
Ben tertegun untuk beberapa waktu, tubuhnya terasa lemah tak berdaya dengan tatapan kosong. Wajah cantik Sely yang menangis terbayang. Dia menggeleng pelan. "Ayah, itu tak mungkin. Itu tidak mungkin. Sely, dia tak akan melakukan itu semua. Dia bukan orang yang seperti itu. Ayah itu--"
"Kenapa?" tanya Sam pelan dan dingin. "Bukankah kau sudah tahu? Dia pergi setelah kau menuju rumah utama sepupumu. Dia pergi dengan sangat tergesa setelah berhasil masuk ruang kerjaku dan mengacaukan semua barang di sana. Ibumu memberitahuku, dan saat aku pulang, dua cap tanda pengenal telah hilang."
"Ayah, itu tidak mungkin!" teriak Ben tak percaya. Dia menggeleng kuat. "Sely tak akan melakukan itu semua. Dia, dia,--"
"Dia adalah orang suruhan Jordan dan Hendri Brasco!"
Bagai petir, Ben terpaku dan semua kata-kata buruk yang Julia ucapkan terngiang. Semua berputar di otaknya, namun lebih dari itu semua, dia terhempas dengan sebuah kenyataan hubungan gelap antara Jordan dan kekasihnya, Sely. Kali ini dia merasa seluruh tubuhnya lemas tak berdaya, dengan tatapan kosong dan hati yang menjerit sakit. Sely, kekasihnya benar-benar menipu dirinya!
Melihat putranya yang terkejut, Sam tertawa. "Kau puas? Kau puas sekarang? Kenapa kau tak mati membusuk di penjara saja? Kenapa Julia harus mengeluarkanmu! Kini, apa yang harus kukatakan pada Julia terkait dengan saham yang dia miliki dan aset lain yang mungkin saja telah hangus. Ben kau benar-benar bodoh!"
"Ayah, aku tak tahu. Aku sungguh tak tahu bahwa--"
"Pergi, pergi dan hiduplah bersama kekasihmu! Aku tak memiliki putra sepertimu. Tidak, mulai saat ini aku akan melupakan bahwa aku pernah melahirkan seorang putra." Tunjuknya pada pintu dengan langkah kaki yang mulai menjauh. Dia berhenti dan menatap Ben yang masih terkejut. Lalu kembali melangkah menuju lantar atas.
Ben berlari, mengejar langkah kaki ayahnya dan segera bersujud di kaki Sam. "Ayah, aku bersalah. Aku salah, aku sangat salah. Kumohon jangan seperti ini padaku. Aku tak tahu bahwa Sely datang hanya untuk menipuku. Ayah--"
"Kau buta Ben! Kau sangat buta! Kau bahkan berani menampar Julia setelah semua hal yang dia lakukan pada keluarga kita. Apa kau gila!" tendang Sam kembali pada Ben. Dia menyeret kakinya meski Ben menahan dan memohon di kakinya.
"Ayah, aku bersalah. Aku bersalah. Aku akan datang pada Julia dan meminta maaf. AKu akan bersujud jika dia menginginkannya. Ayah.."
"Hahaaha apa yang akan kau katakan? Kau akan meminta maaf setelah membuatnya hancur dan kehilangan seluruh warisan orang tuanya? Atau kau akan tertawa bersama kekasihmu dan membiarkan sepupumu tidur di jalanan. Apa kau juga lupa? Malam ini aku dan ibumu juga akan tidur di jalanan bersama sepupumu. Ben, kau benar-benar anjing kekasihmu yang patuh. Aku sangat bangga!"
Ben tertegun saat melihat tawa ayahnya tapi melihat air mata yang akan jatuh dari mata yang tak lagi muda itu, hatinya terenggut dengan kesedihan. Dia merasa bahwa kesalahannya kali ini benar-benar fatal hingga ayahnya tak tahu harus melakukan apa selain melepaskannya.Terhuyung, dia tak memiliki tenaga untuk berdiri atau menggerakkan tubuhnya. Seluruh pikirannya kosong dengan kesadaran yang kian menurunkan seluruh emosinya.
