Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Para Benalu Histeris


__ADS_3

Janet menggeleng kuat, dia terus saja mundur dengan tatapan gusar menunjuk Julia yang masih duduk dengan tak percaya. "Tidak, dia bohong! Dia penipu! Dia mencoba menipu kita semua. Seret dia keluar! cepat seret dia keluar!"


Janet terus menunjuk Julia yang masih duduk dengan sangat anggun. Dia beralih pada anggota keamanan yang datang dan hanya diam berdiri tanpa perlawanan. Melihat tak ada perubahan dia beralih pada para pemegang saham yang lain. Dia berteriak histeris agar Julia segera di seret keluar dari ruangan.


"Seret dia keluar! Sebelum dia membuat kekacauan, tolong bawa dia keluar."


Hendri menggeleng pelan dan mengeratkan kepalan tangannya tanpa sadar. Dia merutuki kebodohan putrinya yang jelas memanggil Julia dengan sebutan yang cukup jelas. Hal ini jelas membuatnya tahu, bahwa rencananya kali ini sudah sangat gagal. Memikirkan hal ini, wajahnya mengeras. Dia melihat Julia yang tengah duduk dengan sangat anggun dan tengah tersenyum melihat putrinya yang histeris.


Bagaimana bisa, Bagaimana bisa gadis kecil yang selalu patuh padanya kini beralih menggigitnya? Bagaimana gadis lugu yang polos dan bodoh kini berubah sangat dingin dan kejam. Apa yang telah terjadi? Kenapa putrinya terlalu mudah masuk dalam jebakan permainannya dan mengacaukan rencananya.


"Aku ingin tahu siapa yang berani menyentuhku dan mengeluarkanku dari sini?" Tanya Julia dengan menatap para anggota penting di dalam ruangan. Matanya yang tenang dengan tatapan dalam membuat semua orang tengah berbicara pelan terdiam.


"Bohong! Dia bohong!" Balas Hendri keras. Membuat semua mata mengarah kepadanya. "Dia bukan Julia yang sebenarnya."


Mendengar pembelaan Hendri, Janet mengangguk setuju. "Ayah benar, dia bukan Julia yang sebenarnya."


Mendengar itu Julia tertawa kecil. "Oh lalu siapa aku?" Tanyanya malas, dia memutar mutar kursinya kembali lalu menatap Hendri dan Janet bergantian. "Jika aku bukan Julia, lalu siapa aku? Paman, kau dan Janet sungguh tahu hal itu. Aku adalah Julia, yang kalian biarkan terbaring koma di rumah sakit selama tiga bulan."


"Apakah dia benar-benar nona Julia? Dan telah dibiarkan koma selama tiga bulan?"


"Dia menyebut dirinya adalah pewaris sah. Tapi, yang kita kenal selama ini bukanlah dia. Apa yang sebenarnya terjadi? Lalu jika itu benar, bukankah nona Julia yang selama ini kita kenal adalah palsu. Apakah itu artinya kita semua ditipu?"


"Penipuan. Bukankah ini sangat tidak sederhana? Kita juga mendengar nona Julia menyebut nona muda ini dengan nama Julia juga. Jadi siapa yang benar dan harus kita akui? Wah hari ini sepertinya kita melihat pertunjukkan yang besar."


Pertanyaan-pertanyaan dari orang-orang penting di dalam rapat itu terus saja berdatangan dan kian jelas. Semakin lama, semakin banyak spekulasi yang timbul. Hendri dan Janet memucat. Mereka tak pernah membayangkan semua ini akan terjadi. Situasi ini, harusnya menjadi akhir yang memuaskan bagi mereka berdua. Itu hanya sedikit lagi, tapi semua kacau dengan kedatangan Julia sehingga menghancurkan rencana mereka.


"Kau," ujar Hendri geram. Urat-urat nadi dalam tubuhnya tampak menegang dan terlihat jelas. Dia berjalan dan segera menarik tangan Julia keras. Berniat menghempaskan namun lagi-lagi tangan Jason menahan tangannya.


"Jangan menyentuhnya!" peringat Jason dingin membuat tatapan Hendri kian membara.


