Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Sely Yang Menyedihkan


__ADS_3

Ben tertawa kecil. "Sely, aku tak akan tertipu. Aku sudah menyelidiki semuanya. Kau membatalkan menjual semua aset milik keluargaku bukan? Itu artinya, kau masih memiliki stempelnya."


"Ben," panggil Sely lembut. Matanya berkaca-kaca dengan ekspresi menyedihkan. Sosoknya saat ini terlihat rapuh dan teraniaya. "Kenapa kau seperti ini padaku? Aku kekasihmu, aku--"


"Sely hentikan. Aku muak."


"Ben," panggil Sely sekali lagi dengan sangat menyedihkan.


Tapi melihat hal itu justru menambah rasa jijik terhadap wanita di hadapannya ini. "Apa kau pikir aku akan terus dapat kau bodohi?" Tanyanya pelan dengan penuh penekanan. Dia maju, dan Sely mundur. "Berikan padaku selagi aku memintanya baik-baik. Aku tak bisa terus melihat ibuku menangis tiap malam. Dan aku tak bisa terus melihat ayahku diperlakukan semena-mena oleh keluarga Casson."


"Ben, aku tahu kau mencintaiku. Aku tak mungkin melakukan hal seperti itu." Sely menatap sekitarnya dan saat mendapati tempat tersebut sepi dia mengutuk Ben berkali-kali di dalam hati.


Ben tak mengindahkan kata-kata Sely. Semua sudah cukup baginya terjebak oleh tipu daya sandiwara wanita di hadapannya ini. Wanita yang dia pikir mencintainya namun ternyata membohonginya. Wanita ini seperti menusuknya dari belakang, menjebaknya, dan membuat keluarganya berantakan.


"Ben, ingatlah masa indah kita berdua. Kau tahu bahwa aku kembali untukmu. Aku tak mungkin melakukan hal bodoh seperti yang kau tuduhkan."


"Cih, selama dua tahun aku di penjara, kemana saja kau? Apakah kau pernah mendatangiku di penjara? Julia yang sedang koma saja tak kau datangi, apalagi aku. Kau sudah menghancurkan keluargaku. Kau hanyalah iblis di mataku. Jadi semua yang keluar dari mulutnya adalah bangkai. Cepat berikan Sely, sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaranku!"


"Ben," Tubuh Sely kaku. Dia tak percaya dengan semua yang didengarnya. Pria yang selalu mencintainya, yang selalu berkata lembut dan memperlakukannya penuh kasih sayang, saat ini mengeluarkan kata-kata hinaan dan bahkan menatapnya dengan jijik.


"Kau tak pernah mencintaiku. Tidak sama sekali. Aku tak pernah melihat cinta di matamu. kau hanya mencintai pria yang Julia miliki. Kau tidur dengan pria itu dan membuat Julia menderita. Aku benar-benar bodoh karena begitu mempercayaimu. Tapi kali ini tidak, kau sudah berakhir. Dramamu telah berakhir!"


"Ba--bagaimana kau tahu?" ungkap Sely terkejut. Tubuhnya gemetar dan wajahnya makin pucat. Dia pikir dia telah mengendalikan pikiran pria ini. Tapi ternyata semuanya salah. Pria ini telah berubah.

__ADS_1


Ben sedikit tertawa namun hatinya menjerit kesakitan. Dia memegang pundak Sely kuat dan menggoyangkan beberapa kali dengan kuat. "Berikan stempel keluargaku! Cepat berikan!" Teriaknya tak tahan.


Sely menangis ketakutan. Dia menggeleng kuat. "Aku tak memilikinya. Ben percayalah padaku. Aku mencintaimu. Aku--"


"Dia tak akan mengaku dengan mudah, Ben." potong Julia tiba-tiba. Karena bosan menunggu, akhirnya di mendatangi Ben dan Sely.


Ben dan Sely menoleh bersamaan.


