
Julia berhenti memberontak dan tiba-tiba memeluk tubuh Carlen pelan. Bibirnya berbisik lembut, "Apa kau yakin bahwa kau sebaik itu?"
Carlen terkejut pada perubahan Julia yang tiba-tiba. Dia melonggarkan pelukannya lembut. "Aku memang sebaik itu. Aku--?
"Sshhtt,"
Carlen tertegun. Bibirnya terkunci saat jari lentik itu berada tepat di bibirnya. Matanya menatap manik hitam di bawahnya yang tampak menggoda.
"Carlen biar kuceritakan ini padamu. Aku menderita sebuah penyakit yang menular. Hubunganku dan Maxilian tidaklah harmonis seperti yang terlihat. Kau ha-- hhmmpp.."
Dan saat itu tangan Carlen telah selesai memasukkan cairan dari dalam botol ke mulut Julia yang terbuka. Matanya berkilat penuh kemenangan. "Julia, apakah aku sebodoh itu di matamu?"
Julia mengangkat kedua tangannya menahan tenggorokannya. Rasa panas mengalir menusuk di setiap tulangnya. Dia mundur, terjatuh, meringkuk dan bahkan mulai menggeliat kesakitan. Dia merasa seluruh isi dalam perutnya sakit bagai teriris.
Melihat itu Carlen mengurungkan senyumnya. Wajah cantik yang memikat itu kini tampak kesakitan dengan keringat bercucuran dan urat nadi yang nampak menonjol. Tangannya terangkat, melihat botol kosong yang baru saja isinya dia tuang dalam mulut Julia.
"Aku tak tahu kalau reaksinya sampai sedahsyat itu."
Carlen menggenggam botol itu lalu menurunkan tangannya. Matanya menatap Julia dan terus memperhatikan reaksi wajah Julia yang tampak kesakitan. Dia tak tahu bahwa obat itu berefek sebesar ini. Meski begitu dia ingat tujuan obat ini. Di mana ia hanya harus memastikan Julia tetap bersamanya selama satu minggu agar seluruh efek obat berjalan dengan baik.
"Julia Brasco, sebesar apa keinginanmu hingga efek obat ini sangat terlihat."
Carlen ingat, dia pernah menggunakan obat ini sekali pada seorang wanita yang melukainya. Namun efek obat itu tak terlihat seperti yang terlihat pada Julia saat ini. Saat itu wanita itu hanya menggigil kedinginan hingga berlutut di kakinya untuk merasakan kehangatan. Lalu setelahnya gadis itu menjadi sangat liar karena panas di tubuhnya bagaikan lahar yang tertumpah yang menginginkan kebebasan dan kepuasan hingga pada akhirnya gadis itu mati karena tak mencapai apa yang diinginkannya. Dan kali ini, Carlen ingin melihat, sebesar apa keinginan seorang Julia hingga gadis itu terlihat sangat menderita,
Carlen akhirnya memilih duduk dan melihat Julia yang mulai mengerang kesakitan. Wajah cantik itu tampak berpeluh dengan kilatan mata merah membara. Ada desisan juga erangan tertahan yang masih bisa terdengar. Namun hal aneh yang terlihat di mata Carlen adalah tatapan penuh kebencian. Seakan menuntut suatu penjelasan tentang obat apa itu.
"Hahaha," tawa Carlen penuh kemenangan. Matanya mengunci wajah Julia lekat. "Kau tak perlu takut. Itu hanya racun ringan dengan rangsangan tingkat tinggi yang di dalamnya menyetarakan keinginan pemakainya. Semakin besar keinginan yang kau miliki, maka efeknya akan semakin besar. Dan jika kau tak mendapatkan pelepasan dalam tingkat kepuasan maksimal, maka satu persatu syaraf di otakmu akan putus. Dan pada akhirnya kau akan mati."
Julia melototkan matanya tak terima. Telinganya jelas bisa mendengar semua hal yang Carlen ucapkan. Dalam hidup ini keinginannya untuk hidup dan balas dendam sangat besar. Kepuasan yang sangat tinggi bagi Julia itu membutuhkan perjuangan yang sangat besar pula. Namun pria ini, pria yang baru dikenali telah memainkan hidupnya dengan sebuah obat yang sangat menyakiti tubuhnya. Pria ini memainkan kehidupannya sebagai alat balas dendam juga.
Bagaimana? Bagaimana bisa dia berurusan dengan orang yang sangat mengerikan. Dan bagaimana kehidupannya yang sangat berharga ini menjadi sebuah mainan di tangan orang asing. Tidak! ini tidak boleh terjadi! Bagaimanapun juga ia tidak boleh mati. Walaupun dia harus merasakan sakit yang teramat, dia harus terus bertahan demi membalaskan dendamnya.
