Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Dunia Yang Dirindukan


__ADS_3

Julia menyeret matanya untuk membaca tiap bait seluruh berita yang tertulis di sana. Berita tentang Lusi yang sudah memporak porandakan dunianya. Seorang Lusi yang ternyata sekarang amatlah terkenal. Model dan aktris baru yang tengah melejit namanya di dunia entertaiment dan permodelan. Dengan wajah cantik dan latar belakang keluarga yang gemilang, membuat posisinya di dunia entertaiment makin membuncah. Bahkan kini karirnya telah melejit sampai luar cina. Sungguh mengesankan.


Dengan wajah asia yang terkesan awet muda, dia juga terkenal dengan attitude nya yang baik kepada semua orang. Kulitnya halus dan wajah dengan senyum bak malaikat itu membuat meleleh setiap orang yang melihatnya. Sukses membintangi beberapa judul film dan menjadi brand ambasador beberapa merk terkenal dengan penjualan tertinggi. Bahkan beberapa orang membicarakannya sebagai pengganti Angel Zhao yang telah tiada. Terpautnya hubungan darah, membuat wajah Lusi menjadi sorotan dunia entertaiment seluruh dunia.


Julia menutup majalah di tangannya dengan cukup keras hingga menimbulkan suara. Bibirnya tertarik bahkan tawanya hampir pecah. Namun tatapan matanya dingin dengan penuh kebencian. Badai amarah menggulung seiring dengan berita yang baru saja ia baca.


Lusi melakukan debutnya untuk menggantikan dirinya. Sepupunya itu tak hanya merebut tunangannya, namun ia juga merebut pekerjaannya yang sudah seperti nyawa baginya. Tak hanya menggantikannya, namun Lusi juga berusaha untuk menenggelamkan nama Angel agar semua orang makin melupakannya.


Lusi, dengan wajah cantik dan polosnya benar-benar menghipnotis seluruh dunia. Gadis licik ini, ia tak bisa terus membiarkannya. Seluruh dunia harus tahu siapa dia sebenarnya!


Tanpa sadar Julia meremas majalah di tangannya sampai kusut. Ekspresinya bagaikan mayat hidup. Pucat, nampak lemah, namun siap menerkam siapa saja yang mendekatinya. Terbesit pemikiran tentang cara untuk menghancurkan dunia Lusi seperti halnya yang Lusi lakukan padanya dulu.


"Julia, kau baik-baik saja?"


Teguran yang sangat jelas itu mengalihkan kesadarannya. Julia menatap Hanna dengan kesal.


"Ada apa?"


Hanna menghempaskan tubuhnya ke kursi make up. "Sedikit masalah. Salah satu model tak dapat datang untuk melakukan pemotretan. Aku tahu ia model yang tengah naik daun. Tapi bukankah ia harus profesional?"


"Apakah ada masalah yang menyebutkan ketidakhadirannya?"


Hanna menatap Julia sedikit lama. Lalu menggeleng pelan. "Managernya hanya mengatakan alasan sibuk, itulah kenapa ia tidak datang. Sangat tidak profesional. Aku kesal sekali."


"Bisakah kita pergi sekarang?" tanya Julia sambil berdiri. Moodnya sangat buruk hari ini.


Hanna pun mengangguk tanpa menukar pakaiannya. Ia mengikuti langkah Julia namun tertahan saat managernya memanggil namanya.


"Hanna, tunggu!"


Hanna menoleh dan Julia pun tanpa sadar ikut menoleh dan berhenti. Dia menatap manager Hanna sesaat lalu membuang pandangannya ke arah lain. Julia melihat poster di sudut ruangan. Poster yang berisikan wajah gadis cantik dengan senyum menawan. Dan hal ini baru Julia sadari, gadis itu adalah Lusi! Seketika tatapannya mendingin, ia mendengus dan kembali menatap Hanna yang berdebat dengan managernya dan salah satu orang yang penting di manajemen majalah tersebut.


"Tidak!" tolak Hanna tiba-tiba. Matanya tertuju pada Julia dengan tatapan tak setuju. "Kak, jangan mengganggunya. Kau tak boleh menyentuhnya. Dia wanita yang sangat berharga."


