
Jaringan trouble ya bro sis.. harap maklum. Kukasih hadiah buat kalian yang sabar menanti.
**
"Kau ingin aku membantumu?" tanya Maxilian lembut. Jemarinya menggenggam jemari Julia lembut.
Julia menoleh, lalu menggeleng pelan. "Tidak, aku bisa mengatasinya sendiri."
"Lalu, apakah kita bisa membicarakan soal tanggung jawab sekarang?"
"Tanggung jawab?"
"Hmm," jawab Maxilian lembut. Tangannya naik dari jemari Julia lalu ke lengan Julia dengan gerakan naik turun. Menggelitik tangan Julia lembut dengan bibir mengecup salah satu telinga Julia.
"Bukankah kau harus bertanggung jawab karena telah menyentuhku?"
"Me-menyentuhmu? He-hei, aku hanya melihat bekas lukamu."
Satu sudut bibir Maxilian tertarik pelan. "Jika begitu biarkan aku memeriksa tubuhmu. Aku ingin memastikan apakah mereka benar-benar telah berhasil menyakitimu."
"Ahk, Lian! Apa yang kau lakukan!"
Belum selesai kegugupan Julia, Maxilian sudah berpindah ke atas tubuhnya. Membuka satu persatu kancing kemejanya lalu sangat hati-hati membuka kemeja yang ia kenakan.
"Aku tak memiliki bekas luka." bantah Julia malu, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian dalam.
Tatapan Maxilian berkabut. "Benarkah? Bukankah aku harus memeriksanya sendiri? Seperti yang kau lakukan, aku harus melakukan hal yang sama. Itu baru namanya adil."
"Apa, Lian.. ahk! Lian, apa yang kau lakukan!"
"Tentu saja memeriksa tubuhmu. Pakaian dalammu menghalangiku!"
"Kau baj**ngan! berhenti menatap tubuhku!"
Julia menarik dua tangannya untuk menutupi bagian depan tubuhnya sejak Maxilian menarik penutup yang menutup dadanya. Ia meringkuk dengan melengkungkan tubuhnya, dan berusaha dengan keras agar bagian depan tubuhnya tak tertarik.
"Aku sudah melihatnya berkali-kali."
"Apa?"
__ADS_1
Maxilian tersenyum, ia turun dari atas tubuh Julia dan memilih kembali berbaring di samping Julia. Menatap punggung putih itu dengan mata berkilat minat.
"Baiklah, aku akan mulai memeriksanya dari sini."
Tangan maxilian bergerak sangat lembut menelusuri kulit lembut Julia dengan hati-hati. Dari punggung lalu turun hingga pinggang. Bibirnya pun ikut mengambil alih, mengecup tengkuk Julia dengan sangat lembut. ******* nafasnya yang berat terasa menggoda hingga membuat tubuh Julia menegang menahan geli.
"Lian hentikan. Aku tak mencium tubuhmu. Ingat?"
"Hmm, apa kau sekarang meminta keadilan? maka kau bisa mencium tubuhku di manapun yang kau inginkan."
"Kau, dasar me*sum!" ungkap Julia jengkel dengan berbalik dan mengangkat tangannya untuk memukul da*da Maxilian. Namun kemudian dia tersadar saat melihat bibir Maxilian tertarik membentuk sebuah senyum yang menggoda.
"Terima kasih kau berbalik dan membiarkan aku memeriksanya."
"Kau! hmmpp"
Itu tidak lama, sejak Maxilian mengecup bibir Julia dan memainkan lidah di dalam sana. Menarik Julia lembut dengan penuh perasaan. Menggoda lidah JUlia dengan permainan lembut yang menghanyutkan. Hingga akhirnya pertahanan Julia runtuh. Ia membalas kecupan itu hingga Maxilian kian menuntut dan berani.
Perlahan, Maxilian menyeret bibirnya untuk turun dan terus meninggalkan jejak kepemilikan di setiap inci kulit tubuh Julia. Tangannya mulai nakal, membelai perut bagian bawah hingga da*da Julia yang mulai menegang.
"Lian.. hen--ti--kan.."
"Kapan tubuhku men-- Ahhh.."
Desah Julia saat bibir Maxilian menghisap dadanya kuat. Maxilian melakukannya dengan sangat hati-hati dan terkadang juga kasar. Ia ingin Julia mendesah menyebut namanya.
"Lian.."
"Diam, nikmati saja. Anggap ini hukuman yang harus kau terima karena telah berani membangunkan serigala tidur."
"Tapi.. Ahh..hen-ti-kan.."
