
Hancur sudah pertahanan yang Maxilian bangun dengan satu kalimat yang terucap dari bibir mungil istrinya, Dengan satu tarikan nafas Maxilian mengunci Julia dalam kungkungan di bawah tubuhnya, menunduk, mengangkat dagu Julia dan menciumnya dengan lembut namun terkesan menuntut. Merasakan aroma dan rasa manis bibir Julia, dia ingin lebih dari ini. Dan tanpa pikir panjang, dia menggigit bibir bawah Julia, membuat gadis itu meng*rang tanpa sadar.
Melesakkan lidahnya, mengeksplor ruang tanpa tersisa. Saling mencecap dan merasakan rasa masing-masing. Julia begitu terbuai oleh ciuman Maxilian. Dia bahkan tak tahu sejak kapan Maxilian menanggalkan pakaian dalam yang tersisa di tubuhnya. Dia hanya merasa menggigil lalu semakin melesakkan tubuhnya pada kehangatan tubuh Maxilian yang terasa nyaman. Kemudian dia merasa seluruh tubuhnya yang panas terasa mencair atas sentuhan lembut Maxilian.
Menge**ng dan merasakan setiap sentuhan di tubuhnya\, dia melayang merasakan hal asing bagi tubuhnya namun nikmat di saat yang sama. Maxilian mulai men**mbu setiap jengkal tubuh Julia\, mer*ba tanpa ada yang terlewat\, menandai setiap kulit yang dijamahnya dengan jejak kepemilikan.
Semakin dia menggila\, semakin merdu suara er**gan yang terdengar dari bibir Julia. Membuatnya lepas kendali dan dia semakin ingin membuat Julia makin neginginkannya. Mengangkat wajahnya lalu menatap dalam wajah Julia yang memerah karena ga*rah. Maxilian merasa puas melihat jejak-jejak kepemilikan yang ditinggalkannya. Kulit putih itu kini tampak penuh dengan semua jejaknya.
menegakkan tubuhnya, dia menanggalkan satu persatu pakaian yang dikenakannya. Menarik tangan Julia kasar lalu meletakkannya di atas dadanya. Menuntun Julia untuk terus meraba turun hingga pangkal tubuhnya. Dia mengerang saat tangan Julia terlihat ragu dan malu. Membuat batas kesabarannya menghilang dan jiwa liarnya makin berteriak.
Dia kembali mengungkung tubuh Julia di bawahnya. Menatap setiap jengkal tubuh sehalus porselen Julia yang terlihat panas di matanya. Menjamah tubuh Julia sekali lagi tanpa lelah. Membelai kedua buah d*d* Julia yang tidak terlalu besar namun sangat pas dalam genggamannya. Dia bahkan merasa setiap jengkal bagian tubuh Julia memang tercipta untuknya. Semua terasa pas dan memuaskan.
Tubuh Julia menggigil dan bergetar dengan hebat saat tangan Maxilian menjamah setiap jengkal tubuhnya. Merasakan lidah Maxilian yang menari di setiap lekuk tubuhnya. Hingga membuatnya menjerit kenikmatan. Er*ngannya tak lagi tertahan, dia mulai meracau bahkan terkadang menekan kepala Maxilian saat perlahan badai kenikmatan datang menghantam. Dia merasa terbang, terbuai dalam puncak kepuasan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Er*ngannya itu membuat Maxilian menyeringai puas. Dia menarik tubuhnya dan memposisikan dirinya tepat di atas tubuh Julia. Dengan lembut\, dia menggigit telinga Julia hingga membuat gadis itu menggelinjang. Mulai detik ini\, dia ingin Julia menyebut namanya dalam setiap hentakan kenikmatan yang ia berikan. Dia ingin mendengar Julia meng*rang hingga lupa pada rasa sakit yang menggerogoti nadinya.
"Akhh!" Pekikan kesakitan meluncur dari bibir merah Julia namun secepat kilat dibungkam oleh bibir Maxilian. Dia mengerutkan alisnya saat merasakan nyeri di pangkal pahanya. Hingga tangannya tanpa sadar meremas punggung Maxilian keras.
