Kehidupan Ku (Menikah Muda)

Kehidupan Ku (Menikah Muda)
Bagian 91


__ADS_3

Dikediaman Arsya tampak ramai sekali para pelayat yang berdatangan, baik dari kerabat terdekat sampai kolega dan rekan bisnis nya.


Bendera kuning pun telah terpasang didepan rumah, tak lupa papan karangan bunga yang telah berjejer rapi di setiap halaman, bahkan sampai kejalanan.


Banyak pelayat yang tidak percaya bahwa Raisa telah pergi untuk selamanya, mereka berpikir bahwa Raisa masih terlalu muda untuk itu, namun kembali lagi semua ini adalah kehendak sang pencipta, jika ajal telah tiba semua yang bernyawa pun pasti akan mati, ajal tak pernah pandang bulu, baik tua maupun muda tak ada perbandingan nya.


Rania dan Reno baru saja tiba, ia mengusap kasar air matanya.


Sedari di perjalanan tadi Rania tak hentinya menangis, bahkan nenek Uti pun juga ikut, nek Uti tak percaya bahwa cucu menantu kesayangan nya itu pergi lebih dulu dari diri nya.


Reno memarkir kan mobilnya ditempat yang telah tersedia, kemudian mereka pun keluar dari mobil.


Rania menggandeng nek Uti memasuki pintu utama.


Mama Maya dan papa Andre menyambut kedatangan Reno, Rania, dan nek Uti.


Mata mama Maya memerah dan bengkak akibat kebanyakan menangis.


Rania menghambur ke pelukan sang Tante, ia menangis tersedu-sedu.


"Tanteeeee" mama Maya memeluk erat tubuh sang keponakan.


Reno mencium tangan papa Andre, tersirat kesedihan diwajah pria baru baya itu.


"Arsya dimana om?" tanya Reno yang tak melihat keberadaan Arsya.


" Arsya masih dirumah sakit Reno, mengurus segala nya, nanti setengah jam lagi mereka akan tiba dengan ambulans" jawab papa Andre tersenyum tipis, Reno pun mengangguk cepat.


Ayah Rama dan Ibu Aisyah pun menghampiri mereka, Ayah Rama dan ibu Aisyah pun langsung mencium tangan nenek Uti.


" kamu yang sabar ya Aisyah, mungkin ini semua sudah takdir Allah, kita harus kuat dan ikhlas" nek Uti mengelus lembut pundak ibu Aisyah.


" iya Bu, On Sya Allah saya sudah ikhlas" jawab ibu Aisyah tersenyum tipis.


Semua orang melakukan tahlilan sembari menunggu kedatangan jenazah.


Rania terus menangis bahkan saat pembacaan Yasin pun.


Rania pun izin untuk pergi kekamar karena ia merasa pusing, mama Maya pun mengantar Rania kekamar.


"kamu istirahat ya sayang, jangan banyak pikiran, kan kamu lagi hamil muda, enggak baik buat kesehatan kamu" mama Maya mengelus lembut kepala Rania, Rania pun mengangguk kecil dan merebahkan dirinya di kasur.

__ADS_1


Mama Maya pun kembali keruang utama untuk menyambut para pelayat yang terus berdatangan.


Dirumah sakit Arsya ditemani oleh Bayu, dan Rangga.


Mereka mengurus segalanya untuk mengurus kepulangan jenazah Raisa.


Arsya menatap lekat wajah cantik nan ayu sang istri, tersirat senyum tipis dibibir sang istri.


Arsya pun berusaha untuk ikhlas, meski sejujurnya ia tidak akan pernah bisa ikhlas.


Namun demi sang anak ia mencoba kuat dan ikhlas untuk menerima takdir yang telah Allah gariskan untuk nya.


Saat hendak dikafani, Arsya menghentikan ketiga perawat itu.


Ia ingin memeluk dan mencium Raisa untuk terakhir kalinya sebelum Raisa dikafani.


ketiga perawat itupun mengangguk kecil.


Arsya memeluk dan mencium lama kening Raisa, air matanya kembali mengalir.


" semoga kamu tenang ya dek disana, Abang akan selalu mendoakan kamu, In Sya Allah Abang ikhlas, Abang janji akan mendidik dan membesarkan anak kita dengan baik.


