Kehidupan Ku (Menikah Muda)

Kehidupan Ku (Menikah Muda)
Bagian 87


__ADS_3

Kurang lebih hampir 3 jam lebih Arsya berjalan kaki, akhirnya ia pun tiba dirumah sakit dengan baju basah kuyup akibat guyuran hujan.


Arsya berteriak-teriak memanggil dokter dan perawat saat ia memasuki gedung rumah sakit.


" Dokter, perawat tolong" teriak Arsya, para perawat pun berbondong-bondong datang sembari membawa brangkar.


Arsya meletakkan tubuh sang istri keatas brangkar dengan hati-hati.


Setelah itu tubuh Raisa pun didorong menuju keruangan gawat darurat, Arsya dengan setia mendampingi sang istri tangan nya tak pernah lepas menggenggam erat tangan Raisa.


Saat tiba didepan ruangan Arsya yang ingin masuk pun tiba-tiba dicegat oleh salah seorang perawat.


" maaf mas tunggu disini saja ya" ucap perawat dengan sopan, Arsya menggeleng cepat ia tidak mau meninggalkan Raisa, ia ingin masuk kedalam juga ia ingin tau bagaimana kondisi Raisa.


" enggak mbak, saya mau masuk saya mau melihat istri saya, saya harus mendampingi dia mbak perawat, saya mohon izin kan saya masuk" ucap Arsya dengan wajah yang tak dapat diartikan.


"maaf mas ini sudah menjadi prosedur kami, mas nya silahkan tunggu disini saja, On Sya Allah kami akan melakukan yang terbaik buat istri mas nya" jawab sang perawat, Arsya mengangguk lemah bagaimana pun ia bersikukuh untuk masuk namun akhirnya ia harus menurut juga.


Perawat itupun tersenyum tipis dan menutup pintu ruangan.


Arsya yang melihat pintu telah ditutup pun langsung terduduk lemah dilantai, ia sangat kalut sedih dan khawatir menjadi satu, bahkan pikiran-pikiran buruk pun ikut menghantui nya.


"Ya Allah tolong selamatkan anak dan istri hamba, hanya merekalah harta berharga yang hamba miliki, hamba tau ya Allah hidup dan mati seseorang hanya engkau lah yang menentukan nya, tapi untuk kali ini hamba mohon jangan ambil dia dari sisi hamba"


Arsya terus memanjatkan doa untuk keselamatan anak dan istri nya.


Rasanya semangat dalam dirinya telah hilang saat melihat keadaan Raisa yang seperti itu.


Tak berapa lama Bayu pun tiba dirumah sakit, ia langsung menelpon Arsya namun tak ada jawaban, akhirnya Bayu pun pergi kebagian administrasi untuk menanyakan keberadaan Raisa.


" emm, permisi mbak" sapa Bayu saat tiba didepan meja administrasi.


" iya mas" jawab seorang wanita yang bertugas disana.


"mbak pasien atas nama Raisa Salsabila dimana ya mbak?" tanya Bayu to the point.


"Oh, pasien yang datang 20 menit yang lalu ya?" Tanya wanita itu, Bayu mengangguk cepat.

__ADS_1


" iya mbak"


" Oke, pasien atas nama Raisa Salsabila saat ini sedang berada diruangan gawat darurat" jawab staf administrasi itu sembari membaca buku yang ada didepannya.


" terima kasih mbak" ujar Bayu, staf administrasi itu pun mengangguk dan tersenyum tipis.


Bayu melangkahkan kakinya menuju ruangan gawat darurat, ia melangkahkan kakinya dengan langkah tergesa-gesa.


Setibanya disana Bayu menghentikan langkahnya saat melihat Arsya yang tengah terduduk lemah dilantai, Bayu menghembuskan nafas nya berat, ia pun melangkahkan kakinya mendekat kearah Arsya.


"boss??" sapa Bayu saat tiba disamping Arsya, Arsya tak merespon, ia sibuk dengan pikirannya sendiri.


" boss??" Bayu menepuk lembut pundak Arsya seketika Arya tersadar dari lamunannya.


"kapan kamu datang bay?" tanya Arsya dengan suara parau dan lemah.


" barusan boss, boss kenapa duduk disini? kita duduk disitu aja bos" Bayu menunjuk bangku yang ada didepan mereka, arsya hanya diam.


" ayolah boss, nanti boss bisa masuk angin jika duduk dilantai yang dingin kayak gini" Bayu mencoba membujuk Arsya, lagi-lagi Arsya hanya diam.


