Kehidupan Ku (Menikah Muda)

Kehidupan Ku (Menikah Muda)
Bagian 102


__ADS_3

Bayu memasuki ruangan Arsya dengan raut wajah kesal, Arsya yang menyadari kedatangan sang asisten sekaligus sahabat nya itu pun menatap bingung Bayu yang tengah duduk sembari memijit kelipisnya itu.


"kamu kenapa bay? kok kayak orang banyak pikiran gitu sih?" tanya Arsya, terdengar helaan nafas kasar dari mulut Bayu.


"saya lagi bingung banget pak" jawab Bayu lesu,


" loh bingung kenapa sih?" tanya Arsya yang juga ikut bingung.


" mama saya terus meminta saya untuk segera menikah pak" jawab Bayu lesu


" loh bagus dong, emang sudah sepantasnya kamu itu berumah tangga kan, ya enggak salah dong mama kamu meminta kamu untuk segera menikah, apalagi kamu anak mereka satu-satunya "


"hemmmm, masalahnya saya belum ada calon nya pak, gimana mau menikah coba, jangan kan calon pacar saja saya enggak punya " jawab Bayu disertai helaan nafas berat.


"Oh, jadi itu masalah nya lah kan Siska ada, lagian nih ya saya perhatikan kalian berdua itu cocok loh, malahan ni ya asal kamu tau seperti nya Siska itu suka banget loh sama kamu" ujar Arsya bangkit dari tempat duduk dan berjalan kearah Bayu yang tengah duduk di sofa.


" ya, tapi saya bingung pak banyak wanita yang berlomba-lomba untuk mendapatkan perhatian saya, namun entah kenapa semua nya enggak ada yang srek dihati saya kecuali satu orang, namun saya sendiri masih belum yakin pak" jawab Bayu


" belum yakin gimana maksudnya? terus siapa orangnya?" tanya Arsya dengan rasa penasaran, pasalnya teman nya satu ini sulit sekali untuk membuka hati, apalagi semenjak ditinggal pergi oleh sang kekasih yang telah berpulang untuk selama-lamanya itulah yang membuat Bayu sulit untuk membuka hati untuk orang lain, karena rasa cinta nya yang besar untuk Mika wanita yang telah mencuri seluruh perhatian nya itu.

__ADS_1


"saya masih ragu pak, apakah wanita itu bisa saya terima dan saya cintai seperti Mika dulu, saya takut nanti dia akan terluka jika diantara kami saya masih terbawa dalam bayang-bayang Mika" jawab Bayu dengan tatapan sendu, Arsya mengelus pundak sang sahabat, ia tahu betul perasaan Bayu saat ini, ia pun sangat tahu bagaimana terpukul nya Bayu dengan kepergian Mika yang terkesan tragis akibat tertabrak mobil saat ia hendak pulang dari tempat nya mengajar sehingga menewaskan wanita cantik nan baik yang sangat ia sayangi itu.


Jika saja Mika masih hidup saat ini mungkin Bayu tidak akan seperti ini, pria yang dulu nya hangat, ceria, murah senyum, dan humoris itu kini telah berubah 180° menjadi pria yang cuek, acuh, dingin, dan datar.


Butuh waktu lama untuk Bayu bisa memulihkan dirinya dari rasa kehilangan nya itu, kedua orang tua nya pun merasa tidak sanggup lagi melihat kesedihan yang mendera sang putra, namun Arsya tak patah semangat ia terus menyemangati sang sahabat untuk bangkit lagi dari masa keterpurukan nya, butuh waktu sekitar 3 tahun untuk Bayu bisa pulih dari masa kelam nya, itupun tak sepenuhnya pulih terkadang ia masih sering merasa sedih saat melihat foto sang mantan kekasih yang telah pergi.


"ya sudah kalo kamu enggak mau cerita saat ini, tapi ingat pesan saya kamu harus bangkit dari bayang-bayang Mika Bayu, kamu harus melanjutkan hidup kamu, masa depan kamu masih panjang, lupakan Mika ia sudah tenang di alam sana, kamu harus bisa membuka lembaran baru untuk hidup kamu, kamu harus bisa move on bay," ucap Arsya menepuk lembut pundak Bayu dan berlalu pergi dari ruangan ia ingin memberikan waktu untuk Bayu berpikir, ia merasa kasihan kepada Bayu setiap saat ia ingin membuka hati untuk wanita lain, kenangan nya bersama Mika selalu muncul di benak nya sehingga membuat pria yang sekarang ini berusia 28 tahun tersebut merasa ragu.


