
Ada masalah jaringan nih... Jadi telat terus
...----------------...
"istrimu keadaannya sangat buruk. Dia di racun."
Maxilian menoleh. Tatapannya dalam menuntut penjelasan. Hingga Jack kembali melanjutkan.
"Obat perangsang yang sangat kuat. Kami para dokter hanya bisa mengurangi gejala yang timbul, sedangkan penawarnya, itu tergantung dari orang yang mengalaminya sendiri."
"Apa maksudmu?"
Jack menghela nafas berat. "Aku katakan ini sebagai temanmu. Dari mana istrimu mendapatkan racun ini? Lian, racun ini bisa membunuhnya dengan pelan. Racun ini menyerang saraf di dalam tubuhnya. Meski tak berakibat fatal, namun jika tidak segera dinetralkan, maka seluruh saraf utamanya akan rusak. Dan akhirnya mati."
"Apa kau yakin dengan kata-katamu?" tanya Maxilian memastikan. Dia harus tahu segalanya agar semua jelas.
Jack mengangguk. Dia menunjuk wajah Julia yang terpejam. "Istrimu, dia tidak tidur. Dia tidak akan bisa tidur karena saat ini dia merasakan sakit yang hebat. Dan di bagian titik tertentu, dia merasa panas hingga ingin membuka pakainnya, dan..."
Jack terhenti saat melihat tatapan tak suka Maxilian. Dia menghela nafas sekali lagi. "Bukan aku yang mengganti pakaiannya, tapi para perawat yang kau lihat tadi. Pakaiannya penuh dengan muntahan darah. Jadi biar kulanjutkan. Rasa dingin di tubuhnya membutuhkan kehangatan. Dan itu tergantung dengan titik kepuasan pemiliknya. Kau suaminya, kau seharusnya lebih tahu titik batas kepuasan istrimu."
Maxilian tak menjawab dan hanya terbatuk ringan. Titik kepuasan? Dia ingin membenturkan kepala Jack saat ini juga. Bagaimana dia tahu letak titik kepuasan Julia? Dan sekarang Jack berkata itu adalah tugasnya. Bukankah itu gila?"
Meski begitu Maxilian bersikap sangat tenang. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Matanya menatap bibir Julia yang telah terbuka. "Apa yang akan terjadi jika ia tak segera mendapatkan kepuasan?"
"Mati!"
Maxilian menoleh saat Jack menjawab dengan lugas.
"Tak ada obat penawarnya sejauh ini. Ini adalah obat yang diramu khusus. Dan aku penasaran, siapa yang memberikannya pada istrimu. Karena apa pun alasannya, itu pasti niat buruk karena ia ingin tidur dengan istrimu."
Tangan Maxilian di dalam saku mengerat kuat. Matanya menatap lurus dan dia tahu siapa orangnya. Carlen! Sepupunyalah yang telah melakukan hal yang sangat menjijikkan. Carlen sebenarnya berniat untuk meniduri dan menikmati tubuh istrinya. Carlen, bermimpilah!
Melihat maxilian yang diam, Jack menepuk pundak Maxilian. "Kau bisa membawanya pulang sebentar lagi. Tunggu infusnya habis, dan kau bisa segera memberikan penawarnya setelah sampai di rumah. Berikan dia kepuasan, lalu kembalilah ke sini untuk melakukan perawatan selanjutnya agar aku bisa mengontrol tubuhnya."
Jack melangkah beberapa langkah, dia terhenti saat tak mendengar jawaban Maxilian. Menoleh, dia memperingatkan dengan hati-hati. "Istrimu datang dengan Carlen."
Maxilian tak menjawab, dia masih menatap lurus. Hingga suara pintu tertutup terdengar. Kemudian pandangannya turun pada wajah Julia.
"Apa yang harus kulakukan?" desisnya bingung.
Maxilian pun akhirnya memilih duduk menunggu. Dia menatap mata Julia yang terpejam. Tak berkedip dan hanya menggenggam tangan Julia pelan. Saat suara rintihan kesakitan itu terdengar, tangannya mengelus tangan Julia lembut.
__ADS_1
"Kau aman bersamaku."
Suara itu terdengar sangat akrab di telinga Julia. Dia merasa seperti menemukan mata air di tengah gurun Menurutnya ini jauh lebih aman saat Maxilian berada di dekatnya. Setidaknya Carlen tidak memperburuk keadaannya. Perlahan senyum tipis terukir.