Semua proses telah dilakukan, baik dari memandikan maupun mengkafani telah selesai jenazah Raisa pun dimasukan kedalam ambulans.


Arsya ikut masuk kedalam ambulans, ia ingin menemani istri tercinta nya itu.


Sedangkan Bayu dan Rangga mereka berdua memasuki mobil Arsya.


Selama diperjalanan Arsya hanya melamun, entah apa yang ia pikirkan.


Terlihat dari sorot matanya yang kosong.


Sekitar 30menit mobil ambulance pun memasuki halaman rumah Arsya, tampak mama Maya, papa Andre, ayah Rama, ibu Aisyah, Reno, Rania dan semuanya telah menunggu didepan pintu utama.


Mobil pun berhenti tepat didepan mereka, tangis haru menyambut saat peti jenazah Raisa dikeluarkan dari mobil.


Rania menangis tersedu-sedu , sampai-sampai Reno harus membopong nya karena lemah.


Peti jenazah pun dimasukkan kedalam rumah, semua orang tak percaya jika wanita cantik nan baik hati itu kini telah berpulang.


" ya Allah neng Raisa" seru bi Sumi saat petih jenazah telah diletakkan ruang utama.

__ADS_1


Arsya memasuki kamar nya dan Raisa dengan senyum getir, melangkahkan kaki kearah lemari.


Arsya terpaku ditempatnya saat melihat pakaian Raisa yang terpajang dan tertata rapi dilemari.


Diambilnya salah satu gamis yang sering digunakan oleh Raisa.


Didekap nya erat gamis itu, bagaikan ia memeluk Raisa.


Lagi-lagi cairan bening meleleh dipipinya, Arsya kembali menangis, meskipun sudah berusaha untuk ikhlas dan kuat, namun pada akhirnya ia tak bisa.


Mama Maya yang tak melihat keberadaan sang putra pun melangkahkan kaki menuju kamar Arsya dan Raisa mungkin saja Arsya ada disana pikir mama Maya.


Mama Maya membuka pintu, ia menatap sendu sang putra yang sedang menangis sambil memeluk baju Raisa.


Dilangkahkan nya kaki mendekat kearah sang putra.


Dielusnya lembut bahu sang putra, merasa ada yang mengelus bahunya Arsya pun membalikkan badannya, tampak mama Maya yang sedang tersenyum getir.


"mamaaaa" Arsya memeluk tubuh sang mama, lagi-lagi ia menangis dipelukan sang mama.


" iya sayang," jawab mama Maya yang juga ikut menangis.


"kamu harus kuat sya, kamu harus kuat, mama tau ini pasti sulit buat kamu, begitupun dengan kami semua," mama Maya mencium pucuk kepala Arsya.


Arsya tak menjawab ia terus menangis dipelukan sang mama.


" ya udah sekarang kita keluar yuk, jenazah Raisa akan segera kita makamkan" ucap mama Maya menangkup wajah Arsya dengan kedua tangan nya, Arsya mengangguk kecil.


" iya ma, Arsya mau ganti baju dulu mama keluar aja dulu" jawab Arsya dengan suaranya serak akibat banyak menangis.


Mama Maya mengangguk kecil, dan tersenyum tipis kemudahan ia pun berlalu pergi.


Setelah mama Maya pergi Arsya pun langsung mengganti pakaian nya dengan pakaian serba hitam, karena sebentar lagi jenazah Raisa akan dimakam kan.


Rasa nya Arsya tak rela jika harus berpisah dengan sang istri, namun mau bagaimana lagi jenazah Raisa harus segera dimakamkan, ia tidak mau egosi, ia harus kuat agar Raisa bisa pergi dengan tenang tanpa ada beban.


" ayo Arsya kamu harus kuat, agar Raisa bisa pergi dengan tenang, jangan buat ia menjadi tak tenang dengan sikap mu ini, ikhlaskan dia, In Sya Allah kalian akan dipertemukan kembali disurga nya Allah." batin Arsya menyemangati diri nya sendiri saat didepan kaca.


Arsya pun memakai peci hitam yang dibelikan oleh Raisa saat Arsya ulang tahun.


Arsya pun tersenyum getir saat melihat pantulan dirinya yang ada dicermin.

__ADS_1


__ADS_2