
Maxilian diam tertegun di tengah pintu saat melihat kedua kakek neneknya tengah duduk aman di sofa ruang utama rumah mereka. Matanya menatap kosongĀ saat senyuman para sepupunya terbayang. Pikirannya jelas melebar lalu raut wajah Julia terbayang. Tertegun, ia menyadari kenyataan yang baru ia sadari. Tentang istrinya.
"Julia Brasco."
Nama itu menghantamnya dengan sebuah kenyataan yang menghampiri. Gadis itu tiba-tiba menjadi istrinya, dan tiba-tiba juga para sepupunya berkumpul dalam waktu yang sama. Kebetulan itu bukankah sudah direncanakan? Hanya saja dia tak berpikir terlalu jauh bahwa target para sepupunya bukanlah dirinya atau kakek neneknya. Melainkan anggota baru yang tak dapat para sepupunya terima dengan mudah
Maxilian membalikkan tubuhnya cepat dengan berlari menuju mobilnya. Matanya tampak tak bersahabat dengan guratan emosi dalam yang terlukis di setiap lirikan.
"Dari awal target mereka adalah Julia." gumamnya pelan. "Kenapa aku tidak menyadarinya dari awal? Mereka memanfaatkan nama kakek dan nenek untuk mengelabuiku."
Ada badai besar dalam tubuhnya yang mulai menggulung dan saling berkejaran. Mobilnya melajut cepat, secepat tangannya menghubungi Jeni.
"Lacak keberadaan Julia." perintahnya tanpa mengucapkan kata-kata lain. Tangannya bergerak kembali dengan menghubungi orang yang berbeda.
"Tomas, cari tahu orang-orang yang Julia hubungi akhir-akhir ini. Kirimkan datanya semua padaku sekarang."
Di sana Tomas yang tengah menjaga kakek nenek Maxilian sedikit terkejut. Terlebih dia baru saja mendapatkan kabar buruk dan kini tuan besarnya tengah menangis sedih. "Tuan, tuan muda Harvey meninggal dalam kebakaran gedung beberapa menit yang lalu.
Mendengar itu Maxilian mendengus. Tomas tak menjawab perintahnya namun memberikan sebuah informasi yang tak penting baginya. "Jika kau sangat memperhatikannya, maka kau bisa mengikutinya."
Di ujung sana Tomas langsung berkeringat. "Tuan, saya tidak berani. Mohon tunggu sebentar, data akan segera saya kirim." ujarnya sangat patuh lalu mematikan telepon.
Genggaman tangan maxilian mengerat pada setir mobilnya. Perasaannya sangat buruk hingga dia merasa nafasnya sangat sesak. Jika sesuatu terjadi pada Julia, apa yang harus ia katakan pada kakek neneknya. Bagaimana dia melibatkan Julia dalam perang kekuasaan secara diam-diam para sepupunya.
**
Sementara itu, di dalam sebuah ruangan kamar yang besar, Julia masih memejemkan matanya dengan tenang. Ruangan bernuansa serba putih dengan sentuhan peach di setiap perabotan yang ada membuat kamar itu terlihat semakin nyaman. Dengan aroma lembut yang menenangkan dan beberapa bunga segar yang baru saja didatangkan membuat ruangan itu benar-benar memiliki aroma yang hangat.
Siluet seorang pria tinggi tengah menatap jalanan sunyi melalui kaca jendela kamar itu tampak sangat tenang. Di tangannya sebuah gelas berisi wine tampak bergoyang beberapa kali sebelum akhirnya berakhir di bibir pria itu dengan sangat lembut. Meninggalkan jejak kemerahan yang membuat ketampanan pria itu kian jelas.
Membalikkan badan, bersandar di dinding jendela, pria itu menatap tubuh Julia yang masih tergeletak. Matanya jelas menelusuri setiap inci kulit Julia yang putih. Senyum tipis pria itu terbentuk, saat mengingat kata-kata bawahannya bahwa bawahannya itu harus memberikan obat tidur kepada Julia agar bisa membawa gadis itu ke villa miliknya di pinggiran kota.
