
Tika menghempaskan tubuhnya diatas ranjang, di helanya nafas berat.
Pikiran nya terasa sangat kalut saat ini, disatu sisi dia ingin Arsya menjadi milik nya lagi, namun disisi lain Raisa adalah istri Arsya.
Tika menatap kosong langit-langit kamar nya, ia teringat tentang pengkhianatan yang ia lakukan kepada Arsya 3 tahun yang lalu.
Dilain tempat Arsya bersama Bayu sedang menghadiri rapat antara kolega bisnis nya.
Tiba-tiba gawai Arsya bergetar, ia pun tak menghiraukan gawai nya dan lebih fokus pada presentasi nya.
Gawai Arsya terus bergetar, merasa sudah terganggu Arsya pun mengambil gawainya dan melihat kelayar siapa yang telah menelpon nya.
Mata Arsya membulat sempurna, ia meminta izin kepada para kolega nya untuk mengangkat telepon terlebih dahulu.
" maaf ya bapak-bapak, saya permisi dulu ingin mengangkat telepon" ucap Arsya, semua orang mengangguk kecil.
Arsya melangkahkan kakinya keluar ruang meeting, Bayu senantiasa berada dibelakang sang boss.
"kamu kenapa ngikutin saya bay?" tanya Arsya, saat ia berbalik badan dan hendak melangkahkan kaki memasuki kembali ruang meeting.
"ya, boss kan boss saya jadi saya ikutin lah, masa iya saya ngikutin pak Bambang" jawab Bayu santai Arsya hanya menghela nafas panjang.
__ADS_1
" ck, kamu paling bisa aja Bayu kalo soal mengeles" umpat Arsya melangkahkan kakinya memasuki kembali ruang meeting, dan diikuti oleh Bayu.
"maaf semuanya, rapat hari ini cukup sampai disini saja, saya ada keperluan yang mendesak jadi silahkan bapak-bapak yang saya hormati untuk pulang" ucap Arsya didepan para kolega bisnis nya.
Semua kolega bisnis nya pun memaklumi, mereka mengangguk kecil dan mulai bangkit dari tempat duduk masing-masing kemudian berlalu keluar.
Arsya menghempaskan tubuhnya diatas kursi, ia mengacak-acak kasar rambut nya, Bayu yang sedari tadi memperhatikan Arsya hanya menatap Arsya bingung, banyak pertanyaan didalam benaknya itu.
Arsya mengambil gawainya ia menelpon seseoranng.
" halo, kenapa semuanya bisa terjadi?" tanya Arsya to the point
"saya juga enggak tau pak, tiba-tiba api sudah melahap gudang" jawab orang disebrang sana dengan nada takut.
untungnya gawai tersebut jatuh diatas kursi sehingga tidak rusak.
"astaga ni boss kenapa sih main lempar aja tuh hp mendingan kasih saya saja kan sayang kalo harus dibanting kayak gitu, mana tuh hp harga nya mahal" gerutu Bayu, iya tercengang melihat kelakuan sang boss.
Bayu mengambilkan gawai Arsya, dibolak-balik nya gawai tersebut, ia tersenyum manis saat gawai tersebut tidak rusak.
" huh untung jatuhnya diatas kursi, coba kalo didinding atau dilantai pasti pecah seribu tuh hp, dasar boss suka seenak jidat main rusak dan banting barang aja, mentang-mentang orang kaya" umpat Bayu, ia melangkahkan kaki menghampiri Arsya yang tengah memejamkan mata.
__ADS_1
" boss?" panggil Bayu ragu, pasalnya ia tahu kalau Arsya pasti akan marah, saat ada yang menggangu nya.
Arsya membuka matanya dan menatap datar Bayu dengan alis yang terangkat sebelah bertanda ada apa.
" nih gawai nya untung enggak rusak" Bayu menyerahkan gawai Arsya, Arsya hanya melirik sekilas dan kembali memejamkan matanya.
" yaudah kalo boss enggak mau, hp ini buat saya saja lumayan masih bagus ni, jadi saya enggak perlu beli baru lagi" ujar Bayu santai, Arsya membuka matanya dan mendelik tajam.
" enak aja kamu bilang, ini punya saya" Arsya merampas HP nya dari tangan Bayu.
" lah kan tadi boss enggak mau?" ujar Bayu santai.
" ck, kapan saya bilang?" ucap Arsya dingin dengan tatapan intens, Bayu hanya diam dan menggeleng kecil.
" Bayu persiapkan segala keperluan saya" perintah Arsya dengan nada datar.
" memangnya boss mau kemana? bulan madu kedua ya sama Bu Raisa?" ucap Bayu asal ceplos, Arsya menoleh serentak dengan tatapan dingin.
"ck, apaan sih boss serem tau, malahan lebih serem boss dibanting hantu dan binatang buas" gerutu Bayu lirih, namun masih bisa didengar oleh Arsya.
" apa kamu bilang?" ucap Arsya dingin dengan pandangan tajam, Bayu menggeleng cepat dan tersenyum tipis.
__ADS_1
" saya mau pergi ke puncak, gudang bahan baku perusahaan yang ada disana kebakaran, jadi saya harus pergi kesana untuk melihat dan mencari tau penyebabnya" Arsya melangkahkan kakinya keluar ruangan meeting, Bayu pun senantiasa berada dibelakang sang boss