
"Hentikan!"
Tiba-tiba pintu ruangan rapat terbuka dan suara teriakan seorang gadis terdengar. Hal itu membuat semua mata menoleh dan berdiri tanpa sadar. Janet ikut menoleh dan mulai membelalakkan matanya lebar saat mengetahui bahwa suara tersebut adalah milik Julia. Tubuhnya bergetar pelan penuh dendam saat menyadari Julia menatapnya sekilas dengan senyum licik di wajahnya.Yang membuatnya merasakan perasaan buruk yang akan terjadi di depan. Keriuhan sontak terjadi saat lampu ruangan kembali dihidupkan. Memperjelas wajah-wajah asing muda yang tampak serasi saat berdiri bersama. Langkah wajah-wajah baru itu semakin mantap saat memasuki ruangan dengan sangat tenang.
Mereka semua jelas melihat sosok wanita mungil yang segar. Berbalut pakaian formal yang sangat rapi dan terlihat elegan. Wajah itu tampak sangat cantik dengan rambut di ikat tinggi. Dengan kulit sehalus mutiara dan seputih salju. Di bingkai bibir merah alami dengan mata tajam yang tampak sangat tenang. Tak memperlihatkan emosi apa pun selain ketenangan. Membuat semua mata yang menatap merasakan sangat kedinginan tapi juga memiliki kesan yang dalam.
Di belakang wanita cantik itu, seorang pria dengan setelan balutan jas rapi berwarna hitam juga sangat tampan. Mata birunya tampak menatap tajam setiap wajah dalam ruangan dengan sangat teliti. Bibir tipis sensual itu tampak tak memiliki senyum sama sekali dan seakan akan sangat serasi dengan kedinginan sikap yang ditunjuk. Membuat semua mata mengerti, bahwa pria muda tampan ini bukanlah seseorang yang bisa mereka sentuh dengan mudah.
"Hentikan semuanya!," ulang Julia sekali lagi membuat suara-suara kian tercetus di udara. Dia tersenyum tipis pada Janet dan Hendri bergantian. Kalian berdua, berusaha menyingkirkanku bukan? Bermimpilah! Batin Julia sinis.
Melihat senyum dingin itu tubuh Janet bergetar takut tanpa sadar. "Apa yang kau lakukan!" teriaknya kemudian. Dia menatap nanar Julia dan kembali berteriak. "Seseorang, tolong seret dia keluar!"
Hendri pun ikut menatap Julia kesal. "Apa yang kau lakukan di sini? Kau mengganggu rapat penting ini." ujar Hendri dingin.
"Benar, siapa mereka sebenarnya?"
"Apa yang di lakukan nona asing ini di sini? Cepat telepon keamanan! Bagaimana bisa mereka membiarkan orang asing masuk dan mengacaukan rapat penting!"
"Aku seperti mengenal pemuda yang datang bersamanya. Itu terlihat sangat familier."
Suara-suara lain terdengar, seseorang berusaha menelepon keamanan untuk menyeret Julia keluar. Dan yang lain mulai penasaran dengan wajah-wajah baru yang baru mereka lihat. Namun saat melihat wajah Julia sekali lagi, mereka merasakan bahwa pasti ada kesalahan. Suasana rapat yang tenang itu menjadi tak terkendali. Dan itu membuat Tomas tertegun dalam diam.
Bukankah ini adalah orang yang baru saja dia dapatkan fotonya satu hari yang lalu? Ya, Tomas pasti tidak akan salah. Dia memperhatikan Julia lekat sekali lagi dan duduk dengan tenang. Dia meneliti Julia dengan sangat jeli tak menemukan kekurangan apapun dalam diri Julia. Dia merasa bahwa nona muda ini memiliki sejuta rahasia yang disimpan di balik mata hitamnya. Bagaimana pun ketenangan yang Julia tunjukkan, itu benar-benar membuatnya terkesan. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa dia melihat ketenangan yang sama identiiknya dengan tuan mudanya? Benar-benar mendominasi dan menekan semua benda yang ada di sekitarnya, seolah olah hanya dengan gerakan mata ringan, semua orang yang dia tatap akan menunduk ketakutan. Oh, apakah ini benar-benar calon nona mudanya?
