
Jasson tertegun. Matanya terbelalak tak percaya tapi gadis di hadapannya nampak begitu jujur. Pernikahan kontrak? Apa yang sebenarnya telah terjadi selama ini? Sesulit apa kehidupan Julia hingga harus menerima dan menjalani hidup seperti ini.
"Tapi kamu tidak usah khawatir. Hubungan kami baik-baik saja. Bahkan sangat baik. Dan anehnya akhir-akhir ini dia nampak tak nyaman bila aku membahas tentang pernikahan kontrak kami. Jasson, apakah dugaanku benar? Kalau dia mencoba untuk berdamai dengan takdir?"
Jasson mendengar itu dalam diam. Hatinya bagai diremas. Dia hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Satu yang mereka berdua tak sadari, kalau ternyata Aaron mendengar pembicaraan mereka, karena saat ini dia duduk di belakang tempat yang di duduki Julia.
**
Menjelang sore, Maxilian memijit pelipisnya pelan. Rasa pusing menghantam saat ia melihat wajah Julia di cover majalah SM magazine yang tergeletak di atas meja kerjanya. Matanya meneliti gadis cantik di dalam majalah itu dengan kilatan mata yang sangat sulit diartikan. Menutup majalah kasar, lalu berjalan menuju sisi jendela ruangan, dia menghidupkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Tomas, cari tahu, hal apa saja yang Julia lakukan akhir-akhir ini."
"Baik tuan, saya akan mengerahkan orang untuk memperhatikan seluruh kesibukan nona muda."
"Kirimkan laporannya padaku, secepatnya."
"Dimengerti tuan. Lalu bagaimana dengan nona Lusi tuan? Dia selalu datang ke perusahaan untuk mencari tuan."
Maxilian terdiam lalu mende*sah pelan.
"Nona Lusi bilang ada sesuatu yang sangat mendesak."
"Atur waktu makan malam bersama Lusi di sebuah tempat makan terbuka."
"Tuan, bagaimana dengan springhill hotel yang berada tak jauh dengan atomic bar?"
Maxilian tak menolak atau membantah. "Atur saja waktunya."
Maxilian mematikan telepon dan kembali menghubungi seseorang.
"Kakak sepupu."
Suara itu langsung terdengar saat telepon di tangannya tersambung. Maxilian mulai berbicara.
"Hanna, apa yang terjadi?"
"Itu hanya salah satu model yang tak datang dan Julia menggantikannya karena sebuah kebetulan aku membawanya saat sedang pemotretan. Aku benar-benar tak menyangka kalau Julia akan melesat begitu cepat. Kak, apakah Julia benar-benar tak pernah mengikuti sekolah model? Kau tahu, dia sangat profesional saat melakukan pemotretan dengan sekali aba-aba dari fotografer. Bahkan kami semua merasa kalau dia adalah seorang artis papan atas yang terbiasa dengan kamera.
"hanya itu?" tanya Maxilian datar.
Di ujung sana Hanna diam sesaat. "Lian, kau yang lebih tahu semuanya saat ini."
"Ya, dia telah kembali."
"Hmm, dan model yang seharusnya ada di majalah itu adalah dia, Lusi Zhao. Julia menggantikannya dengan sangat baik hingga perusahaan menuntut ganti rugi pada Lusi."
Maxilian terdiam dengan sejuta pemikiran.
"Kau baik-baik saja?' tanya Hanna khawatir
"Mereka telah bertemu. Aku sudah mengenalkannya. Hanna, Lusi memaksa untuk bertemu."
"Aku akan ikut bersamamu."
__ADS_1
"Hmm, springhill hotel dekat atomic bar." jawab Maxilian lega.
Maxilian mematikan teleponnya lalu menggenggamnya erat. Pikirannya buntu. lalu kilasan masa lalu terlintas. Lusi selalu mengekangnya dengan menggunakan alasan masa lalu. Dan dia entah bagaimana, serasa berat untuk menolaknya. Malam ini, dia akan berusaha menjelaskan semuanya. Dia berharap ini adalah pertemuan terakhir mereka.
