
Matahari sudah berani menampilkan cahaya, burung-burung pun telah berkicauan.
Sepasang suami istri masih terlelap dalam dunia mimpi masing-masing.
kringgg...
bunyi alarm memecah keheningan dikamar tersebut, merasa ada yang menggangu tidurnya Raisa pun membuka mata dan meraih jam weker disampingnya dan melihat kearah jam tersebut, Raisa pun terjengkit kaget saat jarum jam menunjukkan pukul 7.30
" astaghfirullah, udah jam setengah delapan aku udah telat ini" gerutu Raisa langsung turun dari ranjang dan berlalu kekamar mandi.
Arsya pun meraba-raba kesisi kiranya namun tak ada apa-apa disisi kirinya, Arsya pun langsung melirik kearah kiri dan terkejut saat ia tak mendapati Raisa disampingnya.
"Dek kamu dimana?" Arsya berteriak memanggil Raisa, namun tak ada jawaban.
Arsya pun memutuskan untuk bangkit dari tempat tidur dan berlalu keluar kamar, siapa tau Raisa ada dibawah pikir Arsya.
Saat tiba didapur terlihat bi Sumi yang sedang beres-beres peralatan masak, Arsya pun langsung melangkahkan kaki menghampiri bi Sumi.
"bi?" panggil Arsya, bi Sumi pun terjengkit kaget, pasalnya ia tidak mengetahui kedatangan Arsya,
"eh kodok eh, aduh den Arsya ngagetin bibi aja" Ucap bi Sumi mengelus dadanya, Arsya pun hanya tersenyum tipis.
" hehe, maaf bi ohya bi Sumi liat Raisa enggak?" tanya Arsya to the point, bi Sumi pun mengerutkan dahinya bingung.
__ADS_1
" loh bukannya non Raisa masih diatas ya sama den Arsya, dari tadi selama bibi beres-beres non Raisa enggak ada tuh disini" jawab bi Sumi heran, Arsya pun hanya menaikkan sebelah alisnya bingung kemana kiranya Raisa pergi pikir Arsya.
" yasudah bi kalo gitu Arsya balik lagi ya keatas siapa tau Raisa masih diatas" pamit Arsya dan berlalu menuju keatas.
Saat Arsya membuka pintu ia tersenyum tipis melihat Raisa yang sedang duduk didepan meja rias, Arsya pun melangkah pelan menghampiri Raisa, Arsya berjalan mengendap-endap layak nya seorang pencuri.
Saat telah sampai didekat Raisa Arsya pun langsung memeluk Raisa dari belakang, sontak membuat Raisa pun terkejut.
"astaga Abang, Raisa kira siapa? jadi kaget tau untung enggak jantungan" Raisa mengerucutkan bibirnya kesal, Arsya yang melihatnya pun hanya terkekeh geli.
" tuh bibir digituin maksudnya apaan ceritanya mau menggoda ni?" Arsya mengerlingkan mata nya, Riasa pun langsung membuang muka.
"Dasar mesum, siapa juga yang mau menggoda aku itu lagi kesal tau" Raisa mencebikan bibirnya.
Riasa pun hanya acuh saja, dan melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda gara-gara Arsya.
Arsya yang melihat Raisa tengah berdandan pun menjadi bingung, tumben sekali istrinya itu berdandan secantik ini, biasanya juga cuma pake bedak tabur dan lipblam saja, apalagi Raisa sekarang sudah berpakaian rapi.
" dek kamu mau kemana sih, tumben banget dandan secantik ini" tanya Arsya dengan raut wajah penuh tanda tanya, Raisa pun diam tak menghiraukan pertanyaan Arsya.
" dek kok kamu diemin abang sih?" rengek Arsya manja, Raisa pun hanya menghela nafas berat.
"huffftt, Raisa mau pergi sebentar keluar, boleh kan?" Raisa menatap Arsya penuh harap.
__ADS_1
" pergi kemana? sama siapa aja?" tanya Arsya seperti mengintrogasi Raisa.
" pergi ke cafe ceria, sama Sindi teman dekat aku waktu SMA dulu, sekarang dia ada di Jakarta bang, nah kita mau reunian gitu, melepas rindu" Raisa tersenyum tipis, Arsya pun hanya manggut-manggut saja.
" jadi gimana bang boleh kan?" tanya Raisa penuh harap.
" yakin cuma sama Sindi doang, enggak ada yang lain, atau cowok gitu yang ikut ?" tanya Arsya menatap Raisa, Raisa pun mengangguk cepat.
" iya bang cuma sama Sindi doang, lagian kenapa sih Abang kayak enggak percaya aja sama istri sendiri" kesal Raisa, selalu saja seperti ini saat Raisa akan kumpul atau pun pergi keluar bersama teman-teman nya untuk sekedar jalan-jalan atau pun renuian kecil.
"ya, bukan gitu juga sih dek, Abang percaya kok sama kamu, yaudah kamu boleh pergi tapi Abang yang nganter sama jemput kamu oke" Arsya pun mengalah saja, karena kalau ia melarang bisa-bisa enggak dapat jatah deh, dari pada enggak dapat jatah lebih baik izinkan saja lah pikir Arsya.
"enggak ah, abangkan harus kerja, lagian aku maunya berangkat sama Sindi, nanti dia akan kesini kok buat jemput aku" tolak Raisa.
" ya sudah kalo kamu enggak mau berarti kamu enggak usah pergi" ucap Arsya santai, Raisa pun menatap tajam Arsya, yang ditatap pun hanya acuh saja.
" jadi gimana?" tanya Arsya tersenyum miring, Raisa pun mencebikan bibirnya kesal.
"tau ahh terserah Abang aja" Raisa berlalu pergi dari hadapan Arsya.
Arsya pun hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum tipis saat menatap kepergian sang istri yang telah hilang dibalik pintu.
'ck, dasar tukang ngambek' Arsya tersenyum tipis dan berlalu kekamar mandi kemudian bersiap-siap untuk mengantar Raisa, dan pergi kekantor.
__ADS_1