
Julia menahan rasa kesalnya. Dia menjauhkan sedikit tubuhnya dan berkata, " Pergilah, kau akan terlambat jika tak segera pergi."
Pergilah sekarang karena kau membuatku muak, pinta Julia dalam hati.
Maxilian tak menjawab. Saat ini, melihat Julia melepaskan tangannya pelan, membuat perasaannya menghangat. Tanpa malu-malu ia menunduk, menarik dagu Julia sedikit dan meletakkan bibirnya di atas bibir Julia. Menempel beberapa detik. Dia hanya merasakan bibirnya saat berada di atas bibir Julia. Setelah itu, ia menarik diri dan pergi begitu saja. Tanpa melihat kembali kebelakang untuk memastikan reaksi Julia.
Tatapan matanya lurus, dengan wajah yang sedikit merah. Entah sejak kapan bibir Julia menjadi candu untuknya. Dia selalu ingin mencium hingga membuat gadis itu kesal. Namun ia sadar, tak dapat melakukan itu semua dengan terburu-buru, ia harus memastikan kenyamanan Julia terlebih dahulu.
Sementara itu, setelah kepergian Maxilian, Julia menyentuh bibirnya. Rutukan kekesalan terucap dari dalam hatinya. Sejak malam itu, sikap Maxilian terlihat aneh di matanya. Membuatnya sering salah tingkah karena tak terbiasa. Bahkan kadang ia dapat melihat bibir Maxilian tertarik ke atas walau hanya sangat tipis. Demi apa, dia tak terbiasa melihat perlakuan baik Maxilian. Setiap kali pria itu mendekat, maka ia akan menjauh. Rasa malunya yang besar atas terjadinya malam panas mereka, tidak mudah ia lupakan. Saat Maxilian mendekatinya, ingatan tubuh telanjang Maxilian terasa sangat jelas di pelupuk mata. Dan ciuman hangat tadi, benar-benar membekas di hatinya.
"Nyonya, nona Janet meminta untuk bertemu."
Julia menoleh setelah kelinglungan yang terjadi padanya. Hingga suara Jeni menyadarkannya. Ia menatap Jeni yang mengenakan setelan jas warna hitam khas seorang bodyguard.
"Sejak kapan kau berdiri di sini?"
Jeni menundukkan kepalanya sesaat. "Tuan muda menyuruh saya masuk sejak tuan meninggalkan apartemen. Dan tuan juga telah menyusun jadwal untuk nyonya."
"Tunggu," tahan Julia dengan mengacungkan telunjuknya. "Siapa yang menyuruhmu memanggilku nyonya?"
Jeni menunduk lagi. "Itu, tuan muda yang memberikan perintahnya kepada seluruh bawahannya bahwa nona adalah nyonya muda keluarga Lunox. Tuan muda juga mengatakan keselamatan Nyonya sama pentingnya dengan keselamatan tuan dan nyonya besar."
"Panggil aku nona." desak Julia.
"Baik nona." Jeni mengangguk.
"Tunggu. Jeni, bukankah aku pernah mengatakan kau harus memanggil namaku saat kita sedang berdua?"
"Tapi nona,"
"Itu perintah. Sekarang berikan jadwal yang telah suamiku atur."
Jeni menyerahkan sebuah dokumen dan Julia mencermatinya.
"Semua saham di perusahaan Brasco, dialihkan sebagai tanggung jawabku?"
__ADS_1
Jeni mengangguk. "Tuan muda bilang bahwa nona lebih tahu apa yang harus nona lakukan."
"Di mana Tomas?"
"Dia pergi atas perintah tuan muda untuk beberapa masalah."
Julia berpikir sejenak lalu tersenyum tipis. "Apa itu Carlen?"
Jeni tak menjawab dan itu memberi kepastian atas pertanyaannya.
"Tunda dulu kepergianku ke rapat perusahaan Brasco. Aku akan pergi ke beberapa tempat."
**
Dari pada menemui Janet, Julia lebih memilih mengunjungi Sely. Sudah lama sejak ia sibuk hingga tak mengunjungi temannya. Jadi sekarang ia berdiri di sini. Di balik kaca sambil menatap Sely yang di dalam sana.
"Nona, kenapa nona datang ke tempat seperti ini?" tanya Jeni hati-hati.
Tapi Julia tak menjawab. Hanya berdiri sambil terus mengamati Sely. Senyumnya terbentuk tipis. Ia melihat sosok cantik di sana sedang menyisir rambutnya dengan tatapan kosong. Gadis itu tak lagi di rantai, luka-luka di tubuhnya pun mulai mengering. Julia makin tersenyum lebar.
