Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Tabir Pilu


__ADS_3

Aaron mengernyitkan keningnya dan mundur selangkah. Mencoba mengingat siapa gadis yang ada di hadapannya ini. Bagaimana mungkin gadis ini tahu siapa dia. Menatap lagi, ia mengamati gadis cantik yang terlihat lembut dengan penuh keterkejutan. Tubuh yang ramping, dengan kulit yang halus. Tanpa menyentuh kulitnya, dengan hanya melihat punggung yang terbuka itu, ia tahu dengan pasti kalau kulitnya pastilah sangat halus.


"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Aaron hati-hati.


Aaron jelas melihat bagaimana wajah cantik memucat dengan hanya menatapnya. Bahkan dapat ia lihat jelas rasa takut namun juga amarah yang terlintas di matanya. Namun detik berikutnya mata hitam kelam itu nampak dingin dan tajam menghujam.


"Tidak! Aku hanya salah orang." tukas Julia sangat tenang. Saat ini ia bisa lebih menguasai emosinya.


Julia ingin memaki, bagaimana bisa pria yang paling ia benci di dalam kehidupannya, hadir dan menyentuh tubuhnya? Bagaimana bisa pria ini muncul di Nivada dan nampak hidup baik-baik saja? Bagaimana bisa.. Bodoh kau Julia! Seharusnya kau tidak mengatakan sesuatu seolah olah kau mengenal pria ini. Dia adalah Julia, jadi mana mungkin Aaron mengenali dirinya.


Penyesalan datang mendera. Dia mundur dengan tatapan yang tak mudah diartikan. Tangannya mengelus pundaknya seakan membersihkan kotoran yang menempel di pundaknya, dan ia merasa jijik. Di kehidupan baru nya ini, ia tak akan membiarkannya tersentuh oleh tangan-tangan kotor yang sangat ia benci. Dengan menahan sesak, ia melihat ekspresi Aaron yang kebingungan karena melihatnya menepuk pundaknya seolah memberihkannya dari kotoran yang menempel.


"Tapi nona, baru saja kau menyebut namaku." ucap Aaron berusaha mengingatkan.


Melihat gadis di hadapannya yang seakan jijik dengan sentuhannya, membuat egonya tersentil. Belum pernah ia diperlakukan seperti ini. Apa yang salah? Dia hanya berusaha menolong karena kebetulan ia lewat di dekat gadis itu yang hampir terjatuh. Tapi apa tadi? Gadis itu malah menatapnya jijik dan membuat seolah olah dirinya telah bersentuhan dengan sampah.


"Sudah kukatakan. Aku salah orang." jawab Julia dingin.


Bagaimana mungkin aku salah orang? Dengan mata terpejam pun aku tahu bahwa itu adalah dirimu. Aku adalah wanita yang pernah hampir menikah denganmu. Aku adalah wanita yang kau bodohi. Kau, kau adalah orang yang telah menyebabkan kematianku dan keluargaku, dan kau hidup baik dengan penuh kenyamanan. Kau adalah pria terburuk yang pernah kutemui di sisa hidupku.


Julia membalikkan badannya pergi. Dia baru mengambil satu langkah, namun rasa nyeri di kakinya bertambah parah. Dia terhuyung kembali dan akan jatuh. Tangannya terulur ke depan seakan meminta pertolongan dan menyeimbangkan tubuhnya. Namun nyatanya rasa sakit di kakinya telah bertambah berkali kali lipat karena kakinya yang memakai sepatu hak tinggi.


"Julia."


"Nona,"


Julia menatap ke depan saat tangannya yang terulur di depan di raih oleh Maxilian, namun ia juga tak menyangka bahwa satu tangan yang lain yang ia gunakan untuk menyeimbangkan tubuh, ternyata di tangkap oleh Aaron. Ia menatap ke depan, kemudian beralih ke belakang. Dua pria di dalam dua kehidupannya saat ini bersamaan menyentuhnya. Dan seketika perasaannya makin buruh.


"Lepaskan tangannya!"


Karena emosi terselubung dalam diri Julia, ia sampai melupakan satu hal. Kemarahan maxilian. Suara maxilian seakan menyedarkan pikirannya. Ia lalu melihat tangan Maxilian yang menepis tangan Aaron yang tengah memegang tangannya.


