Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Tak Akan Menyerah


__ADS_3

Maxilian melangkah pergi dari kamar, dan Julia mengikuti sambil menenteng tas pemberian dari suaminya. Julia sedikit berlari di belakang suaminya.


"Lian... tunggu."


Sedangkan di lantai bawah, Lusi tengah tersenyum dan menunggu tepat di ruang utama. Rambutnya di kuncir kuda hingga memamerkan leher jenjangnya yang halus. Kulit putihnya nampak makin hidup dengan balutan dres berwarna merah yang memperlihatkan dadanya yang berisi. Dia tidak sabar untuk bertemu dengan Maxilian dan melihat bagaimana reaksinya saat melihatnya pagi ini untuk menyiapkan semua keperluannya.


Ketukan sepatu yang bertemu dengan lantai menimbulkan suara nyaring yang membuat wajah Lusi berbinar. Ia berdiri, merapikan pakaiannya yang sudah rapi, dan menyibakkan sedikit rambutnya yang terlepas dari ikatannya. Dia melangkah mendekati tangga dengan senyum manis menanti kedatangan Maxilian. Benar saja, dia bisa melihat ujung sepatu Maxilian hingga sosok itu muncul menuruni tangga.


"Lian..."


"Lian, Lian.."


Baik Julia maupun Lusi memanggil bersamaan. Mata Lusi terbuka lebar saat telinganya mendengar suara seorang wanita. Dia terdiam dengan pandangan dingin saat melihat seorang wanita cantik menuruni tangga mengejar Maxilian. Sedangkan Maxilian tertegun saat mendapati Lusi masih ada di dalam rumahnya. Pelan, ketiganya mendekat dan berkumpul dengan saling memandang.


"Lian." panggil Lusi gugup. Pandangan matanya jatuh pada wanita yang kini berdiri di anak tangga terakhir dengan memegang tas branded limited edition.


Maxilian terdiam dan melihat Lusi dengan dingin. "Apa yang kau lakukan di sini?"


"Di-dia siapa?" tanya Lusi dengan menunjuk wanita yang ada di depannya.


"Lian, apa kita memiliki tamu?" potong Julia tenang. Matanya menatap Lusi dari atas hingga bawah dengan gelombang emosi yang membuncah.


Mantan sepupunya ini, bagaimana bisa ada di sini? Dan bagaimana dia mengenal suaminya? Tadinya Aaron yang memiliki hubungan darah dengan Maxilian, sekarang ja*ang ini pun mengenal suaminya. Bukankah takdir bermain di dalamnya? Dua orang yang paling ia benci di seluruh hidupnya, kini tengah berada di sekitarnya.


"Kita?" ulang Lusi memperjelas kata-kata Julia. Tatapannya menyala seakan menuntut penjelasan dari pria di hadapannya. "Lian, siapa dia?"


Mata Julia menelisik sosok Lusi yang nampak cantik saat ini. Dia terhenyak. Wanita ini, wanita ini kenapa postur tubuhnya seperti wanita yang ia lihat semalam bersama Maxilian? Tertawa dalam hati, ingin rasanya ia melempar seluruh barang di sekitarnya ke arah ja*ang ini.


Jadi gadis itu adalah Lusi? Batin Julia miris. Tatapannya jatuh pada Maxilian yang diam mematung. Maxilian, apa gadis ini pilihanmu? kupikir kau pria yang cerdas, rupanya kau telah hilang kewarasan. Apa kau tahu siapa dia? Biar kutunjukkan siapa dia.


Julia turun satu langkah dari tangga dan langsung mendekati maxilian. Dia menyibakkan rambutnya, menampilkan jejak merah kepemilikan maxilian yang sangat jelas. Berdiri dengan anggun, dan tersenyum dingin.


"Oh, aku tahu. Aku akan memberikan kalian sedikit waktu berdua."


"Julia."

__ADS_1


"Lian!"


Maxilian menahan tangan yang akan pergi namun Lusi bergerak sangat cepat untuk menarik maxilian. Julia terhenti dan tertawa miris melihat adegan yang sangat menjijikkan. Matanya jatuh pada Lusi dingin. Dia akan membuat Lusi sadar di mana tempat dia yang sebenarnya.