Dia mendekat, berjalan perlahan dan meletakkan gelas di tangannya di nakas terdekat. Dengan sangat hati-hati dia duduk di pinggir tempat tidur membuat kasur itu sedikit bergoyang. Senyum manis di bibirnya jelas selalu terukir. Matanya tampak menyala saat melihat wajah Julia secara dekat. Tangannya tanpa sadar terulur, menyentuh pipi Julia pelan dengan punggung tangannya. Merasakan kulit Julia yang lembut dan halus.
"Oh, aku tak tahu bahwa kau semenarik ini." ujarnya sangat pelan. "Kakak sepupu memang selalu memiliki mata yang tajam. Tapi pada akhirnya dia selalu saja kalah dari seorang Carlen. Kakak ipar apakah kau tahu itu?"
Senyum carlen tertarik pelan. matanya menatap bulu mata Julia yang lentik lalu pada hidungnya yang menjulang. Dia ingat, gadis cantik yang tengah terlelap ini memiliki mata hitam yang memikat. Namun ia juga tak menyangka bahwa mulut gadis kecil ini sangat tajam hingga dapat membuat seseorang tersenyum. Kejujuran yang tak pernah ditutupi meski itu menyakiti lawan bicaranya, membuatnya sangat kagum dan ingin tahu lebih jauh.
"Jika dipikir-pikir dari mana Maxilian menemukan gadis semenarik ini? Dia jauh berada di Nivada sedangkan kau di Las Vgas. Lalu kenapa aku baru tahu bahwa ada wanita semenarik dirimu di Las Vgas? Kenapa dia menemukanmu lebih dulu sebelum aku?"
Carlen memainkan tangannya, menyentuh helai demi helai rambut Julia yang tergerai. Bibirnya terus saja tersenyum, dengan mata manatap lekat wajah cantik yang terlelap di hadapannya.
"Aku baru tahu kau memiliki kulit yang sangat putih, dan..."
Matanya turun melewati bibir, leher dan belahan dada Julia. Tak berhenti di situ, matanya terus turun melihat perut rata Julia dan kemudian pada paha Julia. Gaun yang Julia pakai saat ini jelas menambah kecantikan tubuhnya. Kulit pahanya yang putih sangat jelas terlihat seiring dengan tersingkapnya rok itu.
"Apa ada yang sudah mengatakan padamu? Bahwa kau memiliki kaki yang indah?" gumam Carlen penuh minat.
__ADS_1
Matanya jelas turun dari paha yang mulus pada kaki yang masih mengenakan satu sepatu mewah pemberian maxilian. Sepatu itu jelas terlihat berkilauan dan sangat cantik saat melekat pada tubuh Julia. Itu membuat penampilannya makin memikat di mata Carlen.
"Julia, Julia, Julia.. aku tak sabar melihatmu merayuku dan meninggalkan Maxilian untukku. Seperti mereka yang pernah melakukan hal itu. Meninggalkan Maxilian, kurasa itu sesuatu yang sangat menyenangkan. Tapi..."
Carlen menghela nafas dalam sebelum akhirnya melanjutkan kata-katanya, "Apakah maxilian akan menghabisimu seperti para wanita lain yang telah kusentuh, ataukah dia akan berlari ke sini untuk menyelamatkanmu untuk tetap berada di sisinya. Tapi, semakin kau berarti baginya, semakin aku ingin meremukkanmu"
Tanpa sadar Carlen meremas kedua pundak Julia dengan keras. Matanya menatap penuh kabut emosi di dalamnya. Maxilian, saat nama itu ada di ujung bibirnya, seluruh urat nadinya seakan ingin keluar. Seperti ada sesuatu yang akan meledak di dalam tubuhnya. Menarik seluruh sikap hangatnya dengan tatapan kebencian dan kekejaman.
Ingatan masa kecil yang menyakitkan itu terbayang sekali lagi di matanya. Dia, yang tak pernah mendapatkan kasih sayang meski seluruh hal terbaik telah dia lakukan. Tapi nyatanya semua mata tetap menatap maxilian dan hanya Maxilian yang bersinar. Bagaimana itu dapat ia terima dengan mudah. Saat ia berusaha mati-matian namun hal-hal sulit di matanya itu hanyalah hal kecil bagi maxilian. Semua hal yang maxilian lakukan, selalu melebihi dari semua hal yang telah ia capai dengan susah payah.
