
Kota Nivada
Maxilian tersenyum saat mendengar kabar terbaru yang baru saja meluncur dari layar segi empatnya. Senyum itu tampak sangat tipis dengan dua sudut bibir yang tampak terbuka sedikit. Lingkar panda di bawah matanya yang tampak samar, begitu serasi saat rambutnya yang tertata acak. Dan entah sejak kapan, sebuah anting itu terpasang di telinga kirinya, menampilkan penampilannya yang sedikit nakan lamun keren bersamaan. Kedinginan sikapnya memancarkan ketampanan dengan tatapan tajam dan hidung yang menjulang. Dia benar-benar sempurna, saat matanya bergerak pelan penuh minat.
“Julia Brasco, kau sudah berakhir. Kau tak akan memiliki tempat selain datang dan menjadi istriku! Aku akan membuatmu tak memiliki tempat di mana pun kau berada agar kau tahu siapa aku!"
Maxilian menarik tubuhnya untuk duduk bersandar di kursi kerjanya. Ruangan hangat dengan nuansa klasik yang sedikit berbeda dari karakternya tak membuatnya terganggu. Meja coklat di depannya tampak sangat rapi, dan sebuah bunga kaktus kecil berwarna kuning yang tampak tak terurus di ujung meja tersebut. Dia memutar kursinya, saat panggilan dari benda segi empatnya mulai tersambung, suara pria dengan rasa khawatir terdengar berat.
“Tuan,”
Maxilian merasakan minatnya bangkit. “Tomas, apa dia menerimanya?”
“Itu,” jawab Tomas ragu.
“Dia menolaknya?” tebak Maxilian segera. “Apakah kau belum tahu, bahwa menit ini semua keadaan telah berubah?”
“Tu-tuan, dia menyebutmu pria berlemak. Da-dan ka-kau tak cocok untuknya,” ujar Tomas di ujung sana terbata karena ketakutan.
Detik berikutnya keheningan terjadi. Raut wajah maxilian kini bahkan telah berubah sedikit menakutkan. Dia tak menyangka, bahwa gadis itu sekali lagi menyebutnya pria berlemak. Dan apa itu tadi? Dia yang tampan dan kaya tak cocok untuk seorang Julia Brasco? Apakah gadis itu gila atau seleranya yang berbeda? Selama ini belum ada yang mengatakan itu padanya.
Tanpa terasa satu tangannya meraba otot perutnya yang terbentuk sempurna, tapi kata-kata Tomas yang baru saja didengarnya itu sangat mengganggu. Gadis itu, dia merasa harus benar-benar mendapatkannya lalu menghukumnya seberat mungkin. Senyum dingin terlintas di bibirnya dengan ekspresi lembut namun terlihat lebih mengerikan.
__ADS_1
“Aku ingin dia menjadi istriku! Tak peduli apapun, kau harus mendapatkannya untukku saat aku tiba di las Vgas hari ini.”
Selanjutnya telepon itu terputus. Maxilian melemparkan ponselnya kebelakang seolah itu bukan barang berharga. Dia menatap jendela tirai ruangannya kasar, Angannya mulai terbang tinggi, dengan semua rencana gila yang telah ia susun rapi.
“Julia Brasco, kau benar-benar bernyali besar.”
Memikirkan wajah Julia yang terlintas di benaknya membuat semangatnya meningkat. Kucing liar kecil itu, dia harus menjinakkannya dan membuatnya merasakan kehilangan seluruh cakarnya. Dia ingin melihat bagaimana raut putus asa saat seluruh dunia gadis itu hancur dan hanya dia yang bisa menolongnya. Dia juga ingin melihat bagaimana mulut yang selalu mengeluarkan kata-kata kasar itu akan meminta pengampunan dan harus memujinya.
Darah Maxilian terasa bergejolak. Dia tak tahu bahwa hanya dengan membayangkan itu semua, detak jantungnya menjadi sangat cepat. Memandang jarum jam di dinding ruangan tersebut, senyum dinginnya kian melebar. Satu tangan lainnya meraih sebuah setelan yang telah seorang pelayan selalu siapkan. Memakainya, dan mulai pergi untuk menuju tujuan utamanya hari ini, Las Vgas.
“Julia, hanya dalam beberapa jam saja, kau akan menjadi istriku! Menjadi istri dari pria berlemak yang sangat tak cocok untukmu.”
