
Tetesan darah sangat jelas Julia lihat berceceran di lantai. Lalu tubuh yang meringkuk dan merintih menahan sakit.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Julia dingin.
"Lima puluh kali cambukan di tempat yang sama."
Julia menarik ujung bibirnya puas. "Kenapa bau busuk tercium dari tubuhnya?"
Sebelum menjawab, Tomas menjatuhkan tatapannya pada senyum Julia yang tipis. Nona mudanya itu tampak sangat tenang dan tidak ketakutan.
"Itu karena sebuah racun."
"Oh," sudut bibir Julia melengkung sempurna. Dia mengamati tubuh Carlen yang terkelupas kulit dan dagingnya. Luka itu tampak putih dan sedikit merah di beberapa bagian dengan cairan bening yang menetes. Rambut klimis yang biasanya harum, kini bergumpal dengan darah dan beberapa daging kecil di sana.
"Dengan apa kalian mencambuknya?"
Tomas berjalan ke sisi ruangan. Menarik sebuah rantai pipih panjang dengan gerigi tajam di tiap ujungnya. Dia menunjukkannya di depan Julia berharap Julia jijik seperti wanita pada umumnya. Namun dia tertegun saat Julia meraih benda itu dan menyentuh tipis gerigi tajam dengan jarinya.
"Nona, itu sangat tajam."
Julia tak mendengarkan. DIa hanya mengayunkan sedikit tangannya dengan hati-hati dan mengamati bahwa setiap gerigi itu terdapat kulit dan daging yang tersangkut. Dapat ia bayangkan rasa sakit saat ujung rantai tersebut menyentuh dan mencabik kulit dan dagingnya.
"Singkirkan."
Tomas menurut. Namun dia lebih tercengang saat Julia berjalan mendekat ke arah Carlen tanpa rasa jijik sama sekali. Kenapa nona mudanya tidak merasa jijik sama sekali? Padahal jelas sekali pemandangan mengerikan ada di depan matanya.
Julia berjongkok menyentuh sedikit lengan Carlen. Bau anyir karena daging yang membusuk makin menusuk indra penciumannya.
"Carlen."
Tak ada jawaban selain rintihan kesakitan hingga membuat Julia mengeraskan suaranya lagi.
"Carlen apa kau mendengarku?"
Rintihan itu terhenti diiringi pergerakan ringan. Julia mundur saat Tomas berjalan mendekat untuk berjaga. Dari balik tubuh yang meringkuk itu dapat ia lihat mata abu-abu yang menatapnya sayu. Melihat Julia di depannya, Carlen mengulurkan tangannya dengan desisan lemah yang memilukan.
"Ju--lia."
Julia tersenyum. Dia membiarkan uluran tangan Carlen tanpa berniat menyambutnya. "Apakah itu sakit?"
Carlen terus merintih. Tubuhnya terasa sangat lemah dengan banyaknya luka di tubuhnya. Namun tawa Julia membuat rasa sakitnya makin tumbuh.
"Itu hanya sedikit sentuhan dari rasa sakit yang kurasakan. Aku ingin kau memahami dari sekian rasa sakit yang kurasakan yang akhirnya berharap pada kematian."
Uluran tangan Carlen jatuh. Kata-kata dingin yang seperti ejekan itu tersirat rasa kepuasan. Tomas yang mendengarnya merinding. Tomas melihat kekejaman nona mudanya yang sangat mirip dengan tuan mudanya. Nona mudanya ini tak segan dalam menyakiti bahkan membunuh lawannya.
"Kau tahu? Hanna datang padaku untuk meminta kebebasanmu. Sayangnya ia tak memberikan timbal balik yang menguntungkan untuk ia tawarkan padaku. Mari kita lihat bagaimana usaha dia untuk membebaskanmu."
Mata abu-abu itu bergerak lemah. Bibirnya seakan ingin mengatakan sesuatu, namun tubuhnya tak mendukung. Hal yang bisa dilakukan Carlen hanya mendesis menahan sakit. Kemudian Julia mundur, diikuti Tomas di belakang. Menutup pintu ruangan dan berjalan kembali menuju halaman.
"Racun apa yang kau berikan padanya?" tanya Julia ingin tahu.
"Tuan muda memesan khusus. Bisa disebut ini racun racikan dari pakarnya racun. Racun ini membuat tubuh yang luka tidak dapat mengering, tubuh yang terluka itu akan perlahan membusuk dan bernanah. Lukanya akan menggerogoti kulit sehat lainnya agar membusuk juga. Dan itu berjalan dengan cepat."
Julia tersenyum puas. "Apa kau juga mendapatkan penawarnya?"
__ADS_1
Tomas mengangguk. "Tuan muda yang memegangnya."
Julia berbalik dan menatap Tomas. "Dapatkan satu lagi racun serupa untukku."