Arsya pun duduk dikursi tunggu bersama dengan Bayu, Arsya menyandarkan kepalanya ke dinding kemudian ia pun memejamkan matanya.


Bayu melirik Arsya sejujurnya ia kasihan melihat Arsya yang kacau seperti ini, ini kali pertama nya Bayu melihat sang boss dalam keadaan seperti ini.


Biasanya Arsya dikenal sebagai orang yang kuat dan tegar, namun untuk saat ini ia tidak bisa orang yang sangat berarti dalam hidup nya kini tengah berjuang untuk hidup.


"boss?" ucap Bayu, Arsya membuka matanya dan menatap Bayu.


"boss belum makan dari tadi pagi, boss mau makan apa biar saya beliin?" ucap Bayu tersenyum tipis, Arsya menggeleng kecil.


" enggak Bay, saya enggak lapar" jawab Arsya kembali memejamkan matanya,Bayu menatap sendu sang boss.


" tapi boss"


" saya bilang enggak ya enggak Bayu" bentak Arsya, Bayu pun mengangguk kecil ia tidak lagi bersuara.


Arsya terus memejamkan matanya rasanya ia tidak sanggup untuk membuka matanya, ia tidak ingin melihat apa lagi mendengar kemungkinan hal buruk yang akan terjadi.

__ADS_1


Bayu dengan setia nya duduk disamping sang boss, ia tidak bergerak sedikit pun ia hanya duduk diam sembari melirik sang boss yang tampak lelah itu.


"ya Allah tolong selamatkan Bu Raisa dan anak mereka, tolong selamatkan mereka ya Allah" batin Bayu.


"Arsya, Bayu??" panggil seseorang yang baru saja sampai, Bayu menoleh ke sumber suara, ia terkejut saat melihat mama Maya dan papa Andre yang sedang berjalan kearah mereka.


" Bu Maya pak Andre" sapa Bayu dan bangkit dari duduknya, papa Andre mengangguk kecil.


" bagaimana keadaan Raisa Bayu?" tanya mama Maya panik.


" Bu Raisa masih didalam buk, masih ditangani oleh dokter" jawab Bayu, mama Maya seketika terduduk lemah diatas kursi ia sangat khawatir apalagi mendapat kabar dari Bayu yang mengatakan bahwa Raisa masuk rumah sakit.


"astaghfirullah ya Allah Riasa" teriak mama Maya, ia kembali menangis dipelukkan sang suami, tak terhitung lagi sudah berapa kali beliau menangis saat Raisa hilang sampai ia masuk kerumah sakit entah tak terbendung lagi air mata mama Maya.


" sabar ma sabar, kita berdoa saja semoga Raisa dan cucu kita baik-baik saja" papa Andre berusaha menenangkan sang istri.


" mama enggak bisa tenang pa, Raisa, Raisa ia sekarang ada didalam pa, mama takut pa mama takut" ucap mama Maya tersedu-sedu.


Papa Andre mengeratkan pelukannya, ia juga sedih tapi ia berusaha kuat dan tidak ingin menunjukkan nya kepada sang istri, ia harus terlihat kuat untuk sang istri.


Mama Maya melepaskan pelukannya, dan melirik kearah sang putra yang sedang memejamkan matanya.


Arsya awalnya hanya memejamkan mata namun akhirnya ia tertidur karena kelelahan, lemah fisik dan hatinya.


Mama Maya kembali menangis saat melihat keadaan sang putra yang sangat kacau, rambut berantakan, baju penuh dengan noda darah, wajah yang babak belur sungguh memilukan sekali.


"Arsya??" ujar mama Maya, rasanya ia tak sanggup melihat sang putra, dibelainya lembut rambut sang putra.


Merasa ada yang menggangu Arsya pun membuka matanya, pandangan nya tertuju kepada sang mama.


Arsya langsung memeluk mama Maya dengan erat, air matanya kembali tumpah ia menangis dipelukan sang mama.


" ma Raisa ma Raisa" lirih Arsya pilu, mama Maya mengangguk kecil ia mengeratkan pelukannya.


" kamu yang sabar ya sayang, banyak-banyak berdoa semoga anak dan istri kamu baik-baik saja" ucap mama Maya berusaha menenangkan sang putra, sejujurnya ia pun juga kalut dan takut.


"Raisa ma, Arsya takut terjadi apa-apa kepada mereka berdua, bagaimana jika mereka meninggalkan arsya ma, Arsya enggak akan. pernah sanggup ma Arsya enggak sanggup" tangis Arsya tersedu-sedu.

__ADS_1


__ADS_2