**
“Kalian pasti sudah menungguku”
Janet tertawa, melangkah lalu tanpa aba-aba menampar wajah Julia keras. “Beraninya kau tersenyum seperti itu padaku setelah kau mempermalukan aku! Kau menghancurkan reputasiku! Julia, sekarang hal apa yang bisa kau lakukan padaku?”
Julia tertegun, merasakan panas di pipinya. Dia menoleh, menatap tajam Janet lama. “Siapa yang mengatakan kau bisa menamparku?”
Plakk!! Sebuah tamparan balasan dari Julia membuat Janet mundur beberapa langkah. Jordan datang dan memeluk Janet erat. Kali ini dia pun menatap Julia tak berminat.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan! "Teriak Jordan kehilangan kendali.
Julia tertawa perih. Di depan matanya adalah calon suaminya. Tapi kini, saat ini lebih memilih membela sepupunya. Dia merasakan kehidupan lamanya sebagai Angel benar-benar terulang lagi. Menatap jijik, dia melewati keduanya tanpa melihat Hendri sedikitpun. “Kau tak perlu berteriak. Aku sama sekali tak tertarik pada kekasihmu. Dan aku hanya ingin mengemasi barangku.”
Hendri membelalakkan matanya saat Julia memasuki rumah tanpa berdebat ataupun melakukan sesuatu yang sempat dia pikirkan. Semua terasa terlalu mudah. Dia tak menyangka bahwa keponakannya itu hanya berlalu tanpa menanyakan semua saham, aset yang kini telah menjadi miliknya. Dia sempat bingung namun saat melihat putrinya menggeram marah memasuki rumah mengejar Julia, dia dan Jordan pun akhirnya mengikutinya.
Julia menata semua barangnya dalam koper besar. Dia tak mengambil semuanya, melainkan hanya beberapa barang yang bisa dia jual dan dijadikan uang tunai. Dia tidak bodoh, Dia juga tak akan merendahkan harga dirinya dengan bertanya sesuatu yang akan membuatnya sakit kepala. Saat ini posisinya jelas, dia tak memiliki apa-apa dan hanyalah sebatang kara. Mengambil beberapa barang dan menjualnya jauh lebih berharga dari pada berdebat dengan tiga orang yang menjijikkan.
Menyeret koper, dia menuruni tangga namun saat melihat Janet menghadangnya senyum tipisnya terukir.
“Pelayan! Periksa kopernya!” teriak Janet
Julia hanya diam saat kopernya diperiksa. Dia tak bisa menahan rasa jijiknya saat melihat tatapan Jordan yang sangat meremehkannya. Juga tatapan pamannya yang tak memiliki rasa malu sedikitpun. Kini dia tahu bahwa meski dia hidup sebagai Angel, nasibnya tetap akan sma. Di kehidupannya dulu dan sekarang bahkan sampai dia meninggal, dia tak memiliki siapa-siapa. Tapi kali ini dia tak akan mati untuk kedua kalinya. Tidak sebagai Julia, dia akan hidup dan menertawakan semua orang yang telah menyakitinya.
“Aku baru tahu bahwa kalian sangatlah menjijikkan.” Menatap Janet, dia tak memiki jejak ekspresi sedikitpun. “Tak cukup dengan seluruh saham dan aset keluargaku, kau juga masih ingin mencuri hal-hal kecil dalam koperku? Janet, sebegitu miskinkah dirimu? Kau sangat tak tahu malu.”
“Kau! Geram Janet mengangkat tangannya namun Jordan menahannya.
Tatapan Julia beralih pada Jordan, Hendri lalu pada pelayan yang sama sekali tak berani menyentuh barang barangnya. “Baiklah, karena kalian sangatlah miskin, maka aku juga akan memberikannya. Semua barang yang ada dalam koperku, aku berikan kepadamu!” tatapnya tajam pada Janet. Senyum sedikit, dia beralih ke Hendri. “Tuan Hendri, bukankah aku sudah sangat dermawan? Aku memberikan saham, aset dan bahkan calon suami yang putrimu inginkan. Tapi, bukankah itu terlalu murah? Kalian bahkan tak memberikan balasan apapun padaku.”
“Julia,” panggil Jordan melunak.
__ADS_1
Julia sama sekali tak menyahut. Hanya melangkah tanpa membawa koper yang telah tergeletak. Dia menoleh, menatap Janet, Hendri dan Jordan bergantian. “Ingatlah kedermawananku, aku akan menginginkan hal yang lebih dari yang kalian ambil.”