"Nona," Tomas terkejut.
"Aku mau racun yang sangat mematikan. Namun dengan cara pelan dan mengerikan."
"Itu,.."
"Aku ingin racun itu membuat daging dan kulit terpisah dengan sendirinya dari tubuhnya. Oh, itu terlihat sangat menyenangkan." senyum dan mata yang berbinar mengiringi kata-kata Julia.
"Akan segera saya dapatkan nona."
"Bagus, aku menunggu kabar baik darimu. Dan.. hentikan cambukan itu, rawat Carlen dengan benar. Penawarnya, aku yang akan mengurusnya dari Maxilian."
Tomas hanya mengangguk patuh. Sepertinya nona mudanya ini luar biasa. Kekejamannya sebanding dengan kekejaman tuan mudanya. Keduanya sama-sama memiliki hati yang dingin. Keduanya tak akan membiarkan siapapun yang menyakiti mereka terlewat begitu saja. Mengikuti dua orang yang kejam ini adalah tantangan tersendiri untuknya. Dia harus tahu bagaimana memberikan kepuasan untuk setiap tugas yang mereka berdua berikan padanya. Dan kepuasan mereka adalah, melihat musuh mereka mati mengenaskan.
**
"Nona, kemana kita pergi selanjutnya?" tanya jeni sopan. Dia melirik spion tengah untuk melihat Julia di belakang.
"Kemana lagi? Tentu saja menemui Janet."
"Saya juga ingin memberikan informasi tentang keluarga paman anda, Hendri. Mereka sudah hancur."
Julia terperanjat. "Bagaimana bisa?"
"Tuan muda yang memerintahkan untuk menghancurkan mereka. Dan nona Janet yang tersisa saat ini."
"Tewas dalam kecelakaan."
Julia mengangguk mengerti. DIa tak akan bertanya lebih banyak lagi karena ia tahu bahwa semua adalah perintah Maxilian. Dan pria itu tak akan melakukan sesuatu tanpa alasan. Lagi pula bukankah sangat bagus kalau pamannya itu mati. Kalaupun Maxilian bertanya pendapatnya, Julia akan dengan senang hati memberikan jawaban 'iya' untuk itu. Semua orang yang menyakitinya, harus mati dengan mengenaskan!
"Kenapa harus seluruh keluarga Hendri dimusnahkan?"
"Itu, itu karena nona Janet membuat kesal tuan muda."
Julia tak terkejut. Namun tak habis pikir kenapa Maxilian menghancurkan seluruh keluarga hanya karena salah satu dari mereka membuatnya kesal. Apakah menurutnya hidup manusia adalah lelucon baginya?
"Siapa yang Janet temui akhir-akhir ini?"
"Nona muda Rose."
"Dapatkan jadwal Jordan segera. Buat ia menemui Janet."
"Ah, iya nona, Soal tuan muda Jordan. Dia beberapa kali datang ke rumah utama Lunox untuk mencoba bertemu dengan anda."
"Lalu?"
Jeni menarik sudut bibirnya, "Lalu apa lagi nona? Tentu saja tuan muda menendangnya keluar."
"Oh," Julia tak terkejut, namun sudut bibirnya tertarik sempurna saat membayangkan ekspresi Maxilian bertemu dengan Jordan. Apalagi akhir-akhir ini sikap Maxilian terhadapnya sangat berbeda. Pria itu bersikap seakan akan berusaha untuk memperbaiki hubungan mereka yang kaku. Bahkan mengikrarkan akan berada di garda terdepan untuknya. Membebaskan segala hal yang ingin dilakukannya walaupun itu tindakan ilegal sekaliapun. Maxilian akan menjadi benteng yang melindunginya dari berbagai serangan.
Apakah ini bisa disebut sebuah hubungan? tanya Julia dalam hati. Namun sesaat kemudian wajah Aaron terlintas di ingatannya.
__ADS_1
Hubungan? Ya, hubungan yang saling menguntungkan. Tekannya kuat.
"Di mana Rose dan Janet bertemu?" tanya Julia penasaran. Rose, wanita itu adalah salah satu orang yang membuatnya hampir terbunuh. Dia tak akan melepaskannya dengan mudah.
"Di rumah yang saat ini nona Janet tinggali."
"Di mana Rose bekerja?"
Di Long Lunox Agency. Salah satu anak perusahaan tuan muda."
"Maxilian memliki perusahaan yang bergerak di bidang entertaiment?"
Jeni mengangguk. "Nona, perusahaan Lunox adalah salah satu perusahaan tertua dan terkuat di negara ini. Meski banyak kisruh internal antar pemimpin perusahaan, namun bisnisnya tak goyah sedikit pun. Tetap berkembang pesat.
Wajah Julia terperangah. Dia tahu maxilian terlahir dengan sendok emas. Namun ia tak menyangka kalau perusahaan keluarganya kokoh dan besar.