Memukul mukul kaca dengan tangannya. Bibirnya berteriak namun tak satupun kata yang dapat Julia dengar karena ruangan itu kedap suara. Julia tersenyum tipis, mata hitamnya berkilauan. Dia melihat bagaimana wajah cantik Sely berubah mengerut dengan kantong mata yang menghitam. Bekas luka tusukan di kulit putih Sely sangat terlihat jelas. Membuat wajahnya tampak sangat mengerikan.
Julia menggerakkan tangannya di atas kaca. Menulis nama Ben hingga detik berikutnya Sely berteriak ketakutan. Menangis histeris dengan menjambak rambutnya. Memeluk tubuhnya bahkan menjauhi Julia.
Hal itu dilihat jelas oleh Jeni. Dan Jeni menyadari bahwa nona mudanya saat ini sedang meneror mental gadis yang berada di dalam sana. Nona mudanya telah membuat gadis di dalam sana makin menggila. Perasaannya dingin, meski begitu ia tak berani berspekulasi apapun tentang nona mudanya.
"Jeni, antar aku menemui Carlen sekarang." perintahnya sambil berlalu.
Jeni mengangguk dan mengikuti langkah Julia tanpa banyak bertanya.
**
Bangunan tua dengan bau debu yang menyengat menyambut indra penciuman bagi Julia yang baru datang bersama Jeni. Jeni memimpin jalan hingga Tomas yang berjaga terkejut melihat kedatangan Julia.
"Nyonya muda." Tomas menunduk.
__ADS_1
Julia mengangguk, "Aku mau bertemu dengan Carlen. Dan satu lagi. Tomas, kau harus memanggilku nona. Ini perintah."
"Ini," ucap Tomas ragu. "Aku tak menyarankan nona untuk menemuinya.
Julia menatap Tomas sesaat. "Kenapa? Apa Maxilian melarang kunjungan?"
Tomas menggeleng. "Tidak. Saya takut nona ketakutan melihat keadaannya."
"Tunjukkan jalannya."
Tomas mengangguk. Dia mulai membimbing jalan, berjalan di depan Julia dan Jeni mengikuti di belakang Julia. Tomas dan Jeni tak mengerti kenapa Julia repot-repot menemui Carlen yang jelas-jelas hampir membuatnya mati. Namun semua pemikiran itu hanya terlintas di benak mereka tanpa bisa mereka ungkapkan.
Udara pengap menyambut indra penciuman hingga membuat sesak. Debu tebal di beberapa perabotan hingga sarang laba-laba tampak di setiap sudut ruangan. Cahaya yang temaram membuat rumah itu tampak menyeramkan. Tapi yang sebenarnya rumah itu sangat kokoh dan megah. Langkah kaki Julia yang memasuki ruangan itu nampak jelas dengan alunan ketukan hak sepatunya pada lantai marmer kusam itu.
Julia mengibaskan tangannya di depan wajahnya beberapa kali saat bau tak sedap menusuk hidungnya. Tomas yang berada di depannya berhenti sesaat dan menoleh kebelakang.
"Nona, aku masih menyarankan anda untuk mengurungkan niat bertemu dengan tuan Carlen."
"Buka pintunya." pinta Julia tak menggubris ucapan Tomas.
Tomas menatap Jeni yang berada di belakang Julia. Seakan meminta pendapatnya. Namun sepertinya perintah nonanya mutlak tak terbantah. Dia membuka pintu secara pelan hingga bau tak sedap itu kian menusuk dalam.
"Kalian bisa menungguku di luar." perintah Julia memasuki ruangan. Namun pada akhirnya, Tomas dan Jeni tetap ikut masuk menjaga Julia.
Semakin masuk ke dalam, semakin kuat bau busuk menguar. Julia melangkah dengan anggun di antara bau busuk di sana seakan bau itu tak menjadi masalah untuknya. Di ujung ruangan, dia bisa melihat tubuh yang meringkuk mendesis kesakitan. Senyum Julia terkembang. Dia duduk di atas kursi saat Tomas dengan siaga menyeret kursi untuknya.
"Hidupkan lampunya."
Tomas terlihat keberata. "Nona, itu sepertinya.."
Tatapan Julia mendingin. Membuat Tomas tak melanjutkan kata-katanya
"Baiklah." jawab Tomas. Ia berjalan ke sisi pintu dan menghidupkan saklar lampu.
Seketika ruangan itu terang. Jeni terfokus pada tubuh yang tertelungkup di ujung ruangan itu. Ia terbelalak lebar dengan penuh keterkejutan. Tangannya menutup mulutnya saat sebuah teriakan hampir saja keluar. Membuat tatapan Tomas menghujam hingga pada akhirnya Jeni mundur selangkah lalu berlari keluar untuk memuntahkan isi perutnya karena tak tahan.
__ADS_1