
"Apa yang kau lakukan!" teriak Janet tak terima. Dia berlari dan dengan cepat menarik tangan Julia hingga meninggalkan bekas goresan kuku yang sedikit panjang.
"Menjauh dari nonaku!" bentak Tomas sembari mendorong Janet hingga tersungkur.
Janet terjatuh, nafasnya naik turun dan memburu. Tatapan bencinya sangat berapi api. Julia, di matanya hanyalah benalu yang harus disingkirkan. Sepertinya Janet lupa siapa yang menjadi benalu selama ini. Janet sudah berjuang dengan berbagai macam cara untuk mendapatkan semua yang dimiliki Julia. Dia juga merebut pria yang dicintainya. Merusak nama baiknya. Bahkan merebut seluruh harta warisannya.
Awalnya dia berpikir Julia akan hancur sehancur hancurnya setelah kehilangan semua yang dimilikinya. Namun ketenangan yang baru seumur jagung, berubah menjadi kehancuran hatinya di saat ia menyadari Jordan yang menaruh hati terhadap Julia. Dan kini gadis itu datang kembali dalam kehidupannya, untuk menghancurkan perusahaannya dalam satu kali ucap. Kenapa? Kenapa Julia bisa menikahi pria kaya raya? Kenapa Julia menjadi nona muda keluarga yang tak bisa ia sentuh? Kenapa ia tak bisa menghancurkan Julia! Dia marah, dia benci setengah mati pada gadis yang tengah tersenyum sinis menatapnya. Rasanya ia ingin mencabik-cabik tubuh Julia bila saat ini ada kesempatan melakukannya.
"Janet," seru Jordan menolong tunangannya dan berganti menatap Tomas tajam. "Bukankah kau terlalu kasar?"
Semua orang menyingkir dan menonton. Mereka tak mengira bahwa rapat pemegang saham kedua kalinya juga terjadi pertunjukkan yang menarik. Meski begitu, tak ada satupun dari mereka mendekat untuk ikut campur. Karena mereka tahu pengaruh keluarga Lunox untuk semua bisnis di negara ini. Jadi mereka hanya bisa mundur teratur sambil menonton pertunjukkan.
Menanggapi kata-kata Jordan, Tomas hanya menundukkan kepalanya sedikit. "Tuan Jordan, aku hanya melindungi nona mudaku."
"Julia, kau benar-benar keterlaluan!" seru Hendri dengan tatapan benci. Dia melihat putrinya yang kembali berdiri bersama Jordan.
Tiga orang menyerangnya? Julia tertawa tipis. Jika ini adalah pemilik asli tubuh ini, maka ia pasti sudah menunduk ketakutan dan meminta maaf. Tapi ia adalah seorang Angel Zhao, artis besar yang bersinar. Di mana tubuhnya adalah aset yang paling berharga.
"Kalian mengatakan Tomas keterlaluan? Tapi kalian membiarkan Janet melukaiku? Dimana otak kalian? Siapa yang harus dikatakan kejam di sini?" Julia melirik Tomas sesaat kemudian menatap Hendri dengan tatapan tenang. Ada senyum sinis yang terukir tipis. Ini adalah awal pembalasan dendamnya.
"Tomas, hubungi pengacara keluarga Lunox. Tuntut mereka karena telah melukaiku." Julia mengangkat tangan untuk menunjukkan goresan luka yang mulai mengeluarkan sedikit darah di atas permukaan kulitnya.
"Apa?" tanya Jordan dan Hendri bersamaan. Sedangkan Janet terbelalak dan akan meloncat untuk kembali mencakar Julia jika tak ditahan oleh ayahnya.
Tomas menunduk melihat luka kecil itu, kemudian mengangguk. "Saya akan mengurusnya nona."
"Kita kembali."
__ADS_1
Julia melangkah dan Tomas mengikutinya. Sedangkan Hendri berlari sambil berteriak kencang,
"Julia..! Julia..! berhenti di sana. Julia!"
Julia terus melangkah hingga Hendri menghadang dan berdiri tepat di hadapannya.
"Julia,apa kau harus seperti ini pada pamanmu? Apa kau harus sekejam ini pada orang yang merawatmu?"
Julia hanya sekilas menatap lalu memilih tak menghiraukan dan kembali berjalan keluar dari sana. Tomas terus mengikuti Julia dari belakang untuk menjaga keselamatan nona mudanya. Tapi saat gerakan cepat itu menarik nona mudanya, ia dengan cepat menarik sebuah pistol di balik saku jasnya.
