Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Sama-sama Malu


__ADS_3

Beberapa saat kemudian bel apartemennya berbunyi. Maxilian keluar untuk membuka pintu. Jack menatap Maxilian datar, saat Maxilian menyuruhnya masuk.


"Aku menyuruhmu membawanya ke rumah sakit untuk perawatan selanjutnya. Kenapa kau harus memanggilku kemari?" tegur Jack sedikit kesal.


Maxilian melangkah di depan Jack untuk masuk ke dalam kamarnya. "Kau terlalu banyak bicara."


Jack duduk dan mengedarkan penglihatannya di seluruh ruangan apartemen. "Di mana istrimu?


"Itu," ucap Maxilian ragu.


"Maxilian, racun itu tidak dapat diremehkan. Kondisinya bisa makin buruk kalau tidak segera ditangani. Kau ingin istrimu selamat bukan? Jadi biarkan aku melihatnya."


"Dia tertidur."


Kening Jack mengkerut. "Tidur?"


"Hem," angguk Maxilian. Dia buka pintu kamarnya dan mempersilahkan Jack masuk. "Masuklah."


Ruangan kamar itu nampak sunyi. Dia atas tempat tidur Julia terlelap dengan sangat nyenyak sampai tak menyadari orang lain masuk ke kamar itu. Jack ingin melihat keadaannya, jadi ia mendekati Julia yang terlelap.


"Jangan membangunkannya." peringat Maxilian dengan nada tegas. Matanya tak lepas dari gerak jack yang mencoba untuk mendekati istrinya.


Jack melihat lekat Julia, dan sangat jelas tanda merah di leher Julia. Dia berbaik menatap Maxilian yang terlihat canggung. "Dia pasti kelelahan. Jika dia sudah bangun, cepat bawa ke rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut."


"Aku ingin bicara di luar."


Jack menurut dan keluar kamar. Maxilian menutup rapat pintu kamar setelah mereka beranjak keluar. Lalu kembali ke ruang tamu dan duduk di sana. Di sinilah saat ini mereka, duduk saling berhadapan dengan pandangan yang sangat serius.


"Apakah keadaannya buruk?" tanya maxilian hati-hati.


Jack mendes*h. "Apa kau menemukan sesuatu yang aneh saat dia bangun pagi ini?"


Maxilian mengerutkan keningnya dan mencoba mengingat.

__ADS_1


"Apakah dia merasakan sakit dan mengeluarkan darah? Atau ia mengeluh.."


"Iya." potong Maxilian. "Itu, dia.."


"Biarkan aku memeriksanya." ucap Jack kembali berdiri untuk memeriksa Julia.


Namun Maxilian bergerak cepat untuk mencegah Jack pergi. "Tidak! Aku tak mengijinkan."


"Maxilian." tegur Jack kesal karena sikap Maxilian yang tak kooperatif.


"Tidak!" tatapan dingin Maxilian menghujam. "Aku akan membawanya bertemu denganmu saat kondisinya membaik."


"Apa maksudmu?" tanya Jack curiga.


Maxilian diam sesaat dan mulai kebingungan. Dia bingung bagaimana harus menjelaskan pada jack, Julia yang sudah berjalan. Dan mana mungkin dia membiarkan Jack memeriksa keadaan inti tubuh Julia. Tidak! Tidak akan pernah ia mengijinkan.


"Maxilian."


"Itu," maxilian nampak ragu dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia menatap malu ke arah jack. "Dia tak bisa berjalan. Maksudku, dia, aku, kami.." entah bagaimana ia melanjutkan penjelasannya.


"Apakah ada obat untuk itu?" tanya Maxilian ragu. Sedikit penjelasan namun dapat dipahami jack ini, membuat Jack kembali duduk di tempatnya.


"Aku baru tahu kau seliar ini." sindir Jack pada Maxilian


Jack yang selalu melihat maxilian bersikap dingin benar-benar tak menyangka kalau dirinya bisa seliar itu saat berhubungan dengan wanita. Sampai membuat istrinya tak bisa berjalan. Tidak hanya terkejut dengan kabar pernikahan tiba-tiba, tapi informasi ini membuatnya hampir tak percaya.


"Seberapa parah lukanya?" tanya Jack santai.


"Ehm, dia kesulitan berjalan. Tidak, tidak, tapi untuk bergerak saja dia kesakitan." ungkap Maxilian sedikit malu.


Kening Jack mengerut prihatin. "Aku akan memberikan resep obat, kau bisa menebusnya nanti."


Maxilian menerima resep obat itu dan kembali bertanya. "Apakah dia akan baik-baik saja?"

__ADS_1


Jack menoleh. Dia tertegun melihat Maxilian begitu mengkhawatirkan seorang wanita. Dan ini bukanlah Maxilian yang ia kenal sebelumnya. Dia bahkan tidak melihat kemarahannya saat dia mengkritik pedas padanya.