__ADS_1
"Julia, kau hanya perlu bersamaku. Tinggalkan Maxilian dan aku akan memberikan penawarnya. Aku juga tak akan membiarkanmu kesakitan, aku akan memberikanmu kepuasan yang tak akan kau dapatkan dari siapapun. Bagaimana? Bukankah itu menyenangkan? Penawarnya adalah kepuasan bercinta."
Carlen tersenyum sinis saat teringat tentang gadis yang memakai obat ini sebelumnya. Di mana dia tak membiarkan gadis itu mendapatkan klimaksnya. Dia meninggalkan gadis itu sendiri dalam keadaan terang**ng dan membutuhkan pelepasan. Dan akhirnya seluruh saraf gadis itu rusak dan terputus.
Tapi kali ini dia tak akan berbuat seperti itu. Gadis di hadapannya ini adalah istri dari orang yang sangat dia benci. Gadis ini adalah satu-satunya yang diakui Maxilian sebagai istrinya. Jadi sudah jelas bagaimana kedudukannya di mata Maxilian. Dia akan membuat Maxilian menangis meratapi kepergian Julia.
"Apakah kau mulai kedinginan? Namun di titik tertentu tubuhmu merasakan panas? Maka memohonlah, datanglah padaku untuk kusentuh."
Carlen membuang kemejanya dan memamerkan tubuh berototnya. Dengan senyum manisnya, ia mengulurkan tangannya dengan yakin bahwa Julia akan datang dan memohon kepuasan darinya. Saat ini dia jelas menantikan kedatangan Julia dengan bayangan permainan yang ganas.
Namun Julia tak bergerak. Tidak! pria yang tengah mengulurkan tangannya ini adalah orang yang akan menghancurkan seluruh hidupnya. Jika dia membiarkan akal sehatnya hilang, maka sudah dipastikan hidupnya akan lebih hancur. Maxilian, pria itu sudah dapat dipastikan akan membunuhnya tanpa ampun. Dari pada mati di tangan Maxilian, dia lebih suka menahan hasratnya meski harus berakhir mati karena urat syarafnya putus.
Julia mundur, meringkuk mendekati pintu dan mulai merasakan panas di bagian-bagian tertentu di dalam tubuhnya. Rasa dingin juga mulai ia rasakan dengan hebat. DIa merasa seluruh kulitnya berdesir dingin dan membeku jika ia tak mendapatkan kehangatan. Tapi dia tak akan gila dengan mendatangi dan merayu pria yang jelas akan menghancurkannya.
Semakin Julia menolak, semakin kuat rasa dingin dan panas di tubuhnya. Tangannya mulai kehilangan kendali dan mencoba meraba titik sensitifnya. Pikirannya mulai melayang namun masih dengan sedikit kesadaran. Kepalanya jelas menggeleng beberapa kali dengan satu tangan menahan tangan lainnya.
Tidak!
Melihat hal itu, Carlen terkejut. Tawanya jelas terdengar merdu. Matanya bahkan hampir menangis melihat Julia menahan dirinya sendiri agar tak membuka pakaiannya. Dia sangat yakin, hanya dengan satu sentuhannya saja, gadis itu akan hilang kendali dan bahkan bisa gila. Menginginkan sentuhannya lagi, dan lagi. Namun dia tak menginginkan itu, dia ingin melihat Julia merangkak memohon untuk mendapat sentuhannya. Dan saat itu dia berniat membuat Julia kehilangan jati dirinya.
Carlen mendekat, berpikir bahwa akan memberikan Julia sebuah sentuhan. Dia berjongkok dengan senyum mengembang saat begitu dekat dengan Julia. Tangannya terulur, dengan penuh kelembutan. Namun Julia mundur dan meringkuk, bahkan menggeram. Kepalanya menggeleng dengan mata yang waspada.
"Aku akan memberikanmu sebuah pil--"
"Uhukk!"
Craatt!
Carlen tertegun saat tiba-tiba Julia terbatuk dan menyemburkan darah segar dari mulutnya. Mengenai tangan bahkan wajahnya. Matanya terbelalak dengan ekspresi rumit, saat tiba-tiba Julia mengerang kesakitan dengan memeluk tubuhnya sendiri. Dia membatu, terkejut, dan tak tahu harus berbuat apa.
"Arrgghh," tahan Julia dengan tangan memeluk tubuhnya yang menggigil. Kukunya bahkan memutih karena terlalu erat menggenggam bahkan meninggalkan bekas luka di bagian telapaknya.
__ADS_1
"Ju-Julia," panggil Carlen mulai panik. Dia mencoba menyentuh Julia, namun sayangnya gadis itu menghindarinya.