Maxilian menatap Aaron dengan penuh kebencian. Bagaimana mungkin pria ini datang dan menyentuh tubuh istrinya. Dan hal yang membuatnya makin marah adalah, keduanya terlihat saling kenal. Dia bisa melihat ekspresi Julia saat menatap wajah Aaron. Keterkejutan yang Julia tampilkan dapat ia sadari bahwa Julia sangat mengenalnya. Tatapan emosi namun familier di dalam mata Julia, makin membuatnya bertanya. Bagaimana bisa Julia mengenal Aaron?

__ADS_1


Aaron melihat tangannya yang tertepis, lalu pada wajah tampan yang menatapnya tajam. Mata dingin yang menghujam itu berusaha memperingatkannya. Membuatnya tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke wajah cantik yang kini berada dalam pelukan pria itu.


"Oh, aku tak menyangka bisa bisa bertemu denganmu."


Mata Julia terbelalak kaget saat suara Aaron ditujukan pada Maxilian. Apakah ia mengenal Maxilian? Bagaimana bisa?


"Aku akan menggantungmu jika kau muncul di hadapanku sekali lagi!"


Belum selesai keterkejutan Julia, Maxilian memperjelas semuanya atas ancaman yang terucap dari bibir Maxilian. Benar, keduanya saling mengenal? Tapi sejak kapan? Kenapa ia bisa tidak tahu Aaron mengenal orang seperti Maxilian.


Aaron tersenyum, ia merapikan jasnya dan berlalu pergi. "Aku akan menantikan hari itu."


Genggaman tangan Maxilian pada pinggang Julia mengeras. Remasan itu kuat hingga membuat wajah Julia meringis. Pinggangnya benar-benar akan patah kalau dibiarkan terlalu lama Maxilian meremasnya.


"Li--Lian, sakit."


Tersadar, Maxilian melemahkan remasannya. Pandangan matanya jatuh pada Julia dengan gejolak amarah. "Aku tak tahu bahwa istriku juga mengenal pria lain! Aku jadi bertanya tanya, tentang nama pria yang sering disebut oleh bibir istriku, apakah itu pria yang sama?"


Suara Mery menyadarkannya. Wajah Julia memucat mendengar ucapan Maxilian di telinganya. Belum berhenti rasa takutnya, tangan Maxilian sudah menyusup di balik lututnya, dan mengangkat tubuhnya dalam satu gerakan. Dia hanya bisa mengalungkan tangannya dengan ekspresi wajah yang tak dapat dijelaskan.


Tak ada pembicaraan yang terjadi selama mereka makan. Kecanggungan amat terasa di tengah keluarga Lunox. Mereka semua menatap Maxilian yang dingin, namun tetap memakan makanannya. Selain itu, Julia juga terlihat memotong steaknya dengan tatapan kosong.


Seluruh kisah hidupnya dulu terbayang jelas. Akibat bertemu dengan Aaron, jiwanya bergejolak. Pria itu, bagaimana mungkin masih terlihat sangat tampan. Tubuh ini, tak peduli sekeras apapun ia mencoba untuk memaki, namun nyatanya pemilik hati di tubuh ini tidak bereaksi. Apakah karena ini bukan tubuhnya? Ataukah karena ia masih menyimpan cinta untuk pria itu? Ia bingung tentang apa yang seharusnya ia rasakan.


"Julia, apa kau baik-baik saja?" Mery terkejut dengan apa yang telah Julia lakukan. Julia hanya memotong motong daging steak menjadi tak beraturan. Namun tak satupun dari mereka masuk ke dalam mulut Julia.


"Kakak ipar, apakah kau kurang sehat?" tanya Hanna hati-hati.


"Kakak ipar, apakah kakimu sangat sakit hingga kau menangis?" tanya Lindsey berlagak perhatian. "Kau bisa menggunakan sepatuku karena haknya tidak begitu tinggi."


"Tak perlu, aku baik-baik saja." jawab Julia dingin.


Maxilian menoleh, melihat wajah cantik dengan bulu mata lentik itu basah oleh tetesan air mata. Membuat perasaannya makin buruk. Istrinya itu, seorang wanita yang dikenal kejam, entah mengapa ia bisa menangis. Rasa curiga mulai merayap di hatinya. Tatapannya yang jatuh di daging yang tercabik-cabik oleh pisau Julia, membuatnya berpikir untuk segera mengambil langkah. Ia amati sejak, tangan Julia bergerak untuk mengambil galas wine dan meneguknya sampai habis.

__ADS_1


"Julia." larangnya tanpa sadar.


