Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Takdir Unik..Kata Tomas


__ADS_3

“Hmm, aku akan segera pulang.”


Lalu teleponnya tertutup begitu saja. Julia merasakan seluruh tubuhnya lemas. Dia tanpa terasa menatap layar ponsel di tangannya yang telah tertutup dan mati. Entah kenapa, dia merasa lega karena orang yang dia panggil suami itu sudah bisa mengerti  kesusahannya tanpa bertanya banyak. Meski ragu dia bisa menilai bahwa pria yang akan menjadi suaminya ini adalah pria yang dingin.


“Nona, apakah tuan,” tanya Tomas ragu melihat tatapan Julia. “Jika tuan mengatakan hal—“


“Dia akan segera pulang.” Potong Julia dengan tersenyum lebar, meyakinkan.


Jawaban Julia membuat Tomas maupun Sely tertegun. Mereka berdua tak melihat keanehan dalam ekspresi Julia. Tomas terlihat lega, sedangkan Sely masih tak percaya dengan semua. Jadi dia hanya mencibirkan bibirnya.


“Yah aku akan pulang sekarang, tapi aku akan tetap kembali untuk memastikan semuanya.”


Julia tak menjawab salam kepergian Sely. Hanya Tomas yang mengantar Sely pergi dan memastikan gadis itu benar-benar telah pergi. Kembali menutup kamar, Tomas menatap Julia yang sudah duduk di tempat tidur dengan menyilangkan kedua tangannya di dadda.


“Nona,”


“Jangan terlalu senang,” ungkap Julia pada inti. Dia menatap Tomas waspada.  “Kau tahu kan? Aku mengatakan itu semua hanya di depan Sely. Jadi—“


“Nona.” Tegur Tomas dengan tersenyum. Dia sedikit bingung melihat ekspresi Julia yang berubah total. “Tak peduli alasan apapun, kau tak bisa menarik ucapanmu. Kau sudah menerima lamaran tuanku dan mengakui telah menjadi istri tuan mudaku. Aku sangat berterimakasih karena nona telah menyelamatkan nyawaku.” Ucap Tomas sambil membungkuk dalam dengan senyum kemenangan.


Julia kehilangan kata-katanya, karena Sely telah pergi, maka tak ada alasan untuknya untuk berpura-pura. Dan dia tak akan mengalah dengan mudah.


“Dan untuk informasi, wanita yang nona selamatkan tadi adalah nenek dari tuan muda. Jadi nona, kau tak bisa mengingkari kata-katamu dengan mudah. Aku juga telah merekam semuanya. “Tomas menggoyangkan ponselnya beberapa kali dengan senyuman yang lebih menyenangkan. Sayangnya di mata Julia, senyuman Tomas sangat mengesalkan.


“Kontraknya.” Balas Julia tiba-tiba. “Aku hanya ingin pernikahan kontrak. Kau tak berpikir bahwa pernikahan ini sungguhan kan? Aku sangat yakin ada alasan tertentu yang membuat tuan mudamu melamarku tiba-tiba. Dan kurasa pernikahan kontrak di antara kita menyelesaikan semuanya.”

__ADS_1


Tomas tertegun, seluruh senyumnya hilang. Dia menatap sedikit heran, dari mana nona mudanya ini tahu kalau tuan mudanya juga kesulitan. Seperti tak terduga, Tomas menyadari kecerdasan Julia yang tak biasa dan tak sama dengan rumor yang telah beredar.


“Itu, nona bisa diskusikan dengan tuan muda.”


“Jangan bersikap bodoh.” Ujar Julia jengkel. “Kau bisa meneleponnya sekarang. Atau biarkan aku yang bicara dengannya sekarang.”


“Tapi nona,”


“Buatkan point kontraknya, atau..”


“Baiklah.” Jawab Tomas cepat. “Akan lebih baik jika nona bicara dengan tuan muda.”


Tomas kembali menghidupkan ponselnya dan langsung menelepon Maxilian. Dia keluar dari kamar untuk bicara dengan tuan mudanya saat tahu telepon mulai tersambung.


“Tuan, ini soal telepon sebelumnya. Nona Julia, dia mengalami kesulitan menghadapi temannya yang bernama Sely, hingga mengaku menjadi istri dan nona muda keluarga kami. Tapi—“


“Tapi tuan, saat nona Sely pergi, nona Julia..dia ingin membatalkan semuanya. Lalu meminta ini sebagai pernikahan kontrak.”