**
Springhill hotel nampak tenang. Saat ini Lusi tengah tersenyum bahagia dengan mata berbinar menatap wajah maxilian yang sangat tampan.
"Lian, kau mengajakku makan malam?"
Maxilian tak menjawab selain hanya mengetukkan jarinya di atas meja. Dia menatap Lusi cukup lama sebelum akhirnya berkata, "Bukankah aku sudah bilang untuk tak menemuiku lagi?"
Lusi mengerucutkan bibirnya. "Kau mulai lagi."
"Tas yang kau inginkan dan beberapa perhiasan yang kau sebutkan sudah kukirimkan, Lusi, jangan melebihi batasanmu. Aku sudah muak."
Lusi diam, dia meminum minuman yang tersaji lalu tersenyum. "Semudah itu? Lian, kau berjanji untuk menikahiku."
Maxilian mengeratkan genggaman tangannya hingga urat-urat menonjol. "kau masih memikirkan janji kecil itu? Di mataku itu hanya omong kosong."
"Lian, kau bahkan mengulangi janji itu saat kita masuk kuliah. Bagaimana kau melupakan itu dengan mudah? Padahal kau sangat meyakinkanku untuk itu?"
"Cukup!" potong Maxilian. "kau akan terus menggunakan alasan yang sama."
"Lian..." isak Lusi dengan mata berkaca-kaca. Matanya memerah dan ekspresi wajah yang menyedihkan.
"Apa aku terlambat?" ucap Hanna tiba-tiba dan tanpa aba-aba duduk di samping Maxilian.
Lusi menatap Hanna bingung. Lalu melihat maxilian yang terdiam. "Kupikir kita hanya makan malam berdua."
"Diam!" bentak Lusi tertahan. Dia berbalik menatap Maxilian yang tak bergeming. "Lian, kau keterlaluan!"
"Kau! Apa yang kau tahu tentang hidupku!" bentak Lusi kepada Hanna dengan nada makin keras.
"Aku tahu semuanya. Hanya saja aku diam saja karena prihatin dengan kesehatanmu. Kurasa traumamu sekarang sudah benar-benar sembuh. Atau karena memang semua itu, sebenarnya tak pernah terjadi."
"Tutup mulutmu hanna!" bentak Lusi kehilangan kesabaran. Dia mengambil air putih di sampingnya dan berniat menyiram wajah Hanna. Namun belum bertindak, sebuah suara membuat tangannya tertahan di udara.
"Lusi Zhao."
Dua suara yang datang dan terdengar secara bersamaan itu membuat Maxilian, Hanna dan Lusi menoleh. Julia menatap Maxilian yang juga menatapnya lalu beralih pada Hanna dan Lusi. Sedangkan Aaron yang datang dari arah berlawanan dengan Julia tampak terkejut melihat Lusi ada di sini bersama Maxilian. Pada akhirnya semua duduk di sini, di meja yang sama bersama-sama dengan mulut yang masih terkunci rapat.
"Apakah ini reuni keluarga atau teman lama?" cetus Julia yang pertama kali membuka suara. Dia menatap semua orang dengan senyum tipisnya.
Hanna menatap Julia lalu tersenyum. 'Waktunya telah tiba. Hal yang selama ini aku pikirkan akhirnya datang juga. Siapa di antara Lusi dan Julia yang dapat membalikkan keadaan. Lusi yang licik atau Julia yang cerdas. Hari ini aku akan menjadi penonton yang baik dari sebuah drama yang hebat sepanjang masa.' Batinnya tak sabar. Tatapannya tertuju pada Lusi dan Aaron yang ternyata menatap lekat Lusi. Akhirnya ia menjatuhkan tatapannya pada Julia.
"Julia, selamat, berkat dirimu dunia permodelan menjadi heboh."
Julia tersenyum seakan pujian itu bukankah untuk dirinya."
"Kau tak mengatakan padaku kalau kau menjadi model pengganti."
Julia beralih pada Maxilian. "Kau juga tak memberitahuku kalau kau sering bertemu dengan teman masa kecilmu di belakangku."
__ADS_1
Lusi tersenyum. "Kami hanya jalan-jalan kecil, dan mengingat memori lama. Kuharap kau tak keberatan."
