Kehidupan Ku (Menikah Muda)

Kehidupan Ku (Menikah Muda)
Bagian 89


__ADS_3

Dua jam telah berlalu namun tak ada tanda-tanda operasi telah selesai, atau apapun.


Arsya bersandar di bahu sang mama, tatapan kosong lurus kedepan entah apa yang ada dipikiran nya sekarang.


Bayu duduk disamping Arsya, ia pun juga bingung kenapa dokter belum keluar.


Bayu bangkit dari duduk nya, ia hendak melangkahkan kaki namun ia batalkan karena melihat lampu diatas pintu operasi yang telah mati.


"boss, seperti nya operasi nya telah selesai" ucap Bayu, Arsya melirik kearah pintu operasi benar lampu yang semula hidup telah mati.


Dengan cepat Arsya bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu.


Kritt...


pintu pun terbuka dan tampaklah sosok laki-laki yang menggunakan pakaian lengkap berwarna hijau.


"Alhamdulillah operasi nya berjalan dengan lancar, namun ada kabar baik dan buruk yang harus saya sampaikan kepada kalian semua" ujar dokter Angga.


Mama Maya, papa Andre, dan Bayu pun mendekat kearah dokter Angga.


" apa itu dok?" tanya mama Maya tak sabaran.


"kami hanya bisa menyelamatkan satu nyawa, Alhamdulillah anak mas Arsya lahir dengan selamat meskipun secara prematur" ucap dokter Angga dengan raut wajah sendu.


mama Maya, papa Andre, dan Bayu pun tersenyum tipis dan merasa lega saat dokter Angga berkata bahwa anak Raisa dan Arsya lahir dengan selamat.


Namun tidak bagi Arsya pikiran-pikiran buruk mulai menghantui nya, jika anak nya lahir dengan selamat berarti Raisa.


" terus bagaimana dengan istri saya dokter?" tanya Arsya penasaran, semua orang mengangguk kecil.


" iya dok bagaimana dengan keadaan menantu saya?" tanya mama Maya pula.


Dokter Angga menghela nafas berat, tersirat rasa bersalah didalam hatinya.

__ADS_1


"maaf kan kami pak, buk, mas kami semua sudah berusaha sekuat tenaga dan sebisa mungkin untuk menyelamatkan ibu dan anak, namun Allah berkehendak lain mbak Raisa menghembuskan nafas terakhirnya saat operasi telah selesai, bahkan ia pun belum sempat melihat putra nya" jawab dokter Angga dengan wajah sendu.


Duarrr ....


Bagai kiamat kata yang diucapkan oleh dokter Angga untuk Arsya, seakan dunia ini telah runtuh, Arsya mematung ditempat ia tidak percaya bahwa Raisa telah pergi meninggalkan ia untuk selamanya.


Mama Maya langsung menangis histeris mendengar penjelasan dokter Angga, papa Andre dengan sigap merangkul sang istri.


Bayu membulatkan matanya sempurna, ia tak menyangka jika Raisa akan pergi secepat ini apalagi ia masih sangat muda, namun kita tidak pernah tau kapan ajal akan datang menjemput kita, bahkan ajal tak pernah pandang bulu entah itu kaya, miskin, tua, muda semaunya akan mengalami kematian hanya menunggu giliran saja.


"Raisaaaaaa, Astaghfirullah ya Allah" teriak mama Maya histeris, air matanya terus mengalir deras, papa Andre memeluk mama Maya erat, papa Andre pun juga tak percaya jika menantu kesayangan nya itu akan pergi secepat ini.


"boss?" panggil Bayu yang melihat Arsya mematung ditempat, Arsya diam tak merespon ia tersenyum tipis dan menatap tajam dokter Angga.


" dokter bercanda kan? dokter mau ngeprank saya ya, bilang kalau Raisa udah enggak ada, ini pasti Raisa nih yang nyuruh, pasti Raisa kan dokter? pasti Raisa kan? haha awas saja kamu dek berani ngeprank Abang" ucap Arsya dengan tawa.


Dokter Angga hanya diam, ia tau betul bagaimana perasaan Arsya saat ini, ia pun memilih pamit undur diri.


Arsya terduduk lemas dilantai, ia menjambak rambutnya prustasi, air mata kembali mengalir deras dipipi nya.


Arsya menatap lekat bayi mungil itu, seulas senyum tipis terukir diwajahnya, namun senyuman itu tak bertahan lama ia kembali menangis saat teringat Raisa.


Kedua perawat itu pun kembali mendorong inkubator menuju keruangan khusus.


Mama Maya dan papa Andre pun menghampiri Arsya, mereka akan melihat dulu bagaimana kondisi cucu mereka.