"Dia Lusi." lanjut Maxilian dengan tangan tetap menggenggam tangan Julia.


Julia memicingkan matanya. "Oh, apakah dia tamu? atau.."


"Dia teman masa kecilku." jelas Maxilian datar. "Dia hanya berkunjung sesaat di sini karena sebuah pekerjaan."


Tubuh Julia bergetar. Dia tertegun saat tahu bahwa Lusi adalah teman masa kecil Maxilian. Apa ini! Takdir macam apa ini? Dia sudah sangat sulit menerima Aaron sebagai saudara tiri Maxilian, dan kali ini Lusi sebagai teman masa kecilnya? Wah, Julia.. hidupmu makin rumit.


"Lian, siapa wanita ini?" tanya Lusi linglung. Hatinya panas saat melihat wanita cantik ini terlihat intim dengan Maxilian.


Maxilian mendekat pada Julia. Menarik pinggang Julia lembut ke dalam pelukannya. "Lusi, dia Julia. Istriku."


"A-apa? Is-istri?" Lusi terkejut dan bergetar. Tubuhnya mundur tanpa terasa. Kepalanya menggeleng pelan dengan tatapan ta percaya.


Julia tak menyangka kalau Maxilian akan memperkenalkannya dengan status yang sebenarnya. Ia pikir pria ini akan menyebutnya sebagai teman biasa dihadapan kekasih masa kecilnya. Namun saat tahu Maxilian melakukan hal yang benar, senyum licik Julia pun terkembang.


"Aku Julia, istri Maxilian. Lusi, senang bertemu denganmu." dengan tatapan lembut tapi dingin, dia sangat girang melihat ekspresi Lusi saat ini. Wajah itu memucat.


Namun tangan Julia dengan sigap menepis tangan Lusi dari tangan Maxilian. "Nona, tolong jangan seperti ini pada suamiku. Orang-orang akan salah paham melihatmu seperti ini."


Wajah Lusi memanas saat tangannya terhempas dan Maxilian hanya diam. Jadi ini yang membuat Maxilian menolaknya semalam. "Lian, bagaimana bisa?"


"Maxilian mendengus. "Lusi perbaiki bicaramu! Dia adalah istriku, dan aku tak memiliki urusan denganmu. Kau bisa pergi dari sini sekarang."


Mendengar itu Julia tersenyum penuh kemenangan tapi ia terus mencoba bersikap tenang. Dia meraih jemari Maxilian lembut. "Lian, dia adalah tamu. Dan kita harus menjamunya. Sangat tidak sopan kalau kau langsung mengusirnya."


Lusi tertegun dengan waktu yang lama.Tatapan matanya jatuh pada Julia dengan penuh permusuhan. Maxilian menikah tanpa memberitahunya. Dan ia telah melupakan janji mereka di masa kecil. Tidak! Dia tak akan membiarkan Maxilian meninggalkannya. Maxilian harus menjadi miliknya. Gadis ini, dia akan segera menyingkirkannya.


"Lian, kau mengusirku?" ungkap Lusi lembut. Dia akan menunjukkan caranya yang halus namun mematikan. "Apa ini? Apakah aku mengganggu acara kalian?"


"Jika kau sudah tahu, maka pergilah! Tunanganmu pasti menunggumu!" potog Maxilian dingin.

__ADS_1


Julia terbelalak mendengar ucapan ketus suaminya. Ia amati wajah Lusi yang memucat tak berdaya. Dia akan membuat gadis ini menyesal karena telah berani muncul di hadapannya.


"Lian, apa yang kau katakan?" tegur Julia lembut. Dia sengaja memeluk tubuh Maxilian lembut. "Orang akan menganggap kita tidak punya kesopanan. Nona Lusi maafkan atas ucapan suamiku. Mari duduk dulu dan minum teh bersama."


"Nona Julia terlalu sopan." balas Lusi dengan senyum lembut. Tatapan matanya berubah menjadi sendu. "Tapi sepertinya aku benar-benar mengganggu. Aku akan datang lain kali jadi.."