__ADS_1
Dia ditipu! Sely, kekasihnya! Tidak, itu tidak mungkin. Bagaimana mungkin orang yang dicintai menipunya. Sely telah berjanji, bahwa akan hidup bersamanya jika semua telah terkendali. Dia tahu gadis cantik itu selalu mempesona saat tersenyum hingga dia merasa seluruh dunia bisa dalam genggamannya. Bagaimanapun mereka saling mencintai. Bahkan memiliki janji akan hidup bersama sampai tua.
Mencintai?
Tiba-tiba dia merasa asing dengan perasaan itu. Benarkah selama ini Sely mencintainya? Bagaimana jika itu hanyalah rayuan saja? Atau hanyalah sebuah hal kecil yang bisa Sely janjikan pada semua pria termasuk dirinya.
Ya tuhan, apa yang telah terjadi?
Ben tak bergeming selain hanya duduk termenung. Dia mengepalkan tangannya erat dengan perasaan ragu, Sely, dia ingat malam itu tiba-tiba teleponnya berdering dan Sely sudah berada di luar pintu gerbang rumahnya. Gadis itu menangis hingga matanya bengkak dan bibirnya membiru. Dengan koper berat dan piyama yang tak sempat ditukar, menunjukkan sosok yang lemah dan cantik hingga butuh perlindungannya.
Sely adalah wanita yang ia cintai, dan dia tak bisa melihat air mata itu terus turun dari wajah cantik dan mata jernih yang harusnya bersinar. Dia menenangkannya dan menghiburnya. Dia juga akan berjanji akan memberi Julia pelajaran agar lebih menghargai wanita yang dicintainya. Tapi dia tak tahu bahwa kedatangan Sely ke rumahnya adalah untuk stempel tanda diri Julia yang diturunkan dari keluarga Brasco. Lebih dari itu, kenapa Sely butuh tanda stempel milik ayahnya? Apa yang gadis itu rencanakan? Kenapa bisa? kenapa bisa Sely menghianati cinta mereka?
"Sely," ujarnya dengan suara lirih dan bergetar. Dia baru saja menata perasaannya untuk lebih berpikir secara terbuka.
Ben menoleh saat suara ayahnya terdengar. Dia melihat ibunya mengangkat dua koper besar. Jantungnya berdetak lebih kencang, dia berdiri dan langsung menyentuh tangan ibunya.
"Ibu, ibu mau kemana?"
"Ben," potong Maria pelan. Dia menatap mata putranya lama. "Rumah ini bukan lagi rumah kita. AKu akan kembali ke rumah kecil lama kita dan akan kembali tinggal di sana. Kau, kau bisa pergi dan hidup bahagia bersama kekasihmu seperti yang kau bayangkan. Kami, aku dan ayahmu--"
Tak sanggup melanjutkan, Maria hanya menahan air matanya dan menarik tangannya dari genggaman tangan putranya, dia menuruni tangga saat air mata lolos dari matanya.
"Ibu, ibu,ibu!"
"Mulai sekarang, kau bisa menjadi anjing penjaga rumah kekasihmu! tegur Sam membuat tatapan Ben luruh. Ben melihat ayahnya berlalu dan keluar rumah bersama ibunya.
__ADS_1
"Ayah, ayah, ayah.." kejar Ben tak mau menyerah. Dia mengejar Sam dan menggedor kaca mobilnya yang mulai tertutup. "Ayah, buka pintunya. Ibu,,ibu,.. dengarkan aku. Ayah, ayah!" teriaknya saat mobil itu melaju kencang meninggalkannya.