"Julia," panggil Carlen lagi dengan panik saat melihat tubuh Julia menggigil hebat. Namun peluh keringat itu makin bertambah banyak.
Ini buruk! Dia tak pernah membayangkan sebelumnya bahwa efek obat itu di tubuh Julia akan sangat berbeda. Dan juga dia tak menyangka bahwa Julia lebih suka menahan diri daripada tidur bersamanya. Gadis ini, dia melihat tatapan tekad yang kuat dan juga rasa benci yang tak tertandingi. Mata hitam itu terlihat sayu seakan menunjukkan luka yang amat dalam.
Tubuh Carlen bergetar. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada Julia, maka Maxilian sudah pasti akan membunuhnya. Dan bagaimana keluarga Lunox yang lainnya? Bukankah itu sudah jelas. Dia bisa melihat bagaimana sikap nenek dan kakeknya yang begitu menyayangi Julia sepenuh hati.
Dan kini, dia membuat seorang Julia menderita. Tidak! Ini akan menjadi sangat buruk. Julia bisa saja mati! Membayangkan kemungkinan terburuk itu akan terjadi bila Julia masih tetap mempertahankan diri. Matanya jelas melihat Julia yang kesakitan bahkan memuntahkan darah segar.
"Julia, Julia, ayo kita pergi. Aku akan membawamu ke rumah sakit," ujar Carlen mulai panik.
Julia tak dapat menjawab. Dia jelas mengeratkan katupan bibirnya menahan rasa sakit di seluruh tubuh. Dia tak yakin bisa bertahan hidup. Karena saat ini jelas dapat ia rasakan seluruh aliran darahnya terasa panas dan akan pecah kapan saja. Kepalanya berdenyut nyeri hingga tak dapat menahan air matanya. Kesadarannya mulai menurun saat remasan dalam isi perutnya bergejolak seakan dapat meledak kapan saja.
Di saat seperti ini, dia ingin tertawa dan menangis bersamaan. Apakah ini akhir hidupnya? Lalu untuk apa ia dihidupkan kembali kalau akhirnya akan sama, cuma caranya saja yang berbeda. Kenapa takdirnya mempertemukannya pada orang-orang asing yang begitu mengerikan. Dia yakin tak pernah melakukan apapun kepada mereka, namun kenapa mereka tak membiarkannya untuk hidup tenang.
Kenapa rasanya begitu sulit untuk sekedar bahagia?
Di setiap rasa sakitnya, wajah Maxilian sempat terbayang. Pria tampan itu adalah yang menyebabkan semua rasa sakit ini. Karena pria itu juga, dia bertemu orang-orang yang gila dan kejam. Dia tak tahu seperti apa yang lainnya, tapi seorang Carlen adalah orang yang suka bermain dengan nyawa seseorang. Dan sialnya, kali ini dia adalah targetnya. Dan dia yakin seluruh sepupu Maxilian menginginkan kematiannya.
"Aaron, Aaron,," erang Julia pelan.
Nama itu, entah kenapa begitu mudah bila dilafalkan. Di antara rasa sakit dan dendamnya terdapat cinta dalam yang tulus hingga akhirnya berakhir luka. Tak peduli apa pun, bila rasa sakit ini menyerang, wajah tampan Aaron semakin jelas terbayang. Bagaimana pria itu tersenyum, bagaimana pria itu menggenggam tangannya, dan bagaimana pria itu memperlakukannya. Semua kelembutan itu adalah palsu. Tapi pria itu adalah pria pertama yang memberikan kebahagiaan padanya.
"Aaron," lirih Julia sekali lagi.
Itu mirip seperti sebuah pengharapan bahwa saat ini dia ingin pria itu datang menyelamatkannya meski hanya karena kasihan. Saat rasa sakit itu meremukkan tulangnya, masa-masa bahagia bersama Aaron begitu lekat terbayang. Masa-masa yang dia tahu bahwa itu adalah cinta meski nyatanya pria itu tak mencintainya.
"Aaron."
Sekali lagi bibirnya memanggil nama itu dengan lemah. Air matanya jatuh dengan pupusnya harapn yang tak mungkin tercapai. Kenapa jalan hidupnya sangat sulit. Dia hanya ingin bahagia, sebagai Angel ataupun Julia. Tapi pada akhirnya rasa sakit saat ini tak memberikannya harapan hidup.
__ADS_1
Carlen membelalakkan matanya saat sebuah nama asing terdengar dari bibir lemah Julia. Itu bukan Maxilian ataupun Jordan mantan tunangannya. Tapi Aaron! Dia tak pernah mendapatkan informasi apapun soal nama itu di dalam kehidupan Julia. Tapi Julia menyebut nama itu berkali-kali dengan penuh cinta.