Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Saudara Tiri


__ADS_3

Matahari belum menampakkan dirinya, namun Julia sudah terbangun. Bukan, lebih tepatnya tidak tertidur. Maxilian benar-benar membuatnya lemas tak berdaya. Dia hanya terdiam kaku bagai boneka hidup saat Maxilian terus bergerak memasukinya.


Menoleh ke samping, Maxilian masih terlelap. Lalu dengan segenap sisa tenaga, ia langkahkan kakinya menuju kamar mandi. Ia hidupkan air untuk segera mengguyur tubuhnya. Ia rasakan air hangat itu menyentuh kulitnya, sambil termenung, ia menikmati rasa nyeri dan sakit di hampir seluruh tubuhnya.


Kemudian ia lihat pergelangan tangannya dan mengusapnya pelan. Tangannya terlihat jelas membiru akibat ikatan kuat yang Maxilian terapkan. Seluruh tubuhnya penuh dengan jejak kemerahan yang juga nampak sangat jelas bertebaran. Ia meremas tangannya tanpa sadar. Semalam ia merasakan bahwa dirinya sangat kotor. Hari ini ia merasa bahwa hidupnya akan berakhir di tangan Maxilian. Ia menyadari bahwa ia tak memiliki apapun untuk bisa melawan Maxilian. Pria ini, entah mengapa begitu sangat mengerikan.


Lalu bagaimana dengan pernikahan kontrak ini? Dia, maxilian, dan seluruh masalah di dalamnya, sampai kapan? mengingat segala yang terjadi semalam, terlihat bagaimana Maxilian begitu merendahkan harga dirinya, ia merasa ia tak lagi bisa bertahan lama.


Julia keluar kamar mandi dengan mengenakan hot pants dan kaos putih ukuran besar untuk tubuhnya. Pakaian ini ia dapat dari koper Maxilian yang Tomas siapkan untuknya. Dan itupun karena hanya pakaian ini yang dapat menutup bagian dadanya yang penuh dengan tanda merah. Wangi parfum Maxilian bahkan dapat tercium di bajunya. Dan itu membuatnya sangat mual.


Meninggalkan kamar hotel diam-diam di pagi buta. Ia menelusuri pantai dengan bertelanjang kaki. Matanya mengikuti alunan ombak yang saling berlomba. Dengan deru angin yang menerpa kulitnya, ia peluk tubuhnya. Ia memeluk tubuhnya sendiri dengan erat, hingga nyeri kembali ia rasakan saat di bagian yang terluka akibat kegiatannya semalam, tersentuh dengan tak sengaja.


Namun rasa sakit di hatinya tak dapat dibandingkan dengan rasa sakit di tubuhnya. Kenapa hidupnya harus sesulit ini? Dia bahkan belum sempat membalaskan dendam kepada orang-orang di kehidupannya dulu, dan sekarang ia harus terkurung dalam sangkar singa kelaparan. Kapan saja nyawanya benar-benar akan melayang, jika singa itu sudah tak dapat menahan rasa laparnya.


Perlakuan liar Maxilian, benar-benar membuat harga dirinya hancur. Julia menangis, menunduk sambil meremas pundaknya sendiri dengan sejuta pertanyaan. Benarkah ia akan terkurung selamanya di sini? Bagaimana jika makin buruk yang akan ia dapatkan jika masih bertahan di sini? Mengapa, mengapa tuhan harus menghidupkannya kembali sebagai Julia? Apa maksud tuhan?


"Aku tak menyangka akan bertemu denganmu lagi nona... Julia."


Suara berat itu terdengar merdu di telinga siapapun yang mendengar. Namun tidak untuk Julia. Ia tahu suara siapa itu? Suara yang sangat melekat dalam ingatannya. Julia terkejut, tubuhnya bergetar namun sedetik kemudian ia coba untuk mengatasinya. Ini belum lima belas menit, ia berdiri di sini namun ternyata tuhan tak menginginkannya merenungi takdir. Tangannya dengan cepat menghapus jejak air mata yang ada di pipinya. Matanya sesaat menatap ombak di laut lepas, sebelum akhirnya ia membalikkan badan dengan tenang.


"Oh. ini benar dirimu? Kau sendirian?"


Julia tak menjawab, ia hanya menatap dingin pria tampan di hadapannya yang terlihat sibuk memeriksa sekitar mereka. Pria ini nampak tak berubah selain terlihat semakin tampan. Namun jika dibandingkan dengan Maxilian, ketampanan pria ini hanyalah hal yang harus ia lewati begitu saja.

__ADS_1


Dari kehidupannya menjadi Angel Zhao hingga menjadi Julia, banyak hal yang telah ia lalui. Satu hal yang ia tekankan, bahwa benci dan cinta amat tipis perbedaannya. Ia membenci Aaron bukan semata-mata karena penghianatannya, namun ia yang hatinya telah mati hingga tega membunuhnya dan kedua orang tuanya.


Mengingat kehancuran keluarganya, seluruh emosi kemarahan yang tersimpan selama ini, kian tak terkendali. Hatinya beku, hingga tak dapat lagi merasakan rasa lain selain dendam. Ekspresi tenang dengan tatapan dingin ia tunjukkan pada pria di hadapannya.


