Kehidupan Ku (Menikah Muda)

Kehidupan Ku (Menikah Muda)
Bagian 44


__ADS_3

"papi?" panggil Shiren, mendudukkan tubuhnya disamping Mr. Robert sang papi.


" Hem, ada apa?" Mr. Robert tersenyum tipis.


"Pi, pak Arsya itu paket komplit banget yah, udah tampan, mapan, mana masih muda lagi keliatan nya" Shiren tersenyum manis dan membayangkan wajah tampan Arsya yang membuatnya terpana pada pandangan pertama.


"iya, pak Arsya memang masih muda, malahan umurnya dibawah kamu loh" terang Mr. Robert, Shiren pun terkejut dan manatap dalam sang papi.


" really papi?" tanya Shiren tak percaya, Mr. Robert pun mengangguk cepat.


" iya usianya aja baru 23 tahun" Shireen pun menatap sang papi tidak percaya.


" astaga Pi, 23 tahun aku aja 26 tahun, tapi sayang ia sudah punya istri" lirih Shiren terlihat raut kekecewaan diwajah cantik nya.


"kamu suka sama pak Arsya?" tanya Mr. Robert tidak percaya, bagaimana bisa putri nya bisa menyukai pria yang sudah beristri.


"eng..enggak kok Pi siapa juga yang suka sama pria yang sudah beristri seperti pak Arsya" Shiren tersenyum kikuk, sang papi pun hanya menghela nafas berat.


" huffftt, Shiren kamu enggak bisa bohong papi tau kamu itu sebenarnya suka sama pak Arsya, papi bisa lihat dari cara kamu memandang pak Arsya semalam" Mr. Robert mengelus lembut rambut sang putri.


Shiren pun hanya menatap sang papi tak percaya bagaimana bisa papinya mengetahui itu.


"Shiren papi enggak pernah melarang kamu buat suka sama siapa pun, namun papi minta kamu jangan suka sama pria yang sudah beristri, papi enggak mau kamu dicap orang sebagai perusak rumah tangga orang nak, kamu pahamkan maksud papi" Mr. Robert memberi pengertian pada putrinya, Shiren pun mengangguk lemah dan tersenyum tipis yang dipaksakan jujur saja hatinya sangat sakit saat ini, namun ia berusaha menepis semua itu, ia berpikir apa yang dibilang oleh papi nya itu memang benar.


" iya Pi Shiren paham" ujar Shiren tersenyum tipis dan berlalu meninggalkan Mr. Robert

__ADS_1


Mr. Robert pun hanya menatap iba kepergian sang putri yang telah hilang dari pandangannya.


Dilain tempat Tika mendatangi perusahaan Kevin group, yang merupakan perusahaan sang ayah, Tika melangkahkan kaki memasuki gedung kantor, banyak para karyawan yang menunduk hormat dan menyapa saat Tika berjalan melewati mereka.


" selamat pagi Bu Tika" ucap salah seorang karyawan, Tika pun hanya melirik sekilas dan melanjutkan langkahnya.


" huh dasar sombong" gerutu karyawan tersebut, saat Tika telah hilang dari pandangan mereka.


" iya, enggak ada ramah-ramah nya" sahut karyawan yang lain.


"senyum aja enggak pernah, kalo dilihat-lihat kok serem ya Bu Tika" celetuk salah satu karyawan, yang lain pun hanya mengangguk setuju.


" ehem" deheman seseorang dibelakang mereka, seketika mereka pun membalikkan badan, dan langsung menunduk hormat.


"kalian ini bukannya bekerja malah ngegosip disini, mau kalian saya pecat hah?" gertak seseorang yang tak lain adalah Dimas Sepupu dari Tika.


Dimas pun melangkahkan pergi menuju keruangan nya.


Sedangkan diruang lain, Tika sedang duduk disofa sudut ruangan, ia menunggu sang ayah yang sedang meeting, sembari memeinkan gawainya.


Tak berselang lama pintu pun dibuka, dan tampak seorang pria paruh baya memasuki ruangan, pria tersebut tersenyum lebar saat melihat sang putri yang datang untuk menemui nya.


"Papa" panggil Tika saat melihat sang papa berjalan menghampiri nya.


"Tumben Tika kamu main kesini, biasanya sibuk sendiri dengan urusan mu itu, pasti ada mau nya ni" tebak Dedi papa Tika dan mendudukkan tubuhnya disamping sang putri.

__ADS_1


" hehe, papa tau aja" Tika terkekeh pelan, Dedi pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, jika sudah begini pasti ia harus menuruti kamaun putrinya itu tanpa adanya penolakan.


"papa udah paham betul sama sikap kamu, sekarang bilang sama papa kamu mau apa? mobil baru, atau.." belum sempat Dedi selasai berbicara, Tika dengan cepat memotong ucapan sang papa.


" bukan pa," potong Tika cepat, Dedi pun mengerutkan dahi bingung.


" terus apa?" Dedi menatap sang putri penuh tanda tanya, tumben sekali biasanya permintaan Tika tak lain dari mobil baru, handphone keluaran terbaru, dan sebagainya.


" aku cuma mau Arsya pa, papa tolongin ya" mohon Tika, Dedi pun hanya menghela nafas panjang lagi-lagi Arsya, kapan sih Tika bisa melupakan lelaki itu.


"kamu kenapa sih Tika, Arsya lagi Arsya lagi yang kamu inginkan, kamu itu harus sadar Tik Arsya udah punya istri, lagian kamu sendiri kan yang telah menyia-nyiakan dia." ucap Dedi lembut, Tika pun menatap tajam sang papa.


" enggak aku enggak mau tau pokoknya Arsya harus jadi milik aku lagi, jika perlu istri nya aku singkirkan" geram Tika, Dedi pun hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sang putri, yang telah berubah.


"Terserah kamu Tika, papa sudah menasehati kamu, papa enggak mau kamu tersakiti gara-gara ulah kamu sendiri." Ucap Dedi, menatap tajam sang putri, Tika pun hanya tersenyum sinis.


"pokoknya papa harus bantu Tika, kalau enggak papa enggak akan pernah liat Tika ada didunia ini lagi" Kekeh Tika, Dedi pun membulatkan mata tak percaya dengan ucapan sang putri.


" kamu udah gila ya" geram Dedi, Tika pun hanya membuang muka.


" iya pa Tika udah gila sejak Arsya pergi dari sisi Tika," teriak Tika.


" ya semua itu kerena ulah kamu sendiri" teriak Dedi,


Tika pun hanya memandang sinis sang papa dan berlalu meninggalkan ruangan sang papa.

__ADS_1


Dedi pun hanya memandang lesu kepergian sang putri yang telah hilang dibalik pintu.


__ADS_2