Melihat hal itu Julia tersenyum sinis. Dia dengan cepat menarik tangannya lalu berdiri dan berjalan mengitari Hendri. "Paman, kau menginginkan aku pergi bukan? Kau ingin menyingkirkan aku dari sini. Tapi, biar kuperjelas satu hal padamu, ini adalah kantor keluargaku. Lalu bagaimana kau bisa menginginkan aku pergi sedangkan anakmu berada di sini? Bukankah itu benar-benar tidak masuk akal?"


Pada putaran ini, Julia berdiri tepat di depan Hendri. Tersenyum lembut dengan memiringkan kepalanya sedikit. Mata hitamnya tampak berkilauan dan haus akan kepuasan, namun di depan Hendri hal itu menjadi sangat menakutkan. Tangannya bergerak perlahan menyentuh lengan Jason pelan. "Jason, jangan tidak sopan pada pamanku." Kata-kata itu terdengar pelan dan manja tapi juga terdengar dingin menusuk tulang. Membuat Jason melepaskan tangannya dan mundur selangkah.


Melihat hal ini Hendri benar-benar hampir menampar Julia. Tapi dia tak akan melakukan itu sekarang, atau seluruh hal kian memburuk di kemudian hari. "Julia, hentikan, aku akan menjelaskan semuanya. Semua hal--"


"Kalian dengar?" potong Julia dengan menepukkan tangannya beberapa kali. Dia tertawa puas. "Paman Hendri baru saja memanggilku Julia. Dengan kata lain, dia memperjelas informasi identitasku yang sebenarnya."

__ADS_1


"Julia!" bentak Janet tiba-tiba mulai kehabisan kesabaran. Dia hendak menampar Julia tapi tiba-tiba mata Julia beralih menatapnya tajam. Membuat tangannya yang telah dia ayunkan di udara terhenti tiba-tiba.


"Ka--kau,"


"Kenapa?" tanya Julia dingin. "Apakah sekarang kau sadar tempatmu? Ataukah kau terlalu lama menjadi diriku hingga lupa siapa dirimu? Janet, kau tak bisa terus berpura-pura menjadi diriku. Tak perduli meski itu untuk kesenangan atau karena kau tak puas pada dirimu sendiri, tapi menjadi orang lain tidaklah baik. Aku sudah ada di sini, untuk memperjelas semuanya. Dan kau tak akan dibutuhkan lagi di sini."


Melihat putrinya terpojok Hendri tak bisa diam. Rasa marahnya besar, rasanya dia ingin menyeret Julia saat ini juga."Kau sebaiknya pulang, atau aku akan--"


"Atau apa? sahut Julia cepat menanggapi ancaman Hendri. "Paman, biarkan semua orang di sini tahu. Kau dan Janet juga dapat bersaksi untukku. Lalu dia," Tunjuknya pada Jason yang masih berdiri. "Dia adalah pengacara keluarga Brasco. Dia juga akan memperjelas semuanya untukku."


"Ka--kau," ujar Janet terbata. Rasanya dia sangat syok dan marah hingga ke puncak emosinya. Tapi saat tahu bahwa pria yang datang bersama Julia adalah pengacara keluarga Brasco, jantungnya berpacu cepat. Tubuhnya mulai bergetar ketakutan.


Julia tak memperhatikan Janet dan Hendri lagi. Dia berbalik dan menepukkan tangannya di atas meja rapat cukup keras. Tatapannya sangat serius dengan menatap orang orang penting yang ada di dalam ruangan. Dengan satu tarikan nafas, dia akhirnya berkata, "Aku adalah Julia Brasco yang sebenarnya. Dan dia adalah Janeta Brasco, putri kandung dari Hendri Brasco, yang selalu berpura-pura menjadi diriku selama bertahun-tahun untuk menipu kalian semua. Aku, adalah pewaris sah dari keluarga Brasco, dimana tiga puluh persen saham yang akan dialihkan kepemilikannya di bawah kuasa Hendri Brasco dibatalkan!"


Mendengar nada tegas yang tak mengenal bantahan itu Tomas berdiri dan menepukkan tangannya beberapa kali. Plok,plok,plok,plok,. Senyumnya melebar dengan riak kepuasan. Ini adalah calon nyonya muda keluarga Lunox. Dan ketegasan serta ketajaman mata itu, dia menyukainya. Semua terlihat mirip untuk tuan mudanya.