"Arsya, mama dan papa mau lihat anak kamu dulu, kamu enggak apa-apa kan kami tinggal sebentar?" tanya papa Andre, mama Maya hanya diam ia tidak bersuara sejak tadi.


"iya pa" jawab Arsya dengan suara serak dan bergetar.


Papa Andre ngelus lembut pundak sang putra, setelah itu papa Andre dan mama Maya pun berjalan menuju keruangan sang cucu.


Bayu menatap iba sang bos, ia mendekat kearah Arsya, diusap nya lembut bahu Arsya berusaha untuk menyalurkan ketenangan dan kekuatan untuk Arsya.

__ADS_1


Kritt


pintu kembali terbuka, sekarang yang muncul adalah orang yang paling dicintai oleh Arsya, kehidupan nya bidadari surga nya Raisa.


Arsya dengan cepat bangkit dan mendekat kearah Raisa, tangis Arsya semakin menjadi saat melihat tubuh sang istri yang terbujur kaku.


Arsya menggenggam erat tangan Raisa, hawa dingin dari tubuh Raisa membuat Arsya semakin menangis terisak.


" Raisa, bangun Raisa bangun?" ucap Arsya dengan suara bergetar.


"jangan tinggalin Abang Raisa, jangan tinggalin Abang, Abang enggak sanggup buat kehilangan kamu, kamu enggak mau kan lihat anak kita tumbuh tanpa mama nya, memang nya kamu enggak mau merawat anak kita, kamu bilang bahwa kita akan membesar kan dia bersama-sama, kamu tau enggak sayang ia sudah ada di dunia ini, berkat kamu ia telah hadir ditengah-tengah kita, kamu selalu bilang bahwa kamu enggak sabar pengen lihat dia, sekarang kamu bangun ya sayang, kita lihat anak kita bersama-sama, kita rawat dan besar kan dia bersama-sama, ohya kamu tau dia mirip banget sama kamu dek, hidung mancung, kulit putih bersih, apa kamu enggak mau lihat dia? kamu enggak sayang ya sama Abang sama anak kita? kenapa kamu lebih memilih untuk pergi, kamu bilang kamu tidak bisa hidup tanpa kami berdua, tapi apa kamu yang pergi lebih dulu," ucap Arsya panjang lebar, ia terus mencium tangan Raisa, Bayu dan beberapa perawat yang ada disana pun memandang haru bahkan ada yang meneteskan air mata melihat Arsya yang seperti itu.


"ayok dek bangun, jangan tinggalin Abang, Abang butuh kamu, anak kita juga butuh kamu dek, Abang enggak akan sanggup buat merawat dan membesarkan ia tanpa kamu, ayok dek bangun jangan tinggalin Abang, hiks hiks" Arsya mencium lembut kening Raisa.


Namun kenyataannya masih sama Raisa tak akan pernah bangun kecuali ada sebuah mukjizat untuk nya.


Wajah Raisa pun sudah memucat bahkan hawa dingin ditubuh nya semakin dingin.


Seulas senyum tipis terbit diwajah nya yang ayu.


Rangga yang baru saja kembali dari mushola pun mematung ditempat, ia menatap lurus kedepan, ia bingung melihat Arsya yang menangis.


Dia baru tersadar kala melihat sang adik yang masih terbaring di ranjang dan berada didepan Rungan.


Dengan langkah cepat Rangga menghampiri Arsya, setelah berada didekat Arsya Rangga menatap lekat sang adik yang telah memucat dan terbujur kaku itu.


" Raisa kenapa Arsya?, ia baik-baik saja kan? operasi nya berjalan lancar kan?" tanya Rangga beruntun, Arsya hanya diam dalam tangis nya ia tak sanggup untuk berbicara, dan menjelaskan semuanya kepada sang kakak ipar.


Melihat Arsya yang diam dan menangis pun membuat Rangga geram, Rangga pun beralih menatap Bayu dengan tatapan tajam.


"Bu, Raisa udah enggak ada pak Rangga" ucap Bayu lirih.


Rangga yang mendengar ucapan Bayu pun seketika lunglai, ia menangis dan langsung memeluk erat tubuh Raisa.

__ADS_1


" Raisa bangun, dek bangun jangan tinggalin kakak, bangun dek bangun" Rangga mengguncang-guncang tubuh Raisa berharap Raisa akan bangun, namun nihil Raisa tetap memejamkan matanya.


"bangun dek bangun, kakak janji enggak akan jahil lagi sama kamu, emangnya kamu enggak kasihan sama anak dan suami kamu? kamu enggak kasihan sama kita disini hah? bangun dek bangun kakak mohon Raisa, kakak mohon" tangis Rangga semakin terisak, ia memeluk erat tubuh Raisa yang terasa dingin itu.


__ADS_2