
Lima tahun telah berlalu kini Rashya telah tumbuh menjadi anak yang soleh dan tentunya tampan.
Paras nya hampir menyerupai rupa sang ayah membuat diri nya menjadi rebutan semua orang yang ada disekitar nya.
Meskipun baru berumur lima tahun Rashya berfikir layak nya anak SD yang telah mengerti apapun.
M.Rashya Widiansyah Putra nama lengkap nya seorang anak kecil yang menggemaskan bagi sebagian orang yang melihatnya.
Namun tidak bagi Arsya, terkadang ia merasa kesal dengan putra nya itu.
Bukan karena apa, Arsya merasa kesal karena sering kali Rashya membuat dirinya naik darah.
Disaat Arsya ingin berduaan dengan Raisa pun bocah Lima tahun itu selalu merecoki nya.
Bahkan anak nya itu tidak mau tidur sendiri padahal ia sudah mempunyai kamar sendiri.
"Bundaaaaaaaa" panggil Rashya memasuki kamar kedua orang tuanya.
"ada apa sayang?" jawab Raisa lembut, Rashya naik keatas ranjang dan menempatkan dirinya ditengah-tengah.
'apa lagi sih ni bocah, ganggu orang aja kerjaan nya enggak ngerti apa kalau ayahanda nya ini mau menjalankan ritual hadewwww' batin Arsya kesal menatap sang putra.
"Rashya mau tidur sama bunda" ucap bocah Lima tahun itu memeluk erat sang bunda.
"apa? enggak, enggak boleh kamu kan sudah punya kamar sendiri Rashya" tolak Arsya tak terima. Enak saja anak nya ini mau tidur bersama mereka lagi, kapan dong waktunya Arsya dan Raisa bisa berduaan dan memadu kasih.
" Rashya kan mau tidur nya sama bunda bukan sama ayah, kalau ayah enggak suka ya udah ayah tidur disofa atau diluar aja sekalian kan beres tuh" Arsya mendelikan matanya saat mendengar ucapan sang putra.
" enak aja kamu bilang, bunda ini istri nya ayah jadi bunda harus tidur sama ayah bukan sama kamu" ucap Arsya kesal, menatap sang anak.
"iya bunda emang istri nya ayah, tapi bunda kan bunda nya Rashya, jadi bunda tidur nya sama Rashya titik" bocah Lima tahun itu pun tak mau kalah dari sang ayah. Jika dilihat dari penampilan, cara bicara, dan sikap nya tentu banyak orang yang tak akan percaya jika bocah tersebut baru berusia lima tahun.
Pasalnya bocah tersebut memiliki tubuh yang tinggi layaknya anak SD kelas 3, namun siapa sangka jika bocah tersebut merupakan salah satu siswa di TK tunas harapan.
" enggak pokoknya, kamu tidur dikamar kamu masa harus tidur disini terus sih sama ayah dan bunda, emangnya kamu enggak mau apa dibikinin adek?" tanya Arsya menarik turun kan alisnya.
" enggak," jawab bocah itu cepat.
__ADS_1
"iss, Abang apaan sih biarin ajalah, ya udah sekarang Rashya bobok kan besok pagi Rashya harus berangkat ke sekolah." ucap Rania menengahi perdebatan anak dan suaminya itu.
Arsya pun mau tak mau harus mengalah dan menuruti perkataan sang istri.
Rashya pun langsung memeluk erat tubuh sang bunda dan mulai memejamkan matanya.
Arsya yang melihat nya pun menjadi kesal, ia pun juga ingin memeluk tubuh sang istri, namun apalah daya bocah itu selalu menguasai semuanya, jangankan untuk memeluk sembari tidur, mencium kening Raisa saat akan tidur pun sudah jarang ia lakukan semenjak bocah Lima tahun itu ada.
' untung anak sendiri, kalo enggak udah gue jadiin perkedel tuh bocah, huffft sabar Arsya, sabar' batin Arsya kesal.
Ia pun mulai memejamkan matanya menyusul anak dan istri nya yang telah pergi ke pulau mimpi.
Sinar matahari masuk melalui jendela, Arsya terbangun dari tidurnya saat silau matahari mengenai wajahnya.
Lain halnya dengan Rashya ia masih pulas dengan tidur nya.
Sesudah subuh tadi Arsyha dan Rashya kembali tidur.
