
" haiss bang Arsya kemana sih? dicari kemana-mana kok enggak ada" gumam Raisa kesal pasalnya ia telah berkeliling rumah dari kamar mandi, ruang keluarga, ruang tamu, ruang olahraga, kamar tamu, bahkan dapur namun tak nampak batang hidung Arsya.
Raisa memutuskan untuk bersantai didekat kolam renang, ia ingin merilekskan tubuh nya, dari tadi ia sudah berkeliling mencari keberadaan Arsya namun tak kunjung ketemu.
setibanya didekat kolam, Raisa terkejut mendapati Arsya yang tengah tertidur pulas di ranjang anyunan tak jauh dari kolam.
Raisa pun melangkahkan kaki menghampiri Arsya.
"haisss, dicariin kemana-mana ternyata disini" gumam Raisa berdecak kesal.
Raisa menaiki ranjang anyunan tersebut, seulas senyum simpul terbit menghiasi wajah cantiknya, diusapnya lembut rambut Arsya dengan penuh kasih sayang.
Merasa ada yang menggangu tidurnya Arsya pun membuka kedua matanya, pemandangan yang pertama kali ia lihat ada Raisa yang sedang tersenyum manis didepannya.
"hehe, maaf ya gara-gara Raisa Abang jadi kebangun deh" ucap Raisa diselingi kekehan kecil yang keluar dari mulutnya.
"enggak apa-apa kok, kamu kenapa bisa ada disini dek?" tanya Arsya bingung, pasalnya ia tadi hanya sendirian.
"tadi aku nyariin Abang tau, udah keliling rumah tapi Abang nya enggak ada, terus Raisa mutusin buat bersantai didekat kolam eh enggak taunya ada Abang yang lagi tidur disini, mana tidurnya pulas banget lagi" Raisa merapikan rambut Arsya yang berantakan ketika ia tertidur tadi.
" oh, gitu tadi sih Abang kesini cuma buat main game eh enggak tau nya kebablasan sampe tidur" Arsya mengambil gawainya yang tergeletak disampingnya.
"ohya Abang tadi kenapa kok diamin Raisa?" Arsya menaikan sebelah alisnya bingung.
" diamin kamu gimana?" tanya Arsya datar.
" ya tadi pas dikamar, sikap Abang itu aneh tau enggak, tiba-tiba jadi dingin" Raisa menatap dalam manik mata Arsya yang selalu ia rindukan itu.
" enggak ah biasa aja" ucap Arsya kikuk, dan fokus pada game nya lagi.
Raisa merebahkan diri disamping sang suami dipeluknya erat perut sang suami, saat-saat seperti ini lah yang menjadi momen favorit Raisa.
Salah satu tangan Arsya telulur mengelus lembut puncak kepala Raisa yang ditutupi hijab, dan salah satu tangannya lagi fokus memainkan gamenya.
__ADS_1
Raisa mendongak keatas menatap wajah sang suami, seulas senyum simpul terbit dibibir Raisa, Arsya yang melirik Raisa melalui ekor matanya tengah menatap dalam wajah nya hanya tersenyum tipis.
" udah Abang emang udah ganteng dari lahir, jangan dipandangin terus tenang aja wajah Abang yang tampan ini hanya untuk kamu seorang kok" ucap Arsya bangga, Raisa yang kedapatan tengah memandang lekat wajah Arsya pun langsung mencubit pinggang suaminya.
" aduh, sakit sayang, kamu kebiasaan deh sukanya nyubit," ringis Arsya mengelus bukas cubitan Raisa tadi.
"salah sendiri Abang sih jadi orang terlalu ke PEDE an sih" ketus Raisa membuang muka, Arsya yang melihatnya hanya tersenyum tipis.
"hahaha,,,aduh Abang ampun bang, Raisa minta maaf deh,hahah" ucap Raisa memohon pasalnya Arsya tengah menggelitikinya.
" enggak akan" pungkas Arsya cepat dan terus menggelitiki Raisa.
"Abang, hahaha, udah ahh" Arsya pun mengehentikan aksinya dan memeluk erat tubuh Raisa, dan menghujami wajah Raisa dengan ciumannya.
Dilain tempat Bayu sedang duduk santai sembari menikmati secangkir caffucino ditangannya, sembari menikmati alunan musik yang dimainkan oleh band yang ada di kafe tersebut.
Bayu menyeruput caffucino yang ada ditangannya dengan gayanya yang cool, semua mata memandang kearahnya, terutama kaum hawa mereka merasa sangat terpesona dengan pesona Bayu.
Tak jauh dari tempat duduk Bayu ada seorang wanita yang sedang menangis tersedu-sedu, Bayu menoleh kebelakang nya, ia terkejut saat melihat wanita yang sedang menangis itu adalah Siska.
