Kehidupan Ku (Menikah Muda)

Kehidupan Ku (Menikah Muda)
Bagian 86


__ADS_3

Bayu mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, banyak kendaraan lalu lalang tak menjadi penghalang, dipikiran Bayu saat ini adalah ia harus segera sampai dirumah sakit.


Bayu melirik kaca spion didepannya terlihat Arsya yang senantiasa mengelus lembut tangan Raisa.


Bayu menghela nafas panjang ia tak habis pikir orang sebaik Raisa ada yang membencinya.


Arsya terus menguatkan Raisa agar bisa bertahan sampai tujuan.


Sejujurnya Arsya sangat takut ia takut terjadi apa-apa kepada istri dan anaknya.


Sejumlah pikiran buruk bersarang dibenak Arsya, namun dengan cepat ia tepis.


Ia harus terlihat kuat setidak nya ia harus tetap terlihat kuat didepan Raisa.


Raisa terus merintih kesakitan darah pun tak henti mengalir.


Arsya yang mendengar rintihan Raisa pun menjadi semakin kalut dan tak tega.


" kamu yang sabar ya dek, kamu harus kuat, kamu harus bertahan" Arsya mengecup kening Raisa.


Keringat dingin terus mengucur didahi Raisa, rasa sakit yang teramat sangat membuat nya tak sanggup lagi untuk bertahan, ia hanya bisa berdoa semoga ia dan anaknya tidak kenapa-kenapa.


"ya Allah selamatkan lah kami berdua, jika tidak bisa maka hamba memohon selamat kan lah anak hamba ya Allah, biarkan ia lahir dan melihat dunia ini".


Raisa memejamkan matanya ia sudah tak kuat lagi menahan semua ini, Arsya yang melihat Raisa memejamkan mata nya pun seketika panik, ia takut Raisa sudah tidak ada.


" Raisa bangun Raisa" Arsya menepuk lembut pipi Raisa, namun nihil tak ada respon dari Raisa, Arsya semakin kalut pikiran buruk pun mulai menghampiri nya, ia tidak pernah siap jika harus kehilangan Raisa dan anaknya.


Bayu melirik kaca spion di depan nya ia tercengang melihat Raisa yang tak sadar kan diri.


" boss, buk Raisa kenapa?" tanya Bayu khawatir, Arsya hanya menangis ia tak tau harus berkata apa.

__ADS_1


" Bay cepat, kita harus segera sampai saya tidak mau terjadi apa-apa kepada anak dan istri saya bay cepat Bayu" teriak Arsya kalut, Bayu mengangguk dan menambah kecepatan laju mobil.


Arsya terus berusaha untuk membangunkan Raisa namun lagi-lagi usaha nya nihil, Arsya semakin kalut, sedih, cewas, khawatir, dan takut bercampur menjadi satu ia takut jika Raisa akan pergi dari hidup nya untuk selamanya.


Bayu menghentikan mobil nya, Arsya yang menyadari mobil berhenti langsung melirik kearah Bayu.


" kenapa Bay? kenapa kamu berhenti?" tanya Arsya datar, Bayu menghela nafas kasar ia bingung harus bagaimana.


"macet pak" jawab Bayu, Arsya menatap lurus ke depan ia membulatkan matanya sempurna banyak kendaraan yang berjejer rapi didepan nya, Arsya menghela nafas berat ia semakin kalut.


" akhh, siap kenapa harus macet sih" teriak Arsya geram, ia menjambak rambut nya prustasi, Bayu melirik kearah Arsya yang terlihat sangat kacau.


" Bayu apa enggak bisa kamu menyelinap atau sebagai nya, kita harus cepat sampai dirumah sakit" ucap Arsya prustasi, Bayu menggeleng kecil.


" enggak bisa pak, semua jalanan padat oleh kendaraan" jawab Bayu lirih, Arsya mendesah kesal ia bingung jika terus macet seperti ini bagaimana ia bisa membawa Raisa kerumah sakit, apalagi jarak nya masih lumayan jauh.


Arsya meletakkan kepala Raisa dengan hati-hati dikursi, setelah itu ia pun membuka pintu mobil, Arsya keluar untuk mencari bantuan ia mau berdiam diri menunggu sampai tidak macet lagi, sekarang nyawa Raisa dan anak nya yang menjadi taruhannya.


