
Di rumah utama keluarga Zhao, terdengar rintihan dari mulut Lusi yang begitu menyayat hati. Lusi yang saat ini tengah terikat tubuhnya nampak sangat mengenaskan. Aaron sengaja mengikat tubuh Lusi di kursi yang saat ini diletakkan di hadapannya dan Julia.
Tubuhnya makin kurus, kotor, berkeringat dan mulai mengeluarkan bau tak sedap. Rambut panjangnya yang selalu tergerai indah saat ini berserakan di lantai karena Aaron telah mengguntingnya. Dan Aaron tertawa girang saat melihatnya yang begitu mengenaskan.
Kedua pipi Lusi nampak sangat bengkak karena Aaron selalu menamparnya dengan keras tiap beberapa jam. Pria gi*la itu bahkan meluapkan hasratnya kepada Lusi hingga tubuhnya benar-benar remuk. Namun saat ini hal yang membuatnya makin marah adalah sosok wanita cantik yang tengah duduk menikmati makan malamnya dengan Aaron. Sedangkan dia, hanya menelan ludah melihat berbagai macam makanan itu.
"Angel..Angel.." panggil Aaron sambil mendekati Julia.
Dua pengawal yang disewanya segera bertindak untuk mencegah Aaron mendekati Julia. Membuat Aaron mengerut tak suka. Julia hanya tersenyum lembut memandang ekspresi tak suka Aaron.
"Aaron, nikmati makananmu."
"Angel, siapa mereka?"
Julia menoleh ke belakang sejenak dan tersenyum. "Apa kau lupa? Kau sendiri yang menyewanya untuk melindungiku dari gadis jahat itu."
Julia meletakkan sumpitnya dan berhenti dari kegiatan makannya. Tatapannya jatuh pada tubuh Lusi yang sedang terikat. Dia tersenyum tipis seakan menertawakan penderitaan Lusi.
"Apakah Lusi pernah menyakitimu?" tanya Aaron sambil menggeserkan tempat duduknya.
"Aaron, kau tak lupa janjimu kan? Kau tak akan mendekatiku sebelum kau membereskan wanita itu. Ya, wanita itulah yang membawa penderitaan untuk kita. Karena dia juga kita berpisah. Bahkan kau pun ikut menyakitiku."
Setetes air mata lolos membuat wajah Julia nampak sangat menyedihkan. Aaron kembali berwajah sendu.
"Iya, aku tahu, aku tahu. AKu memang kejam padamu. Dan semua itu karena hasutan wanita licik itu. Aku berharap dapat memperbaiki semuanya. Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi."
"Kembali seperti dulu lagi? Tentu saja. Bahkan kau yang akan mengelola seluruh warisan orang tuaku."
Aaron tampak berseri dan tatapan penuh semangat. Lalu ia mengangkat sumpitnya dan kembali memakan makanannya dengan lahap. Sedangkan Julia, menatap keduanya dengan rasa jijik yang terlintas samar di matanya.
"Bodoh! Kau pria bodoh!" ucap Lusi lirih. Matanya menyorot ke arah Julia dan Aaron bergantian. "Dia bukan Angel! Kau sudah di bodohinya! Dia Julia! Bukan Angel!."
Julia tertawa keras mendengar teriakan Lusi. Aaron kemudian menatap ke arah Julia dengan bingung.
"Aaron, ingatkah kau? Beberapa tahun yang lalu, tepat di hari kelulusanku, kau mengajakku makan malam di sebuah villa. Kita makan malam romantis di sana. Lalu hujan turun di tengah makan malam kita. Dan kita berlari dengan bergandengan tangan mencari tempat berteduh. Saat itu kita berteduh di sebuah gazebo kecil di dekat pohon cemara. Dan saat kita berteduh, kau mengatakan bahwa kau ingin segera menikahiku dan ingin segera memiliki anak-anak yang lucu denganku. kau bilang bahwa hanya akulah yang pantas menjadi ibu dari anak-anakmu."
Lusi memberontak. "Bohong! Dia bohong! Aaron, percayalah padaku!"
Kebimbangan Aaron sirna setelah mendengar kata-kata Julia. Apa yang dikatakan Julia adalah benar, dan tidak ada seorang pun yang tahu dengan detail kejadian itu. Karena kejadian itu tak diketahui orang lain selain mereka berdua. Kemudian Aaron menatap Lusi dengan sengit.
__ADS_1
"Aaron lihatlah. Wanita itu selalu menghasutmu agar selalu membenciku. Dia pasti takut kalau kita kembali bersama. Sejak awal dia memang ingin merebutmu dariku karena kaulah yang memegang kuasa atas hartaku. Setelah dia mendapatkan semuanya, dia segera meninggalkanmu dan menikahi Maxilian.
"Hentikan!" teriak Lusi dengan tatapan tajam. "Dia bohong!"