"Apakah tunanganmu tahu?"
Aaron yang merasa disebut mendongak. "Lusi, ayo pulang." awalnya dia datang karena janjinya dengan Julia. Dia bahkan terkejut saat melihat Julia datang bersamaan dengannya walau dari arah berlawanan. Tapi saat melihat Lusi di sini bersama Maxilian dan Hanna, kata-kata yang dulu pernah diucapkan Julia terngiang.
Benarkah keduanya hanya teman masa kecil?Kenapa Lusi tak pernah menceritakan tentang masa kecilnya atau temtang Maxilian? Dan kenapa dia baru tahu kalau mereka berdua sering bertemu.
Lusi menahan semuanya. "Lian, aku akan langsung pada intinya. Bilang pada istrimu untuk tak menjadi penghalang dalam karirku. Lian, kau tahu apa yang kumaksud."
Julia tertawa kecil. "Lusi, mengapa kau tak memintanya langsung padaku?"
Lusi menoleh. "Ya, aku juga akan meminta itu darimu. Berhentilah menjadi benalu dalam karirku. Kau tahu? Aku mengalami kerugian yang sangat besar karenamu. Lian, kamu har..."
"Itu tak ada hubungannya dengan suamiku." potong Julia dingin.
"Julia." panggil Maxilian datar. "Lusi benar, berhentilah jadi model. Kau adalah nona muda Lunox,maka.."
"Lian, ini bukan hidupmu!" potong Julia tak terima. Sebelum melanjutkan kata-katanya lagi, nada dering ponsel Julia menginterupsi.
"Julia, ini aku Vivian. Tawaran yang aku berikan pad.."
"Aku menerimanya." potong Julia cepat. "Aku akan menjadi model SM agency. Namun aku memiliki syarat. Aku akan memilih sendiri iklan dan film yang aku inginkan. Perusahaan tak memiliki kekuasaan untuk mengatur jadwal dan..."
"Baiklah kami setuju." kali ini Vivian yang memotong dengan antusias.
"Julia.." ujar Hanna takjub. Dia tak dapat berkata-kata dengan syarat yang diajukan Julia.
"Julia, batalkan semuanya." Kali ini suara maxilian terdengar tak bersahabat.
Sedangkan Lusi tampak marah hingga tubuhnya bergetar. Tanpa aba-aba ia menyiramkan air putih yang ia pegang ke wajah Julia. "Beraninya kau!"
"Lusi!"
"Lusi!"
seru Maxilian dan Aaron bersamaan. Tangan kedua pria itu bahkan terulur bersamaan untuk melindungi wajah Julia.
"Kalian, kalian..." ujar Lusi terkejut.
Sedangkan Hanna membelalakkan matanya. 'Apa yang sudah kulewatkan hingga bisa melihat ini. Ini adalah pertama kalinya Maxilian tak memihak Lusi di hadapan orang lain.'
Julia tersenyum, matanya penuh dengan kilat kemenangan. Ia melihat Lusi dengan tatapan mengejek.
Lusi, aku akan mengambil semua yang kau dambakan. Pria yang kau cintai, karirmu, bahkan aku akan membuatmu tahu arti sebuah penghianatan. batin Julia.
"Aaron, Lian, kalian, kenapa kalian melakukan semua ini padaku?" tanya Lusi kecewa.
Hanna yang sedari tadi diam mulai menepukkan tangannya beberapa kali. "Lusi, kau sangat hebat. Apakah kau akan terus berakting di kehidupan nyata?"
Air mata Lusi jatuh. Dia menatap maxilian dan Aaron. "Aku hanya ingin menyatukan kalian. Lian, kau telah berjanji padaku kalau kau akan menikahiku. Aku ingin kita benar-benar menikah."
"Lusi!" teriak Aaron terkejut. "Apa yang kau ucapkan? Apa kau sadar?"
__ADS_1
Lusi menoleh pada Aaron. Tanpa aba-aba ia melepaskan cincin di jarinya. "Aaron, aku membatalkan pertunangan kita. Aku, sebenarnya selama ini aku mencintai Maxilian."