
Suara adzan subuh berkumandang merdu masuk keindra pendengaran Raisa, sehingga ia pun refleks terbangun dari tidurnya, Raisa pun melirik kesamping tampak Arsya masih tertidur lelap, emang kebiasaan nih orang kalo tidur udah kayak kebo.
Raisa pun berlalu kekamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu.
setalah itu Raisa pun berniat membangunkan Arsya.
"bang bangun udah subuh" ucap Raisa menepuk pelan pipi lelaki yang mana 5 bulan lalu telah mengikrarkan ijab qobul nya atas namanya dihadapan keluarganya dan Allah SWT.
"eughh.. iya dek kamu udah siap-siap" tanya Arsya dengan suara serak khas bangun tidur dengan tatapan sayunya
Raisa pun menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"yaudah kalo gitu Abang siap-siap dulu" sahutnya sembari berlalu kekamar mandi.
setelah melaksanakan kewajiban dua rakaat, Arsya pun kembali tertidur.
sedangkan Raisa bergegas kebawah untuk membantu mama Maya dan bi Sumi untuk menyiapkan sarapan pagi.
" pagi ma, pagi bi Sumi" sapa Raisa kepada kedua wanita paruh baya tersebut.
" pagi juga sayang" jawab mama Maya dengan tersenyum manis.
"pagi juga non Tami," balas bi Sumi dengan penuh senyuman.
" masak apa hari ini ma, kayak nya en...." ucapan Raisa pun terjeda karena bau bumbu dapur yang begitu menyengat di Indra penciumanya yang reflek membuat Raisa menutup mulut karena merasa mual, Raisa pun langsung berlari ke wastafel untuk memuntah isi perut nya karena rasa bergejolak didalam perut, namun yang keluar hanya cairan putih saja seperti kemarin-kemarin.
mama Maya yang melihat Raisa mual-mual pun menjadi khawatir, beliau dengan cekatan memijat perlahan tengkuk Raisa dengan penuh kasih sayang.
"kamu kenapa sayang kok mual-mual terus? kamu sakit?" tanya mama Maya penuh dengan kecemasan karena terdengar dari suaranya.
" aku nggak kenapa-kenapa kok ma, mungkin cuma masuk angin biasa" jawab Raisa seraya tersenyum tipis,
" nggak kenapa-kenapa apanya kalo muka kamu pucat kayak gini, udah mendingan kamu kembali kekamar aja, biar mama bantu naik keatas ya" ucap mama Maya sembari menuntun Raisa berjalan, namun baru dua langkah kaki nya berjalan pandangan Raisa mendadak buram dan tubuhnya pun langsung ambruk kelantai, masih sempat ia dengar teriakan mama Maya
" Raisa," teriak mama Maya yang dilanda cemas kala melihat tubuh Raisa yang ambruk kelantai.
mama Maya pun langsung berteriak memanggil papa Andre dan Arsya.
" pa..papa, Arsya sini cepatan Raisa pingsan, pa Arsya tolong" teriak mama Maya dengan panik.
Papa Andre dan Arsya pun datang dengan tergopoh-gopoh karena mendengar teriakan mama Maya yang terdengar sangat panik
" astagfirullahaladzim ma apa yang terjadi? kenapa Raisa bisa pingsan seperti ini?" tanya papa Andre dengan nada panik.
"mama juga nggak tau pa, tadi pas mama mau antar Raisa untuk kekamar tiba-tiba Raisa pingsan pa" ucap mama Maya dengan nada yang bergetar, beliau menangis karena takut terjadi apa-apa dengan Raisa.
"dek bangun dek kamu kenapa bisa pingsan seperti ini sayang, bangun dek" ucap Arsya yang membaringkan tubuh Raisa di ranjang kamarnya, sembari menepuk pipi Raisa pelan.
__ADS_1
"Bi Sumi cepat panggil dokter Bayu datang kerumah" perintah papa Andre.
bi Sumi pun berlari tergopoh-gopoh keluar kamar untuk menghubungi dokter Bayu, sepupu Arsya sekaligus dokter pribadi keluarga Arsya melalui sambungan telepon rumah.
"gimana udah dibuhungi bi" tanya mama Maya sambil mengusap air matanya.
" sudah Bu dokter Bayu akan segera datang" jawab bi Sumi dengan sopan.
Tak berselang lama dokter Bayu pun datang
dan dipersilakan untuk memeriksa kondisi Raisa saat ini.
" bagaimana keadaan Raisa kak ? dia sakit apa? apakah dia baik-baik saja?" tanya Arsya dengan beruntun karena kecemasan nya.
dokter Bayu tersenyum menanggapi pertanyaan adik sepupunya itu.
"istri kamu baik-baik saja sya, tidak ada yang perlu dicemaskan, itu hal biasa yang terjadi pada trimester pertama kehamilan, jadi pastikan istrimu jangan sampai kelelahan, karena kondisi kandungannya yang masih lemah" jelas dokter Bayu seraya memberikan selamat kepada Arsya, Arsya pun hanya diam mematung ditempatnya dengan wajah penuh keterkejutan.
"jadi Raisa hamil bay," tukas mama Maya
yang dibalas anggukan kepala dari dokter Bayu,
seketika mama Maya pun menangis terharu, kerana cita-cita nya ingin segera mempunyai cucu akhirnya terwujud.
" iya Tante, dan usia kehamilan nya sudah memasuki bulan kedua" terang dokter Bayu
" iya ma Alhamdulillah, papa udah nggak sabar pengen ngendongnya" antusias papa Andre
" dek bangun dek?" ucap Arsya sembari mengelus lembut tangan Raisa.
