
Sinar terik matahari masuk melalui celah gorden, Arsya yang sedang tertidur pulas pun merasa terganggu dengan sinar sang mentari.
Ia membuka matanya dan meraba sesuatu disamping nya.
" loh, kok Raisa enggak ada?" gumam Arsya pada dirinya sendiri.
clekkk...
pintu dibuka tampaklah sosok Raisa yang berjalan membawa nampan berisi segelas susu dan roti, Raisa tersenyum manis saat melihat Arsya yang telah bangun.
" eh sudah bangun" Raisa meletakkan nampan diatas nakas, Arsya diam dan tersenyum tipis.
" udah mandi dulu gih sana, terus abis itu sarapan oke" perintah Raisa, Arsya hanya mengangguk dan berlalu kekamar mandi.
Raisa berjalan mendekat kearah lemari, dibuka nya lemari itu dan memilih pakaian santai yang cocok untuk Arsya gunakan.
" nah ini cocok" Raisa menarik baju kaos berwarna hitam dan celana jean setengah lutut berwarna hitam.
Raisa meletakkan pakaian itu diatas ranjang, tak lama kemudian Arsya keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar.
Arsya berjalan menghampiri Raisa, dan mengambil pakaian yang sudah disiapkan oleh istrinya itu.
Setelah berpakaian, Arsya menghampiri Raisa yang tengah duduk di balkon.
" sayang?" panggil Arsya, Raisa menoleh kebelakang dan tersenyum manis.
Arsya mendudukkan bobot tubuhnya disamping Raisa.
" nih Abang sarapan dulu"
Arsya mengangguk dan mulai memakan sarapannya, Raisa tersenyum tipis melihat Arsya yang tengah lahap menikmati sarapan nya.
Disaat Raisa sedang memandangi Arsya, tiba-tiba ia tersentak kala ponsel nya berdering.
Raisa mengambil gawai nya dan melihat kelayar siapa yang telah menelpon nya itu.
"mbak Tika" gumam Raisa lirih, Arsya menoleh kearah Raisa.
" siapa dek?" tanya Arsya meletakkan kembali gelas yang telah kosong itu.
" mbak Tika bang" jawab Raisa jujur, Arsya hanya diam dan memandang lurus kedepan.
" yaudah Raisa angkat telpon dulu ya bang" Raisa menggeser tombol hijau panggilan suara pun terhubung.
" assalamualaikum halo mbak Tika, ada apa?" tanya Raisa to the point.
"waalaikumsalam Raisa, maaf ya mbak gangguan kamu, mbak cuma mau ngajak kamu shoping kamu mau enggak, mbak enggak enak sendirian" ucap Tika penuh harap, Raisa langsung melirik Arsya yang juga ikut mendengarkan pembicaraan kedua nya.
__ADS_1
" emm, gimana ya mbak kayaknya enggak bisa deh, lain kali aja ya mbak" ucap Raisa ragu, ia kembali melirik Arsya.
" oh, enggak bisa ya? ya udah enggak apa-apa" ucap Tika nada suara sedikit kecewa.
"maaf ya mbak" ucap Raisa merasa tak enak hati.
"engakk apa-apa Raisa, ya sudah mbak tutup dulu ya telponnya"
"iya mbak" ucap Raisa dan meletakkan kembali gawainya.
Arsya memainkan gawainya, pandangan nya fokus pada game digawai nya.
Raisa melirik Arsya sekilas, lalu mengambil piring beserta gelas yang kotor dan berlalu pergi.
Ting tong...
Suara bel, Raisa yang baru selesai mencuci piring pun segera melangkahkan kakinya menuju pintu utama.
" iya sebentar" Raisa membuka pintu, ia terkejut kala melihat kakaknya yang datang.
" kakak" panggil Raisa tidak percaya, ia langsung berhamburan memeluk erat tubuh sang kakak yang telah lama tidak ia jumpai.
" kakak kenapa enggak bilang dulu sama Raisa kalo mau kesini, kan Raisa bisa siapin semuanya" rengek Raisa, Rangga pun hanya tersenyum tipis, melihat tingkah manja sang adik saat berada didekatnya.
"haii, aunty?" sapa Rayen anak Rangga, yang berusia 7 tahun.
" kabar Rayen baik aunty, aunty sendiri gimana?" tanya Rayen balik
" Alhamdulillah seperti yang kamu lihat sayang aunty baik-baik saja" ucap Raisa mencium gemas pipi keponakan nya itu.