Maxilian yang liar menghentak miliknya ke dalam diri Julia dalam satu hentakan. Dia merasakan cakaran di punggungnya namun tak ia hiraukan. Dia mengerang tertahan saat dirinya masuk dan tenggelam di dalam diri Julia sepenuhnya. Merasakan sesuatu mengalir antara miliknya dan Julia, dia menunduk dan tertegun saat melihat cairan merah itu menetes hingga ke seprei tempat tidurnya.
Dia benar-benar perawan? batin Maxilian terkejut.
Mendongak, ia melihat mata Julia yang terpejam. Dengan air mata di kedua sisi mata yang membuat perasaannya menghangat. Dia mengelus pipi Julia pelan dengan membisikkan kata-kata menenangkan. Mencium kedua mata Julia, hidung, kedua pipi dan turun mencumbu kembali bibir Julia dengan lembut. Sejak malam ini dan seterusnya Julia akan menjadi wanitanya.
Julia merasakan sakit yang membelah tubuhnya saat Maxilian memasuki inti tubuhnya. Menangis karena merasa sangat sakit, dia merasakan rengkuhan hangat disertai dengan kata-kata menenangkan dan kecupan lembut di seluruh wajahnya. Segera ia merasa sedikit tenang namun merasa tidak nyaman di daerah bawahnya yang terasa penuh dan sesak. Secara naluriah, ia menggerakkan pinggulnya karena merasa tidak nyaman, namun hal yang Julia lakukan telah membuat jiwa buas dalam diri maxilian terbangun dan menginginkan lebih.
Sambil menggertakkan giginya Maxilian mulai menggerakkan pinggangnya dengan perlahan\, namun lepas kendali saat mendengar er*ngan dan des*han Julia yang begitu merdu di telinganya. Dia kalap\, dia terbakar\, dia bergerak semakin liar saat merasa Julia mencengkeram dirinya sangat erat di bawah sana.
Entah berapa lama mereka saling mengimbangi, namun saat ini keduanya tampak saling menikmati setiap detik waktu yang mereka lalui ini. Mendongak, memejamkan matanya, Maxilian mengerang pelan saat merasakan nikmat yang baru pertama ia rasakan. Bergerak semakin cepat namun lembut, Maxilian memusatkan semua konsentrasinya pada pelepasan Julia dan dirinya.
Menggenggam tangan Julia\, dia bergerak semakin liar tanpa mempedulikan er*ngan dan rintihan Julia. Dia merasa Julia akan datang karena dia merasa Julia makin menjepitnya kuat\, menambah tempo kecepatan\, dia bergerak sampai akhirnya pelepasan mereka di sertai dengan er*angan kepuasan yang panjang.
Julia terengah begitu pun Maxilian. Dia merasa hampir gila namun terasa hebat di satu waktu. Maxilian menunduk, membisikkan sesuatu yang akan menjadi pengikat untuk kehidupan Julia seumur hidupnya.
__ADS_1
"Julia, mulai sekarang kau adalah milikku. Jangan pernah berpikir untuk lepas dari cengkeramanku!"
Di batas kesadaran Julia yang hampir menipis, dia mendengar janji mutlak Maxilian yang mirip seperti ancaman. Namun karena terlalu lelah akhirnya ia memilih menyerah. Rasa lelah dan kantuk yang ia rasakan membuatnya tak mempedulikan semua itu. Julia tertidur tenang dalam pelukan Maxilian.
Maxilian memeluk pinggang ramping mulus yang masih terlelap. Matanya tak terpejam sama sekali, tapi ia melihat seluruh jejak yang telah ia tinggalkan di tubuh Julia. Warna merah keunguan itu terlihat jelas di atas permukaan kulit Julia yang putih. Membuat tangannya menyentuh setiap warna yang tercipta.
"Di setiap jengkal tubuhmu, aku telah menandainya. Dan seluruh lekuk tubuhmu kini telah menjadi milikku. Maka aku ingin melihat, bagaimana Aaron yang selalu kau sebut itu bisa merebutmu dariku. Julia, kau tak akan bisa lari dari pria sepertiku."