Tak berselang lama akhirnya Raisa pun siuman, dan menetap sekeliling nya ,terdapat Arsya yang duduk disampingnya, mama Maya dan papa Andre, bi Sumi, dan seorang laki-laki yang memakai jas putih, yaitu dokter Bayu.
" Abang" kata pertama yang ia sebutkan.
" Alhamdulillah dek kamu udah sadar, kamu baik-baik saja kan? apa nya yang sakit bilang sama Abang?" bahagia Arsya, Raisapun menggeleng lemah.
" nggak ada yang sakit kok bang" jawab Raisa lirih.
Arsya pun memeluk tubuh Raisa dengan erat seraya mengecup pucuk kepalanya berkali-kali, dengan mengucapkan kata terima kasih berkali-kali, sontak membuat Raisa bingung.
" terima kasih sayang kamu sudah memberikan hadiah terindah yang belum pernah Abang dapatkan, terima kasih sayang" ucap Arsya, Raisa pun langsung mengerutkan dahi bingung pertanda ia tidak mengerti apa arti dari ucapan Arsya.
" maksud Abang apa aku nggak ngerti?" tanya Raisa bingung
" kamu nggak ngerti?" tanya bang Arsya balik, aku pun mengangguk.
" iya bang,"
__ADS_1
" emang kamu nggak ngerasa ada yang aneh gitu, yang terjadi pada kamu akhir-akhir ini dek" ? tanya Arsya lagi yang membuat Raisa semakin bingung.
" enggak tuh bang biasa aja, seperti biasanya" jawab Raisa polos.
" emang kamu nggak ngerasa apa dek kalo kamu itu lagi hamil sekarang" tanya Arsya yang juga menunjukkan raut wajah bingung nya.
" oh aku hamil ya" jawab Raisa santai, lalu
" apa? a..aku hamil bang? beneran?" tanya Raisa setengah berteriak untuk memastikan apa yang dibilang Arsya itu benar.
" iya sayang, tadi kak Bayu yang memeriksa kamu, kata kak Bayu kamu lagi mengandung sayang, sekarang kandungan kamu sudah memasuki bulan kedua." jelas Arsya, Raisa pun hanya menangis haru dipelukan Arsya, ia merasa seakan tidak percaya, karena Allah sudah secepat ini mempercayai mereka untuk menjadi orang tua.
" Alhamdulillah bang , Allah sudah mempercayai kita secepat ini untuk menjadi orang tua, aku nggak nyangka aja bang kita akan segera menjadi orang tua" tangis Raisa di pelukan Arsya.
" iya dek, Abang bahagia sekali rasanya seperti mimpi" antusias Arsya.
" ehem, mesra-mesraan nya nanti aja ya, sekarang nih udah kakak tuliskan resep nya nanti jangan lupa ditebus ya, dan jangan lupa diminum ya Raisa semoga sehat selalu?" ucap kak Bayu.
" iya kak terima kasih" jawab Raisa
" sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu ya Tante, om, semuanya karena masih ada pekerjaan dirumah sakit, Raisa ingat ya harus istirahat yang cukup jangan sampai kecapean, karena kandungan kamu masih lemah, dan makan makanan yang bergizi oke" ucap kak Bayu sembari berpamitan, dan berlalu hendak keluar.
" iya kak, makasih ya" jawab Arsya.
" sama-sama Arsya jaga istri kamu baik-baik ya" pesan kak Bayu sebelum menghilang dibalik pintu.
" sayang, terima kasih ya, sudah memberikan hadiah terindah kepada mama, mama janji akan lebih menjaga kamu melebihi diri mama sendiri," ucap mama Maya langsung memeluk Raisa erat.
" iya ma, Raisa juga janji akan selalu menjaga diri Raisa lebih baik lagi" ucap Raisa
" iya sayang, pokoknya kamu harus istirahat total ya, jangan ngapa-ngapain jika perlu sesuatu bilang aja sama mama atau bi Sumi ya sayang" ucap mama Maya dengan mengelus lembut punggung Raisa dan merenggang kan pelukan nya.
" iya ma, terima kasih ya ma, udah perhatian dan sayang sama Raisa" ucap Raisa tulus.
" iya sayang sama-sama, lagian kamu itu bukan mama anggap sebagai menantu saja tapi sudah mama anggap seperti anak kandung mama sendiri, malahan rasa sayang mama kepada kamu melebihi sayang nya mama kepada Arsya" ucap mama Maya , Raisa pun langsung mengeratkan pelukkan nya kepada mama Maya , jujur Raisa merasa nyaman dan damai jika berada ditengah-tengah mereka.
'Semoga saja semuanya akan seperti ini terus menerus sampai maut yang memisahkan kita semuanya' batin Raisa.
" yasudah kalau begitu kamu istirahat ya, mama papa dan bi Sumi mau keluar aja takutnya ganggu kamu, ingat loh jangan kecapean ya" ucap mama Maya dengan menepuk pelan pundak Raisa dan ia balas dengan senyuman termanis.
Mama Maya dan papa Andre serta bi Sumi pun keluar kamar, dan tersisa Raisa dan Arsya saja.
" yasudah dek kamu istirahat aja, ntar Abang temenin ya, Abang mau kebawah dulu menyusul mama dan papa, nggak apa-apa kan Abang tinggal sebentar?"
" iya bang nggak apa-apa," jawa Raisa patuh.
Arsya pun dengan sigap membantu Raisa berbaring dan menarik selimut sampai menutup dadak nya.
__ADS_1
Setelah nya Raisa pun mulai memejamkan matanya, saat Arsya telah hilang dibalik pintu.