"Li-an, sakit," panggilnya lirih. Sangat lirih dengan terbata. Dia berharap matanya terbuka karena ini sangat berat.
"Hmm," jawab Maxilian datar. Dia bangun dan mendekatkan telinganya pada bibir Julia.
"Dingin."
Maxilian mengerutkan keningnya. Dia berdehem dan sedikit menjauh. Lalu kemudian melepaskan jasnya dan menutupi tubuh Julia. "Apakah ini membantu?"
Tak ada jawaban, Julia tetap menggigil dengan hebat. Membuat Maxilian menjadi ragu. Dia ingat kata-kata peringatan Jack, bahwa racun itu secara perlahan akan membunuh saraf utama Julia. Mengingat itu, dia mendesis penuh amarah.
"Carlen, kau benar-benar bernyali besar untuk menyentuhnya!"
Selanjutnya Maxilian mengangkat tubuh Julia dalam gendongannya. Saat pintu itu terbuka, dia jelas melihat Carlen yang berdiri menunggu dan khawatir. Senyum tipis Maxilian terukir. Dia menatap Carlen lekat.
"Carlen, kau benar-benar berani menyentuhnya? Kau bahkan memberi racun padanya."
Carlen terlihat tak mempedulikan kata-kata Maxilian. Dia sangat fokus menatap Julia yang berada di gendongan Maxilian dalam keadaan lemas. "Apakah dia baik-baik saja? Bagaimana keadaannya? Biarkan aku membawanya pulang? Biar aku membawanya pada Aaron."
"Apa?" tanya Maxilian memastikan.
"Aaron?" tanya Maxilian sekali lagi dengan sedikit tertawa. "Akulah Aaron yang dia maksud." Ungkapnya bohong. Dia berjalan meninggalkan Carlen yang mematung. Namun saat langkah ke empatnya, dia berbalik sedikit. "Mulai hari ini, tidak, mulai detik ini kau akan merasakan apa yang istriku rasakan!"
**
Apartemen mewah itu menjadi saksi penyelamatan julia untuk kedua kalinya. Maxilian meletakkan tubuh Julia dengan hati-hati di atas tempat tidurnya. Dia menatap Julia yang masih nampak gelisah, Lalu pada suasana kamar yang mengingatkannya pada pertemuan mereka dulu.
Ada senyum tipis yang terukir saat dia mengingat semuanya. Gadis ini adalah gadis yang dia selamatkan dari kebakaran atomic bar. Lalu terjadi perdebatan panjang dan saling menghina antara mereka berdua. Karena hal itu juga akhirnya ia memutuskan untuk menyelidiki gadis yang sekarang telah menjadi istrinya.
Dia beranjak menuju kamar mandi, memenuhi air di bath up lalu kembali mengangkat tubuh Julia menuju kamar mandi.
"Ini adalah caraku meredakan rasa panas karena obat perangsang." ujarnya sambil meletakkan tubuh Julia ke dalam bath up.
"Ahhkk!" teriak Julia terkejut. Matanya terbuka pelan dengan rasa dingin yang kian menusuk tulang.
"Bagus, kau sudah sadar. Sekarang katakan, siapa Aaron? aku akan membawanya padamu agar dia dapat memberikan kepuasan padamu."
Julia menoleh lemah. Keningnya menaut heran. "Aaron?"
__ADS_1
Maxilian mengingat saat pertemuan pertama mereka, dulu jika tak salah, Julia juga menyebut nama Aaron. Dan hari ini Carlen memperjelas semuanya. Maka dia akan melakukan segalanya dan akan membantu gadis itu agar mendapatkan penawarnya.
"Kau hanya perlu menyebutkan nama lengkapnya. Lalu aku akan membawanya padamu. Aku akan..."
"Uhukk!"
Maxilian sontak panik saat melihat Julia terbatuk dan mengeluarkan darah segar. Dia segera mengangkat tubuh Julia ke atas tempat tidur. Entah karena dia melihat darah atau karena dia melihat Julia yang tampak sangat kesakitan. Di matanya ekspresi Julia terlihat seperti ibunya yang tengah meregang nyawa. Dan hal inilah yang membuatnya takut.
"Julia, bagaimana keadaanmu? Julia, buka matamu? Hei Julia.."
