
Jeremy mendekat kearah Raisa, Raisa yang melihat Jeremy tersenyum manis pun hanya membuang muka nya kesembarang arah.
Jeremy mengangkat tangan nya hendak mengelus pipi putih Raisa, namun dengan cepat Raisa menggelengkan kepalanya.
" jangan berani kamu sentuh saya" teriak Raisa, Jeremy hanya tersenyum miring tak dipedulikan nya ucapan Raisa.
" pergi kamu dari sini" umpat Raisa lagi, namun Jeremy tak menghiraukan nya juga, Raisa terus berteriak namun tak ada respon apapun dari Jeremy.
" ck, jangan berteriak terus dong, nanti suara kamu habis" ucap Jeremy tersenyum tipis, Raisa memandang benci wajah Jeremy, didalam hatinya ia terus mengumpati Tika dan Jeremy.
Jeremy mengelus lembut pipi Raisa, Raisa menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tidak mau tangan kotor Jeremy menyentuh kulitnya walaupun hanya seujung kuku, Raisa tidak akan pernah ikhlas.
"sudah saya bilang jangan sentuh saya, biadab saya sudah punya suami" teriak Raisa lagi, Jeremy makin melancarkan aksinya ia mengelus lembut pucuk kepala Raisa yang terbalut pashmina navi itu.
"saya bilang jangan sentuh saya dengan tangan kotor mu itu" kesal Raisa, wajahnya memerah akibat menahan emosi, Jeremy mensejajarkan tubuh nya dengan tubuh Raisa yang tengah terikat diatas kursi, ditatap nya dalam wajah cantik nan ayu itu, kulit yang putih mulus bagaikan susu, berlesung pipi, hidung mancung,bulu mata lentik, dan bibir tipis yang membuat Jeremy seketika terpesona dengan ciptaan Tuhan yang ada didepannya ini.
"cantik sekali" gumam Jeremy pada dirinya sendiri, Raisa yang mendengar nya hanya diam dan membuang pandangannya kearah lain, ia tidak mau bersitatap dengan laki-laki ya g ada didepannya ini.
Arsya telah sampai didekat gudang tempat Raisa disekap, ia memakirkan mobilnya dengan asal, ia membuka pintu mobil dan langsung berlari mencari keberadaan Raisa.
Bayu pun juga ikut menyusul Arsya setelah ia mengunci semua pintu mobilnya.
Arsya terus berlari kecil menyusuri area tersebut, sesekali ia pun berteriak memanggil nama sang istri.
"Raisa, kamu dimana sayang" teriak Arsya
__ADS_1
"ibu Raisa," Bayu pun juga ikut memanggil nama Raisa,
" Raisa" teriak Arsya lagi.
"pak sepertinya kita harus berpencar agar lebih mudah menemukan Bu Raisa" saran Bayu, Arsya mengangguk cepat kemudian mereka pun berpisah.
Arsya berlari kearah gudang lama yang sudah tidak terpakai itu, ditelusuri nya semua tempat yang ia lalui namun ia tak menemukan titik terang keberadaan Raisa, Arsya semakin kalut perasaan nya campur aduk antara sedih, cemas , dan khawatir ia takut terjadi apa-apa kepada Raisa.
"ya Allah dek, kamu dimana?? Abang takut terjadi apa-apa sama kamu dek, Raisa kamu dimana" lirih Arsya dalam hatinya, ia terus berlari kecil menyusuri setiap tempat dan sudut. gudang itu.
Dilain tempat mama dan papa Arsya telah kembali dari Bandung, karena keadaan nenek Arsya yang sudah membaik, mereka pun memutuskan untuk pulang kembali ke Jakarta.
Mama dan papa Arsya memang tidak memberi tahu anak dan menanamkan itu bahwa mereka akan pulang, rencananya mereka ingin membuat kejutan untuk Arsya dan Raisa.
Mama Maya tak hentinya menangis memikirkan bagaimana keadaan sang menantu kesayangan nya itu, papa Andre pun juga sama ia juga merasa sangat khawatir.