"Tidak. Kami sama sekali tidak terganggu. Mari, sebelah sini.." potong Julia ke arah dapur.


Mereka bertiga berjalan menuju dapur bersama. Mata Julia terbelalak saat melihat meja makan yang penuh dengan sajian makanan.


"Lian, aku telah memasak makanan yang kau sukai."


"Lian, apa kau mengganti pembantu kita?"


Ucapan Lusi dan Julia berjalan bersamaan. Keduanya saling menatap dengan tak suka. Julia berusaha untuk menahan tawanya.


"Maaf, aku pikir pelayan kami yang membuat semua ini. Aku tak tahu kalau nona Lusi yang menyiapkannya."


Lusi mengepalkan tangannya. Kata-kata Julia yang halus namun mempunyai makna menghina begitu ketara. Sepertinya Julia berusaha untuk memojokkan posisinya ke arah yang salah. Apakah dia bermaksud menunjukkan statusnya dengan status pelayan adalah sama?


"Aku sudah terlambat. AKu akan pergi sekarang." Maxilian mengelus puncak kepala Julia dan mengecup kening Julia lembut. Dia berjalan pergi tanpa meninggalkan sepatah kata pun pada Lusi.


Melihat Lusi melangkah mengejar Maxilian, terhenti sejenak saat suara Julia terdengar.


"Nona, sadari siapa dirimu! Bersikaplah selayaknya wanita terhormat! Aku tak akan diam saja kalau kau mengusik rumah tanggaku!"


"Jangan terlalu puas! Aku selalu memiliki segala hal yang aku inginkan!" balas Lusi tak kalah dingin.


**


Satu minggu kemudian, majalah keluaran dari SM agency meledak di pasaran industri fashion. Terjual habis hampir tiga ratus ribu perhari. Ini membuat majalah itu kewalahan dalam memenuhi permintaan pasar. Majalah ini bahkan mampu mengalahkan majalah fashion kompetitor lainnya. Hingga membuat heboh karena datangnya wajah baru yang tak dikenal menjadi cover sampul utama majalah itu.


Selanjutnya nama Julia Brasco bocor dan menjadi topik pencarian terpanas nomer satu di internet. Sosoknya yang cantik dan misterius telah menyihir banyak mata di belahan dunia manapun. Dengan tatapan mata yang tenang namun dengan ekspresi yang menggoda tercetak bersamaan, membuatnya dijuluki sebagai manekin cantik yang hidup. Disusul oleh Hanna di urutan nomer dua di jejaring internet. Hingga banyak tawaran iklan dan tawaran untuk menjadikannya brand ambassador melonjak tinggi.


Naiknya nama Julia dan minimnya informasi tentang jati dirinya membuat beberapa perusahaan hiburan mengerahkan segala sumber dayanya untuk membawa Julia masuk ke dalam agency nya. Itu terjadi karena nama Julia belum terdaftar di agency manapun di belahan dunia manapun. hal ini juga yang membuat Vivian panik hingga menghubungi Julia berkali kali meski Julia tak pernah menanggapi.

__ADS_1


Orang yang paling dirugikan adalah Lusi. Dia berteriak histeris atas apa yang dialaminya saat ini. Kontrak kerja sama bernilai jutaan dolar yang telah ia tandatangani telah dibatalkan. Bahkan dia dituntut untuk membayar pinalty karena tidak profesional dengan tidak datang tepat pada waktunya saat jadwal pemotretan. Karirnya yang baru mekar di luar negeri selain cina turun saat model penggantinya di elu-elukan sebagai pendatang baru yang bersinar.


Lusi duduk terdiam saat sebuah majalah yang tergeletak di atas mejanya, ia buka. Bisa dilihat jelas sosok yang bersemayan di dalamnya. Sosok Julia yang begitu cantik ternyata adalah model penggantinya. Wanita yang baru ia ketahui sebagai istri Maxilian. Wanita itu tak hanya merebut maxilian, namun juga merebut pekerjaannya. Membuatnya rugi jutaan dolar dan kini dia harus menerima tatapan penuh cibiran dari beberapa orang.


__ADS_2