Tangannya tanpa sadar menarik baju Julia kasar dan melemparkannya ke lantai, dia berlari menuju lemari bajunya dan mengambil salah satu kemejanya. Dengan sangat cepat, dia memakaikan pada tubuh Julia. Dia terhenti saat melihat Julia masih mengenakan celana rumah sakit. Tangannya terlihat ragu, namun melihat tubuh Julia yang menggigil kedinginan, tanpa berpikir panjang, tangannya pun menarik celana Julia.
"Ahh!" erang Julia tertahan. Dia berusaha menahan erangannya agar tak terdengar jelas. Namun entah kenapa sentuhan Maxilian pada tubuhnya membuatnya lepas kendali.
Paha putih itu terlihat jelas, dan Maxilian spontan memejamkan matanya sejenak memaki dalam hati. Terlebih saat mendengar Julia mengerang pelan, entah mengapa membuat dirinya tak nyaman. Setelah lepas, dia menarik selimut dengan sangat cepat agar Julia tak kedinginan. Namun lagi-lagi tangannya menyentuh paha Julia pelan dan gadis itu kembali mengerang.
Dia berbalik dan berniat pergi. Dia merasa tak sanggup untuk berada di kamar yang sama dengan Julia. Namun tiba-tiba Julia menarik tangannya hingga tubuhnya terjatuh di atas tempat tidur.
"Apa yang kau lakuk--"
Mata Maxilian terbelalak saat tiba-tiba Julia mencium bibirnya. Dia masih terkejut karena tiba-tiba Julia terlihat sangat agresif. Meski begitu dia mencoba menyudahi ciuman itu. Dia menarik dirinya dan menahan tubuh Julia yang dingin.
"Lian... Maxilian.." panggil Julia lirih dengan tatapan sayu yang bergairah. Dia akhirnya lepas kendali. Sentuhan lembut tak sengaja pada pahanya itu benar-benar menarik seluruh kesadarannya. Dan entah mengapa rasa panas di tubuhnya meningkat bahkan dia merasa tubuhnya sangat sensitif.
Mata maxilian terbelalak, entah mengapa dia merasa ngeri saat Julia memanggilnya dengan begitu manja. "jangan menggodaku! Dengar, saat ini kau sedang dalam pengaruh obat. Julia, sadarlah!"
"Aku kedinginan, tapi juga terasa panas. Bagaimana menggambarkannya?" tanya Julia bingung. Dia menarik baju kemeja putih Maxilian yang terpasang di tubuhnya. Mencoba menarik dan melepaskannya.
"Julia hentikan!" larang Maxilian langsung. Dia menahan tangan Julia agar tak menarik bajunya. "Itu berbahaya! Kau tahu, aku ini seorang pria normal!"
"Uhhh!" maki Julia kesal saat baju di tubuhnya tak juga bisa dilepaskannya. Dia menghempaskan tangan Maxilian dan langsung menarik kasar bajunya.
Sreekkk
Dan maxilian menepuk kepalanya sambil memejamkan matanya. Kemeja yang terpasang di tubuh Julia telah robek. Butuh kesabaran dan pengendalian diri yang kuat saat dia memasangkan baju tersebut. Tak peduli seberapa khawatirnya dia, dia tetap seorang pria normal. Dia punya nafsu dan sejauh ini dia selalu menahannya. Tapi nyatanya kini, gadis di hadapannya ini seolah menggoda batas pengendalian dirinya.
Mencoba bangun, dia berusaha menyingkirkan tubuh Julia yang tak mengenakan pakaian. Dia tak menatap sama sekali, selain membuang pandangannya. "Menyingkirlah,"
Julia terhempas dan satu tangannya tanpa sadar menarik tangan Maxilian yang beranjak hingga pada akhirnya tubuh Maxilian jatuh di atas tubuhnya. Wajah Julia memerah, saat melihat wajah tampan itu begitu dekat dengan wajahnya. Lalu nafas hangat pria itu menerpa wajahnya, dia merasa seluruh darah dalam tubuhnya bergejolak.
Maxilian tertegun saat mata hitam yang biasa menatap dingin itu kini tampak sayu. Dia jelas menahan tubuhnya agar tak sepenuhnya menindih tubuh Julia. Meski begitu dia bisa merasakan lekukan tubuh Julia di bawah tubuhnya. Membuat jiwa lelakinya memberontak dan kepalanya mulai berdenyut nyeri.
__ADS_1
"Julia, kurasa kau--hmmpp-"