"Itu adalah pengalaman pertamanya, aku takut kalau dia.."


"Oleskan dengan hati-hati. Dan jangan kembali menyentuhnya sebelum dia benar-benar sembuh. Pastikan pusakamu itu kau kurung baik-baik agar tak menusuknya dulu sebelum dia siap." Dia merasa prihatin dengan keadaan istri temannya itu. Dan dia sedikit jengkel dengan sikap Maxilian yang tak dapat mengendalikan diri.


Maxilian tak mengindahkan ucapan Jack dan membiarkannya pergi begitu saja. Dia melihat resep obat itu dan kemudian pergi membeli secara pribadi.


**


Malam ini Julia terhenyak saat dia baru bangun di malam hari. Membuka matanya pelan dan mendapati Maxilian tengah duduk tak jauh dari tempat tidurnya dan terus menatap kearahnya. Pria itu tak menampilkan banyak ekspresi. Sosoknya hanya duduk dengan satu tangan menyangga kepala dan satu kaki ditumpukan ke kaki yang lain. Aura dingin sangat menguar, namun ketampanannya tetap yang paling mendominasi. Mata coklat itu menatapnya lekat.


Saat melihat pria itu tak bergerak, dia bahkan mengira bahwa maxilian lebih pantas menjadi patung dewa kuno yang digambarkan dengan ketampanan yang luar biasa. Namun saat melihat kelembutan terlintas pada pandangan matanya, entah kenapa itu membuatnya bergidik ngeri. Maxilian yang ia kenal bukanlah orang yang lembut. Tapi hari ini ia menemukan banyak perhatian yang ditujukan untuknya.


Julia hanya diam tak bergerak saat tatapan Maxilian tertuju padanya. Melihat pria itu diam, dia hanya berpikir satu hal. Pria yang menjadi suaminya ini benar-benar tampan. Wajah rupawan, leher kokoh, perut berotot dan bagian inti yang memuaskan.


Julia menahan nafas saat kata-kata terakhir yang ia pikirkan itu menghempaskan lamunannya. Beberapa bayangan kini muncul dan membuat wajahnya memerah. "Tidak! Tidak mungkin aku seganas itu. Aku seperti seorang ja*ang. Kenapa dari sekian banyaknya ingatan, kenapa yang paling ia ingat adalah bagian inti tubuhnya? Angel, kau benar-benar mesum."


Julia memejamkan matanya tak nyaman saat perlahan ingatan-ingatan kejadian itu makin jelas. Bagaimana saat ia dengan berani mencium Maxilian dan memanggil nama Maxilian dengan nada penuh ga*rah.


"Ya tuhan, Angel! Kau benar-benar ja*ang!" batinnya berteriak.


Lalu ingatan lain lagi menghampiri. Tentang dia yang tak peduli terhadap pertanyaan Maxilian terhadap penyesalan dirinya nanti. Yang ada di pikirannya saat itu hanyalah agar Maxilian segera memasuki dirinya. Dia hanya ingin Maxilian memuaskannya.


Lalu ingatan tentang Maxilian yang pertama kali memasukinya terlintas. Rasa sakit tak tertahan dan kata-kata menenangkan, hingga rintihan yang keluar dari mulut mereka berdua hingga puncak kenikmatan. Tak hanya itu, ingatan tentang dia yang dengan berani menciumi seluruh tubuh Maxilian pun muncul. Bibirnya dengan berani meninggalkan jejak merah di atas perut yang pernah ia hina. Bahkan tangannya bergerak liar menyentuh bagian inti tubuh Maxilian.


"Ya tuhan, Julia. Apakah ini dirimu yang sebenarnya atau jiwa Angel yang memang liar. Aku rasanya ingin menenggelamkan diriku ke dasar bumi." batin Julia berteriak. Wajahnya memerah dengan hembusan nafas yang berat.


Bayangan benda milik Maxilian yang ia sentuh bahkan masih dapat ia rasakan jelas. Membuatnya kian malu saat ia ingat bahwa ia merasakan benda itu dengan mulutnya. Dia sampai tak dapat berkata apa-apa lagi.


Kini ia mengerti maksud dari ucapan Maxilian tentang meminta pertanggungjawabannya. Tapi bukankah itu tak adil? Pria itu juga sangat liar dan menikmatinya. Kenapa harus dia seorang diri yang bertanggungjawab? Bukankah seharusnya wanita yang meminta pertanggungjawaban? Kejadian ini seolah olah dirinya adalah orang yang paling jahat.


Julia memejamkan matanya frustasi. Kali ini dia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Namun lamunannya terhenti saat suara itu terdengar.

__ADS_1


"Kau baik-baik saja?"


__ADS_2