"Kau bicara padaku, tuan Aaron?"


Aaron tertegun. Dia melihat ketenangan namun penuh keanggunan pada gadis yang berdiri di hadapannya. Sangat tenang hingga ia merasa gadis ini tak memiliki ekspresi apapun. Meski begitu dapat ia lihat bola mata hitam itu menatapnya tajam menusuk seakan ia memiliki kesalahan besar yang pernah ia perbuat terhadap gadis itu. Namun yang saat ini menjadi pusat perhatiannya adalah jejak air mata yang masih terlihat jelas menggantung di sudut bulu mata lentik itu.


"Kau menangis?"


Julia menunduk dan seakan ingin tertawa. "Apa pedulimu?"


Aaron tersadar. Ia mundur sedikit dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari Maxilian. Melihat lagi, ia mendapati bibir tipis mungil itu membiru dengan goresan yang terlihat jelas. Dan paha putih itu nampak merah seperti bekas cengkeraman.


"Di mana kekasihmu? Apakah ia membuangmu setelah menyiksamu semalaman?" tanya Aaron menyelidik.


Kekasih? Bukankah kau kekasihku? Kekasih yang menghancurkan kehidupanku dan keluargaku? Aaron kau tidak lebih baik daripada binatang.


Meski begitu, Julia tetap terlihat tenang. Rasa jijik terlintas di matanya saat berhadapan dengan pria ini. "Tuan Aaron, kita tak saling mengenal dengan baik. Bukankah pertanyaanmu itu terlalu tidak beretika?


Tangan Aaron bergerak dengan cepat. Rasa ini bukan simpati atau empati, namun rasa ingin tahunya begitu tinggi bila menyangkut kehidupan Maxilian. Menahan tangan kurus itu ke dalam genggamannya tanpa menoleh kebelakang, ia tak akan membiarkan gadis itu pergi.


"Ahk."

__ADS_1


Rintihan pelan itu membuat tubuhnya bergerak dan ia angkat tangan mungil itu sedikit. Gadis itu terluka!


"Kau.."


"Lepas." pinta Julia dingin. Ia menghentakkan tangan Aaron dari tangannya.


Aaron terkejut mendapati sikap kasar Julia. Jika dipikir-pikir sudah seharusnya ia begitu penasaran terhadap gadis ini. Sejak awal gadis inilah yang lebih dulu memanggil namanya.


"Nona, bukankah kau sedikit kasar? Aku hanya tak sengaja menolongmu dan kau tidak mengucapkan terima kasih padaku. Dan pertemuan kali ini, lagi-lagi kau memandangku dengan jijik, seakan kita pernah bertemu sebelumnya. Katakan padaku, apakah aku pernah melakukan kesalahan padamu? tatapanmu yang penuh kebencian sangat terlihat."


Julia tertegun. Tangannya melingkari pergelangan tangannya yang masih sedikit nyeri. Itu benar, di kehidupan ini Aaron tidak mungkin mengenalinya. Pria itu tidak akan tahu bahwa ia adalah kekasihnya yang telah ia lukai begitu dalam. Pria inilah yang membantai seluruh kehidupannya, apakah benar ia harus mengucapkan terima kasih padanya? memikirkan itu, ia ingin tertawa.


"Aku hanya pernah melihat wajahmu di tabloid majalah cina beberapa bulan lalu, Dan kebetulan aku sedikit mengingatnya. Jadi tuan Aaron, bisakah aku pergi sekarang? Dan terima kasih atas kepedulianmu."


"Apakah kakakku memperlakukanmu dengan buruk?"tanya Aaron ingin tahu. Ia sangat tertarik dengan hubungan gadis ini dengan maxilian.


"Kakak?" tanya Julia memperjelas.


Aaron sedikit tertawa. Ia menunjukkan pergelangan Julia yang terluka. "Baj***an itu\, apakah masih selalu memperlakukan wanita dengan buruk? kau tahu maksudku. Pria mu itu\, adalah saudara tiriku."


Tubuh Julia berdiri kaku dengan tatapan mengunci pada wajah Aaron. Bagaikan disambar petir di siang hari. Saudara tiri? Kata-kata itu terus terngiang di telinganya. Tidak mungkin, hal sebesar ini, bagaimana mungkin ia tak mengetahuinya.


"Apakah ia belum memberitahumu?" tambah Aaron sekali lagi. Dia bisa melihat jelas riak keterkejutan di wajah cantik itu.

__ADS_1


Julia masih sangat terkejut, namun sejurus kemudian ia mulai menguasainya. Ketenangannya yang sempat hilang kini telah kembali. menatap Aaron tajam, ia menundukkan wajahnya dengan kilatan kebencian.


"Apakah perlu untukmu memberitahuku tentang hal ini? Siapa dirimu bagi Maxilian sangatlah tidak penting bagiku." kepalanya sedikit terangkat, menatap Aaron dengan tenang. "Tentang kau, ataupun Maxilian, kalian semua adalah hal paling menjijikkan yang pernah kutemui."


__ADS_2