Kehidupan Ku (Menikah Muda)

Kehidupan Ku (Menikah Muda)
Bagian 39


__ADS_3

Pagi ini semua orang telah berkumpul dimeja makan untuk menikmati sarapan pagi, kecuali ada dua orang yang belum berkumpul yaitu Reno dan Rania.


Arsya yang sedari tadi memainkan sendok dan garpu pun merasa kesal pasalnya sudah sedari tadi ia ingin memakan makanan yang ada didepannya, namun dicegah oleh nek Uti katanya kalau mereka harus makan sama-sama karena itu adalah peraturan yang dibuat oleh nek Uti ketika semua orang telah berkumpul dirumah ini.


Raisa yang melihat kelakuan Arsya pun hanya tersenyum tipis, Mama Maya dan papa Andre pun juga terlihat sibuk berbicara bersama nek Uti.


" astaga ni pengantin anyar kok lama banget sih datangnya, perut ku udah pada demo ni cacing-cacing nya mau minta disuguhi makanan, bisa-bisa ni usus aku yang mereka makan saking keselnya" gerutu Arsya kesal,


"kamu ini sya nggak baik ihh bilang kayak gitu" ucap mama Maya, Arsya pun hanya memutar bola matanya malas.


Rania dan Reno pun berjalan menghampiri meja makan, setibanya disana mereka berdua langsung mendudukkan bobot tubuhnya diatas kursi.


Arsya yang sedari tadi kesal pun hanya menatap mereka cemberut.


" tuh muka kenapa lecek amet kayak jalanan becek" tanya Rania, Arsya pun hanya melengos dan memakan makanan nya yang sudah disiapkan oleh Raisa.


" biasa kak ngambek nih bayi besar" ucap Raisa tersenyum miring, Rania pun mengerutkan dahi bingung.


"ngambek kenapa?"


" Kelamaan nunggu kalian berdua" jawab papa Andre santai.


" astaga cuma gara-gara itu?" tanya Rania tertawa kecil dan melirik kearah Arsya.


" istigi cimi giri-giri iti, " Arsya mengulang kembali ucapan Rania.

__ADS_1


"kakak tau nggak gara-gara nungguin kalian aku hampir mati tau?" ucap Arsya kesal menatap Rania dan Reno bergantian, yang ditatap pun hanya mengerutkan dahi bingung.


"hampir mati gimana?" tanya Reno menaikan sebelah alisnya


" gara-gara nunggu pengantin anyar ini cacing-cacing diperut aku udah pada demo besar-besaran tau nggak" ucap Arsya kesal menatap nyalang sepasang pasutri itu.


" hahaha, kenapa nggak sekalian bikin pesta aja tuh cacing-cacing diperut kamu?" ledek Rania tertawa terbahak-bahak, Arsya pun hanya menatap tajam.


" sudah-sudah ini pada mau makan atau mau adu mulut sih, kalau kalian mau makan cepat makan, kalau masih mau ribut lebih baik kalian ribut tuh dihalaman depan sekalian adu jotos aja jika perlu" ucap papa Andre menengahi perdebatan antara Rania dan Arsya yang menunduk dan melanjutkan makan mereka.


Selesai sarapan mereka berkumpul diruang keluarga, untuk menikmati kebersamaan dengan keluarga.


" sya besok kamu jadi balik ke Jakarta?" tanya Reno memulai topik pembicaraan.


" iya kak, lagian semalam aku juga udah ditelpon oleh sekertaris aku, kalau besok ada rapat penting dengan klien dari Amerika, yang enggak bisa diwakilkan oleh Bayu asisten ku"


"iya kak Raisa ikut bang Arsya, lagian kasihan bang Arsya disana sendiri cuma ada bi Sumi " jawab Raisa menoleh kearah Rania.


" ya sudah kalau itu kemauan kamu, nenek sih berharap nya kalian lama disini" ucap nek Uti tersenyum tipis, tersirat gurat kekecewaan diwajah tuanya.


Raisa yang menyadari perubahan raut wajah nek Uti pun berjalan mendekati nek Uti dan memeluknya erat.


" nenek jangan sedih gitu dong, entar cantiknya ilang loh" ucap Raisa mencoba membuat nek Uti tersenyum.


" iiisss apaan nenek udah tua gini, tuh liat aja keriputan udah dimana-mana" jawab nek Uti tersenyum lebar.

__ADS_1


"siapa bilang nenek udah tua, kak Rania aja kalah tuh cantiknya sama nenek" celetuk Arsya yang membuat Rania membulatkan matanya tajam.


"Enak aja kamu bilang, kakak ini cantik tau, buktinya mas Reno aja langsung klepek-klepek sama kakak pada pandangan pertama, lagian disekolah kakak juga jadi cewek populer loh" Ucap Rania bangga.


" ck, populer karena mulut omesnya hahaha" ejek Arsya, Rania pun semakin kesal.


"enggak lah karena kecantikan kakak, udah deh kalo iri bilang bos"


"aku iri sama kak Rania? ogah " ucap Arsya yang langsung dihadiahi lemparan bantal dari Rania.


Raisa, Reno, Nek Uti, mama Maya dan papa Andre pun hanya geleng-geleng kepala melihat Rania dan Arsya yang sedang kumat lagi.


" kalian ini ribut terus, pusing ni kepala mama liatnya" ucap mama Maya menatap tajam Arsya dan Rania, namun yang ditatap hanya acuh saja.


"semuanya keperluan kamu udah kamu siapin sya?" tanya papa Andre


" udah pa, Raisa yang udah siapin semuanya" ucap Arsya santai.


" ck, mau-mau nya kamu disuruh sama Arsya, kalo kakak sih ogah aww" celetuk Rania yang dibalas jitakan lembut dari Reno.


" ihhh kok kamu menjitak aku sih mas kan sakit" ucap Rania lebai mengerucutkan bibirnya.


"ck, lebai amet, tuh mulut kenapa dimonyongin udah kayak ikan kekurangan air aja" ejek Reno tersenyum tipis, Rania pun mencubit pinggang Reno karena kesal.


" aww, aww sakit dek kok kamu nyubit mas sih" Reno mengelus-elus pinggangnya akibat cubitan dari Rania.

__ADS_1


" makanya jangan suka jahil sama istri, masih untung dicubit mau kamu enggak aku kasih jatah selama seminggu?" ancam Rania, Reno pun hanya menyengir kuda, dan memeluk Rania erat.


" ampun ibu negara ampun, masih mending dicubit deh, dari pada aku enggak dapat jatah wah bisa kacau ni" ucap Reno tersenyum tipis, semua yang ada disana pun hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sepasang pasutri tersebut.


__ADS_2