"Lalu apakah Hanna juga bekerja di sana?"
Jeni mengangguk. Saat ini Julia menyadari satu hal tentang Hanna. Kenapa Hanna ingin sekali lepas dari bayang-bayang nama besar keluarga. Sedikit demi sedikit ia mulai memahami keluarga suaminya.
"Aku dengar Harvey meninggal?"
"Itu bertepatan dengan hilangnya nona. Dan pasti nona bisa menebak tentang siapa yang mengendalikan itu.
Senyum Julia makin berkembang. Ia mengingat bagaimana pria bermata biru itu menatapnya dengan dingin. Menyoroti setiap tingkah geraknya bahkan mencari tahu segala sesuatu tentang dirinya. Mata biru yang memukau itu ternyata tak memiliki banyak waktu di dunia ini. Namun ia juga berpikir, ada baiknya pria itu mati. Ia tak bisa bayangkan bagaimana kekejaman pria itu bila hidup lebih lama. Ketampanan yang sangat disayangkan bila akhirnya cepat musnah.
"Nona, kita sampai." ucap Jeni menyadarkan lamunannya.
Julia turun dan Jeni mengikuti dari belakang. Berhenti sesaat, kemudian menatap rumah mewah dua lantai yang terlihat megah namun sunyi. Senyum simpul tersemat. Hari ini ia akan langsung bicara pada inti dan selanjutnya, jawaban Janet akan menentukan hukuman yang akan ia berikan.
Jeni mengetuk pintu. Tidak menunggu lama, pintu itu terbuka lebar dari dalam. Muncul wajah Janet dengan rok mini hitam di padu dengan kaos ketat dengan merk tertentu. Wajahnya terlihat segar dan cantik. Semua keperluannya sudah siap di dalam rumah itu. Tentunya dengan kualitas yang terbaik. Jadi bagaimana mungkin ia tak bahagia?
Janet tersenyum cerah. Tak melihat Julia di belakang Jeni, Janet pun bertanya. "Kau datang? Apakah dia juga datang?" tanyanya dengan penglihatan beralih ke halaman.
Suatu hari Jeni datang bersama Maxilian ke rumah ini. Dia yang saat itu tak mengerti kenapa ia dikurung di rumah ini, hanya berteriak marah dan histeris. Namun Maxilian hanya melenggangkan kakinya masuk dan duduk diam di sofa. Setelah itu semua keperluannya datang. Berderet baju mahal, sepatu hingga aksesoris ternama, semua telah tersedia.
Awalnya terkejut namun ia cuma diam memperhatikan. Termenung dan berpikir tiap hari, akhirnya ia menebak kalau Maxilian mempunyai maksud tersendiri dengan memberikannya segala yang tak pernah ia dapatkan. Dia diam-diam mempunyai angan-angan bahwa mungkin saja Maxilian menyukainya. Maxilian sengaja mengurungnya untuk menyembunyikannya, dan kemudian menikahinya.
Hingga Rose datang ke rumah ini dan banyak bertanya tentang semua barang mewah yang ia dapatkan. Tak banyak bicara, ia hanya memilih untuk berdamai dengan keadaan dan berusaha menjadi teman yang baik. Dengan banyaknya perbicangan yang dilakukannya bersama Rose, ia makin memahami Maxilian sedikit demi sedikit. Dan kali ini ia yakin Jeni datang bersama Maxilian. Pria itu datang karena merindukannya."
Jeni tak menjawab. Dia mundur dan menepi. Membiarkan tubuh Julia yang awalnya tak terlihat maju ke depan.
"Selamat datang sepupuku. Siapa yang kau cari?"
Janet menoleh. Tubuhnya membeku saat melihat Julia tengah tersenyum manis di depannya. Tanpa luka sedikit pun, sosok itu berdiri dengan sangat anggun. Kulitnya yang putih dengan bibir merah jambu yang segar itu tampak menyapa dengan ramah. Tanpa sadar Janet mundur, dan tak bisa mengendalikan emosinya.
"Ka--kau,"
Bagaimana bisa Julia menemukannya dengan mudah? Bagaimana bisa ia terlihat baik-baik saja? Ia mendengar dari Rose bahwa Julia terluka parah karena racun. Namun kenapa saat ini Julia berdiri tegak di hadapannya? Bahkan sepupunya ini terlihat makin cantik.
"Kau terkejut? Atau kau kecewa karena aku bukan orang yang kau harapkan?"
Janet memegang gagang pintu dan berniat menutupnya. "Pergi! Aku tidak mengharapkanmu!"
Namun tangan Julia lebih cepat menahan pintu. "kau tak menyuruhku masuk? Apakah ini caramu menyambut pemilik rumah? Janet, kau hanya tamu di sini."
__ADS_1