Pria berjas rapi yang merupakan manajer Hanna tak mempedulikan penolakan Hanna. Matanya saat ini jelas meneliti tubuh ramping Julia dan menelisik lebih dalam dengan tatapan Julia. "Ya tuhan, Hanna, kenapa kau tak bilang kalau kau datang bersama teman modelmu."


"Kakak, dia bukan model!" bantah Hanna keras. Dia mendekati Julia dan menarik tangan Julia. "Julia, ayo pergi."


"Tunggu, Hanna! Nona, nona,.."

__ADS_1


"Julia akhirnya berhenti saat satu tangannya tiba-tiba di tarik oleh manajer Hanna. Tatapannya mendingin dan terdiam, ia hanya menatap datar pria yang diketahuinya sebagai manajer Hanna.


"Ah, maaf nona. Maaf saya tidak sengaja. Sebelumnya mari saya perkenalkan diri saya terlebih dahulu. Nama saya Harry, manager Hanna, dan dia, Vivian dari SM agency." tunjuk Harry pada seorang wanita yang telah mengikuti mereka yang sedari tadi berdebat. Kini wanita itu mendekat dan ikut meneliti Julia.


"kak, aku sudah peringatkan! Dia wanita yang spesial. Dia bukan wanita yang bisa kau sentuh!" tekan Hanna tak setuju.


"Hanna, apa masalahnya?" tanya Julia ingin tahu,


Hanna menatap Julia segan. "Jadi salah satu fotografer kami tak sengaja melihatmu duduk di ruang make up, dan entah bagaimana ia menggerakkan tangannya untuk mengambil gambarmu. Lalu fotografer itu memperlihatkan fotomu kepada mereka, manajerku dan juga atasan dari majalah SM. Mereka berpikir kau bisa menggantikan model yang tidak hadir hari ini."


"Aku Vivian." ucap wanita yang sedari tadi memperhatikan Julia. "Mataku tak akan salah pilih dalam menilai seseorang. Nona, bisakah kau membantu majalah kami untuk menggantikan model yang tak bisa hadir? Kami akan memandumu dalam berbagai hal agar kau tak menghadapi kesulitan. Tentu kami akan membayar anda, yah..walaupun tidak sebesar dari model yang seharusnya hadir. " Vivian mengulurkan tangannya dan ia berusaha untuk menjabat tangan Julia dengan senyum manis merekah. Saat perkenalan singkat itu selesai, ia memberikan kartu namanya pada Julia.


"Aku Julia." jawab Julia saat menjabat tangan Vivian. Dia pun mengulurkan tangannya pada Harry dan menyebutkan namanya.


Hanna tertawa pada penjelasan Vivian. Dia mencibir lalu berkata, "Apakah di matanya uang yang kalian tawarkan itu membuatnya terlena? Nona Vivian, dan manajerku Harry, dengarkan baik-baik. Dia adalah Julia, Julia Brasco. Dan perlu kalian ketahui kenapa aku tidak setuju adalah karena namanya telah berubah. Dia adalah Julia Lunox, istri dari presiden Maxilian Jade Lunox!"


Keheningan tercipta. Harry menatap Julia kaku dan langsung menoleh ke arah Hanna untuk memastikan kata-katanya. "Hanna, coba ulangi kata-katamu. Dia siapa?"


"Dia istri dari ceo muda yang kau hormati dan takuti." ujar Hanna tanpa ragu.


Vivian langsung menjabat tangan JUlia cepat. "Nona, aku lancang. Aku tak tahu anda adalah nyonya muda Lunox."


Harry pun menundukkan kepalanya berkali-kali. "Nyonya, maafkan saya. Saya tak tahu kalau Hanna datang bersama nyonya muda. Kumohon maafkan saya."


Namun Julia tetap berdiri tanpa bergerak sedikit pun. Matanya menatap Harry dan Vivian yang nampak ketakutan. "Mari lakukan."


"Apa?" ujar Harry dan Vivian bersamaan.


"Julia." kini Hanna yang terkejut.


Julia menatap Harry dan Vivian bergantian. "Mari lakukan. Siapa lawan pemotretanku? Hanna? atau.."


