Kehidupan Ku (Menikah Muda)

Kehidupan Ku (Menikah Muda)
Bagian 88


__ADS_3

Arsya bersandar dibahu sang mama, sudah hampir setengah jam Raisa didalam sana namun tak ada kabar apapun dari nya.


Arsya menghela nafas panjang, mama Maya mengelus lembut rambut sang putra ia sedih melihat sang putra yang terlihat kacau.


"Sya??" panggil mama Maya, Arsya mendongakkan pandangan nya yang semula nya ia menatap kelantai.


"kamu pulang aja ya dulu kerumah, kamu istirahat dan bersih-bersih dulu, nanti kalo ada kabar dari Raisa mama akan segera hubungi kamu" ucap mama Maya lirih, Arsya menggeleng kecil.


" enggak ma, Arsya mau disini aja Arsya enggak mau ninggalin Raisa" tolak Arsya halus, mama Maya menghela nafas berat.


" tapi sya, kamu kelihatan nya lelah sekali kamu juga harus istirahat biar mama dan papa aja yang jaga Raisa" mama Maya berusaha membujuk sang putra, namun lagi-lagi Arsya menggeleng kecil.


"sya, kamu enggak boleh begitu dong kamu juga perlu istirahat, kamu pulang dulu bersih-bersih abis itu istirahat, tuh liat aja kamu kacau acak-acakan kayak gitu." ujar papa Andre yang sedari tadi diam.


" enggak pa Arsya enggak mau Arsya mau nemenin Raisa di sin---" ucapan Arsya terhenti saat pintu ruangan terbuka.


Arsya segera bangkit dan melangkah menghampiri dokter yang baru saja muncul dari balik pintu.


"dokter bagaimana keadaan istri saya?" tanya Arsya begitu dokter itu berada disampingnya.


Dokter menghela nafas berat dilihat dari raut wajah nya yang sendu Arsya seperti merasa ada yang tidak baik, pikiran-pikiran buruk pun mulai bergentayangan dibenak nya.


"maaf pak kami ingin meminta persetujuan dari pihak keluarga untuk melakukan operasi Caesar" ucap dokter yang bernama Angga.


"operasi Caesar, tapi kan dok usia kandungan nya baru memasuki 7 bulan?" tanya mama Maya bingung, dokter Angga mengangguk kecil.


" iya, karena pendarahan hebat yang dialami oleh mbak Raisa, kami harus segera melakukan tindakan operasi Caesar untuk menyelamatkan keduanya" terang dokter Angga.


Arsya pun mengikuti dokter Anggangga kebagian administrasi untuk menandatangani surat pernyataan.

__ADS_1


Arsya menandatangani surat pernyataan tersebut dengan hati yang sedih, namun ini adalah langkah terbaik untuk menyelamatkan anak dan istri nya.


Setelah menandatangani surat pernyataan tersebut, Arsya pun kembali ketempat dimana Raisa dirawat.


Saat Arsya tiba disana ia melihat tubuh Raisa yang terbaring di ranjang dan beberapa perawatan mendorong ranjang nya menuju ruang operasi.


Arsya pun dengan langkah cepat menghampiri Raisa, ia kembali menangis melihat sang istri yang terus tertidur, Arsya mengecup lembut kening Raisa.


"kamu harus kuat ya dek, kamu harus selamat, ingat ada Abang dan semuanya yang menunggu, jadi Abang mohon kamu harus kuat ya" Arsya berbisik di telinga Raisa.


Kemudian ia dan beberapa perawat pun kembali mendorong ranjang menuju ruang operasi, Arsya terus menggenggam erat tangan Raisa, mama Maya, papa Andre, dan Bayu pun juga ikut mengantar Raisa keruang operasi.


Saat tiba didepan ruang operasi Arsya terpaksa harus melepaskan genggaman tangan nya.


Kemudian tubuh Raisa pun kembali didorong memasuki ruangan operasi, salah satu perawat pun menutup pintu ruangan.


Arsya yang melihat pintu ruangan telah ditutup pun seketika terduduk lemas dilantai dengan menekuk kedua lutut nya.


Mama Maya yang melihat sang putra kembali menangis pun juga ikut menangis.