**
Sementara itu beberapa jam yang lalu dalam sebuah kamar hotel, Sely masih terbaring dalam pelukan hangat Jordan. Dia menelusupkan wajahnya dalam dadda Jordan dengan manja. Membuat Jordan tersenyum lembut dan mengelus kepala Sely lembut. Mereka berdua baru saja menghabiskan waktu yang panas karena momen bahagia yang baru saja mereka lakukan. Menarik selimut menutupi tubuh polos mereka, Sely benar-benar merasa telah menghancurkan harapan temannya.
"Kau melakukan pekerjaan yang bagus." puji Jordan tulus. Tangannya bergerak menelisik rambut Sely lembut. "Aku bahkan tak tahu kau memiliki stempel pengganti tanda tangan Julia yang bisa digunakan secara sah. Dari mana kau mendapatkannya?
Sely tersenyum, ingatannya kembali beberapa tahun yang lalu. "Saat itu aku tak sengaja melihatnya. Dia memiliki benda kecil tersebut sejak beberapa tahun lalu. Dia pernah menunjukkannya padaku, dan mengatakan bahwa itu berguna untuk menyetujui keputusan apapun karena dibuat secara resmi oleh keluarga Brasco."
Senyum Jordan terkembang. Satu tangannya mengangkat benda bulat setinggi sepuluh senti ke hadapan matanya. Maembawa benda tersebut ke depan mulutnya, dia menarik penutup benda tersebut dan akhirnya terlihat landasan berwarna merah dengan pola rumit dan tandatangan kecil di dalamnya. Dia mengamati pola tersebut dan kian tersenyum lebar.
"Ini benar-benar tandatangan Julia meski sangat kecil." ujarnya tak bisa menutupi rasa puasnya.
Sely bangun, dengan menarik selimut menutupi dadanya. "Tentu saja itu miliknya." Tanpa menunggu, dia meraih sebuah kertas acak di atas meja nakas dan menyerahkan pada Jordan. "Tempelkan stempel itu di sini, dan kau akan melihat bahwa cap pengganti yang kubawa ini asli dan akan disahkan dalam hukum. Aku tak yakin, kenapa Julia begitu mudahnya memberikan hal sekecil ini pada ayahnya Ben."
Jordan menurut dan menempelkan landasan berwarna merah itu di atas kertas sesaat lalu mengangkatnya. Di atas kertas tersebut telah tertinggal sebuah pola rumit dan tanda tangan kecil Julia yang sangat dia kenali. "Ini benar-benar tanda tangannya." Wah sayang, kau benar-benar telah melakukan pekerjaan yang sulit." Dengan sangat lembut dia mencium kening Sely.
Sely tersipu. "Itu tidak sulit sama sekali. Aku selalu menebak, di mana dia menyembunyikan hal seperti ini, dan saat itu aku mendengar Ben yang bercerita banyak hal padaku. Tentang orang tua Julia yang meninggalkan hal-hal penting pada ayahnya terkait masa depan Julia. Meski dia tak tahu, hal apa itu, tapi aku sangat tahu, bahwa itu pasti stempel Julia."
Jordan tertawa."kau benar-benar memiliki pikiran yang tajam. Dan tentang Ben, kurasa kau tak perlu bersamanya lagi. Aku akan menikahimu, karena kau begitu berjasa pada hidupku."
Sely berbunga saat melihat Jordan menarik tubuhnya dalam pelukan hangat dan memberikan ciuman panas. Dia hanya bisa mengimbangi hal-hal yang telah Jordan lakukan untuk mendapatkan kepuasan dan kebahagiaan. Saat ini yang paling penting dalam benaknya adalah melihat temannya menangis histeris karena kehilangan segalanya. Memikirkan itu, dia jadi bersemangat dan tak sabar menantikan saat-saat di mana dia bisa melihat Julia mengemis di kakinya untuk meminta pertolongan, Dan saat itu terjadi, dia akan mengembalikan semua hinaan yang dia dapat sebelumnya.
"Julia..kau pasti akan berada di bawah kakiku!"
__ADS_1