"kak Mela apa kabar?" Raisa beralih memeluk sang kakak ipar.
" Alhamdulillah dek, kabar kakak baik" Mela memeluk erat tubuh sang adik ipar penuh dengan rasa sayang.
" ehh, astagfirullah Raisa lupa saking senangnya Raisa lupa mempersilakan kalian masuk, yuk masuk" ajak Raisa, Rangga, Mela ,dan Rayen pun melangkahkan kaki memasuki rumah dan duduk dikursi yang ada diruang tamu.
" bentar ya kak, aku mau manggil bang Arsya dulu" Rangga, Mela pun mengangguk, dengan cepat Raisa melangkahkan kakinya menuju kamar nya.
Raisa membuka pintu kamarnya tampak lah Arsya yang tengah duduk bersandar di kepala ranjang dengan tangan dan pandangan yang fokus memainkan game digawai nya.
" bang" Raisa berjalan menghampiri Arsya, Arsya melirik Raisa dengan alis yang bertaut.
" bang ada Kak Rangga dan keluarga nya datang kesini" ucap Raisa, Arsya pun mengehentikan aktivitasnya dan menatap Raisa.
" beneran dek?" tanya Arsya tak percaya pasalnya kakak iparnya itu sangat lah sibuk sehingga tidak punya waktu senggang untuk datang kesini, meskipun Raisa sang adik yang meminta nya.
"iya bang mereka ada dibawah, nungguin Abang, ya sudah yuk kita turun enggak enak sama kak Rangga dan kak Mela" Raisa menggandeng tangan suaminya, dan berlalu keluar kamar.
__ADS_1
Raisa dan Arsya berjalan menuju ruang tamu dan mendudukkan bobot tubuhnya dikursi.
" Kak Rangga apa kabar?" sapa Arsya saat sudah duduk.
" Alhamdulillah kabar Kakak baik sya, kamu sendiri?" tanya Rangga balik, Arsya tersenyum tipis.
" Alhamdulillah ya seperti yang Kakak lihat Arsya baik-baik saja" ucap Arsya tersenyum tipis.
" Kak Mela apa kabar?" tanya Arsya melirik kearah Mela.
" Alhamdulillah sya, kabar kakak baik" ucap Mela tersenyum tipis.
" haii, jagoan apa kabar" Arsya mengusap kepala Rayen gemas.
"baik dong uncle" ucap Rayen bersemangat, Arsya hanya tersenyum manis.
" wah makin ganteng aja ni keponakan uncle" puji Arsya, Rayen hanya tersenyum manis dan menampilkan deretan gigi-gigi nya yang putih.
" iya dong uncle, Rayen kan sudah besar pasti tambah ganteng dong, oh ya asal uncle tau banyak loh cewek-cewek yang antri buat jadi pacar Rayen" ucap Rayen polos, Raisa dan Arsya hanya tersenyum manis.
" ohya, wah hebat sekali Rayen, terus gimana kamu terima enggak?" tanya Arsya menanggapi omongan Rayen.
" enggak uncle" ucap Rayen santai.
" loh kok enggak? kenapa?" tanya Arsya pura-pura bingung dan tidak mengerti.
" papa, sama mama marah uncle" jawab Rayen jujur.
" kenapa?" tanya Raisa.
" kata mereka Rayen masih kecil aunty, padahal kan umur Rayen sudah 7 tahun, Rayen sudah besar uncle aunty" ucap Rayen polos, Raisa dan Arsya hanya tertawa kecil dengan penuturan bocah 7 tahun itu.
" ck, udah besar apanya? masih bocil aja belagu" cibir Rangga, Rayen langsung menatap tajam sang papa.
" kenapa? benerkan?" tanya Rangga datar.
" papa memang menjengkelkan" ketus Rayen dengan kesal.
" hahaha, kak Rangga sikap Rayen sama sekali seperti mu" ucap Raisa tertawa kecil, Rangga memandang tajam sang adik.
"ya iyalah sama dia kan anak saya" ketus Rangga kesal.
" sudah-sudah kenapa jadi ribut sih, kamu juga mas udah tua juga, katanya kangen sama Raisa kok udah ketemu malah ribut?" ucap Mela menengahi adik dan kakak itu.
" Oalah ternyata Kak Rangga kangen toh sama aku?" cibir Raisa.
" ck, enggak juga biasa aja" elak Rangga, pasalnya adik nya ini sering sekali membuat nya merasa kesal.
__ADS_1