
Besok libur dulu ya.. Kondangan sodara
*****************************************************************
Julia menatap pintu di depannya sekali lagi dan berkata dengan cukup keras. "Janet, hentikan! Kau tak berpikir aku akan masuk ke dalam jebakanmu dengan mudah bukan?"
Hening untuk sesaat, tapi kemudian sebuah pergerakan terdengar dari arah pintu belakang. Membuat kepala Julia menoleh pelan. Melihat Janet yang keluar dengan wajah amarah dan dendam.
"Oh, kau akhirnya keluar." ujar Julia pelan. Tapi matanya jelas menatap lebih dalam. Dia ingin melihat bibinya.
Janet melangkah keluar dengan anggun. Namun jejak kemarahan dengan penuh kebencian terlintas jelas di matanya. Dia melihat Julia yang duduk santai dengan tenang. Seakan tak terganggu pada apapun. Dan hal itu kian membuatnya murka.
"Aku tak tahu sejak kapan kau jadi secerdas ini," maki Janet sinis. Dia berdiri dengan tangan tersilang di dadanya. "Kau bahkan terlihat sangat tenang."
Julia tertawa tipis. Dia melihat Janet sekilas. "Apakah itu menjadi masalah untukmu? Di mana bibiku? Aku tak melihatnya bersamamu."
Kali ini Janet yang tertawa. Dia melihat sekitarnya yang sepi kemudian kembali pada Julia. "Aku juga baru tahu kau sangat peduli pada bibimu. Julia, tidakkah kau ingat? Mereka adalah keluarga yang menyebabkan keluargamu tiada. Kupikir kau lupa, jadi aku akan mengingatkannya kembali."
"Jenet, waktuku tak banyak. Di mana bibiku?" tanya Julia tenang langsung pada inti.
Janet diam sesaat. Lalu kemudian melemparkan sebuah botol pada Julia. "Minum! maka aku akan memberitahu dirimu di mana bibimu berada.
Julia menangkap obat tersebut. Melihatnya lalu tertawa kecil. "Jadi ini rencanamu? Yah, kau terlalu berharap, aku tak akan meminumnya."
"Maka aku akan membunuh bibimu. Aku akan mencincang tubuhnya dengan pelan. Biarkan dia merintih kesakitan sampai menjelang kematiannya. Aku akan--"
"Tutup mulutmu!" potong Julia penuh penekanan. Darahnya mendidih saat mendengar itu semua. Tapi dia tetap tenang dan hanya melihat Janet yang tertawa senang. "janet, kau benar-benar gila."
Janet tertawa keras. Matanya menyipit lalu kemudian dia berteriak memanggil nama Julia.
"Julia!" dengan jari telunjuknya yang mengarah pada Julia dan matanya yang dipenuhi amarah. "Kau benar. Aku gila. Aku bisa gila jika melihatmu masih berkeliaran di sekitarku atau pikiran Jordan. Dia mengabaikanku dan selalu menyebut namamu di setiap pelepasan saat berc***a. Apakah kau tahu bagaimana rasanya?" tanyanya dengan nada sedih.
Julia terdiam, dia tertegun saat tahu sebuah kenyataan yang baru saja dia ketahui. Jordan menyebut namanya di setiap malam yang mereka lewati bersama? Apakah Jordan sudah gila? Meski sangat terkejut namun dia memilih untuk tetap duduk dengan menyandarkan punggungnya sambil mendengarkan semua perkataan Janet.
"Rasanya seperti seluruh urat nadiku tertarik dan diputus saat itu juga. hatiku bagai teriris dengan rasa perih yang begitu dahsyat. kau! kau adalah penyebab semua ini. Kesedihanku, luka hatiku, kesialanku dan semua kemalangan keluargaku! Semua karena dirimu!"
__ADS_1
"Kenapa aku?" tanya Julia terlihat tak peduli.
"Kenapa? Harusnya itu yang kutanyakan. Apa yang istimewa dari gadis bodoh sepertimu? Hingga Jordan meneriakkan namamu di setiap malam kami?"