Mama Maya memeluk erat tubuh sang putra, berusaha menyalurkan ketenangan untuk Arsya.


Lampu didepan ruang operasi telah menyala, pertanda operasi telah dimulai.


Arsya terus melafalkan doa untuk keselamatan anak dan istrinya.


Begitu pun dengan mama Maya, papa Andre, dan Bayu mereka juga terus melafalkan doa untuk keselamatan Raisa dan anak nya.


"Arsya?" panggil seseorang dari kejauhan, Arsya menoleh ke sumber suara terlihat sang kakak ipar yang baru saja tiba dirumah sakit.

__ADS_1


Arsya bangkit dari duduknya saat Rangga telah berada didekat nya.


"Arsya, bagaimana keadaan Raisa? bagiamana keadaan adik gue?" Tanya Rangga panik, Arsya hanya diam ia tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan Rangga.


Melihat Arsya yang hanya diam Rangga pun mulai merasa geram, ia kembali bertanya kepada Arsya dengan suara tinggi.


" Arsya gue nanya bagaimana keadaan adik gue?" teriak Rangga kesal, Arsya pun mendelikkan matanya.


" Raisa sedang ada didalam, dokter melakukan operasi Caesar untuk menyelamatkan Raisa dan anaknya" jawab mama Maya, Rangga membulatkan matanya sempurna ia melirik kearah pintu ruangan operasi yang telah tertutup.


"ya Allah dek, astaghfirullah kenapa kamu bisa seperti ini dek? Arsya kamu apakan adik saya? kamu enggak becus tau enggak jagain Raisa? kamu apakan adik saya sehingga ia harus seperti ini hah kamu apakan Arsya?" teriak Rangga geram dengan emosi yang memuncak.


"Saya restuin kalian menikah meskipun disaat ia baru lulus kuliah, karena saya percaya kamu bisa menjaga dia kamu bisa melindungi dia lebih dari saya" ujar Rangga dengan suara lirih ia menyesal telah memberi restu untuk Raisa yang memutuskan menikah muda, awal nya Rangga tidak setuju karena Raisa yang baru saja lulus kuliah.


Raisa pun tak patah semangat terus menyakinkan Rangga bahwa ia benar-benar sudah mantap ingin menikah muda, mau tidak mau pun Rangga akhirnya luluh juga.


"Dari Raisa kecil saya selalu berusaha menjaga dia dengan baik, bahkan seekor nyamuk pun tidak saya izinkan untuk menyakiti nya, tapi apa setelah ia menikah dengan kamu, ia harus melewati masa ini, ia harus melewati antara hidup dan matinya, Arsya kamu seharusnya bisa menjaga ia dengan baik" bentak Rangga ia mencengkram erat kerah baju Arsya.


"saya sudah berusaha untuk menjaga Raisa, bahkan saya menjaga ia melebihi saja menjaga diri saya sendiri, asal kamu tau Raisa adalah hidup saya, dia adalah kehidupan saya" teriak Arsya kesal.


"lantas kenapa Raisa bisa seperti ini jika kamu telah menjaganya dengan baik kenapa hah?" Rangga melayangkan bugeman tepat di pipi kanan Arsya.


Mama Maya yang melihat Rangga memukul Arsya pun langsung berteriak histeris.


" Arsyaaaa!!!!" teriak mama Maya.


Bayu pun segera melerai keduanya, ia takut akan terjadi keributan antara Arsya dan Rangga.


"kalian ini kenapa malah ribut, Raisa didalam sedang berjuang untuk hidup kalian malah ingin ribut, kalian ingin membuat Raisa sedih hah? seharusnya kita banyak-banyak berdoa untuk Raisa agar ia bisa selamat, bukan nya seperti ini, Arsya Rangga kalian ini sudah dewasa bukan anak kecil lagi seharusnya kalian bisa membedakan mana yang baik dan buruk, bukan nya ribut kayak anak kecil" ucap papa Andre geram, Arsya dan Rangga pun langsung terdiam dan duduk dikursi.

__ADS_1


Suasana kembali hening, sudah 2 jam berlalu namun tak ada tanda-tanda operasi telah selesai, Arsya menghela nafas berat.


__ADS_2