Memikirkan hal itu, entah kenapa kini Tomas menjadi sangat berminat. Dia menjadi berpikir, seperti apa tanggapan para tetua keluarga Lunox saat melihat foto Julia yang dia kirimkan hari ini? Lalu dia juga menyadari kesalahannya. bagaimana bisa dia mempertanyakan pilihan tuan mudanya? Saat dia tahu, mata tuan mudanya itu sangat tajam, dan saat melihat istri pilihan tuan mudanya ini, dia tak bisa tidak tersenyum.
"Ah, itu benar-benar di luar dugaan." batin Tomas
__ADS_1
Saat ini kehebohan itu melanda satu ruangan rapat, saat Julia melangkah dengan anggun. Janet sudah kehilangan kesabarannya hingga berjalan cepat dan menarik tangan Julia kasar.
"Keluar dari sini!" teriak Janet saat itu juga. Semua orang di dalam rapat itu mengerutkan keningnya saat melihat amarah Janet. Mereka baru menyadari hal ini, karena Janet yang mereka kenal adalah orang yang lemah lembut dan anggun.
Tubuh Janet tersentak sesaat dan hampir mengikuti Janet, namun tiba-tiba tangan Jason menahan tangan Janet cepat. Dia bahkan tak tahu, kapan pria itu bergerak hingga saat ini telah berada di sampingnya.
"Jason," panggil Julia lirih.
"Tolong singkirkan tanganmu." tegur jason sopan tanpa mengindahkan panggilan Julia. Namun matanya jelas menatap Janet kesal. Dia ingat, wanita ini adalah Janet, wanita yang dia temui di atomic bar. Dan Jordan membela wanita ini mati-matian.
Jante yang telah melangkah dan berharap Julia mengikutinya kini tertahan dan membalikkan tubuhnya. Dia menatap Jason sinis lalu pada tangannya yang digenggam Jason cukup erat. Itu cukup membuatnya sadar bahwa rasa sakit pada tangannya akan terus bertambah jika dia tak menurut. Melihat lagi, kini dia tertegun saat menyadari wajah Jason tampan familier. Wajah tampan itu, bagaimnana dia bisa lupa dengan mudah saat menyadari bahwa pria ini yang bertengkar dengan Jordan demi seorang Julia. Oh dunia benar-benar sempit.
Bagaimana dia bisa bertemu dengan pria ini lagi? Lalu kenapa pria ini kembali bersama Julia dan mencoba melindungi Julia? Semakin dia pikirkan, semakin dia kesal. Julia, sepupunya ini sejak kapan memiliki selera yang lebih baik darinya? Pria ini dilihat dari segi manapun terlihat jauh lebih baik dari pada Jordan. lalu bagaimana caranya pria ini bisa mengikut Julia sampai di sini? Terlebih mengancamnya dengan tatapan dingin dan menusuk.
"Singkirkan tanganmu!" peringat Janet tak suka. Dia mencoba menarik tangannya tanpa melepaskan tangan Julia dalam genggaman namun Jason kian mengeratkan tangannya.
Dan itu membuat amarah Janet kian memuncak. Dia melirik Julia benci. Kenapa pria ini melindungi Julia sampai seperti ini? Semua benar-benar aneh.
"Maaf, tapi aku harus menyeretmu dan dirinya keluar!" jawah Janet sinis.
"Kau yakin bisa menyeretku keluar?" tanya Julia dengan nada mengejek. Bibirnya tersenyum tipis, membuat ketenangannya menjadi sedikit menakutkan. "Janet, apakah kau tak tahu malu? Kau mengusirku dari perusahaan ayahku sendri? Apakah kau lupa siapa aku? Ataukah kau terlalu nyaman untuk menjadi diriku?"
"Kau!! Apa yang kau katakan? Diam! Diam dan keluarlah dari sini sebelum ayahku menghukummu!"
"Nona, kau baru saja mengancam klienku." tegur Jason dingin dan hal itu kian membuat Janet murka.
Mendengar itu Julia kian tersenyum. Sepertinya pria yang datang bersamanya ini tidaklah buruk. Dia baru saja akan berujar namun tertahan saat suara Hendri memecahkan keramaian.