Sedangkan Raisa ia lebih memilih turun kebawah untuk membantu bi Sumi dan mama Maya menyiapkan sarapan.
Arsya menatap kesebelah kiri dilihat nya bocah Lima tahun itu yang sedang tertidur pulas.
Seulas senyuman terbit di wajah tampan itu.
Arsya memandangi wajah sang putra, dielus pipi sang putra.
" astaga ni bocah benar-benar mirip sama gue, pantesan aja sikap dan perilaku nya mirip sama gue,." ucap Arsya.
" ya iyalah mirip kan anak Abang, ya kali anak orang lain" ucap Raisa, Arsya menoleh kebelakang dan tersenyum kikuk, ia tidak tau kalau Raisa telah kembali.
" hehe, ternyata kedengarannya toh Abang ngomong kayak gitu lagian kamu kenapa enggak bilang sih kalo udah kembali, Abang kira masih lama " cengenges Arsya, Raisa hanya diam dan memutar bola matanya malas.
" Rashya, bangun sayang udah pagi ini kamu kan harus sekolah nak" Raisa menepuk lembut pipi Rashya.
Arsya yang melihat Raisa membangunkan Rashya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang pun langsung teringat saat ia terlambat bangun.
" ihhh, Abang bangun napa udah siang noh Abang kan harus kerja, Abang bangun udah sianggggg, Abanggggg" teriak Raisa kesal, karena Arsya belum bangun-bangun juga.
__ADS_1
mendengar teriakan sang istri pun Arsya langsung terbangun dari tidurnya, dan menatap kearah sang istri tanpa ekspresi.
" bisa enggak sih bangunin Abang jangan teriak-teriak kayak gitu" ucap Arsya kesal.
" gimana enggak teriak-teriak lah wong Abang dipanggil-panggil terus kagak mau bangun-bangun, untung cuma diteriakin kagak disiram, udah sana cepat Abang mandi udah telah tau," Raisa menarik Arsya untuk bangkit dari tempat tidur.
Merasa ada yang menganggu tidur nya Rashya pun mulai membuka matanya, ia tersenyum kala melihat sang bunda yang tengah tersenyum manis dihadapan nya.
"sekarang Rashya mandi ya sayang, Abang juga nanti telat lagi" ucap Raisa, Arsya dan Rashya pun mengangguk kecil.
Setelah kepergian kedua laki-laki yang sangat dicintai nya itu Raisa pun mulai merapikan tempat tidur, setelah itu ia pun menyiapkan segala keperluan sang suami.
Setelah semuanya selesai Raisa pun keluar kamar dan berjalan menuju ke kamar yang tak jauh dari kamarnya, yaitu kamar sang putra.
Raisa menyiapkan segala keperluan Rashya mulai dari baju seragam, tas, sepatu, dan lainnya.
Clekkk pintu kamar mandi terbuka, tampaklah sosok bocah Lima tahun itu dibalik pintu, ia berjalan kearah sang bunda.
"kenapa enggak nunggu bunda aja mandi nya , kan bunda bisa mandiin Rashya" ucap Raisa menatap sang putra.
" enggak bunda Rashya kan sekarang udah besar, lagian Rashya udah bisa mandi sendiri, kata Bu guru jika kita sudah bisa mandi sendiri itu berarti udah besar kan bunda,?" tanya Rashya, Raisa mengangguk kecil dan tersenyum.
" duh anak nya bunda sudah bisa mandi sendiri ternyata, udah gede toh" Rania mengelus pucuk kepala Rashya.
" iya dong bunda, ohya bunda Rashya udah bisa pake seragam sendiri juga loh?" ucap Rashya antusias.
" ohya masa? bunda mau lihat dong" ucap Rania gemas
Bocah Lima tahun itu pun mengambil baju seragam yang telah disiapkan oleh sang bunda dan memakainya satu persatu.
Rania yang melihat nya pun tersenyum manis, ia tak menyangka jika putra nya itu telah besar, dan pintar.
" selesai" teriak Rashya girang, Rania mengangguk kecil dan mencium pipi sang putra.
" waahhh anak bunda hebat, sudah bisa mandi sendiri dan memakai seragam sendiri, uhhh hebat sekali" puji Rania, ia pun mengambil sisir dan mengoleskan minyak rambut.
" iya dong bunda, kan anak bunda" Rashya memeluk erat sang bunda.
__ADS_1