
Rizki memasuki ruangan operasi, tubuhnya tampak bergetar, air matanya tak kuasa lagi ia tahan.
Arsya dan Bayu yang melihat kondisi Rizki yang terpuruk pun hanya bisa diam, ia tak tau harus berbuat apa, ia berpikir mungkin Rizki butuh waktu untuk menerima semua ini, jika pun ia berada diposisi Rizki mungkin ia juga akan seperti itu, dimana ia masih membutuhkan belain sosok ibu.
Rizki memeluk erat tubuh ibu nya yang terbujur kaku itu, hawa dingin ia rasakan dari tubuh sang ibu, air mata yang terus mengalir membuat siapa saja yang melihat nya merasa iba, termasuk Arsya dan Bayu.
"ibu, maafin Rizki belum bisa jadi anak yang berbakti buat ibu, maafin Rizki belum bisa buat ibu bahagia, maafin Rizki belum bisa nepatin janji Rizki, Bu " ucap Rizki dengan suara bergetar.
"sudah lah Rizki, ikhlaskan ibu kamu, ia sudah tenang disana, dia pasti bangga punya anak yang bertanggung jawab seperti kamu" Arsya mengelus lembut bahu Rizki berusaha menyalurkan kekuatan untuk Rizki.
"saya merasa gagal pak, saya merasa gagal sebagai anak, saya merasa gagal pak, hiks hiks" Tangis Rizki kembali pecah saat melihat betapa tersiksanya sang ibu dengan penyakit yang diderita nya itu.
" enggak kamu enggak gagal, kamu sudah berhasil, ibu kamu pasti bangga sama kamu, kamu anak yang baik, saya salut lihat perjuangan kamu untuk ibu kamu, saya merasa kalah dari kamu, diusia yang masih remaja kamu sudah bekerja keras, di saat teman-teman sebaya kamu menikmati dunia, menikmati masa remaja yang menyenangkan, kamu harus rela mengubur semua itu demi ibu kamu, saya bangga sama kamu" Arsya memeluk Rizki berusaha menenangkan remaja 19 tahun tersebut.
__ADS_1
Rizki menangis tersedu-sedu di pelukan Arsya, ia menumpahkan segala sesak yang ada di dada nya.
Arsya mengelus lembut punggung Rizki, ia tau semua ini pasti sangat berat untuk remaja berusia 19 tahun itu, namun mau bagaimana lagi ini adalah takdir yang telah digariskan oleh Allah sang maha pencipta.
Arsya pun menyuruh Bayu untuk mengurus semuanya.
" Bayu kamu urus semuanya, sampai selesai oke" perintah Arsya, Bayu mengangguk cepat dan segera mengurus kepulangan jenazah ibu Rizki sampai acara pemakaman nya juga.
Drettty tak lama ponsel nya pun bergetar, dengan cepat Raisa mengeluarkan gawainya, ia tersenyum tipis saat nama Tika tertera sebagai penelpon di gawainya itu, dengan cepat Raisa menggeser tombol hijau, karena jujur saja ia sudah sangat rindu dengan teman sekaligus kakak bagi nya itu.
" halo assalamualaikum mbak Tika?" sapa Raisa saat panggilan telah terhubung.
" Raisa tolong mbak Raisa tolong" ucap Tika dengan suara takut disebrang sana, Raisa menjadi bingung dan panik, panggilan telepon pun terputus.
__ADS_1
" halo, mbak Tika? mbak Tika kenapa? mbak halo mbak" ucap Raisa panik, namun tak ada sahutan lagi dari Tika, Raisa menjadi sangat cemas.
Ia kembali menghubungi nomor Tika, namun gawai nya tidak aktif, Raisa langsung bergegas menyudahi kegiatan belanja nya, ia langsung bergegas melangkahkan kaki menuju kasir, setelah itu ia pun langsung cepat-cepat keluar mall tersebut dan memasuki mobilnya.
Saat diperjalanan tiba-tiba sebuah pesan masuk ke gawai nya, Raisa langsung melihat pesan tersebut, saat ini ia sangat khawatir akan keadaan Tika.
Mata Raisa membulatkan matanya sempurna, saat membaca pesan yang telah dikirim oleh seseorang yang tak ia ketahui, pesan itu berisi ancaman untuk Raisa.
[Jika kamu ingin melihat wanita ini selamat maka datanglah ke gudang kosong yang ada di dekat pabrik gula lama, jika kamu tidak datang jangan salah kan kami jika wanita ini akan kami habisi].
Raisa menjadi kalut, ia tak tahu permasalahan apa yang menimpa nya saat ini.
"bukan kah pabrik gula itu sudah lama tidak berfungsi ya?" gumam Raisa, ia menjadi bingung disatu sisi ia ingin sekali menyelamatkan Tika, namun disatu sisi ia juga takut jika sendirian kesana.
__ADS_1