__ADS_1
"Tarik dia keluar!" teriak Hendri tanpa melihat perseteruan antara Janet dan Julia. Dia hanya berteriak cepat saat anggota keamanan datang dengan membawa beberapa orang lainnya.
Anggota keamanan yang baru saja masuk bergegas cepat memasuki ruangan. Namun langkah mereka tertahan saat melihat jason menatap tajam mereka semua. Kini semua anggota rapat pemegang saham menyingkir dari tempat mereka dan membentuk kerumunan. Hanya Tomas yang tetap duduk tenang dengan mata terus mengawasi Julia.
Melihat tak ada yang bergerak untuk menarik Julia dan pria asing yang dia lihat, Hendri mulai kembali berteriak. "Apa yang kalian tunggu? Seret mereka sekarang!"
"Benar bawa mereka keluar."
"Kenapa mereka tak bergerak? Apakah nona muda ini orang penting?"
"Apa yang mereka kerjakan hingga membiarkan orang asing masuk dan membuat kekacauan?"
Janet kini tersenyum melihat beberapa orang tampak mendukung rencananya. Benar, ini adalah areanya. Semua orang tentu saja mengenal dirinya tapi tidak dengan Julia. Dia telah melakukan ini selama dua tahun. Dia membangun citra dan berbaur dengan sangat baik Semua orang mengenalinya sebagai pewaris keluarga Brasco. Tidak, orang-orang tidak boleh tahu bahwa dia bukan pewaris sah yang sebenarnya. Rencananya tidak boleh gagal.
Melirik Julia yang tetap tenang, Janet tersenyum tipis. Dia melepaskan tangannya dan melirik Jason yang berdiri berjaga untuk menghadapi para anggota keamanan. "Keluarlah, atau kami akan menyeretmu. Bawa selingkuhanmu ini bersamamu, dan aku akan memberitahu Jordan semuanya."
Julia tetap tidak bergerak tapi memilih membalikkan badannya. Karena Janet telah melangkah, itu membuat kursi yang Janet duduki sebelumnya kosong. Dia menatap kursi itu lalu pada orang sekitar. Dengan langkah anggun dan senyum yang terlihat dingin, dia duduk di kursi tersebut. Kursi yang seharusnya hanya dia yang berhak untuk menempatinya.
Semua orang terkejut saat melihat Julia duduk di kursi janet yang tampak santai dengan memutar kursi beberapa kali. Mereka semua tertawa pada awalnya karena mulai mengerti semuanya. Gadis muda ini pastilah bermimpi untuk menjadi nona muda Brasco. Semua orang di sana ingin sekali mengusirnya. Namun entah mengapa tak ada satu orang pun yang bergerak. Semua hanya diam dan tersenyum mengejek. Melihat tak ada yang bergegas untuknya, ekspresi Janet menjadi gelap. Janet kembali berteriak kencang.
"Julia, apa yang kau lakukan!"
Julia memutar kursinya dan menghadap Janet dengan menyeringai. Kau melakukan kesalahan, Janet. batinnya senang. Lalu dia berdiri sesaat dan menatap Janet penuh kelicikan. "Ya, kau benar Janet, aku adalah Julia!"
Mendengar kata-kata Julia yang cukup keras, Jason tersenyum penuh arti. Gadis ini selalu memiliki cara membuat suasana berputar di bawah kakinya. Dia awalnya yang bingung dengan sikap diam Julia, kini mengerti. Julia yang dia pikir bodoh, ternyata dia memiliki cara tersendiri untuk membuat orang-orang di sekitarnya mengungkapkan sebuah kenyataan. Yah, itu tak buruk baginya, tapi cukup memberi kesan yang bagus di mata Jason.
Janet menutup mulutnya dengan kedua tangannya tanpa sadar. Tubuhnya mematung dan matanya bergerak jatuh pada wajah ayahnya yang mulai menggelap. Lalu kerumunan para anggota rapat juga terkejut mendengar perkataan itu. Tidak, apa yang telah terjadi? Apa yang sudah dia katakan? Kenapa dia mengungkapkan semua hal yang sudah dia jaga.
__ADS_1
"Seperti katamu, Janet. Aku adalah Julia! Julia Brasco, sang pewaris sah dari perusahaan ayahku, pewaris keluarga Brasco!" ulang Julia tegas dan jelas. Membuat keributan kian terdengar keras.