"Aku tidak mencintainya. Janet, biar aku ingatkan, aku sudah menikah. Apa kau lupa?" ujar Julia dingin. Ada senyum tipis di sudut bibirnya,seperti kepuasan melihat Janet yang hampir putus asa.
Mendengar itu Janet tertawa. Matanya mengerut dan perlahan air matanya mengalir dalam tawa. "lalu kenapa jika kau menikah? Jordan tetap memikirkanmu meski dia tahu kau adalah milik keluarga Lunox. Oh, tapi setelah aku tahu bahwa hidupmu tak akan lama, aku menjadi sangat prihatin padamu."
Dia menepukkan tangannya beberapa kali karena girang. Melihat Julia yang diam, dia kembali melanjutkan. "Seseorang datang padaku dan mengatakan telah mengatur sebuah permainan untukmu. Dia ingin menyingkirkanmu dan meminjam tanganku untuk membereskan semua. Karena kupikir itu sangat menyenangkan, maka aku lebih dulu menawarkan diri untuk membantunya. Membantunya untuk menyingkirkanmu dari dunia ini."
Seseorang? kata itu membuat Julia berpikir."Siapa" tanyanya dalam hati
Melihat ketertarikan di wajah Julia, Janet tertawa. "Seseorang dari keluarga Lunox, suamimu! Apa kau terkejut? Tapi kau tetap harus mati di tanganku meski tak ada yang menyuruhku."
"Ahhhh," ucap Julia terkejut karena tiba-tiba Janet menerjangnya dengan sebilah pisau tajam. Mencoba menghindar dari terjangan membuat kursi yang dia duduki terbalik ke belakang. Kakinya berhasil menendang Janet namun itu tidak cukup keras.
"Biarkan aku membunuhmu! Aku akan membunuhmu!" Dia menerjang tubuh Julia sekali dan menarik kaki Julia yang sempat maju dan ingin melarikan diri.
Menoleh ke belakang, Julia melihat kakinya yang tertarik hingga bilah pisau tajam Janet itu memutuskan tali sepatunya. Matanya terbelalak saat melihat pada akhirnya sepatu mewah yang diberikan suaminya harus berakhir tragis. Membuat kaki putihnya kini terlihat jelas dengan luka gores ringan.
Bunyi sedikit keras lalu diiringi suara jatuhnya sebuah benda tajam terdengar. Julia menyeret kakinya untuk maju beberapa langkah dengan cepat. Tubuhnya bergetar pelan saat mengetahui bahwa seseorang telah sengaja mengatur semua ini untuknya. Terus merangkak, Julia kembali berteriak saat tiba-tiba Janet telah kembali menarik kakinya.
"Kau ingin pergi?" tanya Janet dingin.
Julia menggerakkan kakinya beberapa kali agar terlepas dari tangan Janet. Dia bahkan menahan rasa takutnya untuk menghadapi Janet yang terlihat menggila. Dia merasa takut untuk mati kembali. Tidak, dia tidak mau mati lagi!
Janet tertawa keras saat melihat jejak ketakutan di mata Julia. "Julia, apa kau takut? Katakan padaku bahwa kau takut. Ekspresimu sudah menjelaskan semua."
Tanpa bicara, Julia tak lagi mencoba menarik kakinya. Tapi dia menyeret tubuhnya untuk mendekati Janet. Tanpa aba-aba, dia meraih kepala Janet dan membenturkannya. Harusnya itu bekerja dengan baik. Dia tak harus mati di tangan orang yang sama. Janet adalah alasannya untuk bertahan hidup. Janet adalah dendamnya. Kalaupun dia mati, dia harus membawa Janet bersamanya.
"jika kau ingin aku mati, maka aku tak akan mati sendiri!" tekan Julia dingin.
Semua sangat cepat, Janet bahkan tak sempat bergerak menghindar saat benturan cukup keras membuat kepalanya berdenyut nyeri. Tangannya dengan refleks memegang kepalanya dengan mata terpejam. Merasakan kakinya terlepas, Julia mundur perlahan dengan mencoba memperjelas penglihatannya.
