
Arsya memasuki kamarnya dan berjalan menuju kamar mandi, tak dihiraukannya Raisa yang tengah duduk dipinggir ranjang.
Raisa menatap bingung Arsya, kemudian ia pun lanjut membaca buku seputar kehamilan.
Sekitar 10 menit Arsya pun keluar dengan handuk yang melilit dipinnggang nya dan berjalan menuju lemari pakaian, setelah mendapatkan pakaian yang cocok untuk nya Arysa pun kembali melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi.
Raisa menutup bukunya saat melihat Arsya yang telah rapi dengan kemeja navi yang di padukan dengan celana dasar hitam.
" Abang mau kemana? kok udah rapi gitu?" tanya Raisa ia menatap bingung Arsya yang tengah memakai jam tangan.
"Abang mau kepuncak dek" jawab Arsya singkat sembari memakai minyak rambut dan menyisir rambutnya dengan rapi.
"kok mendadak sih? Raisa ikut ya bang?" ucap Raisa senang, pasalnya ia ingin sekali datang kepuncak, apalagi puncak terkenal sekali rasanya Raisa sangat ingin segera datang ketempat itu.
"enggak" senyum yang terbit dibibir ranum Raisa pun seketika memudar, Arsya yang melihat perubahan raut wajah sang istri pun hanya menghela nafas panjang.
"huffftttt, dek Abang bukan mau liburan, tapi Abang mau menyelesaikan masalah yang terjadi disana" Arsya berusaha memberikan pengertian.
"gudang bahan baku perusahaan yang ada di Puncak mengalami kebakaran, jadi Abang harus datang kelapangan untuk mengecek semuanya" lanjut Arsya lagi, Raisa membulatkan matanya tak percaya.
" kok bisa kebakaran sih bang?" tanya Raisa terkejut.
__ADS_1
" Abang juga enggak tau dek, kata orang kepercayaan Abang kebakaran tersebut dipicu oleh konsleting listrik" Arsya mengambil jas nya dan mencium lembut kening Raisa.
" ya udah Abang pergi dulu ya kamu baik-baik dirumah" ucap Arsya, rasanya ia tidak rela untuk meninggalkan Raisa sendirian, namun mau bagaimana lagi ia harus segera menyelesaikan semua permasalahan ini.
Raisa mengangguk kecil dan mencium tangan Arsya.
"iya bang, Abang juga Lo hati-hati semoga selamat sampai tujuan, kalo udah sampai kabarin Raisa ya bang" Arsya memeluk erat tubuh sang istri, entah lah ada perasaan tak enak yang ia rasakan, namun ia berusaha untuk menepis semua nya.
" iya sayang, yaudah Abang berangkat dulu assalamualaikum" Arsya melepaskan pelukannya dan berjalan keluar kamar.
" waalaikumsalam" Raisa menatap tubuh sang suami yang telah hilang dibalik pintu, ia berdoa kepada Allah semoga sang suami selalu dalam lindungan Allah.
Didalam mobil Arsya hanya diam, sedangkan Bayu ia lebih memilih fokus mengemudi agar mereka selamat sampai tujuan.
Bayu memperhatikan gerak-gerik Arsya yang terlihat gelisah melalui kaca spion didepannya.
"are you oke boss?" Arsya melihat Bayu melalui kaca spion ia mengangguk kecil.
"bos kenapa sih kok kayak gelisah gitu?" tanya Bayu pandangan nya fokus pada jalanan didepannya.
"i'm oke, udah kamu yang fokus aja nyetir nya" ujar Arsya datar, Bayu mengangguk dan kembali fokus pada jalanan didepannya.
__ADS_1
Arsya menghela nafas berat, entahlah sejak tadi hatinya menjadi gelisah, entah apa yang membuatnya gelisah, namun dengan cepat ia menepis segela pemikiran buruk yang bersarang di benaknya.
"semoga semuanya baik-baik saja" lirih Arsya dalam hati, terlihat jelas gurat kegelisahan diwajahnya.
Raisa duduk diteras balkon, rasanya ia merasa sangat kesepian, padahal baru beberapa jam yang lalu Arsya meninggalkan nya.
"Astaga kenapa aku meras kesepian kayak gini, kan biasanya juga sering ditinggal kerja" batin Raisa, ia menatap langit sore.
Ting...
Bunyi notifikasi WA digawai Raisa, dengan cepat Raisa meraih gawai nya.
Ia kira Arsya yang mengirimkan pesan untuk nya ternyata ia salah sebuah nomor tanpa nama mengirimkan ia pesan.
[Jauhin Arsya, jika kamu ingin selamat]
Raisa mengerutkan dahi, ia bingung siapa yang berani mengirimkan pesan seperti itu kepada, Raisa pun membalas pesan tersebut.
[Maaf anda siapa ya? berani bilang seperti itu?].
Namun tak ada balasan dari nomor tersebut, Raisa pun menghela nafas panjang, ia bingung siapa orang yang telah jahil kepada nya, apa mungkin nomor nyasar batin Raisa.
__ADS_1