Hingga kebencian itu mengakar saat perbandingan antara dirinya dan maxilian selalu saja terlontar dari mulut ke dua orangtuanya. Hingga mereka mati, mereka tetap membandingkan dirinya dengan Maxilian. Lalu niat mengalahkan dan mengambil hal-hal terpenting bagi Maxilian adalah caranya untuk membalaskan kebencian di hatinya. Ini adalah cara untuk membuktikan bahwa dirinya memiliki hal-hal yang lebih daripada yang Maxilian miliki.
Remasan pada pundak Julia yang sedikit keras itu membuat tubuh Julia sedikit menggeliat. Perlahan mata hitam kelam itu bergerak dan terbuka secara pelan. Menatap sekitarnya dengan waspada dalam sorot tajam.
Carlen yang melihat hal itu tertegun. Tangannya tampak kaku di pundak Julia dengan mata menatap lekat manik hitam pekat yang penuh peringatan. Menampakkan kewaspadaan dan keanggunan dalam waktu bersamaan.
Dia terpesona!
Pupil hitam itu perlahan bergerak, mengunci tatapan Carlen. Bibir merahnyayang tipis itu berkedut pelan, dengan tarikan bingung pada awalnya. tapi saat melihat raut wajah Carlen yang tampak dingin juga hangat dalam waktu bersamaan, dia semakin hati-hati. Meski begitu, dia tetap bersikap tenang.
"Apakah aku begitu cantik di matamu?" tanya Julia dengan berusaha bangun. Dia menyingkirkan tangan Carlen dari pundaknya.
Carlen berkedip. Melihat sosok cantik itu kini tampak sangat tenang. Tangan dan tubuhnya mundur perlahan dengan senyum manis yang memikat.
"Yah, kau cukup pantas untuk berdiri di sisiku."
Mendengar itu Julia menarik dirinya untuk duduk tegak dan akan berdiri. "Tapi aku sama sekali tak berniat untuk berdiri di sisimu."
Bibir Julia tertarik tipis, membentuk senyum yang samar. Dia menatap wajah tampan Carlen yang sangat dekat. mata indah bersahabat, senyum manis yang mempesona, hidung mencung dengan mata abu-abu yang sangat memikat. Semua deskripsi sudah memperjelas betapa rupawan wajah pria yang ada di hadapannya ini. Namun entah mengapa itu semua tak menarik di mata Julia.
Tak peduli itu Carlen, ataupun Maxilian. Ketampanan jenis ini sudah sering ia jumpai. Bagaimana itu tetap tak bisa memikat hatinya. hatinya telah mati. Dia sudah tidak dapat mempercayai siapapun. Tidak Jason atau pun Maxilian sekalipun, Terlebih pria tampan di hadapannya ini.
"Karena kau tak cocok untukku."
Carlen terhenyak. Dia menatap manik Julia yang penuh dengan tatapan penghinaan yang besar. Tatapan itu, entah mengapa mengingatkannya pada tatapan mata seorang pria yang sangat ia benci. Dan semakin dia memikirkan itu, semakin dia ingat tatapan mata Maxilian. Mereka berdua, kenapa memiliki tatapan yang sama padanya?
Carlen mendengus dingin. Tangannya terulur hampir menyentuh pipi Julia sebelum wajah cantik itu menghindar. "Kau terlalu cepat memutuskan. Cobalah dulu untuk lebih dekat denganku. Jangan sampai keberanianmu dalam berbicara ini membawa bahaya bagi nyawamu."
Julia tersenyum tipis. Dia menatap Carlen tenang, "Jika begitu, di mana bibiku?"
Mengalihkan pembicaraan dalam waktu singkat, Carlen tiba-tiba mundur. Dia menarik gelas wine yang sempat ditinggalkan. "Kupikir kau benar-benar pintar. tapi kau sama saja."