Arsya menghampiri Siska yang tengah fokus memerhatikan layar laptop didepan nya. "ekhem" deheman Arsya pun akhirnya mampu membuat Siska mengalihkan pandangannya.


" ehh pak Arsya" sapa Siska dengan senyuman ramah.


" boleh pak" jawab Siska cepat, ia pun berjalan dibelakang Arsya menuju ke ruangan meeting yang tidak jauh dari ruangan Arsya.


"sebenarnya ada apa ya pak sampai-sampai bapak mengajak saya kesini" tanya Siska mendudukkan tubuhnya dikursi.


"Siska dari yang saya lihat kamu beneran suka sama Bayu?" tanya Arsya to the point, Siska yang mendengar penuturan dari Arsya pun mendelik kan mata nya tak percaya bagaimana bisa boss nya itu tau jika ia diam-diam menyukai asisten pribadi nya itu.


'astaga pak Arsya ngajak saya kesini cuma mau bilang itu, tapi pak Arsya tau dari mana kalau saya suka sama pak Bayu, padahal yang tahu perasaan saya cuma saya sendiri dan Allah, kok pak Arsya bisa tau, atau pak Arsya punya Indra keenam yang bisa tau isi hati orang seperti Roy Kiyoshi si anak indigo yang terkenal itu' gumam Siska dalam hati.

__ADS_1


Arsya yang melihat Siska hanya diam saja menatap keluar jendela mendadak bingung, iapun memanggil Siska namun tak kunjung direspon oleh sang empunya nama, ia pun memutuskan untuk menggebrak meja.


brakk...


Siska pun akhirnya tersadar dan menatap bingung Arsya.


"kenapa pak ada nyamuk ya atau ada lalat, ihh gimana sih ob disini kok enggak bener sih bersihin nya, tenang aja pak nanti saya akan tegur mereka kok supaya lebih bersih lagi tempat ini" ucap Siska dengan senyuman tipis, Arsya hanya menghembuskan nafas kasar, terkadang ia juga merasa kesal dengan sekertaris nya ini, ada-ada saja kelakuan nya yang bikin Arsya suka kesal, namun itu tidak terlalu ia hiraukan ia memilih Siska karena Siska merupakan tipekal orang yang jujur, cerdas, dan pekerja keras ia pun tak segan-segan untuk membantu karyawan lainnya jika sedang kesulitan.


" kamu ini saya nanya kok kamu malah melamun, tinggal jawab saja apa susah nya sih?" ucap Arsya dengan nada sedikit kesal.


" memang nya bapak nanya apa ya saya lupa hehe?" tanya Siska bingung dengan sedikit cengiran.


"nanya ibu kamu mau nambah suami lagi apa enggak?" ucap Arsya kesal,


" lahhh untuk apa bapak nanya itu, ibu saya kan sudah punya bapak saya, ya kali pak ibu saya mau nikah lagi, lah wong anak nya aja belum nikah kok massa ibu saya mau nikah lagi enggak adil itu mah saya juga pengen tau pak nikah, lah teman-teman saya saja udah pada banyak yang nikah, kadang ni ya pak saya merasa malu kalo ditempat asli saya ya pak umur 25 itu udah punya anak dua malahan lah ini saya hilal jodoh nya aja belum kelihatan pak" jawab Siska panjang lebar, Arsya pun hanya menghela nafas kasar sembari menahan rasa kesal yang bergejolak, dan lebih memilih pergi.


" lahhh pak Arsya mau kemana katanya mau ngomong empat mata sama saya, kok malah pergi sih pak, pak Arsyaaaaaaa "teriak Siska dengan raut wajah bingung, Arsya pun tak menghiraukan teriakan Siska ia pun semakin cepat melangkah kaki menuju ke ruangan nya untuk menetralisir kan rasa kesal di dalam dirinya.


"astaga nasib punya sekertaris yang langka ya emang kayak gini, sabar Arsya sabar, nanti kamu darah tinggi yang ada, astaghfirullah tuh Siska peak nya enggak hilang-hilang" lirih Arsya.

__ADS_1


__ADS_2