Julia menoleh dan menatap Maxilian datar. "Hem?"


Maxilian langsung berdiri dan menarik tangan Julia. "Dia kurang sehat. Nenek, aku undur diri."


Belum sempat bereaksi, Julia terkejut saat tangan Maxilian sudah mengangkat tubuhnya kasar. Mereka berdua pergi tanpa mendengar jawaban Mery dan yang lainnya. Tak sempat bicara atau karena ia tak ingin tinggal lebih lama, ia hanya diam saat mobil melaju dan akhirnya mereka sampai di hotel.


Maxilian menghempaskan tubuh Julia di atas tempat tidur dengan kasar. Matanya menatap wajah Julia yang sembab. "Mengapa kau menangis?"


Julia menggeleng cepat dan merasakan sakit saat Maxilian menghempas tubuhnya kasar. Pria itu berdiri di sisi tempat tidur dan menatapnya nyalang. Bangun, lalu duduk menatap Maxilian seksama. " Aku tidak apa-apa."


Tangan Maxilian langsung terulur ke leher Julia. Menekannya cukup kuat hingga gadis itu kesulitan bernafas. "Kau bahkan berani membohongiku! Apa aku buta? Aku jelas melihatmu menangis!"


Julia hanya menatap tenang mata Maxilian. Dia bisa melihat kilatan amarah di mata dingin itu. Tak berusaha memberontak, ia hanya mengatur nafasnya saat tangan Maxilian mencekiknya.


"Kau mengenalnya?" tanya Maxilian dingin. Dia tak terima! Tak terima jika ia mengenal Aaron.


Julia menyipitkan matanya, ia merasakan cengkeraman tangan Maxilian makin mengerat. "Sakit." ungkapnya lirih.


"Apakah itu dia? Apakah dia yang sering kau sebut? Apakah itu benar?" tanya Maxilian menggebu gebu. Entah kenapa amarahnya memuncak sampai seperti ini.


Julia tersenyum meski sangat kesulitan. Dia tak takut pada ancaman Maxilian. Namun ia masih tak mengerti kenapa Maxilian begitu emosi tentang Aaron. "Apa pedulimu?"


Dan jawaban Julia membuat cengkeraman tangannya melemah. Dia melihat Julia yang terbatuk ke samping dengan memegangi lehernya. "Apa kau lupa bahwa kau istriku? Lupakan dia!"


Julia tertawa kecil. "Maxilian, apa kau sadar dengan apa yang telah kau ucapkan? Aku istrimu, ya..aku adalah istrimu. Istri kontrakmu. Seharusnya kau tidak perlu mencampuri urusanku."


Dan tanpa aba-aba tangan kekar Maxilian kembali mencekik leher Julia. Dia tak mengerti mengapa ada gadis pemberontak seperti Julia. Atau ia benar-benar tak mengerti bahwa pria yang ia sebut itu, adalah pria yang paling ia benci dalam hidupnya. Bagaimana? Bagaimana bisa gadis ini mencintai Aaron dengan sedemikian rupa? Hingga menjelang kematiannya pun, nama Aaron yang keluar dari bibirnya. Kenapa? Kenapa harus Aaron?


Julia, tak peduli apapun, gadis ini adalah miliknya. Sejak malam panjang mereka, tak boleh ada seorang pun yang bisa merebutnya. Terlebih Aaron! Dia tak akan membiarkan Julia dan Aaron bersama. Tak peduli bagaimana usahanya, Ia akan menghalangi Julia hidup bahagia bersama Aaron. Memasung Julia, mengurung, bahkan mematahkan kakinya, dia akan melakukan apapun agar gadisnya ini tetap tinggal bersamanya.


Aaron, haruskah ia membunuhnya? Kenangan lama itu menghantam dirinya. Ingatannya tentang penderitaan ibunya sampai tiada. Lalu luka pukul yang ia terima. Itu karena ayahnya! Ayahnya yang pergi meninggalkannya demi wanita lain. Dan ia makin tak terima saat mengetahui ayahnya telah memiliki seorang putra yang hampir seumuran dengannya. Aaron, tak peduli meski mereka berbagi darah yang sama,dia tak akan pernah menganggapnya. Tidak akan! Dia adalah Lunox. Dia adalah pemilik keluarga Lunox. Dia tak akan pernah menggunakan nama keluarga ayahnya untuk memperjelas hubungan darah mereka. Aaron! Dia sangat membencinya!

__ADS_1


__ADS_2