Tubuh Julia menggelinjang saat tangan Maxilian membelai pangkal pahanya dengan sangat lembut. Tangan itu bergerak sangat lembut menjelajahi seluruh inti tubuhnya yang mulai basah. Dan ia kian mend*esah saat bibir Maxilian terus turun dengan hisapan pelan di setiap kulitnya. Membuatnya hilang kendali dengan merasakan kenikmatan yang sebelumnya pernah ia rasakan.
"Lian, Lian...berhenti.."
Maxilian tak menurut dan terus saja turun hingga ia mencapai titik inti tubuh Julia. Matanya menatap lembah lembab itu dengan penuh gairah. Tangannya membelai pelan dengan sangat hati-hati sebelum ia berani memasukkan dua jarinya ke dalam sana. Membuat Julia menegang dan meng*erang pelan. Perlahan mendekatkan bibirnya. Mencium dan memainkan lidahnya di sana. Dengan tangan yang terus bergerak cepat, dan hisapan kuat yang ia berikan, Julia mencapai titik puncak kenikmatan dengan menyebut namanya dengan sangat jelas.
"Gadis baik." ujarnya saat melihat mata Julia tertutup karena menikmati sisa-sisa pelepasan yang baru saja terjadi.
__ADS_1
Mata Julia terbuka pelan, dan ia terpesona dengan senyum Maxilian yang menggodanya. mata pria itu berkabut penuh gairah dengan bibir yang tertarik sempurna. Perlahan ia menatap turun, dan tertegun saat melihat bagian inti tubuh Maxilian yang telah siap memasuki tubuhnya.
"Li-Lian.."
"Aku akan sangat hati-hati."
Maxilian menurunkan tubuhnya pelan setelah memposisikan miliknya. Dia meng*erang pelan penuh kenikmatan saat merasakan bagaimana ketatnya milik Julia menarik dan menghisap bagian inti tubuhnya. Mencium bibir Julia lembut, dia mulai menggerakkan dengan sangat hati-hati hingga mereka sama-sama mende*sah dan menikmati sentuhan satu sama lain. Hentakan-hentakan pelan itu sangat berirama lembut meski terkadang terkesan kasar. Pelan tapi pasti, Maxilian mulai mempercepat pergerakan tubuhnya hingga pada akhirnya mereka mendapat pelepasan bersama di puncak kenikmatan.
Ruangan sunyi itu menjadi kian panas meski ac telah mengontrol kedinginan ruangan. Hembusan nafas berat keduanya terdengar jelas. Saling memburu dan saling berhembus satu sama lain. Maxilian tersenyum saat menarik dirinya dari atas tubuh Julia. Sedangkan Julia memejamkan matanya malu karena menyadari Maxilian menatapnya dengan menggoda.
"Bukankah kau harus menatapku?"
"Apa."
Maxilian menarik wajah Julia dan membiarkan gadis itu menatap matanya. Dia tersenyum dan mengecup kening Julia lembut. "Kau tak perlu malu, kita sudah melakukannya berkali-kali." pelan, ia memeluk tubuh Julia hingga di antara mereka tak memiliki jarak.
"Aku." ujar Julia tertahan dan menggeliat dari pelukan tubuh Maxilian. Namun ia terdiam saat Maxilian mendesis pelan. "Ka-kau."
"Kau bergerak, bukankah itu suatu kode untuk ronde kedua?"
"Lian, kita baru saja melakukannya."
"Lalu kenapa jika kita melakukannya lagi? Kau yang mencari masalah, maka kau juga yang harus menyelesaikannya. Kau tahu bukan, betapa aku sangat menginginkan tubuhmu tiap kau menyentuhku, meski itu sentuhan ringan."
"Lian."
"Sentuh aku."
"Apa?"
"Sentuh aku, Julia.."
"Tidak!"
"Julia." panggil Maxilian dengan suara yang berat.
"Tidak!"
"Maka aku yang akan menyentuhmu!"
__ADS_1
Selanjutnya hanya des*ahan Maxilian yang terdengar memenuhi ruangan sebelum mereka berakhir melakukan hubungan untuk mencapai titik kepuasan bersama. Keduanya saling melengkapi dan mengisi satu sama lain. Tak ada kata cinta yang terucap di antara mereka. Namun kelembutan di setiap sentuhan di antara mereka berdua, nampak penuh perasaan yang memuja. Cepat atau lambat, akankah mereka menyadari arti kehadiran satu sama lain di antara mereka berdua? Hanya tangan tuhan yang menjaminnya.