Senyum tipis itu terukir, mata coklat Maxilian tampak menggelap seperti madu. Menawarkan keindahan yang tak mudah diselami. Kulitnya yang halus kini tampak sangat segar. Dia menunduk, meletakkan bibirnya pada belakang leher Julia. Menyeret lidahnya hingga membasahi untuk mengundang godaan.
"Ehm, aku tak bisa berhenti. Dan kau pun tak seharusnya berhenti."
Dan dia menghisap kulit putih Julia lalu melepaskannya, meninggalkan jejak merah menyala. Jarinya menyentuh jejak yang baru saja ia tinggalkan. Matanya menelusuri punggung Julia hingga pinggang yang terlihat sangat halus dan putih. Dan ia kembali menundukkan kepalanya.
"Seluruh tubuhnya hanya akan menjadi milikku,"
Dan selanjutnya bunyi kecipak bibir Maxilian terdengar mengisi ruangan. Tangannya bahkan sudah mulai berkeliaran liar seiring inti tubuhnya yang menegang. Dia mendongak, melirik Julia yang bergelinjang meski matanya tertutup rapat. Senyumnya terlintas manis, dia menggigit telinga Julia dan berbisik.
"Bagaimana bisa kau beristirahat dengan mudah setelah membangunkan singa tidur? Julia, kau harus tahu apa yang kau lakukan setelah mencoba menggodaku. Karena aku tak akan berhenti sebelum puas."
"Lian," desah Julia tanpa sadar. "Ahkk.." teriaknya tertahan dengan mata terpejam.
Maxilian tersenyum, dia melihat bagaimana wajah Julia memerah dan meneriakkan namanya di setiap sentuhan dan kenikmatan yang ia berikan. Membuat jiwa liarnya terasa terbakar dan haus. Tak memberi kesempatan untuk Julia menghela nafas, dia langsung mengungkung tubuh Julia untuk berada di bawahnya. Mencium dalam bibir Julia dengan lembut. Membelai pinggang Julia lalu terus turun ke bagian inti tubuh Julia.
Ciuman lembut itu berubah menuntut, Seperti Maxilian yang mengisap kuat lidah Julia dengan kasar. Membuat Julia terbelalak kagetĀ lalu Maxilian melepaskannya dengan lembut. Permainan lembut itu terkadang berubah liar lalu kembali melembut hingga membuat Julia ingin berteriak.
Terus turun\, Maxilian kembali menelusuri tubuh Julia yang mulai menegang. Dia tersenyum saat suara er*ngan Julia kembali terdengar. Membuat lidahnya semakin berani dan liar. Mengecap dan terus meninggalkan jejak kepemilikan. Hingga dia mencapai titik puncak tubuh Julia. Di mana tangannya tak bisa menahan untuk diam. Mulai masuk ke dalam inti tubuh Julia dan mulai bermain di dalam sana. Membuat Julia kembali berteriak dan mendes*ah\, meracau bahkan melengkungkan tubuhnya ke atas yang membuat pemandangan itu begitu indah di matanya.
"Kau sangat seksi Julia. Kau harus bertanggung jawab karena telah meruntuhkan pertahananku."
"Lian.." desah Julia tak kuasa. Dia memejamkan matanya saat merasa bagian inti tubuhnya tergelitik dan merasakan sensasi yang aneh. Membuka mata, dia mendapati wajah Maxilian yang tersenyum penuh arti. Membuat wajahnya memerah hingga tangannya meraih leher Maxilian dan menciumnya dalam.
Maxilian cukup terkejut, saat Jullia mengimbangi permainannya. Efek obat itu, akankah sebesar ini hingga Julia terlihat begitu liar? Dalam pikirannya kini sangat rumit. Hingga ia tak sadar, kini Julia yang mengambil alih permainan. Dia tak tahu, sejak kapan mereka berubah posisi. Di mana gadis itu berada di atas tubuhnya. Mencium bibirnya dalam dan menuntut hal lebih.
__ADS_1
"Ju--Julia," desah Maxilan dengan suara parau.
Dia merasa lidah Julia bagai magnet di tubuhnya. Saat gadis itu menelusuri leher dan menghisap kulitnya dalam. Meninggalkan jejak kemerahan yang sama seperti yang ia lakukan pada Julia. Membuatnya tersenyum penuh arti Meski saat ini Julia belum sadar sepenuhnya, tapi dia tak peduli. Gadis ini, baru saja meninggalkan jejak kepemilikan di tubuhnya. Yang mengurungnya dengan hak milik tanpa bisa di ganggu gugat oleh orang lain.