" pak Arsya mau kemana?" teriak Bayu saat ia keluar dari mobil.


Arsya melihat kebelakang ia berteriak kepada Bayu untuk menjaga Raisa selagi ia berusaha untuk mencari pertolongan dan jalan keluar nya.


" Bayu tolong jaga Istri saya, saya mau cari bantuan dulu" teriak Arsya, Bayu mengangguk kecil.


Arsya berlari kesana-kemari mencari bantuan dan jalan keluar, namun nihil jalanan terlalu padat akan kendaraan bahkan untuk lewat sekalipun susah.


Arsya menghela nafas berat, ia kembali ke mobil nya, Arsya membuka pintu mobil dan menggendong tubuh Raisa yang tak sadar kan diri itu, Bayu yang melihat Arsya menggendong tubuh Raisa pun sontak terkejut.


Arsya dengan hati-hati membawa tubuh Raisa keluar dari mobil, tak lupa Arsya mengambil jas nya dan diselimut kan nya ketubuh Raisa.


Bayu yang melihat Arsya pun langsung keluar dari mobil dan mendekat kearah Arsya.

__ADS_1


" bapak mau kemana? Bu Raisa mau dibawa kemana pak?" tanya Bayu, Arsya melirik Bayu sekilas.


" saya mau kerumah sakit Bayu" jawab Arsya singkat, Bayu mengerutkan dahi bingung.


" maksud bapak, bapak mau gendong Bu Raisa kerumah sakit?" tanya Bayu tak percaya, Arsya mengangguk cepat.


" iya bay" jawab Arsya cepat.


" tapi pak jarak rumah sakit dari sini cukup jauh" Bayu berusaha mencegah Arsya.


" enggak Bay, saya enggak bisa berdiam diri menunggu sampai jalanan kembali normal, saya enggak bisa bay saya enggak sanggup buat kehilangan istri saya" ujar Arsya dengan suara parau.


" tapi pak" ucap Bayu .


" enggak Bayu, walaupun sejauh kutub Utara pun saya akan jalani, saya akan tempuh sekarang bagi saya keselamatan istri saya lebih penting, kamu disini saja nanti kalau jalanan sudah normal kamu bisa nyusul kerumah sakit" perintah Arsya, Bayu pun hanya mengangguk cepat bagaimana pun juga ia tak akan bisa membantah perintah Arsya.


Arsya mulia berjalan sembari menggendong Raisa dalam pelukan nya. Arsya menyusuri jalanan dengan langkah cepat banyak pasang mata yang menatap kasihan dan takjub kepada Arsya.


Air mata Arsya luruh tanpa diminta, melihat Raisa yang belum sadar kan diri membuat hati Arsya sakit, sekuat tenaga ia berusaha kuat.


Wajah Raisa telah pucat pasi, Arsya yang melihat nya pun menjadi semakin cemas, bahkan detak jantung Raisa pun semakin melemah.


" ya Allah dek kamu yang kuat ya, demi Abang sayang demi anak kita" gumam Arsya.


Arsya mengeratkan tubuh Raisa, angin malam yang berembus tak membuat Arsya gentar, ia terus berjalan menyusuri jalanan.


Lelah letih menyergap tubuh Arsya, ingin rasanya ia istirahat barang sebentar, namun ia urungkan ia lebih memilih melanjutkan perjalanan agar cepat sampai kerumah sakit.


Sekitar 1 jam Arsya berjalan kaki menyusuri jalan, Raisa tampak masih betah memejamkan matanya, Arsya mengecup kening sang istri dengan penuh kasih sayang, ia beroda semoga Raisa bisa bertahan.


Arsya terus berjalan melewati kendaraan yang berjejer rapi ditengah jalan, kemacetan panjang dan total membuat jalanan serasa sempit, Arsya dengan hati-hati melangkahkan kakinya agar tak terhimpit dimobil.

__ADS_1


Gerimis turun tanpa dipinta membasahi bumi, Arsya masih terus berjalan ia tak akan berhenti sebelum ia sampai dirumah sakit masih sekitar 10 kilo meter lagi ia akan sampai dirumah sakit.


__ADS_2