Julia menoleh tajam saat suara tepuk tangan itu memecah kesunyian. Dia melihat seorang pria yang cukup tampan menepukkan tangannya berkali-kali.


"Nona Julia, aku sangat terkesan padamu."


Mata Julia menyipit, "Aku anggap itu sebuah pujian."


Julia langsung duduk di bangkunya setelah Tomas bicara. Dia tak bisa menganggap Tomas berpihak padanya hanya karena membelanya. Karena dalam kehidupan ini, dia tak boleh mempercayai siapapun. Tapi saat melihat orang-orang penting itu duduk di bangku masing-masing, dia tak bisa menyembunyikan rasa puasnya.


Saat semua orang duduk, Hendri terlihat sangat enggan duduk di bangkunya. Sementara Janet terlihat terpaku dengan kepalan erat. Kukunya bahkan telah memutih dan menancap di kulit tangannya. Menyisakan rasa pedih yang semakin membanjiri hatinya.


"Bagaimana bisa," gumam Janet tak terima. "Bagaimana bisa semua berubah secepat ini. Dia, dia harusnya ada di rumah dan patuh. Tapi sekarang berpikir melampauiku. Bermimpilah!"


Dengan sangat cepat, Janet berlari ke arah Julia dengan tangan yang siap menarik rambut Julia. Itu sangat cepat, hingga suara keras terdengar kemudian. Semua orang menoleh dan mendapati jas bagian lengan Jason robek dan Janet yang jatuh kebelakang. Semua orang berdiri hingga Julia pun ikut berdiri dan menoleh ke belakang. Matanya mendingin saat melihat goresan kuku di kulit putih Jason dengan darah tipis di atasnya. Sontak hal itu membuat semua orang menggeleng pelan. Menyayangkan tindakan Janet.


Saat bagian belakang tubuhnya terhempas ke lantai keras, Janet menekan semua amarahnya. Dia tak menyangka bahwa Jason akan bergerak cepat menghalanginya hingga akhirnya tangannya menarik tangan Jason yang mencoba menghalanginya. Dia bangun saat melihat Julia menatapnya. Matanya dipenuhi emosi yang membara dan siap meletus kapan saja.


"Apa yang kamu lakukan! Aku harus menyeretnya! Aku harus menyeretnya!" teriak Janet dengan bergegas kembali ke arah Julia. Tangannya mencoba menggapai Julia tapi lagi-lagi tubuh tegap Jason menghalangi tangannya. Membuatnya merasa panas dan semakin marah.


"Menyingkirlah dari jalanku! Jangan halangi jalanku! Aku akan menyeretnya keluar!"


Dan sekali lagi, Jason menghempaskan tubuh Janet keras. Membuat Hendri menggelap dan dengan sangat cepat, sebuah tamparan melayang ke wajah jason cukup keras.

__ADS_1


"Jangan sentuh putriku!"


Jason membeku. dan semua orang terkejut. Suasana berubah menjadi sangat sunyi dan sepi. Hanya helaan nafas berat yang terdengar lembut di telinga. Para anggota keamanan bahkan hanya bisa diam dan menyingkir. Melihat perseteruan ini, mereka tak berani mengambil tindakan karena tahu siapa Jason, dan siapa nona muda mereka yang sebenarnya. Tapi tuan Hendri juga bukan sembarang orang yang bisa mereka singgung kecuali perintah Julia turun.


Julia tak dapat bereaksi saat tangan Jason memegang pipi yang baru saja ditampar oleh Hendri. Dia hanya menoleh, dan menatap pamannya kosong. Lalu beralih saat Janet bangun dan bergegas menuju arahnya. Dia menggerakkan tangannya sangat cepat dan kilat. Hingga semua tak menyangka hal apa yang akan terjadi selanjutnya.


Tapi suara sebuah tamparan keras terdengar di udara. Membuat semua mata menatap tak percaya diiringi teriakan Janet yang bergetar.


"Kau!!"


Julia menurunkan tangannya dan jarinya teracung tepat ke arah Janet."Jangan mencoba menyentuhku atau pun pengacara keluargaku."