"Julia, hentikan semuanya!" tekan Jordan menarik tangan Julia cepat.
"Lepaskan." perintah Tomas dingin. Dia mengacungkan senjatanya tepat ke arah Jordan.
Julia terbelalak dan Jordan pun turut terkejut. Hendri tertegun dengan mengangkat kedua tangannya ke atas. Sedangkan Janet hanya bisa berdiri melihat tunangannya menahan Julia.
Jordan sedikit tertawa melihat Tomas mengarahkan senjata api padanya. Apakah menurutnya ia mudah digertak? Tidaklah mudah seseorang memiliki senjata api begitu saja.
Melihat tak ada pergerakan dari Jordan, Tomas mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya beserta pin dari kemiliteran. "Aku polisi militer yang dikontrak keluarga Lunox. Keluarga Lunox memiliki anggota keamanan resmi yang terdaftar negara. Masih meragukanku?"
Melihat pin itu Jordan melepaskan tangan Julia. Mengangkat kedua tangannya mengikuti Hendri. Tatapan matanya tak bergeser dari tubuh Julia yang kian menjauh darinya.
Julia melangkah, berdiri di samping Tomas dan tersenyum. "Kerja bagus. Kita kembali sekarang."
Tomas mengangguk dan menyimpan senjatanya. Dia mengikuti Julia dan beberapa orang pemegang saham pun ikut keluar dari perusahaan Brasco. Hari ini adalah awal kehancuran keluarga Brasco, dan Julia menyadari itu.
Malam ini Julia mendapat banyak apresiasi dan pujian dari kakek dan nenek Maxilian terkait menarik investasi dari perusahaan Brasco. Pasalnya sejak Tomas mengurusi semuanya, saham perusahaan Brasco anjlok dan perusahaan Lunox ada kenaikan dua persen saham. Berita soal kepulangan pewaris sah keluarga Lunox juga beredarnya foto-foto Maxilian yang tampak tampan tanpa kursi rodanya, membuat dunia hiburan gempar hingga menjadi pencarian terpanas saat ini.
__ADS_1
Duduk di pinggir tempat tidur, Julia tampak sibuk mencatat sesuatu. Pintu kamar itu terbuka dan wajah datar maxilian terlihat. Dia melihat Julia dan mengerutkan keningnya.
"Apa yang kau lakukan?"
Julia menarik kertas di tangannya dan menunjukkan pada maxilian. "Gajiku."
"Gaji?" Kau bahkan belum bekerja selama satu bulan."
Julia mengerucutkan bibirnya. "Siapa yang mengatakan bahwa aku akan meminta gaji tiap bulan. Aku akan meminta gajiku setiap aku menyelesaikan pekerjaannya."
"Kau tak bisa seenaknya sep--"
"Aku ini karyawan part time, bukan karyawan tetap perusahaanmu. Dan kau bilang aku bisa mengatur sesukaku."
maxilian terdiam. Gadis ini benar-benar licik dan saat ini ia terjebak.
"Baiklah tuan Lunox, mohon tanda tangani kertas ini agar aku bisa mencairkan gajiku."
Maxilian tak dapat berkata-kata lagi. Ia menyambut kertas itu, lalu melihat rincian rekapan tangan Julia. "Lima ratus ribu dollar?" Ini terlalu banyak. kau hanya menghadiri rapat satu kali."
Julia meletakkan telunjuknya pada rincian di bawah angka pada kertas yang sama. "Aku naikkan sahammu sebanyak dua persen. jika itu diuangkan, kau mendapatkan keuntungan jutaan dollar dan aku hanya meminta lima ratus ribu dollar. Selain itu aku butuh biaya kompensasi atas luka cakaran yang keterima." ujar Julia sambil menunjukkan luka gores pada kulit tangannya yang sudah membaik karena telah diobati.
"jadi total semuanya enam ratus ribu dollar." sambung Julia tanpa dosa.
Maxilian hanya melirik tangan Julia lalu beralih pada bibir kecil yang terus saja bicara. Sikap Julia membuatnya sangat jengah, dan ia tak bisa protes karena ia sudah menyetujui sejak awal. Akhirnya dia mengalah dan membubuhkan tanda tangannya di atas kertas yang Julia tunjuk.
"Sekarang kau sudah mendapatkan yang kau mau. Puas?"
__ADS_1