"Sepupu,"


"Julia, tolong aku. Jelaskan pada Ben aku aku sangat mencintainya. Aku...Julia.," tangis Sely pecah. Dia mencoba berlari ke pelukan Julia namun Ben menahannya.


Julia tertawa kecil. Dia menatap Sely dengan penuh kebencian. "Kenapa aku harus menolongmu? Kenapa aku harus menolong benalu sepertimu? Ayolah Sely, aku diam saja apa karena kau menganggapku naif dan bodoh? Dengarkan aku, Sely, kau itu hanya lintah menjijikkan di mataku."


"Ju--Julia."


"Berikan atau aku akan melakukan hal yang lebih dari ini."


Sely menggeleng di sela air matanya. "Tidak, tidak akan kuberikan!"


"Ah akhirnya kau mengaku juga." ujar Julia. Dia membuka tas jinjingnya lalu mengeluarkan pisau lipat yang tajam. Dia tak tahu bahwa kebiasaannya menyimpan benda tajam untuk berjaga-jaga saat dia dalam bahaya, ternyata akan berguna juga. Sejak dia terjun ke dunia entertaiment, dia selalu melindungi dirinya sendiri dengan membawa sesuatu yang dapat dijadikan senjata.


"Ben, kau bisa menggunakan ini? Cobalah." dia lemparkan pisau lipat itu tepat ke tangan Ben.

__ADS_1


Ben menangkapnya dan menunjukkannya pada Sely. "Yah, kau bisa menjadi kelinci percobaanku untuk mengasah ketajaman pisau ini."


Sely menggeleng kuat. Air matanya jatuh bercucuran. "Ben, jangan bercanda. Ben, pisau itu.."


Melihat Sely yang ketakutan, Julia tertawa. "Tugasku sudah selesai. Lebih baik aku pulang. Dan ya, Ben.. jangan terlalu sungkan, kau bisa melakukan apa saja yang kau mau, aku bisa menolongmu meski kau membunuhnya."


"Julia!Julia!" teriak Sely mencoba mengejarnya.


Namun pada akhirnya rambutnya tertarik ke belakang dan sebuah benda tajam itu terasa dingin di atas kulitnya. Membuat tubuhnya kaku dan tak berani bergerak.


"Berikan atau aku akan menyayat wajahmu mulusmu ini."


"Ben,"


Ben nampak berapi api. Dia lihai menempelkan pisau tajam itu ke pipi Sely. "Yah, jika kau tak segera memberikannya, aku dengan senang hati akan membunuhmu. Tapi sebelum membunuhmu, aku akan merusak wajahmu terlebih dahulu. Menurutmu apa yang terjadi jika mayatmu tak dikenali?"


Mendengar itu Sely bergetar ketakutan. Dia bergidik ngeri dengan ancaman Ben. Dia menggeleng kuat, tapi saat pisau itu menekan pipinya dia merasa kalau Ben tidak main-main dengan kata-katanya.


Tidak! Tidak boleh ada yang merusak kecantikannya.


"Tunggu Ben! Kumohon jangan lakukan. Akan kuberikan yang kau mau!" teriak Sely jelas. "I-tu, stempel itu ada di dalam tasku."


Ben tersenyum. Kemudian dia menarik tas Sely dan langsung mencari stempelnya. Benar saja, itu ada di dalam tas Sely. Di balut dengan kertas putih dan diletakkan di balik kulit tas nya. Namun dengan cepat juga ia mengayunkan pisau lipat di tangannya dan ia tancapkan pada pipi Sely.

__ADS_1


"Itu adalah hadiah karena menghianatiku."


"Aaaargghhh!!!!!! Teriak Sely histeris. Dia merasakan sakit luar biasa pada pipinya. Dengan darah yang terus mengucur keluar, dia menatap nyalang Ben, Dia mencoba menggapai leher Ben namun pada akhirnya sebuah tendangan keras di perutnya membuatnya tak sadarkan diri.


__ADS_2