Kehidupan Ku (Menikah Muda)

Kehidupan Ku (Menikah Muda)
Bagian 90


__ADS_3

Derrtttt..


Gawai Bayu bergetar, Bayu pun dengan cepat meraih benda pipih itu dan menggeser tombol hijau.


"halo?" sapa Bayu.


"boss, kita sudah berhasil menangkap Bu Tika?" ucap seorang disebrang sana, Bayu tersenyum tipis.


"oke sebentar lagi saya akan kesana, kalian awasi dan jaga wanita iblis itu jangan sampai lenga, paham" ucap Bayu penuh penekanan.


" baik boss" jawab orang itu, Bayu pun memutuskan panggilan telepon.


Bayu melangkahkan kakinya menuju keruangan Raisa.


lah kok keruangan Raisa sih Thor? bukannya Raisa udah meninggal ya? atau dia hidup lagi?.


Arsya bersikeras untuk membawa Raisa keruangan perawatan, ia tidak mau Raisa dibawa keruang jenazah atau sebagai nya.


Ia masih tidak percaya jika istri tercinta nya itu telah berpulang.


Semua orang pun hanya bisa mengiyakan permintaan Arsya, sekuat apapun bujukan dari orang-orang disekitar nya Arsya tetap tidak mau.


Dilain tempat Tika baru saja sadar akibat efek bius yang diberikan oleh anak buah Bayu.


Ia merasakan sakit diseluruh tubuh nya.


Ia pun tercengang saat melihat kedua tangan dan kakinya yang telah terikat tali.

__ADS_1


Tika menatap sekeliling bangunan, tak ada siapapun disini.


Tika mengerahkan seluruh tenaga nya untuk membuka ikatan tersebut, namun apalah daya kekuatan nya hanya sebatas kadar saja.


Krittt...


Bunyi pintu terbuka, tampaklah sosok laki-laki yang muncul dibalik pintu.


Tika menatap lekat laki-laki itu, ia tak mengenal orang itu.


"siapa kamu?" tanya Tika saat orang itu melangkah mendekat kearah nya.


"kenapa saya bisa ada disini?" teriak Tika berusaha melepaskan ikatan tali itu.


Orang itu hanya diam dan tersenyum tipis, ia semakin mendekat kearah Tika, Tika pun menjadi panik dan takut. Ia takut orang itu akan berbuat jahat kepada nya.


"jangan coba-coba berbuat jahat sama saya, kamu enggak tau siapa saya hah?" maki Tika, orang itu hanya diam.


"woii, kamu budek ya? saya bilang lepasin saya" maki Tika dengan rasa geram, namun lagi-lagi tak ditanggapi oleh orang itu.


Arsya memerintahkan Bayu untuk segera menyerahkan Tika ke polisi, ia tidak bisa membiarkan orang yang telah mencelakai anak dan istri nya hidup bebas berkeliaran.


Mama Maya menghampiri sang putra yang dengan setianya menggenggam erat tangan Raisa, mata bengkak, penampilan acak-acakan tak karuan membuat siapa saja yang melihat keadaan Arsya pasti akan merasa iba.


"sya, kita harus segera bawa Raisa pulang kerumah. Jenazah Raisa harus segera kita urus sayang, mama tau ini pasti berat buat kamu, mama pun juga tidak mau ini terjadi, tapi apalah daya kita yang hanya manusia biasa, kita tidak bisa melawan kehendak sang pencipta.


Mungkin dia lebih menyayangi Raisa dibandingkan kita, ingat sya kita semua pasti akan mati juga" mama Maya berusaha memberikan pengertian kepada Arsya, Arsya menggeleng lemah ia beranjak dari duduk nya dan melangkah kaki keluar dari ruangan.

__ADS_1


Sejujurnya ia sangat berharap bahwa sang istri akan terbangun dari tidurnya, Arsya menyusuri lorong rumah sakit, dilangkahkan nya kaki menuju tempat sang anak dirawat.


Arsya kembali meneteskan air mata saat melihat sang anak yang tengah berada diruang inkubator, seulas senyum tipis terbit diwajah nya saat melihat bayi mungil itu bergerak.