"Aaron, apakah dia lebih cantik daripada aku? Hingga membuatmu tergoda dan mencampakkanku? Kecantikannya itu telah membawa malapetaka dalam hidup kita."
Aaron mengangguk tanpa sadar. Saat ini orang yang paling ia percaya adalah Angel. Lalu tanpa sadar, ia berdiri dan bergumam. "Kecantikannya membawa malapetaka. Angel tak menyukainya."
"Tidak Aaron...Tidak."
Lusi makin bergerak hingga mmebuat kursi yang ia tempati bergeser. Ia mencoba memberontak untuk melepaskan diri saat melihat Aaron berjalan ke arahnya sambil mengeluarkan pisau kecil yang tajam. Entah sejak kapan Aaron menyimpannya, yang ia pikirkan saat ini adalah berusaha melarikan diri.
Teriakan Lusi makin menjadi saat Aaron meraih rambutnya dengan kasar. Lusi berteriak kesakitan dan Aaron mengeluarkan tawa yang mengerikan saat melihat Lusi yang kesakitan. Tubuh Lusi yang lemah terus berusaha untuk memberontak saat pisau kecil itu mengarah ke wajahnya. Rasa dingin dari pisau kecil itu terasa saat mulai menempel di pipinya. Ujung pisau yang runcing terlihat dari ekor matanya dan membuat tubuhnya bergetar. Kepalanya menggeleng pelan dengan tatapan penuh permohonan kepada Aaron.
"Aaron..jangan..kumohon.. Kau tahu kan kalau aku sangat mencintaimu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu." ucap Lusi dengan tubuh bergetar ketakutan. Matanya melirik kepada Julia. "Julia, hentikan dia. Kumohon hentikan Aaron. Aku berjanji tak akan mengganggumu dan Maxilian lagi. Aku akan pergi jauh. Julia, Aahhhkkk!!!"
Selanjutnya hanya terdengar teriakan nyaring dari mulut Lusi saat ujung pisau itu menggores pipinya. Darah menetes deras.
"Kecantikan yang membawa malapetaka. Kecantikanmu membawa luka untuk kekasihku." gumam Aaron tanpa rasa bersalah.
Julia tersenyum puas dengan menepukkan kedua tangannya. Dia benar-benar menikmati ekspresi ketakutan dan teriakan kesakitan dari mulut Lusi.
Lusi merasakan sakit yang teramat pedih. Tubuhnya ingin berlari namun sayangnya ikatan kuat itu membuatnya tinggal. Dia hanya bisa menangis dengan segenap penyesalan. Di saat tak ada satu pun suara yang keluar dari bibirnya, lagi, pisau tajam Aaron kembali melintas. Aaron menggoreskan ujung pisau itu ke leher jenjang Lusi dengan sangat cepat. Hingga darah segar menyembur kuat mengenai tubuh Aaron. Membuat pandangannya kian kabur dan gelap perlahan datang.
"Wau..Aaron, kau memang hebat." puji Julia puas.
Aaron tertawa kecil. "Angel, apakah kau senang? Apakah aku harus mengulanginya lagi?"
Julia menggeleng. Baru saja ia akan berbicara, sebuah suara yang familiar terdengar nyaring di seluruh ruangan.
"Julia! Julia! Julia...!"
Aaron dan Julia menoleh bersamaan saat suara itu kian mendekat. Maxilian tertegun saat tiba di sana dan pemandangan pertama yang dilihatnya adalah Aaron yang tengah berlumuran darah. Dia berlari dan dengan sigap meraih tubuh Julia lalu mendekapnya.
"Kau baik-baik saja? Apa kau terluka? Menjauhlah darinya. Dia sudah gi*la." peringat Maxilian.
Aaron yang melihat itu tertegun. Rasa benci menguar saat melihat saudara tirinya memeluk kekasihnya. "Angel..apa benar yang dikatakannya? Kau adalah Julia? Kau... dan saudaraku, kalian, bagaimana mungkin... Aaahhhkkkk!!!!!"
Belum selesai perkataan Aaron, dia sudah berteriak kencang sambil menggaruk wajahnya. Rasa gatal merayap di seluruh wajahnya. Julia melepaskan diri dari pelukan Maxilian dan melihat jelas bagaimana Aaron menggaruk wajahnya dengan keras hingga melukai kulit wajahnya. Tidak hanya itu, kuku-kuku Aaron juga mengarah ke bagian mata seakan ingin mencongkel kedua bola matanya. Seluruh wajahnya terluka akibat goresan dari kuku-kukunya hingga mengeluarkan darah dan terlihat daging putih di setiap luka.
__ADS_1
Maxilian terpaku, Dia tahu racun itu, tapi dia tak pernah melihat secara langsung. Dia bergidik ngeri saat melihat Aaron tampak berteriak kesetanan namun masih berusaha mencongkel bola matanya. Aroma busuk keluar dari setiap lukanya. Tanpa sadar tangan Maxilian menutupi mata Julia.