Julia turun dari tempat tidur. Dia menatap jendela dan halaman kecil yang sunyi. "Di mana kita sekarang?"
"Apa kau sekarang sudah sadar?"
Julia menatap waspada. Dia mundur hati-hati mendekati pintu. Melihat itu Carlen tersenyum.
__ADS_1
"Dari awal bibimu itu tak termasuk dalam rencana kita. Tapi siapa sangka bahwa itu akan berhasil."
"Di mana Janet?" tanya Julia hati-hati.
"Oh, gadis itu? Entahlah, dia mungkin saja sudah mati."
Julia terbelalak. Dia menatap Carlen yang terlihat sangat tenang. "Kenapa kau membawaku kemari."
Jelas kini Julia lebih waspada. Pria ini mengatakan bahwa Janet mungkin sekarang sudah mati.Pasti telah terjadi sesuatu. Dia ingat, dia terakhir kali bertengkar dengan janet bahkan hampir terbunuh. Lalu ada pria asing yang memukul dirinya sampai pingsan.
Carlen menatap Julia dengan tersenyum. "Menurutmu?"
"Aku ingin pulang." tukas Julia cepat.
"Tidak semudah itu," jawab Carlen dengan senyum nakal.
Julia menggerakkan tangannya berkali-kali untuk membuka pintu kamar. Namun pintu itu tetap tertutup rapat. Mendengar tawa kecil dari bibir carlen, dia membalikkan badannya cepat.
"Kau mencari ini?" tanya Carlen dengan menggerakkan tangannya. Suara gemerincing kunci terdengar. Membuat Carlen tersenyum sangat senang.
Melhat kunci di tangan Carlen, Julia berlari untuk meraih kunci tersebut. Namun tangan Carlen dengan sigap membuka kancing kemejanya perlahan dengan satu tangan lainnya menyembunyikan kunci di tangannya.
"Kau ingin pergi? Tentu, setelah kita bersenang-senang."
Melihat satu per satu kancing Carlen terbuka, Julia terhenti. Dia menggeleng pelan dan tak melangkah.
"Kenapa? Atau kau ingin ini?" tanya Carlen menunjukkan sebuah botol hitam.
Kening Julia mengerut. Jika dia tidak salah, itu adalah botol yang dibawa Janet, tapi kenapa sekarang ada di tangan Carlen? Dan botol itu jelas bukanlah hal yang bisa dianggap enteng.
"Ada apa? Apa kau tak ingin ini? Atau kau ingin aku memulai lebih dulu?"
Julia menggeleng. Carlen pasti sudah gila pikirnya. Dan ini adalah hal buruk. Dia berlari mencapai sisi pintu dan sekuat tenaga ingin membukanya. Tapi pada akhirnya pintu itu tetap tertutup rapat. Membalikkan badan, dia menatap Carlen yang tertawa. Pria itu berjalan mendekat dengan tawa riang.
"Oh kakak ipar, mana keberaniannmu yang selama ini kau tunjukkan? Jangan seperti itu, kau membuatkan terlihat sangat jahat."
"Carlen, buka pintunya."
"Tentu" jawab Carlen patuh. "Setelah kau memuaskanku."
Julia berbalik, menatap mata Carlen yang mulai berapi-api. Dia tersenyum tipis, ini tak akan mudah baginya. Tapi saat ini dia tak bisa melawan dengan cara yang keras. Jadi dia akan mendekat, dan pada akhirnya mendapatkan kunci itu.
Julia baru akan mendekat, sebelum Carlen menarik tubuhnya dengan cepat. Dia berlabuh dalam pelukan hangat, juga sebuah ciuman di pundaknya.
"Oh, kau sangat harum."
Julia memberontak. Dia mencoba melepaskan dirinya, namun pada akhrinya pelukan kuat itu semakin ingin menghancurkan tubuhnya.
__ADS_1
"Kau berkata bahwa aku tak cocok untukmu. Dari mana kau tahu? Kau bahkan belum pernah merasakan hebatnya diriku, tapi sudah menganggapku seperti itu. Bukankah itu tak adil?"
***Besok lagi ya.. badan masih capek banget***