"Ya, ya, tentu saja, ayo lakukan nyonya." potong Harry terlalu bersemangat. "Nyonya muda, aku berjanji kau tak akan kelelahan. Lewat sini.."


"Tunggu! Julia.." cegah Hanna tak setuju. Dia tak menyangka Julia menyetujui ide gila manajernya. Menjadi seorang model tidaklah mudah. Apalagi bagi kalangan biasa yang belum pernah menyentuh dunia itu. Meski begitu, melihat Julia yang tengah diseret Vivian dan Harry dengan hormat, dia pun akhirnya mengikuti.


Julia kembali duduk di ruang make up ditemani oleh Hanna. Bedanya kali ini Julia yang tengah duduk menghadap cermin, sedangkan Hanna yang duduk menunggu tim mendandani Julia. Seluruh kru bahkan langsung tahu siapa Julia dan tak ada satupun yang berani melakukan kesalahan. Seluruh keperluan Julia disiapkan dengan baik bahkan sang fotografer pun tampak bersemangat.


"Julia, aku benar-benar akan dibunuh sepupuku kalau dia tahu aku membiarkanmu melakukan ini."

__ADS_1


"Tidak akan. Selama kau menjagaku dengan baik, dia tak akan membuatmu sulit."


Hanna mendengus sebal. Dia pun menunggu dengan setia sekaligus menjaga Julia dari segala gangguan. Tiga puluh menit kemudian, Hanna sangat terkejut. Julia, bagaimana ia bisa berubah secantik ini di bawah tangan para profesional make up.


Tidak menunggu lama, para kru mempersilahkan Julia memasuki ruang pemotretan dengan cahaya lampu yang tepat menyinari sosoknya. Salah satu kru menjelaskan bagaimana ia harus bergaya dan konsep apa yang tengah mereka rancang.


Mendengar itu semua, Julia menganggukkan kepalanya mengerti meski tak banyak bicara. Bagi setiap mata yang memandang, Julia terlihat sangat sombong karena mereka yakin, Julia tak tahu sama sekali dan menganggap remeh semua ini.


"jadi ini konsep oriental look?" tanya Julia pada intinya.


Kru pemotretan menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan. "Bagaimana jika kita lakukan pemotretan satu persatu terlebih dahulu? Nyonya bisa melihat Hanna terlebiih dahulu agar.."


"Itu tak masalah. Biarkan aku mencoba sendiri terlebih dahulu." jawab Julia sangat yakin. Dia tersenyum tipis saat tahu konsep yang mereka ambil adalah oriental look. Dan kini ia tahu, kenapa mereka menginginkan Lusi untuk berada di bawah naungan mereka. Karena mereka pikir, wajah dan bakat Lusi sangat cocok dengan konsep mereka.


"Julia, apa yang kau lakukan? Ini tidak mudah." jelas Hanna sedikit khawatir. "Apa kau pernah belajar permodelan sebelumnya?" tanyanya hati-hati dengan sedikit berbisik.


"Julia menoleh dan tersenyum. "Kau tak perlu khawatir. AKu akan memberikan yang terbaik untuk iklanmu."


Hanna terbelalak dengan keyakinan Julia. Hingga tak ada pilihan lain. Semua orang berkumpul di belakang untuk ikut menyaksikan nyonya muda Lunox bergaya di depan kamera. Beberapa orang merasa antusias, namun tak sedikit yang mencibir kepercayaan diri Julia. Bahkan terdengar suara lirih dari beberapa orang di sana.


"Sombong sekali. Apa karena dia nyonya muda Lunox hingga membuat kita semua tak mempunyai pilihan lain. Jika dibiarkan seperti ini, sudah dipastikan kita akan kerja lembur hari ini."


"Make up nya sudah sempurna hingga wajahnya tampak seperti wajah asia. Mungkin itu yang membuatnya percaya diri. Kau tak akan tahu bagaimana kehidupan para konglomerat, mereka memang suka bermain-main tanpa memikirkan sekelilingnya."


"Aku yakin nona Hanna sudah mengajarinya. Ayo kita lihat, bagaimana nyonya besar itu akan merengek dan meminta pulang karena kelelahan."