"Jangan dilihat, itu sangat menjijikkan."
Aaron ambruk dan menggelepar dengan terus melukai seluruh wajah dan bola matanya. Cengkeraman kukunya sangat dalam hingga mengeluarkan daging dari tempatnya. Aaron mengerang kesakitan hingga akhirnya ia mengejang dengan mulut mengeluarkan busa merah. Akhirnya Aaron menghembuskan nafas terakhirnya dengan mata terbelalak yang penuh darah. Aroma busuk begitu menguar dari tubuhnya.
Maxilian tanpa sadar meraih pinggang Julia dan menariknya mundur. "Julia, dia sudah mati dengan cara yang mengenaskan."
Julia menepis tangan Maxilian dari pinggangnya. Berjalan mendekati mayat Aaron dan berkata. "Aaron, kau mati karena kata-kata manis dariku. Begitulah diriku yang dulu. Mati mengenaskan karena kata-kata manismu. Kali ini kita impas. kau bahkan sudah membalaskan dendamku pada kekasih gelapmu, Lusi."
Berbalik, Julia melihat Lusi dan tersenyum. "Kau sudah malakukan apa yang sudah kau katakan tadi. kau bilang kalau kau ingin pergi jauh dariku. Namun sayangnya kau pergi terlalu mudah. Lusi, ini tidak seberapa untukmu karena kau mati di tangan Aaron. Andai tanganku sendiri yang mengambil alih, tentu kau akan merasakan yang lebih dari ini."
Berbalik, Julia menatap dua orang bodyguard yang disewanya. "Kalian, bawa mayat-mayat ini ke sarang buaya. Pastikan tubuh ke dua orang itu menjadi santapan makan malam untuk para buaya. Lakukan perintahku dan segera pergi dari sini. Ambil cek di atas meja itu sebagai bayaran kalian. Tulis saja nominal yang kalian inginkan."
Dua orang bodyguard itu bergegas menjalankan perintah Julia. Menyeret kedua mayat itu dan segera membawanya ke kandang buaya. Kali ini dendam seluruh dendam Angel telah terselesaikan.
Kembali pada maxilian dan Julia. Keduanya saing berpandangan cukup lama dengan ekspresi yang rumit. Maxilian maju dan berusaha berbicara.
"Julia...aku,"
"Aku tak ingin bertemu denganmu! Pergi kau dari hidupku!"
Mendengar itu Maxilian tak terkejut. Dia terus berjalan mendekat dan berusaha merengkuh tubuh Julia dengan lembut. "Julia, aku merindukanmu. Julia ataupun Angel... aku tak peduli. Kau benar-benar wanita yang kuat. Kau wanita yang tangguh karena berani menghadapi segalanya sendiri. Kau benar-benar istriku yang hebat."
"Apa?"
"Tak apa jika kau tak ingin pulang ke Las Vgas dan ingin menetap di cina. Aku akan mengikuti apapun keinginanmu. Aku tak akan pernah melarang apapun yang ingin kau lakukan. AKu akan terus menemanimu dimanapun kau berada. Dan aku akan menjadi batu pijakan sekaligus perisai dalam kehidupanmu."
"Maxilian, apa kau mabuk?"
"Aku hanya minta satu hal darimu. jangan tinggalkan aku. Jangan pisahkan aku dari bayiku. Angel...Julia... aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Aku bisa mati bila kau meninggalkanku. Jangan.."
"Hentikan! Lian, kau benar-benar sudah gila. Mana mungkin aku bertahan dengan pria sepertimu."
"Maka aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Julia, saat ini aku sudah mengemis cinta padamu, kau sudah benar-benar mendapatkanku. Jadi kau tak perlu lagi menangis di setiap malammu karena merindukanku."
Julia terkesiap. Bagaimana pria ini tahu bahwa setiap malam ia selalu menangis karena merindukannya. Bahkan selalu menyebut namanya sambil mengelus perutnya. Entah bagaimana menggambarkan perasaannya, namun hidupnya terasa hampa saat berjauhan dari pria ini. Seperti ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya. Dia sangat kesepian dan membutuhkan pelukan maxilian tiap malamnya.
"Lian...aku,"
__ADS_1
"Aku tahu. Aku tahu semuanya. Julia, kau ibu dari bayiku. Dan Angel, kalian adalah wanita yang sama. Dan aku benar-benar mencintaimu."
Julia tertegun dan diam saat Maxilian kembali memeluk tubuhnya. Dia menangis terharu saat merasakan pelukan hangat suaminya yang selalu ia rindukan setiap malam. Apakah ia akan bahagia hidup bersama pria ini? Benarkah dia akan mendapatkan apapun dari pria ini? Dia rasa, tidak salahnya memberikan pria ini kesempatan untuk membuktikan janji-janjinya.