Julia terus mundur kemudian berdiri sambil bersandar pada meja. Prang! bunyi pecahnya sebuah guci karena tubuh Julia yang menyenggolnya. matanya menatap sekitar lalu jatuh pada Janet yang juga tengah menatapnya tajam. menggelang, dia terus mundur saat melihat Janet seperti tak dikenali.
__ADS_1
"Janet, hentikan!"
Janet tertawa dengan keras. "Aku tak membutuhkan tangan mereka untuk membunuhmu. Julia, aku sangat membencimu!"
Janet sedikit berlari hingga Julia pun langsung membalikkan tubuhnya untuk melarikan diri. Satu sepatu hak tinggi yang masih terpasang di kakinya membuat langkah Julia sulit melangkah. Namun matanya terbelalak saat menyadari ada seseorang berbadan besar telah berdiri tak jauh darinya. Tangan pria itu terangkat dan memukul bagian tubuh belakangnya hingga akhirnya tubuhnya ambruk tak sadarkan diri dan pria itu menangkap tubuhnya.
Langkah Janet sontak terhenti. Matanya terbelalak lebar dengan tangan melepaskan pisau tajam yang tengah dia genggam. Melihat tubuh Julia yang telah terangkat dan berada di pundak seorang pria besar, langkah kakinya tiba-tiba mundur.
"A-Aku," ucapnya tergagap. Dia mundur teratur. Tidak, dia tak bisa membiarkan rencananya kali ini gagal.
**
Sementara itu di dalam sebuah gedung dari yang Maxilian tinggalkan, empat sepupunya itu saling menatap satu sama lain. Lindsey adalah orang pertama yang berdiri mengikuti langkah Maxilian.
"Kakak, aku akan pergi lebih dulu untuk melihat kakek dan nenek."
Mendengar itu Rose mencibir. "Kau yakin itu tujuanmu?"
Lindsey menoleh dan tersenyum. "Aku ingin melihat wajah kakak sepupu yang terkejut." Lalu setelah itu dia pergi.
Rose melihat Carlen dan kemudian berdiri. "Aku akan mengurus sisanya." setelahnya dia juga pergi.
Harvey ikut menatap Carlen. "Apa yang kalian rencanakan?"
carlen tersenyum lebar. Menampilkan giginya yang bersih. "Itu hanya sebuah kejutan untuk kakak ipar."
Harvey tak mengatakan apapun saat Carlen berdiri dan meninggalkan gedung. Semua seperti berurutan pergi setelah Maxilian meninggalkan mereka. Hanya dia sendiri yang tengah duduk menikmati tempat duduk yang pernah Julia duduki.
"Dia," ucapnya tertahan lalu terkejut saat tiba-tiba kepulan asap tebal telah memenuhi ruangan. Membuat nafasnya sesak dengan jarak pandang kian terbatas. Berdiri mencoba pergi, namun tiba-tiba api telah membesar dalam waktu singkat.
Harvey mundur dan kemudian menyadari sesuatu. "Maxilian." ujarnya lirih. Ada rasa benci terlintas sebelum pada akhirnya ketakutan merayapi hatinya.
Dia tak pernah memikirkan ini sebelumnya. Kecepatan Maxilian dalam menangani masalah hingga membakar sebuah gedung dalam hitungan singkat. Membuat Harvey bergidik ngeri. Kekejaman dalam diri Maxilian sebanding dengan wajah tampan yang dimilikinya. Ini membuat kebenciannya makin mengakar.
Harvey menyusuri untuk mencari jalan keluar. Dia berusaha menyelamatkan dirinya sendiri. Namun kepulan asap pekat membatasi gerak tubuhnya. Saat akan beralih jalan, sebuah kayu yang terbakar jatuh dan menutup jalan keluarnya. Berteriak minta tolong hingga berusaha tetap bertahan sebisa mungkin, namun pada akhirnya api itu kian membesar dan mengunci dirinya.
__ADS_1
Saat semua api membakar seisi ruangan dan mengejar dirinya dalam ruang sempit, dia tak lagi memiliki jalan keluar. Perlahan api menyulut kain di tubuhnya lalu beralih menyambar tubuhnya. Berakhirlah hidupnya tanpa bisa berteriak untuk meminta pertolongan.