
Saat ini Tika dan Raisa tengah berada di cafe Ceria.
Setelah lelah berkeliling mall mereka memutuskan untuk mampir ke cafe sekedar melepas penat akibat berburu barang branded.
Saat Tika dan Raisa sedang asyik menikmati secangkir caffucino, tiba-tiba terdengar suara agak berat yang memanggil nama Tika, sontak Tika pun menoleh ke sumber suara, betapa terkejutnya Tika saat melihat sosok yang sangat ia benci sudah berdiri dibelakang nya dengan senyum tipis yang terukir diwajahnya.
'mau apa lagi sih laki-laki bejat ini, astaga Tuhan karma apa yang telah aku dapat, kenapa aku harus dipertemukan dengan dia lagi' gumam Tika dalam hati.
Toni melangkahkan kaki menghampiri Tika, Tika membuang muka dan pura-pura tidak mengenal Toni.
" haii Tik" sapa Toni canggung, Tika hanya diam bergeming, Toni pun tersenyum kecut.
" boleh saya duduk disini?" tanya Toni melirik Raisa, Raisa pun melirik Tika yang hanya diam, belum sempat Raisa menjawab Toni sudah menarik kursi dan mendudukan bokong nya dikursi itu.
" mau apa lagi Lo?" akhirnya Tika pun membuka suara nya, bahkan suara nya terdengar sangat berat.
Toni tersenyum tipis, dan memandang wajah cantik Tika, Tika membuang pandangannya kearah lain, ia tidak ingin terhanyut kembali dalam kenangan pahit nya dulu.
"enggak ada, niat nya sih aku kesini cuma mau ngopi ehh enggak tau nya kamu juga ada disini, emang bener ya jodoh enggak akan kemana" Ucap Toni disertai kekehan kecil, namun Tika hanya diam dan menahan amarahnya.
__ADS_1
"kamu kenapa sih tinggalin aku?" tanya Toni menggenggam erat tangan Tika, namun ditepis kasar oleh Tika.
Raisa yang melihat Toni dan Tika pun hanya diam dan pura-pura tidak tahu, ia lebih memilih untuk tetap menikmati caffucino didepan nya.
"yuk Raisa kita pulang" Tika menarik lembut tangan Raisa, Raisa pun hanya menurut dan segera pergi dari tempat itu.
Didalam mobil Tika hanya fokus pada jalanan didepannya ia terlihat sangat tidak nyaman, sedangkan Raisa banyak tanda tanya yang bersarang dalam benak Raisa, kenapa tiba-tiba Tika mengajaknya pulang apalagi merek baru saja duduk dan menikmati secangkir caffucino.
Namun Raisa hanya diam saja, ia merasa tidak berhak untuk ikut campur masalah pribadi Tika.
Tika menepikan mobilnya, dan Raisa menatap bingung Tika saat ia tak sengaja melihat Tika menangis.
Tika diam dan langsung memeluk erat tubuh Raisa, Raisa bingung dan hanya bisa diam saja, ia ingin memberikan waktu untuk Tika agar ia bisa lebih tenang.
Setelah merasa tenang Tika melepaskan pelukannya dan tersenyum tipis.
"kenapa aku harus dipertemukan lagi dengan dia Raisa kenapa? ini enggak adil" ucap Tika dengan suara bergetar, Raisa merasa bingung pasalnya ia tidak tau permasalahan Tika.
" coba mbak cerita sama Raisa ada masalah apa? siapa tau Raisa bisa bantu memecahkannya" ucap Raisa lembut, Tika menatap dalam mata Raisa mencari ketulusan, Raisa mengangguk kecil, pertanda ia benar-benar tulus ingin membantu Tika.
__ADS_1
"Raisa mungkin ini karma buat aku Raisa, hiks hiks" Tika kembali menangis dan memeluk Raisa erat, Raisa mengelus lembut punggung Tika.
" karma? memangnya mbak Tika punya salah apa?" tanya Raisa bingung, Tika melepaskan pelukannya dan menatap Raisa.
" dimasa lalu, aku udah melakukan kesalahan fatal Raisa, aku udah mengkhianati orang yang aku cintai, aku berselingkuh dengan teman dekatnya sendiri Raisa, aku menyesal, dulu aku lebih memilih laki-laki bejat itu dibanding Arsya Raisa hiks hiks" Tika menangis sejadi jadinya.
Degh...
Raisa mematung ditempat, ia terkejut kala Tika menyebut nama Arsya, apa mungkin Arsya pacar yang telah dikhianati oleh Tika itu adalah Arsya suaminya, namun Raisa tidak ingin berfikiran yang bukan-bukan toh bisa saja bukan Arsya suaminya, kan nama Arsya ada banyak didunia ini, mungkin hanya namanya saja yang mirip, pikir Raisa.
"Dan laki-laki tadi itu adalah Toni laki-laki bejat yang dengan teganya mencampakkan aku seperti sampah, aku pikir dengan memilih Toni aku bisa bahagia, ternyata aku salah Raisa, aku sangat salah menilai dia, setelah dia mendapatkan kehormatan ku, ia pergi begitu saja, aku enggak sanggup Raisa hiks hiks" air mata Tika semakin deras mengaliri pipi mulus nya, Raisa mengelus lembut pundak Tika bermaksud ini menyalurkan ketenangan untuk Tika.
"aku menyesal Raisa sudah menyia-nyiakannya Arsya laki-laki baik yang mencintai ku dengan ketulusan hati nya, setiap hari aku selalu dihantui rasa bersalah, mungkin ini karma dari Tuhan buat aku Raisa, aku udah jahat aku enggak pantas hidup lagi, seharusnya aku mati Raisa mati hiks hiks" Raisa langsung memeluk erat tubuh Tika, dielusnya lembut punggung Tika.
" menangis lah mbak, karena dengan menangis kita bisa menjadi lebih tenang, tumpahkan lah semua beban yang mbak pendam selama ini, In Sya Allah Raisa akan selalu berusaha menjadi teman yang baik buat mbak, mbak bisa menceritakan apapun masalah mbak sama Raisa" ucap Raisa lirih.
"hiks hiks, makasih ba banyak Raisa" ucap Tika disela isak tangis nya, Raisa melepaskan pelukannya dan menatap Tika dengan senyuman manis nya, dihapus nya air mata Tika.
" sama-sama mbak, nah sekarang udah tenang kan?" tanya Raisa lembut, Tika mengangguk kecil, dan kembali melanjutkan perjalanan.
__ADS_1