Bayu pun tak menghiraukan Siska ia lebih memilih melanjutkan menikmati caffucino yang telah ia minum setengah nya.
Tangis Siska semakin keras, air matanya luruh begitu saja, Bayu yang mendengar tangis Siska semakin menjadi pun beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kaki menuju meja Siska.
" ehem" dehem Bayu, Siska mendongakkan kepalanya dan terkejut melihat Bayu yang sedang berdiri didepannya dengan tampang cool nya, dengan cepat Siska menghapus kasar air matanya.
"pa..pak Bayu kok bisa ada disini?" tanya Siska gugup, Bayu tersenyum miring, ia menarik kursi dan mendudukan bokong nya dikursi.
"kenapa enggak boleh gitu saya ada disini?" tanya Bayu dingin, Siska menggaruk kepalanya kikuk.
" ya enggak juga sih, saya bingung aja kok pak Bayu tiba-tiba ada dihadapan saya" ucap Siska kikuk.
" lagian ini tempat umum, ya suka-suka saya lah mau ada disini atau enggak" ucap Bayu pongah, Siska mencebikan bibirnya kesal.
__ADS_1
"kamu kenapa nangis?" tanya Bayu datar, Siska menggeleng lesu dan tersenyum tipis.
" enggak kok saya enggak nangis pak" jawab Siska cepat berusaha untuk menutupinya.
" sudah lah saya enggak bodoh, lagian apa kamu enggak malu nangis ditempat umum kayak gini, udah tua juga kayak bocah aja" cibir Bayu, Siska membulatkan matanya kesal, Bayu selalu saja berhasil membuat dirinya kesal.
"ck, apaan sih pak Bayu, suka-suka saya lah mau nangis kek marah lek bahagia kek, apa urusannya sama bapak" ketus Siska, Bayu mengangkat alisnya bingung.
" iya juga ya kenapa gue jadi ngurusin ni cewek gesrek" gumam Bayu lirih, namun masih dapat didengar oleh Siska.
" ehem, saya dengar loh pak" Bayu gelapan ia langsung membuang pandangannya dan kembali memasang muka dinginnya.
"oh, saya tau atau jangan-jangan bapak suka ya sama saya, udah ngaku aja deh pak" ucap Siska dengan percaya nya, Bayu menatap tajam Siska, Siska pun hanya diam menunduk dan tak berani berkata lagi.
" Jawab saya, kenapa kamu nangis?" ucap Bayu penuh penekanan, kali ini terlihat sangat jelas wajah keseriusan nya, sampai-sampai Siska pun takut untuk melihat ekspresi wajah Bayu.
"jawab" ucap Bayu datar, Siska menatap dalam mata Bayu.
"saya baru saja putus sama pacar saya pak hiks, hiks" tangis Siska pun kembali pecah pasalnya hatinya sangat sakit saat ia mengetahui pacarnya telah selingkuh dibelakang nya dan lebih memilih selingkuhan nya dibandingkan Siska.
Bayu mengerutkan dahi bingung "ya udah kalo putus, putus aja enggak usah nangis juga lebai banget" cibir Bayu.
" bapak enggak tau, kita itu udah pacaran selama 4 tahun, dianya selingkuh dibelakang saya pak, dan dia lebih memilih selingkuhan nya dibandingkan saya, cantikan juga saya , seksian juga saya, emangnya saya kurang apa pak sehingga ia lebih memilih wanita yang enggak ada apa-apanya dibandingkan saya itu." Siska mengeluarkan segala keluh kesahnya, ia menangis sejadi-jadinya, Bayu yang melihat nya pun hanya bergidik ngeri saat melihat Siska menghembuskan ingusnya dengan tisu.
" saya kurang apa lagi coba pak, apa kurang nya saya" tanya Siska dengan berlinang air mata.
'kurang waras aja' batin Bayu.
" sudah diam emangnya kamu enggak malu apa tuh liat semua orang pada memandang sinis kearah kita entar mereka kira saya ngapa-ngapain kamu lagi" ucap Bayu berusaha menenangkan Siska.
" ya enggak apa-apa saya enggak malu, kalo mereka nanya tinggal saya jawab aja bapak enggak mau ngakuin saya sebagai istri bapak mudah kan"ucap Siska santai, Bayu membulatkan matanya dan menatap tajam Siska yang ditatap pun hanya acuh dan terus menangis.
"emang dasar cewek gesrek, udah sekarang kamu ikut saya" Bayu beranjak dari duduknya dan menarik tangan Siska.
__ADS_1
" ehh, kita mau kemana pak?" tanya Siska saat batu menarik tangannya.
" udah ikut saja jangan banyak tanya" ucap Bayu penuh penekanan, Siska pun hanya menurut dan berjalan beriringan dengan Bayu menuju parkiran.