
Raisa terus melangkahkan kaki menyusuri gudang tersebut, tiba-tiba dari arah belakang seseorang membekap mulut Raisa dengan sapu tangan, seketika Raisa pun tak sadarkan diri.
Setelah melihat Raisa yang sudah tidak sadar kan diri, orang tersebut membawa Raisa menuju sebuah ruangan yang terletak disudut gudang tersebut.
Setiba nya diruangan itu, orang tersebut langsung meletakkan tubuh Raisa diatas kursi, setelah nya ia pun lanjut mengikat tangan dan kaki Raisa dengan tali, tak lupa juga lakban untuk membekap mulut Raisa agar tidak berteriak-teriak.
Setelah semua nya dirasa aman, orang tersebut meninggal Raisa yang belum sadar kan diri itu sendirian diruangan dengan cahaya yang remang-remang.
"bagaimana apakah semua berjalan dengan lancar?" tanya seorang wanita kepada orang yang telah menyandra Raisa itu.
Orang itu mengangguk cepat, seulas senyuman terbit dibibir wanita itu, rencana nya berjalan dengan lancar, wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Tika.
"yasudah kalau begitu kamu boleh pergi, ingat jaga wanita itu agar dia tidak bisa melarikan diri, jika itu sampai terjadi kalian akan tau sendiri akibat nya." perintah Tika, orang itu pun mengangguk cepat, dan berlalu meninggalkan Tika.
"Raisa, Raisa kamu itu lugu sekali sih" gumam Tika sembari geleng-geleng kepala, ia pun mendudukan bokong nya diatas kursi sambil membayangkan rencana apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
Di ruangan yang minim cahaya tersebut, Raisa mulai sadar, matanya menatap seluruh sudut ruangan.
Ia terkejut saat melihat kaki dan tangan nya yang terikat oleh tali, ia berusaha mengingat-ingat apa yang telah terjadi kepada.
Namun semua nya sia-sia, seingat Raisa dia sedang berjalan menyusuri gudang ini untuk mencari keberadaan Tika.
__ADS_1
" Astaghfirullah, kenapa aku bisa ada disini, dan ini apa lagi kok tangan dan kaki ku diikat seperti ini? Ya Allah apa yang terjadi kepada hamba?" Gumam Raisa.
Raisa berusaha melepaskan ikatan tali yang ada ditangannya, sekuat tenaga ia kerah kan namun hasil nya nihil, ikatan tali itu sangat kencang sekali, Raisa hanya bisa pasrah apa yang akan terjadi padanya.
Mau berteriak minta tolong pun percuma, mulut nya dipasang lakban, ingin berteriak sekencang apapun orang pasti tidak akan mendengar.
" Ya Allah tolong hamba Ya Allah, mbak Tika apakah mbak Tika baik-baik saja?" tanya Raisa pada dirinya sendiri.
Dilain tempat Arsya terus mondar-mandir sembari sesekali melirik kearah gawainya, pasalnya sudah berulangkali ia berusaha menghubungi Raisa namun nihil tak ada jawaban, biasanya Raisa tak pernah seperti ini, saat Arsya menelpon Raisa pasti dengan cepat menjawab nya, bahkan jika panggilan telepon dari Arsya tak terjawab Raisa akan menelpon nya balik, namun kali ini tidak ada respon atau panggilan balik dari Raisa.
Bayu yang melihat Arsya mondar-mandir pun menjadi ikut pusing.
Bayu yang merasa dikacangi oleh Arsya pun hanya menghembuskan nafas panjang, Arsya terus mondar-mandir didepan Bayu, membuat Bayu semakin jengah ia sudah tidak tahan lagi melihat kelakuan sang boss, ia pun bangkit dari duduknya menghampiri Arsya, dipegang nya pundak Arsya alhasil Arsya pun berhenti mondar-mandir.
" apaan sih kamu Bay?" ketus Arsya, Bayu diam saja dan menuntun Arsya untuk duduk dikursi.
"kamu kenapa sih Bay? saya nanya kok kamu diam aja?" kesal Arsya, Bayu menghela nafas berat.
" huuufftt, boss saya ini pusing dari tadi ngeliatin bos mondar-mandir terus kayak enggak ada kerjaan aja" jawab Bayu, Arsya hanya diam dengan wajah datar nya.
" emangnya boss ada masalah apa?" tanya Bayu, Arsya menghela nafas berat ia bingung mau berbicara bagaimana, perasaan nya sangat cemas karena Raisa.
__ADS_1
"Bayu?" panggil Arsya.
" iya bos" jawab Bayu,
Arsya memejamkan matanya, Bayu yang melihat sang boss seperti itu pun tak tau harus berbuat apa, pasalnya Arsya belum menceritakan apa permasalahan yang ia hadapi.
"boss, ada apa? kenapa tuh muka lecek kayak jalanan becek?" tanya Bayu berusaha menghibur Arsya, Arsya yang mendengar nya pun langsung mendelik tajam.
" wesss, santai boss santai" ucap Bayu gelapan, Arsya membuang mukanya.
" Bay, coba kamu telepon rumah, tanya bi Sumi apakah Bu Raisa baik-baik saja" perintah Arsya , Bayu mengangguk kecil dan mulai menelpon kerumahnya.
setelah menelepon, Arsya langsung memberundung Bayu dengan berbagai pertanyaan.
" bagaimana bay ibu Raisa baik-baik aja kan? istri saya baik-baik saja kan?" tanya Arsya cepat, tersirat raut kecemasan diwajahnya tampan nya.
Bayu menghela nafas berat, ia menggeleng kecil, Arsya yang melihat nya langsung mengerutkan dahi.
"ada apa bay?" tanya Arsya.
" boss buk Raisa enggak ada dirumah, kata bi Sumi bu Raisa tadi pergi belanja diantar oleh pak Tarmin, terus pak Tarmin disuruh pulang oleh bu Raisa, katanya ia ada urusan penting, terus sampai sekarang Bu Raisa enggak ngabarin pak Tarmin boss" jelas Bayu, Arsya bangkit dari tempat duduk ia berjalan menuju kamar nya disambar nya jaket dan dan topi serta dompet nya, tak ia hiraukan lagi pakaian nya yang hanya memakai baju kaos hitam dan celana jeans hitam, pikiran nya sekarang adalah dimana keberadaan Raisa.
__ADS_1