"Julia, kau tahu apa yang kau lakukan?" tanya Maxilian menahan gejolak liar dalam tubuhnya yang terus diasah oleh Keliaran Julia. "Kau baru saja menandatangani hak milik atas tubuhku. Tak peduli apa pun itu, kau telah melakukannya. Kau...Ahhkkk,"
Ucapan Maxilian tertahan dengan tiba-tiba saat Julia menghisap otot-otot perutnya. Matanya terpejam menikmati semuanya dan seluruh tubuhnya mulai tak bisa dikendalikan. Sedangkan gadis itu terlihat tak mau berhenti. Terus saja meraba dan menciuminya. Membuatnya hampir gila karena merasakan sensasi yang berbeda.
"Kau, jangan pernah berpikir untuk lari dariku setelah sadar!" ancam Maxilian dengan nafas yang memburu. "karena aku akan merantai tubuhmu jika kau berani lari setelah menjadikan tubuhku sebagai mainan untuk kepuasanmu!"
Julia tak mempedulikan ancaman Maxilian. Dia hanya tahu bahwa tubuhnya bergerak secara naluri. Dia menikmatinya. Bagaimana wajah Maxilian yang menegang dengan mata terpejam dan bibir sedikit terbuka. Mengeluarkan er*ngan yang sangat menggelitik jiwanya. Membuatnya merasa puas dan ingin lebih dari ini. Namun ia tertegun saat melihat bagian inti tubuh Maxilian. Matanya tak berkedip untuk beberapa saat. Untuk pertama kalinya ia melihat yang tak pernah ia lihat. Milik Maxilian ataupun milik pria lain. Entah kenapa saat melihatnya, bagian inti tubuhnya berdenyut tak terhenti. Seakan ia yakini untuk harus memasukkannya ke dalam miliknya namun dia cukup takut untuk memulai.
"Kau terkejut? Atau kau menyukainya?" tanya Maxilian serak. Dia terbangun dan melihat Julia yang tak bergerak menatap miliknya. Wajah gadis itu nampak merona. Membuatnya tak sabar untuk menuntaskan semuanya.
"Aku.."
"Aku tak bisa bertahan lebih lama lagi." potong Maxilian kembali mengambil kendali. Dia menggulingkan tubuh Julia dan segera memasukinya dalam satu hentakan. Membuat gadis di bawahnya menge*ang pelan.
"Apakah masih terasa sakit?" tanya Maxilian lembut. Jelas, dia ingat bahwa Julia baru pertama kali melakukannya. Namun saat sisi liarnya bergejolak, dia tak mampu untuk melakukan semuanya dengan lembut. Dia akan memompa dalam dan tak mempedulikan semuanya.
"Itu sedikit tidak nyaman," jawab Julia lirih.
"Seperti apa?"
"Seperti sesak dan penuh. Seperti...enghh.." lenguh Julia tak melanjutkan. Matanya terpejam merasakan nikmat yang kembali menjalar.
"Jika kau bicara lebih banyak lagi, maka aku takut tak kuasa untuk menghentakkan dalam dan membuatmu melenguh kenikmatan. Aku--"
"Lian, kau--"
Keduanya tak melanjutkan setiap kata-kata yang akan terucap. Hanya gerakan Maxilian yang kian cepat dengan er*ngan keduanya yang memenuhi ruangan. Saling melengkapi satu sama lain\, hingga Maxilian tak kuasa menahan lebih lama. Dia menghentakkan dalam miliknya diiringi er*ngan Julia dan dirinya yang datang secara bersamaan. Keduanya saling berpelukan erat dengan bibir saling terkait kuat. Seakan tak ingin menyudahi kenikmatan yang terjadi. Mereka melakukan sepanjang malam\, hingga membuat keduanya kelelahan dan kembali terpejam di dalam tidur yang panjang.
************************
__ADS_1
Puas kalian??!!! ini kan yang kalian tunggu. Hahahaahahaaaaaaa