Senyum itu tak bertahan lama, Arsya lagi-lagi mendadak sendu, diraba nya kaca dinding yang menjadi pembatas antara ia dan anak nya itu seolah-olah ia sedang mengelus lembut sang putra.


"Ayah harus apa nak? ayah harus bagaimana sekarang, hanya kamu yang ayah miliki di dunia ini, ibu kamu sudah pergi selama-lamanya dari kita, ia pergi tanpa bertemu dengan kamu, ia pergi tanpa memberi tahu ayah, apa salah ayah nak, apa? apa mungkin kita berdua bisa menjalani hidup tanpa dia, ayah enggak yakin ayah bisa membesarkan dan mendidik kamu seorang diri, asal kamu tahu ayah dan ibu sudah berjanji akan membesarkan dan mendidik kamu dengan penuh kasih sayang, namun semua itu hanyalah janji semu saja, nak kamu yang kuat ya jangan tinggalin ayah juga, cukup ibu kamu saja yang pergi, ayah enggak akan sanggup jika kamu juga harus pergi ninggalin ayah, ibu mu saja sudah membuat dunia ayah hancur dan runtuh.


Ya sudah sayang hanya itu yang mau ayah sampaikan sama kamu, ayah mau mengurus segala keperluan untuk jenazah ibu kamu, ohya sayang kamu jangan marah ya sama ibu kamu, jangan kamu kira ia tidak sayang sama kamu, malahan ia lebih menyayangi mu dibandingkan ayah, ia rela mengorbankan nyawa nya demi kamu nak, demi kamu ayah harap kamu akan mengerti, ketahui lah ia adalah orang yang paling menantikan kamu untuk segera hadir kedunia, namun sayang Allah berkehendak lain ia pergi untuk selamanya tanpa melihat kamu walau hanya sekalipun." Arsya menangis tersedu-sedu, ia mengusap kasar air matanya dan berlalu pergi.


Arsya membuka pintu tampak kedua mertua nya yang baru saja tiba dan Mela kakak iparnya serta Raka kelokannya.


Arsya melangkahkan gontai mendekat kearah sang mertua, setiba nya didekat mereka ibu nya Raisa langsung memeluk erat sang menantu.


Arsya pun kembali menangi dipelukan sang ibu mertua.


" maafin Arsya Bu, Arsya enggak becus buat jagain Raisa, maafin Arsya belum bisa jadi menantu dan suami yang baik Bu, maafin Arsya" ucap Arsya parau, Bu Dinda pun mengelus lembut punggung sang menantu.


Sejujur nya ia pun juga tak percaya jika putri kesayangan nya telah tiada, putri kecil kebanggaan nya kini telah pergi untuk selamanya.


Sebagai seorang ibu hatinya sangat hancur, namun dengan sekuat tenaga ia harus berusaha ikhlas agar sang putri bisa pergi dengan tenang.


"Arsya, kamu yang sabar ya nak ikhlaskan Raisa supaya ia bisa pergi dengan tenang tanpa ada beban, kamu harus kuat nak ingat anak kalian, setidak nya kuatlah untuk dia." ucap Bu Dinda lirih, Arsya menghapus kasar air matanya dan mengangguk kecil.


Mela memeluk tubuh sang adik ipar yang telah terbujur kaku, air mata tumpah tanpa diminta.


Raisa yang telah ia anggap seperti adik kandung nya sendiri pun kini telah tiada.

__ADS_1


" Ya Allah dek, kok cepat sekali kamu pergi nya, kakak enggak pernah nyangka kalo kamu akan pergi secepat ini, kamu yang tenang ya dek disana, In Sya Allah surga menanti mu dek" Mela mencium lembut kening Raisa, hawa dingin pun langsung menyergap tubuh Mela.


"Tante Raisa kok Tante ninggalin Raka sih, kata nya Tante akan terus bersama Raka, Raka janji Tante Raka enggak akan nakal lagi, Raka sayang banget sama Tante, Tante bangun ya adek bayi nya kasihan loh enggak ada ibu nya nanti, emangnya Tante enggak sayang sama Raka? enggak sayang sama adek bayi? Tante bangun ya Tante, Raka mohon" Raka memeluk erat tubuh Raisa, air matanya kembali mengalir deras, tangis nya pun semakin menjadi saat merasakan hawa dingin dari tubuh Raisa.


__ADS_2