" pa bagaimana ini pa, mama takut Raisa kenapa-kenapa pa? mama takut pa" mamaya Maya menangis diperlukan sang suami.
" sabar ma, kita doakan saja semoga Raisa tidak apa-apa, mama jangan mikir yang macam-macam, In Sya Allah Arsya pasti bisa menemukan Raisa, Arsya pasti akan membawa Raisa dengan selamat ma" papa Andre berusaha menenangkan sang istri.
"mama hanya takut terjadi apa-apa pa sama Raisa, mama enggak mau itu terjadi pa" lirih mama Maya, papa Andre mengelus lembut punggung sang istri berharap bisa memberikan ketenangan untuk nya.
Dilain tempat Raisa terus berteriak mengumpat Jeremy, Jeremy tak menghiraukan nya ia hanya tersenyum tipis saat Raisa menyebut yang aneh-aneh untuk nya.
Jeremy mendekati Raisa ditariknya pashmina yang Raisa pakai, Raisa sekuat tenaga menggeleng kan kepala nya agar penutup kepala nya tidak terlepas, namun apalah daya tenaga Jeremy lebih kuat dibandingkan Raisa, sehingga pashmina yang Raisa kenakan telah terlepas, Raisa menangis sejadi-jadinya penutup kepala yang ia kenakan kini telah terlepas, dan laki-laki yang bukan mahram nya telah melihat jelas wajah Raisa tanpa penutup kepala.
__ADS_1
"ternyata kamu lebih cantik, jika tanpa hijab itu" Puji Jeremy, Raisa hanya diam dalam tangis nya air matanya terus berjatuhan, ia merasa bersalah kepada Arsya suaminya, seharusnya ia berusaha menjaga dirinya dari laki-laki lain, namun apalah daya ia tak sekuat itu.
" jangan nangis dong sayang, aku jadi sedih liat nya" Jeremy menghapus air mata Raisa, Raisa membuang muka nya, ia sangat benci dengan pria dihadapannya ini .
"jangan sentuh saya brengsek" maki Raisa, wajahnya memerah akibat emosi yang memuncak.
Jeremy memajukan wajah nya, sehingga jarak mereka hanya beberapa centi meter bahkan Raisa dapat merasakan helaan nafas Jeremy yang memburu.
" ck, galak amet sih kamu udah deh jangan sok suci, mendingan kita senang-senang aja" Jeremy mengelus lembut pipi Raisa, Raisa menggelengkan kepala nya ia tak akan pernah sudi disentuh oleh laki-laki brengsek dihadapan nya ini.
"ya Allah tolong hamba mu ini ya Allah, hamba tidak rela seujung kuku pun jika kulit hamba disentuh oleh laki-laki brengsek dihadapan hamba ini, ya Allah tolong lindungi hamba dari kejahatan orang-orang yang menyerupai iblis ini" batin Raisa air matanya mengalir deras seiring dengan sentuhan Jeremy yang menyentuh wajahnya.
Mata Jeremy mendadak berbinar kala melihat bibir tipis Raisa yang menggoda itu, ia tersenyum tipis ingin sekali ia melahap mangsa nya ini, namun ia tahan.
Arsya terus berlari kesana-kemari menyusuri lorong dan tempat digudang ini, namun nihil tak ada petunjuk apapun tentang Raisa.
Rasa cemas dan khawatir telah memuncak dihati Arsya, ia tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi kepada Raisa, bagaimana pun caranya ia harus bisa menemukan Raisa, ia harus bisa menyelamatkan Raisa.
Arsya terus berjalan, tak ia hiraukan kakinya yang terluka akibat tertusuk paku disaat ia berlari tadi.
"ya Allah dek kamu dimana sih, jangan buat Abang khawatir" gumam Arsya dalam hati.
Sebuah ruangan disudut belakang gudang membuat Arsya berhenti sejenak, ia pun melangkah kakinya menuju ruangan tersebut, ia berharap semoga Raisa ada disana.
Saat hendak melangkahkan kakinya ia mendengar suara teriakan Raisa, sontak Arsya langsung berlari kearah tersebut.
__ADS_1