Julia tak mempedulikan suara-suara yang sangat jelas terdengar. Dia hanya menatap Hanna yang mundur dan dia bergeser sedikit ke tengah. Tak jauh dari tempatnya saat ini, sebuah bangku kayu yang berhiaskan bunga bambu di sampingnya begitu menarik perhatiannya. Ia berjalan, mendekat, dan tersenyum menatap perabotan itu. Lalu ia menatap pada kamera yang menyoroti seluruh tubuhnya dan entah mengapa hatinya begitu berdebar-debar. Dia merasa sangat hidup saat dihadapkan pada dunia yang dirindukannya. Matanya berbinar dengan tatapan sayu dan teduh, seperti sedang mengingat seseorang yang dirindukannya. Membuat wajahnya bersemu merah dengan ekspresi malu-malu namun tak ingin ditinggalkan. Dan saat itulah, sang fotografer menggerakkan tangannya beberapa kali dengan girang.


Semua orang terpaku saat melihat ekspresi Julia di depan kamera. Gaun merahnya sangat melekat di kulit putihnya yang pucat. Dengan background langit terang dengan perabot kayu usang, membuat sosok Julia sangat cantik bagai peri. Mata hitamnya tampak berkilauan seperti bintang di angkasa. Wajahnya bersemu merah dengan bibir yang sedikit tersungging. Tubuhnya terdiam, namun seluruh ekspresinya benar-benar menunjukkan kecantikan oriental.


"Perfect!" teriak sang fotografer dengan girang.


Julia menggerakkan tangannya ke depan, melangkahkan kakinya sedikit dengan tatapan penuh cinta namun matanya memperlihatkan sebuah luka. Konsep kecantikan oriental tak hanya menjelaskan keluguan sang gadis asia, namun juga harus dapat menghipnotis dengan keluguannya itu. Tatapan penuh luka, terpancar jelas, hingga dapat menggerakkan hati manusia yang melihatnya. Bahkan seluruh manusia yang melihatnya terpukau hingga tak ingin pergi meninggalkannya.


Semua orang tertegun. Mereka bagaikan melihat keajaiban dunia di dalam tatapan mata Julia. Jika tadi mata Julia berbinar penuh cinta, kali ini dalam hitungan detik, mata hitam itu terlihat rapuh dan dingin. Ekspresi kecewa namun tanpa derai air mata membuatnya nampak seperti peri. Julia membayangkan bagaimana kekasihnya yang berada di hadapannya ini membuatnya merona hingga ia menggerakkan tangan dan kakinya melangkah. Ia ingin meraih kekasihnya di antara rasa kecewa. Ada rasa cinta menggebu, namun juga rasa kecewa yang hadir bersamaan.


Melihat itu Hanna, Harry, dan Vivian begitu pun juga semua kru lainnya membeku. Mereka tak tahu bagaimana caranya Julia dapat melakukannya dengan begitu mudah. Gadis itu dapat menuruti semua kemauan Fotografer dengan sangat cepat. Dalam hitungan detik, Julia dapat merubah setiap ekspresi yang diinginkan sang fotografer. Bagai tersihir, mereka semua bahkan sampai tak menyadari bahwa sang fotografer telah meminta lebih dari cukup pose model dalam berbagai gaya. Dan selalu terdengar kata 'perfect' di setiap sesion nya. Sang fotografer sangat puas dengan hasilnya.


Vivian menatap Julia dengan mata berbinar. "Aku benar-benar menemukan sebongkah berlian."

__ADS_1


Harry menyenggol lengan Hanna pelan. "Hanna, kau yakin dia tak pernah mengikuti kelas modeling? Bagaimana dia bisa mengikuti setiap permintaan fotografer yang tak biasa."


Hanna menampilan wajah pucatnya. Dia lebih memikirkan ekspresi kemarahan Maxilian bila dia tahu kalau dia menjadikan istrinya obyek tontonan semua orang. Ia menoleh menatap Harry. "Aku yakin dia tidak pernah sekolah modeling. Akupun terkejut kenapa dia bisa seprofesional itu."


__ADS_2