"Julia! Beraninya kau menampar putriku!" Teriak Hendri setelah sadar dari keterkejutannya saat melihat wajah putrinya memerah dengan meninggalkan bekas lima jari di sana. "Kau harus diberi pelajaran. Biar aku mendisiplinkamu dirumah, atau kau--"


"Hentikan! potong Julia dingin. Matanya berkilat marah dengan nyala api penuh dendam. Bibirnya terkatup rapat dengan ekspresi wajah tak terima. "Bukankah sudah kukatakan? Paman, sepertinya kau lupa peringatanku. Di depan banyak orang kau berani mengancamku? Biar aku ingatkan, aku tak berusaha menyerang tapi melindungi diri. Tapi kau dan putrimu! kalian menyerang pengacaraku. Dan semua orang di sini bisa bersaksi untukku. Bukankah begitu Jason?"


Jason hanya menjawab dingin. "Iya"


Jawaban yang simple dan pasti itu membuat Julia menyeringai. "Paman, apakah kau tahu siapa Jason?"


Mendengar pertanyaan itu, perasaan Hendri memburuk dengan ekspresi wajah yang pucat. Dia menarik Janet agar sedikit tenang dan tak membuat keadaan makin buruk. Menatap semua orang di sana, ada rasa malu yang tak dapat disembunyikan saat semua orang menatapnya jijik.


Melihat ekspresi pamannya yang jelek, julia sangat bahagia. Dia dengan cepat menarik tangan Jason dan mensejajarkan dengan dirinya. Menyentuh dada Jason pelan dengan ketukan ringan, dia melanjutkan kata-katanya. "Mungkin kau tak mengenal Jason, tapi aku yakin kau pasti mengenal Aston Wlilliam?"


Saat nama itu disebut Julia, kehebohan terjadi seketika. Siapa yang tak mengenal nama itu. Pengacara terbaik di Las Vgas yang tak semua bisa berurusan dengan pengacara terbaik di kota mereka. Bukankah itu terlalu luar biasa?


"Kejutan! Aku tak tahu bahwa nona Julia memiliki latar belakang pengacara pendukung yang kuat di belakangnya."


Apa ini? Apakah pengacara muda itu adalah pengacara terbaik di kota ini? bagaimana mungkin aku tak mengenalinya?. Ya tuhan, ini kejutan besar."


"Lihatlah, kali ini tuan Hendri tak akan bisa sombong seperti dulu lagi. hahaaha, mencoba melawan pengacara Aston?Aku ingin tahu sampai di aman mereka melawannya."


Kata-kata bisikan itu jelas terdengar di telinga Julia. Jason pun ikut mendengarnya dan saat namanya diangkat dan dipuji sedemikian rupa, wajahnya memerah. Dia telah terbiasa mendapat pujian, tapi kali ini dia mendapatkannya karena gadis di sampingnya. Entah kenapa itu membuat perasaannya semakin baik. Dia menatap Julia yang masih tersenyum tipis. Dan tiba-tiba dia merasakan jantungnya berdetak makin cepat. Membuatnya merasakan perasaan aneh yang tak dia kenali.


Keadaan yang berbalik benar-benar menyulitkan Hendri. Dia menatap Julia tajam namun gadis itu tak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Sebaliknya Julia menyatakan suara yang membuat seluruh dugaannya menjadi lebih buruk.


"Paman, biar kujelaskan. Jason, dia adalah putra satu-satunya dari Aston William! Dan kau tahu, Aston William adalah pengacara dari keluarga Brasco. Dan hari ini Jason menemaniku menggantikan ayahnya, tapi dia mendapatkan luka. Ups," ungkap Julia dengan senyum nakal. Tangannya menutup mulutnya pelan. Matanya mengerling dari tajam menjadi sendu dengan kebingungan yang sangat jelas.

__ADS_1


"Oh ya lalu bagaimana ini? Bagaimana jika dia bertanya tentang Jason padaku? Jawaban apa yang akan kuberikan pada paman Aston, terkait penyerangan putranya? Apa yang harus kulakukan saat mereka menuntutmu dan Janet karena kasus penyerangan? Ya tuhan, paman, apa yang bisa kulakukan untukmu?" Lanjut Julia dengan nada sedih yang manja. Semua orang terpana melihat perubahan ekspresi Julia yang tiba-tiba. Mereka tak tahu harus tertawa atau menangis karena melihat semua itu.


__ADS_2