnya. Namun pria yang bergerak di atas tubuhnya ini tak mempedulikannya. Terus bergerak dan menghentaknya keras. Hingga sebuah er*angan panjang terdengar dan akhirnya pria itu berhenti lalu berbaring di samping tubuhnya.
Merasa kekangan sudah agak berkurang, Julia dengan cepat bergerak. Berguling di atas ranjang dan segera berdiri. Ia berjalan dengan tertatih, air matanya menetes. Dia tak menyangka bahwa Maxilian bisa menggila seperti itu.
Maxilian yang melihat Julia bergerak, menyeringai. Pria itu membaca gerakan Julia dan mencoba mencari celah untuk menggapai gadis itu lagi. Dia berjalan, mengikuti Julia pelan dengan minat yang membara bagaikan singa yang mengintai mangsanya.
"Kau tak akan bisa lari Julia. Kalaupun aku harus membunuhmu, aku akan melakukannya. Kau hanya milikku, seluruh duniamu ada dalam genggamanku." Maxilian menatap tajam.
Julia terpaku dengan ucapan itu. Dan saat itu pula Maxilian kembali menyerangnya. Disudutkannya Julia pada dinding kamar, lalu dengan cepat ia membopong tubuh Julia. Dan kembali melemparnya ke atas ranjang.
"Ahhhkkk! Lepaskan!"
"Bermimpilah." balas Maxilian.
"Kucing liarku, diam dan nikmatilah." ujar Maxilian lembut.
Maxilian kembali memposisikan dirinya. Dengan sedikit lembut ia mendorong miliknya ke bagian inti tubuh Julia. Ia menyeringai saat menatap Julia yang memejamkan mata.
"Aahhkk.. ba__jingan!" maki Julia dengan lirih.
"Dan kau adalah istri dari ba---jingan ini sayang." Sejurus kemudian Maxilian melum*at bibir Julia.
"Emmpphh.." Des*ahan itu tertahan, air mata Julia kembali jatuh. Ia merasa kotor. Ia merasa dirinya tak punya harga diri lagi. Pria ini telah menghancurkan harga dirinya. Ia sangat membencinya!
"Lian, kau br**sek! Hentikan!"
"Kenapa? Bukankah kau juga menikmatinya. Julia, bibir dan tubuhmu tidak sinkron. Tubuhmu jelas menginginkanku."
Sementara Julia hanya bisa terdiam, saat pria itu terus bergerak, ia tak peduli berapa kali Julia mencapai puncaknya. Tujuannya saat ini hanya satu. Mengikat Julia dan membuat gadis ini menjadi miliknya sampai akhir. Melahirkan banyak anak, dan memasung seluruh kebebasan Julia untuk terus berada dalam lingkaran dunianya.
__ADS_1
"Ahhhkk!" Sekali lagi rintihan Julia saat mencapai puncaknya yang ke tiga.
Maxilian masih menulikan telinganya. Semakin Julia memohon untuk menghentikan. maka ia akan terus bergerak liar. Malam ini Julia memasrahkan tubuhnya pada takdir. Entah takdir yang bagaimana, hingga membuatnya terjebak dalam dunia pria gila ini. Hubungan ini, akan berakhir seperti apa?