“Aku akan pulang untuk membahas ini semua. Lalu selidiki wanita bernama Sely dan semua orang-orang yang berhubungan dengan Julia. Aku ingin kau mencari tahu secepatnya.”


“Aku mengerti tuan.”


Sedangkan di rumah utama keluarga Luxton, Mery datang dengan membuat kehebohan. Dia menangis dan baru berhenti setelah satu jam lamanya dengan memegang bantal kecil warna biru. Lucas datang dan terlihat begitu khawatir.


“Cicit kita, cicit kita.. Lucas, dia berdarah dan tak sadarkan diri. Kurasa cicit kita..cicit kita.. huaaaa” Lanjutnya dengan menangis. Lucas menepuk pundak Mery yang berada di pelukannya. “Berhentilah menangis. Dia menyelamatkanmu. Dia gadis yang baik. Kita akan memilikinya lagi setelah dia sehat.”

__ADS_1


“Tapi Lucas, cicit yang kita tunggu. Kenapa dia begitu ceroboh menyelamatkan orang asing? Apakah dia tak menghargai bayi dalam perutnya? Harusnya—“


“Mery, dia adalah cucu menantu kita, dan bukanlah orang asing. Dan bagaimana dia tak peduli pada hidupmu? Kurasa dia tak ingin membuat Maxilian kehilanganmu. Dia berpikir jauh ke depan walau kebodohannya mengorbankan anaknya sendiri.”


Mery terdiam. Dia ingat bagaimana terpukulnya Maxilian selama hidup yang kehilangan ibunya. Memikirkan ini hatinya melunak dan dia menghapus air matanya. “Kau benar, dia lebih memikirkan Maxilian. Dia begitu memahami Maxilian.”


Lucas mengangguk. “Jadi jangan dibahas ini dengannya saat kita datang berkunjung. Kau tahu bukan? Dia saat ini tengah berduka. Ini pasti berat untuknya, karena harus kehilangan bayinya. Kita harus mendukung mereka secara penuh. Kau harus tahu, kau selamat karenanya. Jadi jangan menuntutnya terlalu banyak. Itu akan membuat Maxilian marah.”


“Kau benar, kau benar.” Anggung Mery. “Kita harus menghiburnya. Huaaa cicit kita. Cicit kita..” tangisnya kembali dengan memegang bantal kecil di tangannya dengan penuh kasih dan penyesalan yang dalam.


**


Dua hari kemudian wanita yang Julia tolong datang menemuinya. Dan Julia cukup tertekan saat dia tahu bahwa wanita yang kebetulan dia tolong ternyata nenek dari calon suaminya. Kakek dan nenek calon suaminya terus datang dan menangisi sesuatu. Itu tentang seorang bayi yang katanya berada di perutnya. Di mana mengalami keguguran karena kecelakaan tersebut,


Meski ingin sekali jujur bahwa dia sama sekali tak pernah mengandung dan baru akan menikah dengan cucu kesayangannya tapi nyatanya Tomas telah memperingatkannya dengan nada memohon. Akhirnya dia hanya bisa berkata sebuah kebohongan bahwa dirinya dan tuan muda keluarga mereka telah menikah selama tiga bulan lalu.


Seperti sore ini, Julia merasa sudah cukup baik meski wanita yang kini dia panggil nenek itu tak mengijinkannya turun dari tempat tidur. Dia hanya duduk di atas tempat tidur dan membaca sebuah majalah fashion. Pintu ruangannya terketuk beberapa kali sebelum akhirnya terbuka. Sebagai gantinya, Tomas muncul di sana dengan membawakan buah segar.


“Kau tak bekerja?” tanya Julia sambil mendesah bosan.


“Saat ini prioritas tugasku adalah menjaga keselamatan nona.”


Julia meletakkan buku majalah yang ia pegang ke meja nakas


di dekatnya. “Siapa yang akan menyakitiku? Lagi pula aku telah membaik.”

__ADS_1


Tomas tersenyum dan tak menjawab. Dia telah menyelidiki semuanya dan cukup terkejut saat mengetahui bahwa mobil yang menabrak nyonya besarnya itu sebenarnya direncanakan untuk menabrak Julia. Mobil tersebut telah disewa seseorang untuk mencelakai Julia. Saat mobil itu melaju, nyonya besarnya yang tak melihat jalan dan hampir tertabrak, tapi ternyata Julia melihat dan segera berlari menyelamatkan nyonya besarnya. Tujuan akhir orang tersebut telah terpenuhi. Tapi karena kejadian itulah, membuat pernikahan ini terwujud. Bukankah ini takdir yang unik?


__ADS_2